Riba

Dalam kitab-kitab Fikih, riba itu ada enam: Emas, Perak, Gandum, Bur, Kurma, dan Garam. Kemudian dibagi menjadi dua kelompok besar. Pertama, kelompok emas dan perak. Kedua, kelompok 4 sisanya.

Riba itu pun terbagi dua. Pertama, al-Fadhl (terkait dengan pertambahan). Kedua, al-Nasiah (terkair dengan pengakhiran serah terima).

Jikalau barang yang ditransaksikan masih jenis yang sama di satu kelompok yang sama, misalnya emas dengan emas; perak dengan perak; kurma dengan kurma; gandum dengan gandum, dan lainnya, maka tidak boleh ada al-Fadhl dan al-Nasa’ (al-Nasiah).

Jikalau barang yang ditransaksikan berbeda jenisnya namun berada dalam kelompok yang sama, misalnya emas dengan perak; gandum dengan kurma, maka boleh ada al-Fadhl, namun tidak boleh ada al-Nasa’.

Jikalau barang yang ditransaksikan berbeda jenisnya dan berbeda juga kelompoknya, maka boleh adanya al-Fadhl dan al-Nasa’, bahkan boleh al-Fadhl karena al-Nasa’.

Istilah “waktu adalah Uang” bukanlah istilah asing bagi para Ahli Fikih dalam kajian Jual Beli (al-Ba’i). Sebab, ada di antara mereka yang menyatakan, “Inna li al-Zamani Hisshah min al-Tsaman.” Artinya mirip-mirip dengan “waktu adalah uang.” Lengkapnya: “Waktu itu, ada bagian nilai (uangnya).”

Al-Fadhl atau kelebihan, seringkali diharamkan jikalau disandingkan dengan al-Nasa’ (penundaan serah terima). Makanya, tidak asing jikalau ada pendapat Syadz dari Abdullah bin Abbas yang membolehkan Riba al-Fadhl.***

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.