Sekilas Fikih Umar bin al-Khattab

Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu adalah sosok jenius yang dikaruniakan ilham oleh Allah SWT, akalnya selalu menyala, pikirannya penuh dengan ide. Nabi Saw bermimpi mengenai dirinya dan Abu Bakar, kemudian beliau bersabda:

رَأَيْتُ النَّاسَ اجْتَمَعُوا، فَقَامَ أَبُو بَكْرٍ فَنَزَعَ ذَنُوبًا أَوْ ذَنُوبَيْنِ، وَفِي نَزْعِهِ ضَعْفٌ وَاللَّهُ يَغْفِرُ لَهُ، ثُمَّ قَامَ عُمَرُ فَاسْتَحَالَتْ غَرْبًا فَأَرْوَى فَلَمْ أَرَ عَبْقَرِيًّا مِنَ النَّاسِ يَفْرِي فَرْيَهُ حَتَّى ضَرَبَ النَّاس بِعَطَنٍ
“Saya melihat orang-orang berkumpul. Abu Bakar berdiri, kemudian mengambil segayung atau dua gayung air. Pengambilannya lemah. Dan Allah SWT mengampuninya. Kemudian berdirilah Umar. Dan ember itu berubah menjadi besar, lalu ia menimba sebanyak-banyaknya. Aku belum pernah melihat seorang jenius melakukan seperti itu, sehingga orang-orang semuanya dapat minum sepuasnya.” 

Maksudnya, “Saya tidak melihat pemimpin bekerja seperti dirinya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Fadhail al-Shahabah) Mimpi tersebut ditakwilkan dengan tentang kekhalifahan Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu.
Dalam al-Shahihain dar Hadits Abu Aisyah radhiyallahu anha, Nabi Saw bersabda:

لَقَدْ كَان فِيمن قَبْلَكُمْ مِنَ الأُممِ نَاسٌ محدَّثونَ، فَإنْ يَكُ في أُمَّتي أَحَدٌ، فإنَّهُ عُمَرُ
“Di umat-umat sebelum kalian ada manusia-manusia yang diajak bicara. Jikalau ada di tengah umatku, maka ia adalah Umar.”

Ada juga dalam riwayat Abu Saud al-Khudry secara Marfu’ dengan lafadz, “Ditanyakan: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana Dia berbicara kepadanya?” Beliau menjawab:

تتكلم الملائكة على لسانه
“Para Malaikat berbicara dengan lisannya.”

Sosok jenis yang mendapatkan ilham ini, dikaruniai kecerdasan yang menyala, fikih dan ilmu yang luas, serta hikmah yang keluar dari seluruh bagian tubuhnya.

كان والله أحوذيًّا، نسيج وحده، فقد أعد للأمور أقرانها
“Demi Allah, ia sosok penakluk, hanya ada satu-satunya. Ia mempersiapkan segala urusan lengkap dengan penyerta-penyertanya.”

Begitulah Umm al-Mukminin Aisyah radhiyallahu anha menggambarkannya.
Sedangkan Abdullah bin Masud berkata tentang dirinya:

إني لأحسب عُمر قد ذهب بتسعة أعشار العلم
“Saya menduga Umar wafat dengan membawa 9/10 ilmu.”

Abdullah bin Umar berkata:

ما نزل بالناس أمر قط فقالوا فيه، وقال عمر بن الخطاب، إلا نزل فيه القرآن على نحو ما قال عمر
“Tidak ada suatu masalah pun yang dialami manusia, kemudian mereka berucap sesuatu, dan Umar pun berucap sesuatu, kecuali al-Quran turun sesuai dengana pa yang diucapkan Umar.”


Umar bin al-Khattab dan Para Muallaf


Umar bin al-Khattab berpandangan, pemberian zakat kepada para Muallaf hanya berlaku ketika kondisi Islam sedang lemah dan membutuhkan eksistensi mereka. Dan fikih meniadakan pemberian mereka ketika kondisinya sudah kuat dan tidak diberikan lagi keistimewaan. Maka, ketika kekhilafahan diberikan kepadanya, ia tidak memberikan zakat lagi kepada mereka. Islam tidak membutuhkan mereka. Islam sudah kuat, ditakuti, kata-katanya didengarkan, dan manusia berbondong-bondong memasukinya.
Mengenai hal ini, ada riwayat ketika Abu Bakar memberikan sesuau kepada Uyainah bin Hishn dan al-Aqra’ bin Habis. Kemudian, keduanya ingin Umar menjadi saksi atas hal tersebut. Umar menyobek kertas tersebut dan berkata: 

“Rasulullah Saw mengajak kalian, ketika itu Islam sedikit. Allah SWT sudah memuliakan Islam. Pergilah. Kerahkan kekuatan kalian berdua.” 

Keduanya mendatangi Abu Bakar mengadu: 

ما ندري والله: أأنت الخليفة أو عمر؟
“Demi Allah, kami tidak tahu, apakah Anda yang khalifah atau Umar?”

Abu Bakar berkata: 

لا، بل هو لو كان شاء
“Tidak. Bahkan, ia kalau seandainya ia mau.”


Umar bin al-Khattab & Hukuman Pencuri di Masa Paceklik


Tahun paceklik menimpa kaum Muslimin di masa Umar bin al-Khattab; kekeringan dan kelaparan. Dahsyat sekali. Dinukil, Umar yang aslinya berwajah putih, wajahnya berubah di masa paceklik ini. Ia bersumpah tidak akan makan lauk-pauk sampai masa paceklik ini berlalu.  
Salah satu fikihnya, ia tidak memotong tangan orang yang mencuri di Masa Peceklik ini karena syubhat darurat yang memaksa untuk mencuri. Dan Hudud ditolak dengan syubhat (al-Hudud Tudra’ bi al-Syubhat).
Al-Zarqany berkata, “Maklum dari sejarah Umar di musim paceklik, ia tidak memotong tangan pencuri.”
Salah satu fikihnya yang lain, diriwayatkan dari Harits bin Abu Dzubab al-Dusy, “Ketika masa paceklik, Umar bin al-Khattab menunda kewajiban zakat. Tahun depan, ketika orang-orang sudah normal kehidupannya dan badan mereka sudah segar bugar seperti sedia kala, ia mengutus para pengambil zakat, dan saya salah satu di antara mereka. Ia berkata:

خذ منهم العقالين: العقال الذي أخرنا عنهم، والعقال الذي حل عليهم، ثم اقسم عليهم أحد العقالين، واحدر إلي الآخر
“Ambillah dari mereka dua bagian; bagian yang ditunda, dan bagian yang tahun ini. Kemudian bagikan salah satu bagian kepada mereka, kemudian berikan bagian satunya lagi kepada yang lainnya.”

Kemudian saya melakukannya.”

Umar bin al-Khatab Tidak Mau Merekomendasi Seseorang Tanpa Berhubungan dengannya


Seseorang memuji orang lain di depan Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu, kemudian ia bertanya, “Apakah Anda pernah menemaninya dalam perjalanan, walaupun sekali?” Ia menjawab, “Tidak.” Umar melanjutkan, “Apakah Anda pernah mempercayakannya sebuah amanah?” Ia menjawab, “Tidak.” Umar bertanya lagi, “Apakah ada hak antara Anda dengannya?” Ia menjawab, “Tidak.” Umar berkata, “Diam. Saya melihat Anda tidak memiliki ilmu tentang dirinya. Saya mengira Anda, demi Allah, hanya seperti orang yang saya lihat shalat di Masjid; menundukkan kepalanya dan mengangkatnya.” 

Cerita semisal ini, disebutkan oleh Ibn Qutaibah dalam ‘Uyun al-Akhbar, seseorang berkata kepada Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu, “Fulan adalah sosok yang jujur.” Umar bertanya, “Apakah Anda pernah melakukan perjalanan bersamanya?” Ia menjawab, ‘Tidak.” Umar bertanya lagi, “Apakah pernah ada khusumat antara Anda dengannya?” Ia menjawab, “Tidak.” Umar melanjutkan, “Apakah Anda pernah mengamanahkannya sesuatu?” Ia menjawab, “Tidak.” Umar berkata, “Anda tidak ada ilmu tentang dirinya. Saya melihat Anda seperti seseorang yang pernah saya lihat mengangkat kepalanya dan menundukkannya di Masjid.”
Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah rahimahullah menyebutkan kisah ini sebagai hujjah pendapatnya. Ia mengatakan, “Karena itulah,  ketika ada seseorang bersaksi di hadapan Umar, kemudian ada seseorang lain yang merekomendasikannya, Umar berkata, ‘Apakah Anda tetangga terdekatnya yang mengenal sorenya dan paginya?” Ia menjawab, ‘Tidak.” Umar bertanya, “Apakah Anda pernah berhubungan dirham dan dinar dengannya; keduanya bisa menguji amanah seseorang?” Ia menjawab, ‘Tidak.” Umar bertanya lagi, “Apakah Anda pernah menemaninya dalam perjalanan yang bisa menyingkap karakter manusia?” Ia menjawab, ‘Tidak.” Umar berkata, “Anda tidak mengenalnya.” Diriwayatkan Umar berkata, “Mungkin tadi Anda melihatnya shalat beberapa rakaat di Masjid.”
Al-Thahawi memaparkan dalam Misykar al-Anwar, Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu berkata, “Janganlah kalian melihat shalat seseorang, tidak juga puasanya, tetapi lihatlah kejujurannya dalam berbicara, amanahnya ketika diberikan amanah, dan wara’nya ketika lapang. Ketahuilah, kecelakaan adalah kecelakaan Juhainah yang ridha dengan agamanya dan amanahnya.” Diceritakan, “Ia mengejar (kafilah) haji yang bangkrut, kemudian berkata, “Siapa yang memiliki hutang, maka hadirkanlah dagangannya atau bagian hartanya. Ketahuilah, hutang itu awalnya adalah kegelisahan, dan ujungnya adalah kesedihan.”


Umar bin al-Khattab, “Allah SWT Tidak akan Menghinakan Hamba-Nya untuk Dosa Pertama kalinya.”


Fikih Umar bin al-Khattab lainnya dan pandangan tajamnya, ketika ia dihadapkan dengan seorang pemuda yang mencuri, kemudian pemuda itu berkata, “Demi Allah, saya tidak pernah mencuri sebelumnya.” Umar berkata:

كذبت والله، ما كان الله ليسلم عبدا عند أول ذنب
‘Anda berdusta. Allah SWT tidak akan menyerahkan seorang hamba untuk dosa pertama kali dilakukannya.”

Atsar ini dijelaskan oleh Ibn Katsir dalam Musnad al-Faruq dari hadist riwayat Anas. Ibn Katsir berkata, “Pensanadannya shahih.”
Ada juga nukilan lainnya dari Umar bin al-Khattab, ada seorang pencuri yang perkaranya diadili di hadapan Umar, kemudian ditetapkan untuknya hukuman potong tangan. Pencuri itu berkata: 

:مهلاً يا أمير المؤمنين، والله ما سرقت إلا بقدر الله
“Tunggu wahai Amir al-Mukminin, demi Allah, saya tidak mencuri kecuali karena takdir Allah SWT.”

Ini kata-kata yang benar. Umar pun menjawab: 

ونحن لا نقطعك إلا بقدر الله
“Kami tidak memotong tanganmu kecuali karena takdir Allah SWT.”

Umar pun mematahkan hujjahnya.
Kemudian Syeikh Ibn Utsaimin mengomentarinya: 

“Kita mengomentarinya: Kami memotong tangannya karena takdir Allah SWT dan syariat-Nya. Orang yang mencuri, mencuri karena takdir-Nya. Namun, ia tidak mencuri karena syariat-Nya. Dan kami memotong tangannya karena takdir Allah SWT dan syariat-Nya.” 

Namun, Umar radhiyallahu anhu tidak mengomentari masalah syariat ini, agar tidak ada perdebatan panjang; adu hujjah dengan hujjah.

Umar bin al-Khattab & Mencopot Para Pejabatnya Setelah Empat (4) Tahun


Bentuk fikih Umar bin al-Khattab lainnya dan strategi jitunya adalah cara intropeksinya terhadap para amirnya dan pencopotan siapa saja yang tidak disukai rakyatnya, walaupun ia berada di atas kebenaran, seperti peristiwa yang dialami penduduk Kufah dengan Saad bin Abi Waqqash. Umar berucap: 

لقد هممت ألا أدع والياً أكثر من أربع سنين، إن كان عدلاً ملّه الناس، وإن كان جائراً كفاهم من جوره أربع سنين
“Saya berkeinginan tidak memberikan seorang pemimpin lebih dari 4 tahun. Jikalau ia adil, orang-orang akan bosan terhadapnya. Jikalau ia zalim, maka kezalimannya atas mereka selama 4 tahun.


Ibn Hajar mengatakan dalam al-Fath: 

“Mazhab Umar, tidak memperkerjaan seseorang lebih dari 4 tahun.”

Di antara fikihnya juga, ia memberikan kepemimpinan kepada orang yang kurang baik (al-Mafdhul) dibandingkan orang yang baik (al-Fadhil). Sebab, ia melihat siapa yang paling layak memegang jabatan, bukan siapa yang paling baik bagi dirinya sendiri (ينظر إلى الأصلح للولاية لا إلى الأصلح في نفسه) Ia mengatakan: 

“Saya kurang nyaman jikalau menempatkan seseorang, padahal saya mendapati seseorang yang lebih kuat darinya.” 

Ia berdoa: 

“Ya Allah, saya mengadu kepada-Mu akan kekuatan pelaku maksiat dan kelemahan orang yang terpercaya.”

Diriwayatkan, ia bertanya tentang seseorang yang ingin diberikannya jabatan, kemudian ada yang menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, ia tidak mengenal keburukan.” Umar berkata kepada orang tadi, “Celakalah engkau, apakah saya mendekatkannya untuk terjerumus ke dalamnya?” Maksudnya, seseorang harus paham dengan kondisi manusia, tipu daya mereka. Tujuannya, agar mereka tidak menipunya dan menjerumuskannya ke dalam kebatilan, sedangkan ia tidak menyadarinya.
Umar bin al-Khattab berkata tentang dirinya sendiri: 

“Saya bukanlah orang baik, dan tidak ada kebaikan yang menipuku.”

Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu anhu mengatakan: 

كان الناس يسألون رسولَ الله – صلَّى الله عليه وسلم – عن الخير، وكنت أسألُه عن الشر مخافة أن يُدركني
“Orang-orang bertanya kepada Rasululla Saw bertanya tentang kebaikan, dan saya bertanya kepadanya tentang keburukan agar tidak terjerumus ke dalamnya.”

Dasar yang dipakai oleh Umar bin al-Khattab ketika memberikan kepemimpinan kepada Orang kurang baik (al-Mafdhul) bukan baik (al-Fadhil) adalah kerasnya dan kekuatannya dalam menjalankan pekerjaannya, sesuai dengan riwayat Muslim dan Ahmad, dari Abu Dzar radhiyallahu anhu, “Wahai Rasulullah, apakah Anda tidak memberikan saya jabatan?” Beliau memukul tangannya ke pundak Abu Dzar dan berkata: 

ََا أَبَا ذَرَ إنّكَ ضَعِيفٌ وَإنّهَا أَمَانَةٌ، وَإنّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إلاّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقّهَا وَأَدّى الّذِي عَلَيْهِ فِيهَا
“Wahai Abu Dzar, Anda lemah, dan ini adalah amanah. Ia pada hari kiamat, akan menjadi kesedihan dan penyesalan. Kecuali, bagi yang memegangnya dengan haknya dan menunaikannya dengan seharusnya.”

Makna lemah dalam hadits ini, tidak mampu menunaikan kewajiban-kewajiban jabatan yang dipegang. Al-Nawawi rahimahullah berkata: 

“Hadits ini adalah pondasi besar untuk menjauhi kekuasaan, khususnya bagi orang-orang yang tidak mampu menjalankan tugas-tugasnya.”


Referensi:

Syarh al-Nawawi ala al-Muslim: 15/ 540
Mausu’ah Atsar al-Shahabah karya Sayyid bin Kisro bin Hasan: 1/ 240
Syarh Musykil al-Atsar karya al-Thahawi: 11/ 73
Al-Jawab al-Shahih li Man Baddala Din al-Masih karya Ibn Taimiyah: 6/ 492
Adab al-Nafs karya al-Hakim al-Turmudzi: halaman 79
Uyun al-Akhbar karya Ibn Qutaibah: 3/ 178
Al-Kifayah fi Ilm al-Riwayah karya al-Khatib al-Baghdady: halaman 83
Al-Muntaqa Syarh Muwattha’ Malik: 6/ 65
Al-Amwal karya Ibn Zanjawaih: 2/ 829
Musnad al-Faruq karya Ibn Katsir: 2/ 509
Syarh al-Arba’in al-Nawawiyah karya Ibn Utsaimin: halaman 78
Al-Shahih al-Musnad min Atsar al-Shahabah fi al-Zuhd wa al-Raqaiq wa al-Akhlaq wa al-Adab karya Abdullah al-Khulaify: halaman 60


Denis Arifandi Pakih Sati | Muhamamd Mahmud | Syai min Fiqh Umar radhiyallahu anhu

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.