Apakah Ekonomi Syariah itu Fikih Muamalah?

Perhatian dunia terhadap Ekonomi Islam sekarang ini sangat besar. Apalagi ditambah berbagai krisis ekonomi dunia sekarang ini, pastinya akan sangat akan memberikan pengaruh besar. Ekonomi Islam dianggap bisa memberikan solusi berbagai masalah Ekonomi yang sedang terjadi.

Banyak para Ulama berpandangan, sebagian besar bentuk Ekonomi Islam adalah Fikih Muamalah Maliyah, sekadar membahas halal-haram. Misalnya, masalah riba dan pengaruh negatifnya terhadap Ekonomi. Begitu juga dengan perkara-perkara haram lainnya seperti al-Ghisy, al-Tadlis, dan al-Gharar. Kemudian berbicara tentang Investasi Islami dan akad-akad yang dipakai di Bank-Bank Islam, mulai dari masalah al-Tamwil, al-Mudharabah dan al-Murabah, al-Musyarakah dan al-Ijarah, dengan segala jenisnya, konsen membahas hukum-hukum fikih yang terkait.


Pengertian Ekonomi Islam


Ekonomi Islam bukan sekadar Fikih Muamalah. Jikalau sekadar itu, justru akan menjadi citra jelek Ekonomi Islam. Fikih Muamalah adalah bagian dari Ekonomi Islam. Dan porsinya besar.
Ekonomi Islam adalah studi faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang memilih sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya, dengan menggunakan sumber terbaik sesuai dengan ajaran Islam.
Dalam bidang Ekonomi, Islam telah mempersembahkan sejumlah dasar, nilai, dan landasan. Tujuannya, untuk menjaganya dari penyimpangan dan keluar dari Maqashidnya mewujudkan Maslahah Manusia, memenuhi kebutuhan mereka, meraih kehidupan bahagia, mengaktifkan Sumber Daya untuk menutupi celah yang ada.
Islam tidak memberikan Program Praktis. Sebab, Islam berkarakter Fleksibel terhadap fenomena-fenomena sosial, salah satunya Fenomena Ekonomi. Agar, Program tersebut selalu berkembang dan berubah sesuai dengan zaman dan tempat, adat dan kebiasaan.
Nah, disinilah peran Para Ekonom Muslim. Mereka bertugas membuat program sesuai dengan lingkungan masanya. Mereka menyatukan Islam dalam setiap gerakan ekonomi; antara Konsistensi dan Fleksibelitas; Konsisten dalam hal tujuan dan maksud; Fleksibel dalam hal sarana dan proses. Itulah salah satu keagungan pemikiran Islam di bidang kehidupan, salah satunya bidang ekonomi.
Ekonomi Islam mengkaji point yang sama dengan kajian Ekonomi Klasik.   

  1. Ekonomi Micro; mengkaji Ekonomi Personal dan Kelompok (Lembaga), serta tatacara membuat keputusan-keputusan ekonomi yang sesuai. 
  2. Ekonomi Macro, yang menjadi Ekonomi di dua tingkat; Nasional dan Internasional, khususnya yang berhubungan dengan nilai bunga, pajak, pertambahan, pertumbuhan, pengangguran, dan berbagai masalah besar lainnya.

Tetapi, semuanya dilakukan dengan frame keislaman, aturan-aturan syariah, dan ajaran Islam di bidang Ekonomi Islam.
Sebagian besar Fikih Muamalah mengkaji masalah harta dan uang, serta bagaimana mengembangkannya. Teori Ekonomi Islam, lebih luas dari sekadar mengkaji Sumber Daya Alam dan bagaimana menggunakannya dengan sebaik-baiknya, mengkaji masalah pekerjaan, produksi, dan penyalurannya.

Tujuan-Tujuan Ekonomi Islam

Ekonomi Islam bertujuan mewujudkan sejumlah tujuan, di antara bentuk paling pentingnya.

1-Mewujudkan pertumbuhan ekonomi di dua ruang; Nasional dan Internasional
2-Mengatur pergerakan pasar dan tidak bermain-main dengan harga
3-Mewujudkan keahlian ekonomi
4-Mengamankan kesempatan kerja untuk para pekerja
5-Menambah produksi
6-Mengamankan kebebasan ekonomi dan kondusifitas ekonomi bagi pribadi dan masyarakat
7-Membagi pemasukan dan modal dengan cara yang seadil-adilnya.


Objek Ekonomi Islam

Di antara Objek Urgen yang dikaji Ekonomi Islam adalah:

  1. Kebebasan Ekonomi. Soerang Muslim memiliki kebebasan untuk mengambil keputusan ekonominya yang berhubungan dengan Muamalah Maliyah dengan semua jenisnya. Begitu juga dengan kerja, produksi, investasi, konsumsi, dan selainnya. Hanya saja, kebebasan ini terikat dengan point-point untuk mewujudkan tujuan Hifzh al-Mal (menjaga harta) dari satu sisi, dan point-point untuk mencegah terjadinya mudharat kepada orang lain di sisi lainnya. Finishnya, mewujudkan Teori Ekonomi Islam. Sebab, ia adalah kaki bagi manusia dalam mewujudkan sistem ekonomi global.
  2. Pasar. Islam memperhatikan peran pasar dalam pergerakan ekonomi di Masyarakat, dengan cara mengkhususkan Sumber Daya dan membaginya kepada person-person yang ada di masyarakat, menyediakan lingkungan yang sesuai untuk mewujudkan sebuah pasar; persaingan, pertambahan produksi, suplai dan demand.

Ekonomi Islam berpandangan, 3 faktor produksi, yaitu kerja, modal, dan wilayah, semuanya masuk dalam proses pembagian produksi. Tetapi, kerja tetaplah menjadi ruang yang paling besar. 

Bentuk Kerjasama

Ekonomi Islam menentukan bentuk kerjasama dan keikutsertaan di antara faktor-faktor produksi, dengan beberapa pilihan:

  1. Kerjasama Keuntungan; ia menjadi bagian dari produser
  2. Upah, yang harus diberikan seseorang atas kerja yang dilakukannya.

Ketiga, Produksi, yaitu sejumlah barang dan jasa untuk memenuhi hajat anak manusia dengan cara lansung maupun tidak lansung. Unsurnya ada 4, yaitu Tanah, Kerja, Sistem, dan Modal.
Produksi dalam Ekonomi Islam memiliki beberapa kelebihan di bandingkan dengan sistem lainnya, di antaranya:

  1. Menyerukan penambahan prokduksi dan merespon kebutuhan manusia, berupa barang dan jasa yang beraneka ragam.
  2. Halal. Kelebihan prokduksi Muslim adalah jaminan kehalalannya. Hanya memproduksi yang dihalalkan oleh Allah SWT dan menjauhi segala sesuatu yang diharamkan-Nya. 
  3. Kemampuan Ekonomi. Maksudnya, kemampuan ekonomi menggunakan Sumber Daya yang ada dengan sebaik-baiknya. Kemampuan memberikan kelebihan barang dan pelayanan, dengan jumlah yang lebih minim dari Sumber Daya.

Keempat, Pembelanjaan, yaitu menggunakan harta (uang) untuk berbagai hal.
Jenis-Jenis Pembelanjaan:

  1. Pembelanjaan Konsumsi, yaitu pembelanjaan untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa yang lazim untuk memenuhi kebutuhan manusia.
  2. Pembelanjaaan Sosial (Saling Tolong-Menolong), yaitu pembelanjaan di jalan kebaikan tanpa berpikir untung-rugi; jual-beli. 
  3. Pembelanjaan Produktif (Pengembangan), yaitu menggunakan harta (uang) untuk hal-hal yang akan menambah jumlahnya dan akan membuatnya semakin tumbuh. Jenis inilah yang paling banyak diperhatikan dan paling besar porsinya dalam Fikih Muamalah Maliyah.

Kelima, Pembagian Modal dan Keuntungan
Para Ahli Fikih membagi kepemilikan menjadi dua jenis:

  1. Kepemilikan Umum, yitu segala sesuatu yang tidak boleh dimiliki oleh person-person, Negara juga tidak boleh menjualnya kepada person dan Lembaga. Ia adalah Sumber Daya Alam, seperti sungai, laut, samudra, angkasa, minyak dan gas, hutan. Kemanfaatnyap harus dikembalikan untuk semua rakyat.
  2. Kepemilikan Khusus, yaitu segala sesuatu yang diizinkan bagi pribadi dan Lembaga untuk memilikinya. Islam memberikan kelapangan dalam sarana-sarana kepemilikan khusus, seperti dengan cara bekerja dan berniaga, atau dalam fikih dikenal dengan nama Uqud al-Mu’awadhat; begitu juga dengan cara Uqud al-Tabarru’at, seperti sedekah, hibah, zakat, wakaf, dan wasiat; atau dengan beralihnya kepemilikan, seperti warisan.

Keenam, Keadilan Sosial, yaitu mewujudkan keadilan dalam pembagian modal dan pemanfaatan Sumber Daya di antara person-person yang ada di Masyarakat tanpa ada yang merasa lebih berhak atau statusisasi.
Keadilan Sosial terbagi dua.

1-Solidaritas Umum, yaitu memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok bagi anggota masyarakat, berupa makanan, minuman, dan pakaian. Peranan ini bergantung dengan person di maqam utamanya, melalui mata pencaharian yang mencakup kerja; ia juga peranan Negara; kemudian peranan antara person dan Negara, untuk mewujudkan persaudaraan Islam, sebagaimana terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Thabrani dan al-Hakim, dishahihkan oleh al-Zahabi, dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah Saw bersabda, “Tidak beriman kepadaku, orang yang tidur di malam hari dalam kondisi kenyang, kemudian tetangganya kelaparan, padahal ia mengetahuinya.”
Masalahnya tidak berhenti ketika hajatnya sudah terpenuhi, namun ia tidak memiliki kelebihan dan tidak meminta-meminta.
2-Keseimbangan Sosial, dibagi menjadi dua:

a-Keseimbangan Alami. Teori Materialistic mengklaim, perbedaan di antara manusia, sebabnya adalah strata sosial. Berbeda dengan teori Islam yang berpandangan, sebabnya adalah berbedanya kemampuan pribadi manusia. Karena itulah, al-Quran menetapkan tabiat perbedaan di antara anak manusia di berbagai ayatnya, di antaranya firman Allah SWT, “Mereka tidaklah sama.” Dan firman-Nya, “Mereka akan terus berbeda.”
b-Kesembangan Kerja, yaitu perbedaan manusia dalam hal kerja dan usaha, menyebabkan pembagian harta dan modal sesuai engan kemampuan dan usaha dari setiap person.

Inilah sejumlah pemikiran dan pandangan yang berhubungan dengan Ekonomi Islam. Jelaslah, Ekonomi Islam bukan sekadar berbicara tentang Fikih Muamalah Maliyah. Ekonomi jauh lebih luas tuntutannya, ruangnya, dan kerjanya dibandingkan dengan Fikih Muamalah Maliyah. Dan Fikih Muamalah Maliyah adalah bagian dari Ekonomi Islam, yang mayoritasnya berada di bawah kajian tentang Pembelanjaan Prokdukif.***

Denis Arifandi Pakih Sati | Masud Shabry | Hal al-Iqtishad al-Islamy huwa Fiqh al-Muamalat

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.