Fikih Wisata (Liburan)

Wisata memiliki berbagai jenis, sesuai tujuannya. Ada wisata religi, wisata ilmiah, dan wisata liburan. Dan ketika berbicara wisata, hal pertama yang terlintas dalam pikiran kita adalah liburan dan hiburan, santai dan jalan-jalan. Dan jenis inilah yang paling banyak menimbulkan persoalan-persoalan dalam fikih.
Di sebalik banyaknya pertanyaan tersebut, semuanya akan berujung ke satu pertanyaan pokok; apakah hukum wisata liburan tersebut?

Sebagian Ulama menolak pertanyaan ini dijadikan pertanyaan dialektika. Bahkan, sebagiannya berpandangan bahwa mengkaji hukum wisata jenis ini adalah hiburan ilmiah atau mengkaji sesuatu yang sudah jelas atau mengkaji masalah-masalah sepele dan kecil.
Padahal, jikalau mau merenung sedikit saja, akan didapati urgennya pertanyaan ini dan amat sangat penting eksistensinya di ranah fikih. Sebab, semua masalah-masalah fikih yang berhubungan dengan wisata, jawabannya bergantung dengan jawaban atas soalan dialektikanya, yaitu apakah hukum wisata liburan (hiburan)?

Pantai (Tepi Laut) dan Kemungkaran-Kemungkaran


Di antara pertanyaannya: 

Apakah boleh menikmati Pantai yang dipenuhi berbagai kemungkaran dalam pandangan Syariat; pakaian yang auratnya terbuka, atau terbuka bagian tertentunya; perilaku amoral sejenis; perilaku amoral sesama lawan jenis, baik ada hubungan mahram atau pernikahan atau tidak sama sekali?

Apakah orang yang hanya menyusuri dan berjalan-jalan di tepi pantai, terbebas dari dosa karena tidak ikut serta dengan semua kemaksiatan di atas dan tidak ikut-ikutan? Atau ia sama sekali tidak boleh ada di tengah-tengah kemungkaran tersebut, walaupun ia sama sekali tidak melakukannya? Atau ia boleh ada di sana namun ada kewajiban untuk mengingkari, menasehati, dan mengajarkan, agar beban di pundaknya bisa dilepaskan?

Jikalau jawaban dialektikanya, wisata itu dibolehkan saja, maka jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sebelumnya adalah tidak boleh ada di tempat-tempat yang dipenuhi oleh kemungkaran kecuali menunaikan haknya. Apa haknya? Menegakkan Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar.

Diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudry radhiyallahu anhu, Nabi Saw bersabda: 

إياكم والجلوس على الطرقات
“Janganlah kalian duduk di jalan-jalan.”

Para sahabat bertanya: 

“Tidak ada yang kami lakukan. Ia hanyalah majelis-majelis kami untuk berbincang-bincang.”

Kemudian beliau berkata: 

فإذا أبيتم إلا المجالس فأعطوا الطريق حقها
“Jikalau kalian tidak mau kecuali menjadikannya sebagai majelis, maka berikanlah hak jalan.”

Mereka bertanya lagi: 

“Apakah hak jalan?” 

Beliau menjelaskan:

غض البصر، وكف الأذى، ورد السلام، وأمر بالمعروف، ونهي عن المنكر
“Menundukkan pandangan, tidak menyakiti, menjawab salam, Amar Ma’ruf, dan Nahi Mungkar.” (Lihatlah Kitab al-Lu’lu’ wa al-Marjan fima Ittafaqa ‘alaihi al-Syaikhana (3/43)

Dalam hadits ini, Rasulullah Saw melarang para sahabatnya dan umatnya sampai hari kiamat kelak untuk duduk di jalan-jalan; empati dengan mereka, khawatir mereka tidak bisa menunaikan hak jalan sehingga berdosa; ingin menjauhkan mereka dari segala hal yang akan membuat mereka terkena siksa Allah SWT dan memberatkan beban mereka. Namun mereka enggan. Maka, beliau mengingatkan mereka untuk menunaikan hak jalan.
Dalam Kitab Fath al-Bary dijelaskan: 

“Riwayat-riwayat hadis mencakup makna ‘ilat (sebab) dilarangnya duduk di jalan-jalan, yaitu berhadapan fitnah wanita; khawatir akan efek buruk jikalau mereka tidak mampu menahan diri ketika melihat para wanita melewati jalanan tersebut demi memenuhi hajat mereka, kemudian berhadapan akan hak-hak Allah SWT dan kaum Muslimin yang tidak lazim dilakukannya jikalau berada di rumah; melihat kemungkaran dan terbaikannya kebaikan sehingga ia wajib melakukan Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar. Jikalau ia tidak melakukannya, ia sudah menceburkan dirinya ke dalam maksiat. Selain itu, ia juga akan berhadapan dengan orang yang melewatinya dan mengucapkan salam kepadanya; bisa jadi banyak yang melakukannya dan ia tidak mampu menjawab semua yang melewatinya dan mengucapkan salam kepadanya, padahal menjawabnya fardhu, sehingga ia berdosa. Seseorang itu diperintahkan untuk tidak berhadapan dengan fitnah dan berhadapan dengan kewajiban yang bisa jadi ia tidak kuat melakukannya, sehingga Syari’ mendorong mereka untuk tidak duduk-duduk di tempat tersebut untuk menjaga diri.
Ketika para sahabat menyampaikan hajat mereka untuk duduk-duduk di jalan karena ada maslahatnya; ada perjanjian antara satu dengan lainnya; membahas masalah-masalah agama dan kemaslahatan dunia; menghibur jiwa dengan berbicara masalah-masalah Mubah, maka Rasulullah Saw menunjuki mereka hal-hal yang akan menghilangkan mafsadat di atas.” (Lihatlah Kitab Fath al-Bari: 11/11)

Sedangkan jikalau jawabannya: 

Wisata Liburan (Hiburan) adalah sesuatu yang harus dilakukan secara Psikologi dan Kesehatan, atau minimal Kebutuhan, maka bisa dikatakan disini gugurnya Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar, kemudian wajib baginya mencari lokasi yang lebih minim fahsya’nya dan lebih minim kemungkarannya.

Imam al-Ghazali dan Aturan-Aturan Amar Ma’ruf


Abu Hamid al-Ghazaly menjelaskan masalah ini:

“Jikalau saya bertanya: Apakah semua orang yang melihat binatang ternak masuk ke dalam kebun seseorang, wajib baginya untuk mengeluarkannya? Apakah setiap orang yang melihat harta muslim lainnya hampir hilang, apakah wajib baginya menjaganya?
Jikalau kalian menjawab: Wajib. Ini beban berat yang membuat seseorang berada di bawah kuasa orang lain sepanjang usianya.
Ringkasnya, kita bisa mengatakan: Sesuai dengan kadar kemampuannya untuk menjagan dari kerusakan (kehilangan) tanpa perlu melelahkan badannya atau merugikan hartanya atau menjatuhkan wibawanya, maka kadar itulah yang wajib dilakukannya atas hak Muslim lainnya, bahkan itulah derajat hak paling minimalis.
Dalil-dalil yang menunjukkan hak muslim lainnya banyak. Ini adalah derajat paling minimalnya. Kewajibannya lebih utama dari menjawab salam. Menyakiti dalam hal ini, lebih besar dari porsi menyakiti ketika tidak menjawab salam.
Sedangkan jikalau sampai menyebabkan kelelahan atau mudharat harta atau kedudukan, maka tidak ada kelaziman baginya melakukannya. Seorang manusia berkewajiban melelahkan dirinya untuk menolak segala bentuk maksiat, sebagaimana wajib baginya untuk melelahkan dirinya untuk meninggalkan segala maksiat.” (Lihatlah Kitab Ihya’ Ulum al-Din: 2/ 328)


Ibn Taimiyah Ditanya Tentang Wisata Liburan (Hiburan)


Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah rahimahullah pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang berjalan-jalan santai (liburan) di Taman Bunga di Musim Liburan. Disana biasanya menjadi tempat orang-orang berkumpul. Kemudian ia melihat kemungkaran dan tidak mampu mencegahnya. Istrinya juga ikut bersamanya. Apa yang dilakukannya?
Ia menjawab:

Tidak layak seseorang berada di lokasi-lokasi yang ia melihat disitu ada sejumlah kemungkaran, kemudian ia tidak mampu mengingkarinya. Kecuali, ada sebab Syar’inya. Misalnya, ada urusan penting terkait maslahah agamanya atau dunianya yang harus dihadirinya atau terpaksa menghadirinya. Sedangkan jikalau ia berada disana sekadar untuk bersenang-senang, apalagi ditambah dengan kehadiran istrinya bersamanya untuk menyaksikan kemungkaran tersebut, ini akan merusak kebaikan agamanya dan wibawanya jikalau tetap ngeyel melakukannya. Wallahu A’lam. (Lihatlah Kitab Majmu’ al-Fatawa: 28/ 239)

Jikalau kita melihat wisata (liburan); sekadar bersantai saja, maka berlakulah dalam hal ini fatwa Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah dan aturan yang dibuat oleh Abu Hamid al-Ghazali.
Sedangkan jikalau kita melihat wisata libutan tersebut sebagai bagian dari Mashalah Agama atau Maslahah Dunia, sesuai dengan ungkapan Ibn Taimiyah, maka bisa diberikan keringan (al-Rukshah) untuk menghadiri lokasi-lokasi ini. Apalagi, sebagian besar lokasi-lokasi wisata yang berada di negeri kaum Muslimin, pasti ada kemungkaran-kemungkarannya. Susah didapatkan lokasi-lokasi yang tidak ada kemungkarannya. Bahkan, Mustahil. Maka, cukup bagi seorang wisatawan muslim dalam hal ini mencari lokasi yang paling minim keburukannya dan kemungkarannya.


Kitab (Buku) Seputar Hukum Wisata


Dalam Kitabnya Ahkam al-Siyahah wa Atsaruha: Dirasah Syar’iyyah Muqaranah (Hukum Wisata dan Efeknya: Studi Perbandingan Islam), karya peneliti Hasyim bin Muhammad Hasan Naqur, disertasi Doktoral dan satu-satunya kajian Akademik yang menkaji tema ini, ia mengatakan: 

“Saya tidak mendapatkan satu pun kalangan terdahulu yang berbicara masalah perjalanan ke negeri-negeri kafir untuk berlibur dan jalan-jalan; tidak halal dan tidak juga haram. Sebab masalahnya sudah jelas, ia bertentangan dengan akidah al-Wala’ wa al-Bara’ (loyalitas).” (Lihatlah Ahkam al-Siyahah: 174)

Peneliti menulis nukilan dari Ibn al-Utsaimin rahimahullah: 

"Tidak boleh bagi seseorang melakukan perjalanan ke negeri orang-orang kafir kecuali ada hajatnya. Jikalau ada hajat untuk pengobatan atau menuntut ilmu yang tidak ada di negerinya, kemudian ia sendiri memiliki bekal ilmu dan agama sesuai dengan kami gambarkan, maka tidak masalah. Sedangkan jikalau safar (perjalanan) untuk liburan (wisata) ke negeri kaum Kuffar, maka tidak perlu. (Lihatlah Ahkam al-Siyahah: hlmn 185. Kemudian lihat juga Majmu al-Fatawa wa Rasail al-Utsaimin: 3/ 24)

    

Wisata Bersama Antara Suami dan Istri


Harus dibatasi dulu hukum wisata (liburan); apakah ia bagian dari al-Hajiyat (kebutuhan/ premier) atau al-Tahsiniyat (sekunder). Hal ini penting untuk menentukan hukum ketika seorang istri meminta wisata liburan kepada suaminya. 

Jikalau kita berkesimpulan, ia adalah bagian dari al-Tahsiniyat, konklusinya tidak wajib bagi suami mengabulkan permintaan suaminya. Jikalau kita berkesimpulan, ia adalah bagian dari al-Hajiyat, konklusinya bisa jadi adalah wajib.

Mirip dengan Mayoritas Ahli Fikih masa lalu yang berpandangan, tidak wajib bagi seorang suami menafkahi pengobatan istrinya, sebab berobat hukumnya tidak wajib, tetapi boleh-boleh saja. DR. Wahbah al-Zuhaily mengatakan: 

“Ahli Fikih 4 Mazhab berpandangan, seorang suami tidak wajib membiayai biaya pengobatan istrinya; upah dokter, tukang bekam, tukang fashdu dan harga obat. Biaya itu dibebankan dari harta sang istri jikalau ia memiliki harta.” (Lihat Kitab al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu: 10/ 7380)

Sebagian mereka berpangan, hukumnya sunnah. Sedikit sekali yang berpandangan, hukumnya wajib. Kemudian muncullah fatwa kontemporer yang menyatakan wajibnya suami membiayai semua pembiayaan berdasarkan hukum wajibnya berobat. Mayoritas Ulama dari Mazhab Hanafi dan Maliki berpandangan, berobat hukumnya Mubah. (Lihatlah al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah: 11/ 117)

Wisata dan Keringanan Syariat (al-Rukhshah)


Orang yang melakukan perjalanan (safar) untuk wisata dan liburan; menyaksikan lokasi-lokasi wisata, dimakruhkan baginya menqashar shalat yang 4 rakaat menurut Mazhab Maliki. Dalam Kitab Minah al-Jalil karya Muhammad Ilyas al-Maliki dijelaskan: 

“Orang yang bermain-main, sama dengan orang yang melakukan perjalanan wisata, tidak disunnahkan baginya menqashar shalat, bahkan dimakruhkan. Jikalau ia sudah menqashar shalatnya, maka tidak perlu diulang lagi.” (Lihatlah Kitab Minah al-Jalil Syarh Mukhtashar Khalil: 1/ 401)

Dalam Mazhab al-Syafii dijelaskan: 

“Shalat diQashar jikalau tujuannya adalah liburan, bukan sekadar melihat negeri-negeri dan menyaksikannya.”

Mazhab Hanbali mengatakan: 

“Dibolehkan menqashar shalat bagi orang yang sedang dalam berjalanan, walaupun safarnya adalah safar yang diharamkan.”

Mazhab Hanafi tidak memberikan ruang besar dalam masalah wisatawan/ Traveller. Sebab, mereka tidak membolehkan Jama’ shalat dalam perjalanan. Padahal, orang yang dalam perjalanan lebih membutuhkan al-Jam’ dibandingkan al-Qashar.
Pemaparan ini menunjukkan urgensi Ijtihad kontemporer untuk mendeskripsikan wisata (liburan), kemudian memberikannya hukum yang layak, sesuai dengan faktor-faktor sosial yang dijalani seorang Muslim di zaman ini.***

Denis Arifandi Pakih Sati | Hamid al-Atthar | al-Siyahah al-Tarfihiyyah fi al-Mizan al-Fiqhy

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.