Perputaran Masa & Fikih al-Sunan (Sunnatullah)

Banyak ayat-ayat dalam al-Quran al-Karim yang mendorong kita untuk berjalan di muka bumi menyaksikan kondisi orang-orang terdahulu, agar bisa mengambil faedah dan pelajaran dari kondisi-kondisi yang mereka alami; agar bisa mengambil ilmu dari realita hidup yang berulang dan sulit dihadapi, kemudian memperoleh ilmu untuk masa depan yang masih menyembunyikan wajahnya di balik hijab. 

Contohnya adalah firman Allah SWT:

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ ۚ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ
Katakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)." (Surat al-Ruum: 42)

Dan firman-Nya:

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْهُمْ وَأَشَدَّ قُوَّةً وَآثَارًا فِي الْأَرْضِ فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi, maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka." (Surat al-Mukmin: 82)

Dalam bentuk lain perintah dan nasehat ini, al-Quran menggunakan kata-kata al-Sunan yang mengandung sejumlah makna penting, menagkap sinar cahaya dari seluruh penjuru perintah ilahi.
Apa itu al-Sunnah (bentuk tunggal dari al-Sunan)? Apa urgensinya dalam membentuk akal seorang Muslim?  Dan apa peranannya dalam menghadapi berbagai rintangan dan menyelesaikan berbagak krisis?
Dalam Maqayis al-Lughah; Sanna (Sin-Nun) adalah satu kata dasar berulang, yaitu sesuatu yang mengalir dan berulang dengan mudah. Asalnya adalah kata-kata “Sanantu al-Ma’ ‘ala Wajhi = Asunnuhu Sanna (Saya mensunnahkan air di wajahku)”, yaitu saya mengalirkannya. Sunnah adalah Sirah (perjalanan). Sunnah Rasulullah Saw adalah Sirahnya; perjalanan hidupnya. (Lihatlah Maqayis al-Lughah, Ibn Faris, 3/60, terbitan Dar al-Fikr)
Dalam Lisan al-Arab: Sanna al-Thariq Sanna Sananan. Al-San adalah Mashdar (sumber) katanya. Al-Sanan adalah Ism yang bermakna al-Masnun. Al-Sunnah adalah jalan. Al-Sunnah adalah al-Sirah (perjalanan hidup); baik maupun buruk. Dalam hadits, banyak penyebutan al-Sunnah dan pecahannya. Asal makna al-Sunnah adalah al-Thariqah (jalan) dan al-Sirah (perjalanan). Jikalau digunakan dalam Syariat, maksudnya adalah apa yang diperintahkan oleh Nabi Saw; dilarangnya dan disunnahkannya; perkataan maupun perbuatan, tidak termaktub dalam al-Kitab al-Aziz. (Lihatlah Lisan al-Arab, Ibn Manzhur, 5/ 624, terbitan Dar al-Fikr)
Jadi, al-Sunnah menunjukkan pengulangan. Ia adalah jalan yang ditempuh; baik maupun buruk.
Jarang diperhatikan dan dijadikan pelajaran: 

"Perintah ilahi untuk merenungi sunnah orang-orang terdahulu, biasanya ada pasca peperangan yang dianggap eksistensinya secara global, dan pasca peperangan-peperangan yang kaum Muslimin dikalahkan secara khusus, misalnya perang Uhud; ketika itu kaum Muslimin mengalami kerugian yang tidak sedikit.

Allah SWT berfirman:

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
هَٰذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ
(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (Surat Ali Imran: 137-138)

Dalam Kitab Ma’alim al-Tanzil: 

“Firman Allah SWT: ‘Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah’ dikomentari oleh Atha’, ‘Maksudnya adalah Syariat.’ Al-Kalbi berkata, ‘Maksudnya adalah setiap umat memiliki sunnah dan Minhaj. Jikalau mereka mengikutinya, Allah SWT meridhai mereka.’ Mujahid berkata, ‘Maksudnya, sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah berupa kehancuran bagi orang-orang sebelum kalian yang berdusta.’ Ada juga yang mengatakan, ‘Maksud sunnah disini adalah umat-umat.’ Seorang penyair mengatakan:
Keutamaan yang manusia lihat, seperti keutamaan kalian. Mereka ridak melihat seperti kalian dalam sunnah-sunnah umat terdahulu. (Lihatlah Kitab Ma’alim al-Tanzil, karya al-Baghawy, halaman 245, terbitan Dar al-Hazm)

Ibn Katsir mengomentari ayat di atas: 

“Allah SWT mengomentari para hamba-Nya yang beriman, yang kalah di hari Uhud, 70 orang di antara mereka terbunuh. ‘Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah’, Maksudnya, hal ini juga sudah terjadi kepada umat-umat sebelum kalian yang mengikuti para Nabi, kemudian akhir yang baik itu untuk mereka, dan keburukan menjadi akhir bagi orang-orang kafir. Karena itulah Allah SWT berfirman, ‘Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (Kitab Umdah al-Tafsir ‘an al-Hafifz Ibn Katsir, karya Ahmad Muhammasd Syakir, 1/ 348)

Maka, sunnah adalah jalan dan Manhaj; sesuatu yang berulang. Karena berulang itulah kita diperintahkan untuk merenungi peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya. Sebab, ia akan terjadi sesuai dengan kaedah-kaedah dan dasar-dasar yang konstan. Salah satu bentuk kelalaian kita, kita lalai dengan peristiwa masa lalu, menduga seuatu yang sudah berlalu, ia sudah hilang dan selesai, tidak akan terjadi lagi, kejadian masa depan tidak ada hubungannya dengan masa lalu.
Lalai ini merupakan salah satu sifat tercela kaum Munafik, dicela oleh al-Quran al-Karim dalam firman-Nya: 

“أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ
Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (Surat al-Taubah: 126) 

Ibn Katsir berkata; 

“Mereka tidak bertaubat atas dosa-dosa mereka terdahulu, dan tidak pula mengingat keadaan mereka di masa yang akan datang.” (Ucapan Ibn Katsir ini berhubungan dengan Kejadian Masa Depan; studi al-Sunnah, Pengalaman, dan Krisis)

Bisa jadi ini akan menarik kita dalam perdebatan yang sering terjadi; apakah sejarah akan berulang? Maksudnya, sejarahnya bukan berulang orangnya dan peristiwanya, seakan-akan ia film sinema yang diputar ulang. Bukan itu. Dan selamanya tidak begitu. Ini pemahaman yang salah. Tetapi maksudnya adalah berulangnya sejarah dalam pelajarannya, pengajarannya, dan sunahnya.
Jikalau sejarah tidak berulang; ibrahnya, pelajarannya, dan sunnahnya, maka tidak akan manfaat melihat kondisi orang-orang terdahulu.
Kita akan menunjukkan istilah lainnya, bentuknya berbeda dengan makna-makna yang sedang kita bahas, yaitu istilah “Perputaran Zaman” yang terdapat dalam hadits Nabi Muhammad Saw tentang bulan-bulan Haram dan perbuatan buruk orang-orang Arab di bulan-bulan tersebut; suka bermain-main dengan halal dan haram, menunda bulan-bulan haji, agar keharaman bulan haram berlaku di semua bulan, bukan di bulan-bulan tertentu saja. Nabi Saw mengerjakan Haji Wada’ dan wuquf di bulan Dzulhijjah. Artinya, di bulan yang memang dikhususkan untuk itu semenjak awal. Artinya lagi, waktu haji berputar dan kembali ke asal sebenarnya, tidak ada penundaan lagi.
Diriwayatkan oleh al-Syeikhain, dari Abu Bakrah radhiyallahu anhu, dari Nabi Saw: 

“Zaman berputar seperti bentuknya di hari penciptaan langit dan bumi. Setahun ada dua belas bulan. Empat bulan di antaranya adalah bulan Haram. Tiga berurutan; Dzul Qadah, Dzul Hijjah, dan Muharram. Dan Rajab Mudhar yang berada di antara Jumada dan Syaban.”

Zaman seperti lingkaran; manusia bergerak mengelilinginya; memungkinkannya untuk kembali ke titik awal yang sebelumnya sudah dilaluinya. Persis seperti berulangnya bulan dan musim di setiap tahun, seperti berulangnya hari di setiap minggu. 

Benar kalau ada yang mengatakan pengulangan ini bukan copy paste atau harfiyah. Pengulangannya adalah pengulangan dengan bentuk khusus, sesuai dengan kondisi terbaru; pengulangan dalam ibrah dan pelajaran, sebagaimana kami jelaskan sebelumnya.
Makna ini ditangkap oleh Badi’ al-Zaman Sa’id al-Nursi. Ia mendorong kaum Muslimin untuk optimis dan tidak putus asa, memahami karakter zaman. Apabila ia menyaksikan berbagai kegagalan, maka ia juga akan menyaksikan berbagai kemenangan. Jikalau kejadian pertama adalah pengulangan, maka kejadian kedua juga pengulangan. Tidak ada alasan untuk galau berlebihan atau putus asa yang membunuh atau melihat sejarah dengan pandangan bisu dan tiada. Ia mengatakan dengan penyerupaan sastrawi: 

“Lihatlah zaman. Ia tidak berjalan di garis lurus sehingga pangkal dan ujungnya berjauhan. Tetapi, ia berputar layaknya perputaran bola bumi; kadangkala memperlihatkan kita musim panas dan musim semi ketika sedang berada di atas; kadangkala memperlihatkan kita musim dingin dan musim semi ketika sedang berada di bawah. Sama juga dengan musim dingin yang akan diikuti musim semi; malam akan diiringi siang. Semua manusia akan mendapatkan musim semi dan siang, insya Allah. Kalian harus menyaksikan terbitnya matahari hakikat Islam dari kasih sayang Tuhan, sehingga kalian bisa menyaksikan masyarakat hakiki dalam naungan kedamaian global dan paripurna.” (Lihatlah al-Khutbah al-Syamiyah karya al-Nursy dari situs nafizatalnoor)

Kewajiban akal Muslim adalah

  • Melihat kondisi orang-orang terdahulu, kemudian memahaminya. Ini tuntutan al-Quran
  • Memahami, sejarah akan berulang sesuai dengan sunnatullah. Dan pelajarannya tidak berbeda. Hanya saja, pengulangannya bersifat aktif, bukan kaku. 
  • Memahami, ketidaktahuan akan Sunnatullah merupakan salah satu jenis kelalaian yang menyebabkan kesalahan berulang dan terjerumus ke dalam lubang yang sama. 
  • Berhiaskan harapan, menjadikan Sunnatullah sebagai Jalan, Metode, dan Cahaya. ***


Denis Arifandi Pakih Sati | al-Sanusi Muhammad al-Sanusi | Istidarah al-Zaman wa Fiqh al-Sunan

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.