Ramadhan, Mari Kobarkan Semangat Membaca Buku!

Bulan Ramadhan tahun ini dipenuhi ciri khusus yang berbeda dengan kondisi kehidupan sehari-hari dan kebiasaan yang biasanya dijalani seorang anak manusia. Kondisi seperti ini membuka ruang besar bagi kita untuk mengasah kebiasaan membaca. Bulan ini merupakan kesempatan yang baik untuk menjalaninya dengan metode aktif yang berjalan seiring dengan ruh Ramadhan, tidak bercerai dengan nilai-nilainya yang bermuatankan kesabaran, kesungguhan, dan belajar. 

Bulan Ramadhan sudah menghampiri kita. Mukmin yang cerdas adalah mukmin yang memanfaatkan waktu-waktunya dengan sungguh-sungguh dan serius, beralih dari satu ibadah ke ibadah lainnya, merasakan setiap detik bulan yang mulia; dari puasa ke Qiyamullail ke Tilawah ke Sedekah. Dan agar tidak jauh-jauh dari Maidah Ramadhan (hidangan Ramadhan), yaitu al-Quran al-Karim, kami mengundangnya untuk berkeliling membaca di susunan buku-buku beraneka ragam dan taman-taman zikir nan bijak.
Allah SWT berfirman tentang bulan yang mulia ini, “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan al-Quran, petunjuk bagi manusia, penjelasan dari hidayah dan pembeda.” Jikalau al-Quran diturunkan di bulan Ramadhan, maka bagiannya yang pertama kali diturunkan adalah firman-Nya Iqra’ (Bacalah). Maka, tugas kita adalah mendorong manusia untuk membaca selama bulan Ramadhan, bukan malah meminta mereka menjauhinya.


Kesempatan yang Tidak akan Tergantikan


Kepada orang-orang yang menolak untuk menjalin hubungan kasih dengan buku sampai hari ini, maka bulan Ramadhan 2020 adalah kesempatan untuk memulai; kesempatan agar Allah SWT memberikan kepadanya karunia-Nya dan nikmat-Nya. Banyak daftar buku yang mudah dibaca bagi orang yang ingin memulai langkah pertama di dunia Baca (Dunia Literasi); sebuah dunia yang amat indah. Hendaklah Ramadhan ini menjadi pintu yang menjadi jembatannya menyeberangi dunia buku; menjadi cahayanya menuju Alam Ilmu Pengetahuan.
Apakah makna membaca? Apakah maksud membaca? Apa yang saya baca? Dan bagaimana saya membaca di bulan Ramadhan?
Kata-kata “Iqra’” adalah seruan untuk menghapuskan buta huruf dan awal mula masa keilmuan. “Iqra’” adalah kata-kata pertama dalam Risalah Ilahi yang ditujukan kepada anak manusia. Kata-kata inilah yang menjadi awal risalah, dan dengannya juga ditutup kenabian. Kata-kata menakjubkan seperti apakah yang mampu memutus hubungan langit dan bumi?
Membaca mampu membuat “gila” banyak orang dan membuat banyak ulama merindu. Sampai-sampai, kitab itu menjadi sahabat mereka dan teman bicara mereka ketika berkhalwat di malam hari dan berjalan di suang hari, ketika safar dan berjalan, ketika dekat dan jauh, bukan sekadar hiasan di rak-rak. Ia menjadi bekal yang posisinya lebih urgen dari air dan kurma.

Sejumlah Ide Untuk Membaca Produktif


Setiap tahun, ketika masuk Bulan Ramadhan; tamu mulia, mulailah muncul suara-suara yang menyeru manusia untuk menjauhi “membaca” dan konsen membaca al-Quran semata. Mulailah dihitung berapa kali dikhatamkan, dan mereka bertanding melakukannya. Buku-buku lainnya dijauhi, sehingga seseorang kehilangan kesempatan “kemenangan” di bulan mulia ini.
Ada yang  berkata, “Orang-orang tidak menjauhi “membaca” di bulan Ramadhan untuk sekadar bermain, tetapi untuk membaca al-Quran.”
Kita katakan, “Setiap manusia memiliki kemampuan terbatas dengan jumlah waktu yang terbatas juga. Kadangkala tidak mampu melewati batasan tersebut dalam membaca al-Quran. Misalnya, anggap saja setiap harinya di bulan Ramadhan Anda mampu membaca al-Quran 3 jam, maka di sisa hari lainnya apakah yang Anda lakukan? Apakah tidur, istirahat, sibuk bermedsos dan menonton televisi?
Membaca di bulan Ramadhan memiliki kenikmatan khusus dan keindahan yang tidak akan diketahui kecuali oleh orang yang mengenalinya. Dalam bulan Ramadhan, Allah SWT akan membukakan makna-makna yang tidak Anda ketahui sebelumnya. Ramadhan adalah bulan kebaikan, keberkahan, rahmat, bulan al-Quran, bulan Iqra’, dan lain-lain. Tidak layak rutinitas membaca dijauhi di bulan ini. Tidak tepat jikalau hanya diisi dengan Tilawah al-Quran.
Agar bisa membaca dengan sukses selama bulan Ramadhan, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, pilihlah kitab yang bisa Anda baca dengan fokus dan mudah, walaupun Anda sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang biasanya Anda kerjakan dan kebiasaan-kebiasaan yang Anda jalani selama bulan mulia. Ramadhan adalah stasiun perubahan, maka kembangkanlah untuk membentuk dan memperdalam kebiasaan membaca setiap hari. Selain membaca al-Quran al-Karim, baca jugalah kitab-kitab lainnya di berbagai bidang selama bulan Ramadhan, sebagaimana Anda melakukannya di bulan-bulan lainnya. Tidak ada salahnya jikalau ditambahkan dengan Kitab Sastra, Kisah, Sejarah.
Agar semua orang membaca di bulan Ramadhan; bulan Membaca ini, sebagian penulis dan motivator mengusulkan daftar buku-buku yang selayaknya dibaca di bulan Ramadhan. Ada yang sesuai, dan ada juga yang tertarik dengan kitab-kitab lainnya. Namun, keistimewaan kitab-kitab ini adalah kesederhanaan bahasanya dibandingkan kitab-kitab pemikiran dengan ungkapan-ungkapannya yang njlimet, mengaduk-aduk logika, membutuhkan konsentrasi lebih yang tentunya akan membuat seseorang kehilangan bagian Ramadhannya.

Al-Quran adalah Penghulunya Segala Kitab


Tidak diragui, al-Quran al-Karim adalah penghulu segala Kitab di segala masa dan tempat. Ramadhan adalah penghulu segala bulan. Al-Quran diturunkan kepada Nabi kita Muhammad Saw di bulan Ramadhan. Allah SWT berfirman:

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”

Sekali selama bulan Ramadhan, Nabi Muhammad Saw bertadarrus al-Quran bersama Jibril; Malaikat yang Amin. Itulah yang menjadi poros bacaan seorang Mukmin selama Ramadhan. Kami menegaskan, kata-kata al-Quran yang pertama kali turun, yaitu Iqra’ adalah kata-kata perintah yang menfaedahkan Ilzam (keharusan). Para ulama mengungkapkan sejumlah renungan bersama Kitabullah di bulan Ramadhan, dilakukan oleh semisal Imam al-Syafii, Imam al-Bukhari, dan banyak lagi yang lainnya.
Ada banyak kitab-kitab Tafsir. Bisa digunakan untuk mencari makna-makna ayat dan surat, serta mengenal Asbab al-Nuzul untuk memahaminya dan mentadabburinya, khususnya Tafsir-Tafsir yang menjadi rujukan utama seperti Tafsir Ibn Katsir; Kitab Konfrehensif yang tidak mungkin diabaikan seorang pembaca.
Ada juga kitab-kitab hukum al-Quran, seperti al-Qurthubi; Kitab Ahkam yang penting untuk mengetahui hukum-hukum terkait puasa dan ibadah lainnya. Ada kitab-kitab al-Mufradat, yaitu kitab-kitab yang berusaha mengkaji kata-kata sulit dan mengklasifikasi kata-kata al-Quran sesuai dengan makna dan dilalah agar mudah dipahami dan mudah diserap oleh logika. Ada juga kitab-kitab Adab al-Quran, yaitu kitab-kitab yang konsen mengkaji bentuk-bentuk Bayan-Balaghah dalam al-Quran al-Karim. Ada juga kitab-kitab I’jaz, yaitu kitab-kitab yang mengkaji tentang berbagai jenis I’jaz dalam al-Quran al-Karim. Dan al-Quran adalah mu’jizat dalam berbagai sisinya; kefasihannya, balaghahnya, nuzhumnya, tarkibnya, dan uslubnya.

Jenis-Jenis Membaca al-Quran di Bulan Ramadhan


Membaca al-Quran memiliki banyak tujuan, berbeda sesuai dengan jenis bacaan yang diikuti oleh sang Qari’ (pembaca). Berikut ini, kita akan menjelaskan jenis-jenis Bacaan secara mendetail.

Pertama, Qiraat al-Tsawab wa al-Khatam (Bacaan untuk Paham & Khatam). Tujuannya, berusaha mendapatkan kadarnya sebesar mungkin dan berulang-ulang mengkhatamkannya. Agar bisa mendapatkan pahala besar setiap kali membaca satu huruf Kitabullah dan mendapatkan pahala berlipat-lipat, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang menjawab satu huruf Kitabullah, maka ia mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan dengan sepuluh kali pemisalannya. Saya tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf. Tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.
Kedua, Qiraat al-Tadabbur wa al-Taammul (Membaca dengan Tadabbur dan Perenungan). Jenis ini bertujuan untuk memikirkan Kalamullah dan kandungan-kandungannya; perintah, larangan, dan petunjuk. Dan inilah jenisnya yang terbaik, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT, “Kitab yang Kami turunkan kepadamu, diberikahi, agar mereka mentadabburi ayat-ayatNya dan agar orang-orang yang berpikir mengingatnya.”
Ketiga, Qiraat al-Hifzh wa al-Muraja’ah (Membaca untuk Hafalan dan Muraja’ah). Jenis ini dilakukan oleh orang-orang yang hafal al-Quran di luar kepala. Selain itu, mereka bertujuan untuk mengokohkan al-Quran di dalam dada mereka dengan mengulang-ngulang hafalan dan mengulang-ngulang ayat. Ini merupakan tanggungjawab besar yang berada di pundak para penghafal al-Quran. Jenis ini, akan sangat berfaedah bagi para penulis Mushaf; sambil menulis, sambil mengukang hafalan. Rasulullah Saw bersabda, “Peganglah al-Quran. Demi jiwa Muhammad yang berada dalam genggaman-Nya, ia lebih mudah lepas dari unta dalam ikatannya.”


Satu Surat Untuk Direnungi


Ada yang menasehati untuk melakukan bacaan khusus terhadap al-Quran al-Karim. Katanya: Pilihlah salah satu surat al-Quran dan jadikan ia sebagai subjek studi Anda. Tadabburilah makna-maknanya dan tetaplah berada di bawah bayangannya. Tulislah karya-karya para Ahli Tafsir mengenai surat tersebut. Bacalah alam semesta yang ada di sekitar Anda ketika membacanya, maka Anda akan mendapatkan penafsiran yang agung. Kendalikanlah akal Anda dan hati Anda. Sinarilah ayat-ayat tersebut dengan cahaya hati (bashirah) sebelum mata (mata).
Syeikh Muhammad al-Ghazali mengatakan: 

“Saya harus menyelami kedalaman ayat untuk mengetahui ikatannya dengan ayat sebelumnya dan ayat sesudahnya, kemudian untuk mengenal semua surat saling terikat dan saling berhubungan.” 

Hiduplah bersama salah satu surat al-Quran di bulan Ramadhan. Pergaulilah. Jadikanlah setiap kali hubungan Anda dengannya sebagai titik masuk ke dunia al-Quran al-Karim menuju dunia yang Allah SWT inginkan kita ada di dalamnya.
Berusahalah agar Anda meninggalkan Ramadhan dengan satu surat yang Anda tadabburi dengan seindah-indahnya. Anda akan mendapati kenikmatan yang akan membuat Anda mendaki setapak demi setapak untuk mentadabburi ayat setelahnya. Siapa yang merasakannya, maka ia akan mengetahuinya. Siapa yang mengetahuinya, maka ia akan menciduknya.
DR. Ahmad Khairi al-Umary mengatakan dalam kitabnya berjudul Alladzina lam Yulad Ba’d tentang al-Quran di bulan Ramadhan: 

“Al-Quran, saya sampaikan kepada Anda sekarang ini, janganlah berhubungan dengannya layaknya orang Yahudi yang suka melakukan riba. Janganlah bersikap semenjak awal Ramadhan dan berucap, ‘Satu juz setiap hari, dan khatam seperti biasanya di akhir bulan.’

Kalau itu bermanfaat, ya memang bermanfaat. Tapi, saya katakan kepada Anda, ‘Jangan letakkan batasan, dinding dan penghalang di hadapan Anda.
Pembagian itu dibuat menjadi juz dan hizb agar Anda mudah mulai menghafal bukan untuk Anda menjadikannya sebagai halangan. Bacalah dengan kerinduan bagi siapa saja yang mampu menghafalnya dan ingin mengetahui apa yang akan didapatkannya. Agar Anda menjadi sosok yang super. Hendaklah sebab turunnya, menjadi sebab kenaikan (perkembangan) Anda.


Waktu untuk Membaca Buku-Buku Kisah


Jikalau sebagian orang lebih suka mengkaji Kitab-Kitab Agama dan Sufi karena mengandung faedah bagi diri, ada juga sebagian lainnya yang menganggap membaca hanya akan menyia-nyiakan waktu; selayaknya diisi dengan ibadah dan membaca al-Quran; membaca bisa dilakukan nanti saja. Namun, sejumlah intelektual berpandangan, membaca itu  berfaedah, dan juga merupakan salah satu jenis ibadah.
 Banyak yang menyukai bacaan beraneka ragam; buku-buku novel, puisi, cerita polisi, cerita lakon drama, dan tentunya buku-buku agama dan al-Quran. Sebagian lainnya berpandangan, tidak ada perbedaan antara bulan Ramadhan dengan bulan lainnya, kebiasaan membaca harus tetap yang utama di setiap bulan sepanjang tahun.***

Denis Arifandi Pakih Sati |Nur al-Din Qilalah |Ramadhan 2020 Dakwah li Tahdits Fi’l al-Qiraah

Posting Komentar

0 Komentar