Jangan Hanya Melaknat Hulagu Khan!

Kaedah Ilahiyah (ketuhanan) mengatakan:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya." (Surat al-Isra': 16)

Tidak mungkin akan dihancurkan kecuali berlaku di Negeri tersebut kezaliman:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ
Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan." (Surat Huud: 117)

Dalam sejarah diceritakan, Amir al-Mukminin al-Musta’shim dari Dinasti Abbasiah  tidak memahami pelajaran ini, tidak menyadari hukuman kerusakan akan terus berlaku; walaupun bentuknya berbeda. Dan sang Khalifah sendiri menyaksikan bagian dari realitas tersebut di dalam dirinya sebelum Mongol membunuhnya dengan menginjak-nginjaknya.
Al-Hamadzani bercerita dalam Kitabnya Jami’ al-Tawarikh: 

“Setelah Hulagu menyerang Baghdad dan memasuki Istana Khalifah, ia memberikan isyarat kepada Khalifah al-Musta’shim dengan berkata, ‘Andalah Tuan Rumah, dan saya tamu. Sajikan segala sesuatu yang layak bagi kami.” Kemudian sang Khalifah, dengan gemetar ketakutan membawa berkotak-kotak permata dan perhiasan mewah lainnya. Hulagu sama sekali tidak tertarik. Ia memberikannya kepada orang-orang yang ada di dekatnya. Kemudian ia berkata kepada sang Khalifah, “Harta yang Anda miliki di bumi ini jelas milik para hamba kami. Tetapi, sebutkanlah harta-harta terpendam yang Anda miliki; apa saja dan dimana ia?”

Khalifah mengakui adanya kolam yang dipenuhi emas di halaman istana. Mereka pun menggalinya dan mendapatinya dipenuhi batangan emas berkilauan. Setiap batangnya memiliki berat 100 Mistqal (1 Mitsqal = 5 gram).
Khalifah layak mendapatkan hinaan dari Hulagu; sang Penumpah Darah. Ia takjub, bagaimana sang Khalifah bisa menyimpan harta sebanyak ini, kemudian bersikap kikir dan bakhil menggaji prajuritnya.
Hulagu tidak lupa menyebutkannya dalam surat yang dikirimnya kepada penguasa Damaskus, mewanti-wantinya untuk menyerahkan diri, menakut-nakutinya dengan kondisi yang dialami Khalifah Dinasti Bani Abbasiyah dan peristiwa yang terjadi di Baghdad. Ia berkomentar tentang Khalifah al-Musta’shim: 

“Kami menyidang Khalifahnya dan bertanya beberapa hal, namun ia berdusta dan menyesal. Ia layak kami abaikan. Ia sudah mengumpulkan banyak barang-barang berharga, padahal ia sendiri hina. Ia mengumpulkan harta, namun tidak peduli dengan pasukannya.”

Al-Maqrizy memaparkan tulisan Hulagu dengan detail.
Kita kembali kepada al-Hamadzani yang meriwayatkan kisah pertemuan antara Hulagu dengan sang Khalifah. Ia menceritakan lebih lanjut: 

“Hulagu memerintahkan untuk menghitung para wanita milik Khalifah. Jumlahnya mencapai 700 istri dan selir, serta 1000 pelayanan perempuan.” Sang Khalifah merendah berucap, “Diberikan kepadamu para wanita yang tidak tersentuh matahari, dan tidak juga bulan.”

Al-Hamadzani melanjutkan: 

“Intinya, apa yang sudah dikumpulkan oleh para Khalifah Dinasti Abbasiah selama 5 Abad, ditumpuk oleh Mongol sampai seperti gunung. Dan mereka mengambil semuanya.”

Dengan harta besar yang didapatkan Hulagu dari Khalifah Dinasti Abbasiah, ia menjadikan semuanya dalam bentuk emas batangan, kemudian membangun benteng kokoh di Azarbeijan.
Hulagu –dengan banyaknya darah yang sudah ditampuhkannya, sesumbar ia adalah hukuman Tuhan untuk Dinasti Abbasiah dan para pemimpin zalim di wilayahnya. Ia semangat sekali menampilkan propaganda ini dalam surat-surat yang dikirimnya kepada para penguasa Damaskus:

“Kami sudah menaklukkan Baghdad dengan pedang Allah. Kami sudah membunuh para pasukannya. Kami sudah menghancurkan bangunan-bangunannya. Dan kami sudah menawan para penduduknya.”

Dalam suratnya kepada Sultan Quthz di Mesir, Hulagu mengatakan: 

“Hendaklah Raja al-Muzhaffar Quthz (beserta seluruh gubernur Negerinya, seluruh penduduk di Negeri Mesir dan sekitarnya), kami adalah para pasukan Allah di bumi-Nya, kami diciptakan dari kemurkaan-Nya, kami diberikan kepada kepada siapa pun yang dimurkai-Nya. Kalian sudah memakan haram, tidak menjaga kalam, mengkhianati janji dan keimanan, berlaku durhaka dan durjana. Bagi kalian, kami fakir. Dan bagi kami, kalian kumpulan pelaku maksiat.”

Bisa jadi Sultan Quthz mengambil faedah dari surat tersebut. Mamalik tidak lagi menzhalimi rakyatnya dan membangkitkan lagi semangat beragamanya.
Dalam pertempuran ‘Ain Jalut, ketika pasukannya hampir melarikan diri, ia berteriak: 

“Wa Islamah.” 

Kemudian ia membuang pelananya, turun lansung ke medan perang. Dan hasilnya, kemenanganlah yang didapatkan.
Begitulah tegaknya sebuah Daulah dan kehancurannya. Pondasi kehancurannya berasal dari Internal. Bisa jadi ada interpensi Eksternal atau Asing untuk mempercepat kejatuhannya. Tetapi, kehancuran Internal adalah awal dan faktor utamanya.
Kehancuran Internal muncul ketika ada kelompok masyarakat sejahtera yang menguasai modal dan politik, kemudian mereka berlaku zalim dan amoral, mengubah kehidupan masyarakat ke kehidupan bak Neraka yang menghinakan kehidupan; tidak ada beda lagi antara hidup dengan mati.
Al-Quran al-Karim, dengan Syariat Ekonominya, menetapkan solusi yang mencegah terkonsenrasikannya harta di tangan satu kelompok; memerintahkan di waktu yang sama untuk mengeluarkan zakat dan infak di jalan Allah SWT, bahkan kadangkala ayatnya menjelaskan dalam bentuk Ancaman:

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Surat al-Baqarah: 195)

Artinya, jikalau tidak ada anggaran untuk berjihad di jalan Allah SWT, maka kehancuran adalah konsekwensinya. Jikalau ada anggaran di jalan Allah SWT, maka tidak ada ruang untuk terkonsentrasinya harta di sekelompok kecil masyarakat; hartanya hanya untuk bermewah-mewah.
Allah SWT mengancam kaum Muslimin di masa Rasulullah Saw:

هَا أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ ۖ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ ۚ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ ۚ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ
Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.” (Surat Muhammad: 38)

Al-Musta’shim memiliki hubungan yang buruk dengan para pelayannya dan para pengikutnya. Dalam berbagai moment, ia menggelontorkan ratusan ribu dinar, padahal di waktu yang sama para ulama dan para pejabatnya kelaparan.
Setelah memahami ini, apakah kita masih melaknat Hulagu?!***


Denis Arifandi Pakih Sati | Syeikh Muhammad al-Ghazaly | La Tal’anu Hulugu Wahdahu

Posting Komentar

0 Komentar