Muhammad bin al-Hasan al-Syaibany

Remaja berusia 14 tahun itu menghadap Abu Hanifah, menanyakan sejumlah masalah. Kecerdasannya tampak jelas di kedua matanya. Selesai menjawab pertanyaan, Abu Hanifah berkata kepada para muridnya yang hadir di majelis, "Anak ini akan beruntung Insya Allah." (Lihat Kitab Bulugh al-Amany fi Sirah al-Imam Muhammad bin Hasan al-Syaibani: 6-7)

Remaja itu adalah Abu Abdullah Muhammad bin al-Hasan Farqad al-Syaibany; salah satu ulama besar dalam Mazhab Hanafy. Ia disuruh kembali lagi bermajelis. Tapi ada syaratnya; harus hafal al-Quran. Tujuh hari lamanya ia tidak terlihat. Ketika kembali, al-Quran sudah berada di dadanya dan siap untuk menerima Guyuran Ilmu Fikih dari sang Imam (Abu Hanifah).

Baru tiga tahun melazimi, sang Imam pun wafat. Mulazamah dilanjutkan bersama Murid Abu Hanifah paling senior, yaitu Abu Yusuf.

Tidak sampai disitu, pengembaraan ilmunya membawanya sampai di hadapan al-Auzai di Syam; Sufyan bin Uyainah di Makkah; Abdullah bin Mubarak di Khurasan; dan Imam Malik di Madinah. Berkali-kali ia mengkhatamkan kitab al-Muwattha' di hadapan sang Guru, melaziminya juga selama 3 tahun. Ada sekitar 700 hadits yang didengarnya lansung dari Malik.

Maka, walaupun ia terkenal sebagai salah satu pioner Madrasah al-Ra'yi, bukan berarti ia tidak pernah bersentuhan dengan Madrasah al-Atsar. Buktinya, ia menulis kitab al-Atsar; kitab kumpulan hadits fikih.

Semoga Allah SWT merahmati Muhammad bin Hasan al-Syaibani, yang juga merupakan gurunya Imam al-Syafii.***

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.