Kelompok Islam KTP Menurut Syeikh Rasyid Ridha Dalam Tafsir al-Manār

Ketika berbicara tentang Islam KTP, apa yang terlintas dalam pikiran Anda? Sinetron? Istilah serupa, hanya saja dalam Bahasa Arab, banyak digunakan oleh Syeikh Muhammad Rasyid Ridha dalam tulisan-tulisannya di majalah al-Manār. Kemudian dibukukan menjadi Tafsir al-Manār. Istilah yang beliau gunakan adalah al-Muslimin al-Jughrafiyyin, anonimnya adalah al-Muslimin al-Haqiqiyyin, yaitu Muslim Geografi dan Muslim Hakiki. Jenis yang pertama, merujuk kaum muslimin yang Islam sekadar di kartu identitas; nama saja, tapi tidak dengan amalannya, ilmunya, dan akidahnya. Jumlahnya Mayoritas.  Sedangkan Muslim hakiki, sebaliknya. Mereka adalah orang-orang yang memahami Islam dengan baik. Akidahnya, Ibadahnya, Muamalahnya. Intinya, Islam itu menyatu dalam dirinya; ilmu dan amal. Jumlahnya Minoritas. 


Dalam salah satu Artikelnya di Jilid ke-29, bulan Syawwal 1346 H, halaman 15, dengan judul A’da al-Islām al-Muhāribùna lahu fí Hadza al-‘Ahd, ia menjelaskan bahwa musuh Islam  itu banyak, dari kalangan internal maupun eksternal. Semuanya berusaha memadamkan cahaya Islam dan memberikan kuasanya kepada pihak lainnya. Ada yang melakukannya secara sadar, ada yang semi sadar, dan ada juga yang jahil tidak berilmu.
Ia menjelaskan, jumlahnya itu ada Sembilan; tiga dari asing, dan lima dari dalam, kemudian satu lagi gabungan keduanya.
Dari kelompok asing (Eksternal):

•    Para Penjajah;
•    Para Missionaris;
•    Para Pengajar asing di sekolah-sekolah mereka dan sekolah-sekolah negeri.


Dari kelompok dalam (Internal):

•    Para Pembaca Buku yang Taklid;
•    Para Syeikh Tarikat yang Ahli Bid’ah;
•    Para Penyeru Westernisasi;
•    Para Atheis;
•    Para Reformer yang berusaha menghapus masa lalu;
•    Para Aktivis Feminis.


Peran Tafsir al-Manār


Syeikh Rasyid Ridha menjelaskan peran al-Manār untuk menghadapi orang-orang tersebut, dengan berbagai metode sesuai dengan kelompok yang dihadapi, sesuai dengan perbedaan yang ada pada mereka.
Ia menjelaskan:

“Seharusnya, al-Manār berjuang melawan semua musuh-musuh Islam yang menyerang Islam, baik akidahnya, syariatnya, adabnya, kuasanya, dan bahasanya. Sejak awal al-Manār ini dibentuk, ia menjalankan beban kewajiban ini, walaupun sedikit yang membantunya dan minim yang menolongnya.
Di tahun-tahun pertama, kami mulai dengan berjihad menghadapi para musuh agama dan musuh Islam. Mereka berasal dari kalangan umat Islam sendiri. Kami menyeru mereka untuk kembali ke jalan Allah SWT dengan cara hikmah dan nasehat baik, kemudian kami berjidal melawan mereka juga dengan cara yang baik.
Setelahnya, barulah kami melawan orang-orang asing, apalagi para missionaris Kristen. Di antara bab terbuka dalam al-Manār dalam setiap Juz nya adalah Bab berjudul Syubhāt al-Nashārā wa Hujaj al-Islām, sebagaimana juga ada salah satu babnya yang berjudul al-Bida’ wa al-Khurāfāt wa al-Taqālid wa al-‘Aādat.
Dalam waktu bersamaan, kami berkali-kali menjelaskan bahaya westernisasi yang bersifat semu, abstrak, dan bias social. Kemudian muncullah berbagai kerusakan akibat atheism yang digemborkan kaum Westernisasasi. Mereka secara terang-terangan menyerang agama dalam berbagai dialog dan pidato yang disampaikan dalam berbagai acara, serta juga dengan berbagai artikel yang disebarkan di koran-koran.
Maka, al-Manār bangkit untuk menjelaskan kesalahan-kesalahan mereka, menunjukkan hakikat diri mereka, memaparkan kerusakan-kerusakan dan mudharat yang akan mereka timbulkan.”

Syeikh Rasyid Ridha menjelaskan, tenaga yang dibutuhkan dalam perjuangan ini, jauh di atas kemampuan yang dimiliki oleh al-Manār:

“Apa yang bisa dilakukan satu pena dalam satu lembar kertas, melawan jumlah mereka yang menyerang begitu banyak? Inilah upaya yang dilakukan, menunaikan fardhu kifayah, semua umat akan berdosa jikalau meninggalkannya. Tidak ada usaha yang bisa dilakukan al-Manār, kecuali menolak dosa ini dari semua anak manusia di seluruh bumi. Disitu, ada penyimpangan-penyimpangan Kristen, begitu juga dengan Atheisme dan Bid’ah.
Minimal, ia menjadi wakil. Menolak sesuai dengan penyebarannya. Walaupun, hanya bisa sampai kepada siapa saja yang sampai ke tangannya atau diterjemahkan. Semua kerusakan ini tampak nyata di semua negeri atau semua wilayah. Bentuknya bermacam-macam. Tapi pointnya sama; harus ditolak dan harus dijelaskan kebatilannya, dengan berbagai ungkapan dan hujjah yang berbeda hasilnya antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.”

Artinya, semua negeri harus menggunakan sarana dan penjelasan yang sesuai, menyesuaikan syubhat dan metode penyesatan yang digunakan.

Para Aktivis Westernisasi dan Atheisme


Kemudian Syeikh Rasyid Ridha menjelaskan, orang-orang yang suka menyerang Islam dari kalangan pendukung Westernisasi dan para zindik atheis, mengkampanyekan syiarnya para Missionaris; mengajak umat Islam untuk mengabaikan agamanya dan berpikir atheis, serta derivasi keduanya berupa sikap zindik, menghalalkan kehormatan dan harta orang lain, melanggar nilai mulia kehormatan dan adab, mengurai semua ikatan yang dibentuk oleh umat Islam. Tidak ada satu pun lagi yang dijaga demi membumikan semua kerusakan di atas, kecuali sekadar taktik agar tidak mendapatkan sanksi dari pemerintah ketika undang-undang dilanggar.
Syeikh Rasyid Ridha menjelaskan, tujuan para pengusung Westernisasi dan Atheis adalah menghancurkan Islam dan melemahkan semangatnya:

“Mereka berusaha menghancurkan agama Islam dari semua sisinya; akidah, syariah, adab, dan fadhilah. Selain itu, juga menghancurkan semua unsur-unsur umat Islam, khususnya Arab; bahasa dan fashion, agar tidak ada lagi sesuatu pun dari masa lalunya yang dijaga, bahkan kalau bisa tidak ada lagi yang namanya umat Islam. Sebab, umat itu ada karena ada masa lalunya, sejarahnya, unsure-unsurnya, baik semi-real maupun maknawi.”

Klaim batil yang menjadi sandaran mereka:

“Semua masa lalu yang ada pada diri umat Islam, sudah kuno, rusak dan tidak layak, wajib diganti dengan selainnya yang masih baru, diambil dari teori-teori, etika-etika, tradisi-tradisi dan fashion-fashion Eropa. Mereka menyerukan semua yang baru dan meninggalkan semua yang lama.”

Dan banyak lagi semisalnya lainnya di masa kita ini yang menyatakan bahwa al-Turats al-Islami adalah bagian dari masa lalu dan tidak layak untuk masa sekarang dengan segala hal barunya dan masalah-masalahnya. Tidak ada alternative lainnya, kecuali peradaban barat dengan segala manisnya dan pahitnya.
Syeikh Rasyid Ridha mewanti-wanti, dalam menyebarkan ide-ide mereka, mereka memanfaatkan para pemuda yang memiliki tenaga besar namun tidak memiliki kematangan sempurna, serta juga memanfaatkan orang-orang awam yang tidak memiliki filter pembenteng diri dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan:

Dalam kampanye mereka, mereka bergantung dengan generasi baru dari kalangan pemuda dan pemudi. Mereka biasanya suka dengan semua yang baru karena menarik dan nikmat, kemudian juga karena akidah mereka, adab mereka, dan akal mereka yang belum mengakar. Kemudian bagi orang awam, mereka menerimanya karena bisa menikmatinya, memutus rantai ikatan dan membebaskan syahwat.”


Ahli Fikih yang Taklid & Ahli Tasawuf yang Suka Melakukan Bid’ah


Selain itu, penulis al-Manār menjelaskan bahwa para Ahli Fikih yang Taklid dan Ahli Tasawwuf yang suka melakukan bid’ah, sudah berpaling dari tugas utama mereka dan kewajiban yang seharusnya mereka jalankan. Akibatnya, mereka terjerumus ke dalam perangkap rencana-rencana non muslim:

“Jikalau bukan karena kekakuan/ rigid para ahli fikih yang taklid (yang menimbun ilmu-ilmu Islam di negeri-negeri Islam berabad-abad yang lalu), dan jikalau bukan karena ahli tarikat-tasawuf dan segala khurafat yang mereka lakukan (mereka adalah orang-orang yang pendahulu mereka sangat perhatian sekali dengan pendidikan agama, agar agama tersebut menjadi “rasa” di jiwa pemeluknya, tidak menerima perdebatan dan pertikaian, kemudian setelahnya mereka berubah menjadi upaya perusakan yang tidak menerima reformasi sedikit pun, dengan alasan apapun). Jikalau bukan karena mereka, maka para pelaku perusakan ajaran Islam dan para Missionaris, tidak akan memberikan pengaruh apapun dalam upaya mereka menyesatkan kaum muslimin.”

Ia menambahkan:

“Walaupun  para ahli fikih yang taklid terhadap mazhab-mazhab adalah sisa orang-orang yang menjalankan zahir Islam, namun bukan berarti mereka bebas dari tuduhan criminal atas Islam dan membuat orang lain lari meninggalkannya. Sebab, mereka memonopoli hokum segala sesuatu atas nama agama dan mewajibkan orang lain untuk mengikuti mereka. Mereka sudah terbiasa dengan kepemimpinan seperti ini semenjak berabad-abad yang lalu, yaitu kepemimpinan atas apa yang diturunkan oleh Allah SWT. Dahulu, mudharatnya itu kecil, sekarang besar.”


Manusia-Manusia Rigid dan Ilmu-Imu Kontemporer


Kemudian Syeikh Rasyid Ridha membuat contoh fitnah yang kemunculannya disebabkan oleh para Ahli Fikih yang Rigid. Mereka, atas nama agama, menentang pembelajaran ilmu, pengetahuan, dan industri kontemporer. Padahal, tidak mungkin bagi pemerintah menjaga kemerdekaannya tanpa semua itu; kemudian tidak mungkin juga bagi umat Islam ini untuk maju dalam pertaniannya dan perdagangan tanpa semua itu.
Ia menjelaskan, di antara industry-industri dan pengetahuan-pengatahuan ini, ada yang Qath’I yang tidak mungkin diragukan urgensinya. Namun, para Ahli Fikih yang Rigid menjudge orang-orang yang meyakini hal Qath’i ini dengan label “kufur”. Merekalah orang-orang yang menentang Daulah Utsmaniyah dan selainnya untuk mendapatkan manfaat dari ilmu dan pengetahuan. Mereka mengklaim, ini bertentangan dengan agama dan menyelisihi al-Quran, sampai-sampai mereka mengharamkan ilmu Geografi, padahal objeknya dan bahasan-bahasannya sama sekali tidak ada kaitannya dengan ilmu-ilmu agama, kecuali sekadar menguatkan bumi  itu bulat.
Masalah bentuk bumi bukanlah bagian dari masalah akidah, tidak juga masuk dalam kajian hukumnya dan adabnya. Allah SWT tidak mewajibkan para hamba-Nya untuk meyakininya seperti roti atau datar atau bulat. Pada hari kiamat, tidak ada seorang pun yang akan ditanya imannya tentang masalah bentuk bumi. Jikalau ketidaktahuannya masalah bentuk bumi tidak memudharatkan agamanya, maka tidak masalah ketika ia mengetahuinya melalui salah satu jalan pengetahuan, selama bermanfaat bagi dunianya?!
Penulis al-Manār menunjukkan, Isrāiliyat memiliki pengaruh terhadap kemunculan pemahaman-pemahaman yang rigid atau kaku tersebut:

“Para Ahli Fikih yang memonopoli ilmu agama dan keukeuh membelanya tanpa ilmu, menginginkan sesuatu yang bukan bagian dari Islam, taklid terhadap para penulis terdahulu yang meracuni kitab-kitab tafsir dan hadits. Mereka membuat penambahan. Jenis penambahan paling parah adalah khurafat yang dibuat oleh para zindik Yahudi dan Persia tentang masalah Penciptaan dan Pembentukan Semesta, bentuk langit dan bumi, planet, petir dan kilat, bukit Qaf, sapi jantan, ikan paus, dan sebagainya. Kemudian mereka mengkafirkan orang yang tidak setuju dengan pendapat mereka. Mereka menjadikan mitos-mitos Israiliyat ini sebagai bagian dari rukun Iman yang menyebabkan keluarnya orang yang mengingkarinya dari Islam. Padahal para penulis yang menyebutkannya dalam kitab-kitab mereka dari kalangan ulama terdahulu, tidak menuliskannya demi hal ini, sampai menyentuh masalah Ushuluddin dan tidak juga Furu’nya. Bagaimana mungkin akan berkurang keislaman seseorang, padahal Allah SWT memberikannya ilmu yakin bahwa semua itu adalah mitos-mitos yang batil?”

Syeikh Rasyid Ridha menunjukkan point penting, para Ahli Fikih nan Rigid, bersekutu dengan para Atheis untuk menghancukan Islam dengan cara-cara yang tidak mereka sadari. Mereka merusak para pelajar dengan metode kontemporer liberal dari segala sisinya, memutus jalan dari para ahli agama yang ilmunya mendalam.

Solusi Masalah


Kemudian Syeikh Rasyid Ridha bertanya-tanya, “Apakah yang dilakukan oleh al-Manār dan orang yang menempuh Manhaj al-Manār?
Ia menjelaskan pentingnya menyebarluaskan kesadaran di tengah umat, agar opini umum bisa menolak semua mitos-mitos ini:

“Saya mendapati, banyak dari para pemimpin kita, baik dalam bidang ilmu, agama, dan intelektual, putus asa untuk melakukan reformasi dan perbaikan. Tetapi saya mengatakan, keburukan bisa dihilangkan jikalau orang-orang yang memiliki kemampuan mau bangkit segera dengan system yang lurus. Kekuatan yang mampu mengalahkan semua kekuatan yang ada di zaman ini adalah kekuatan opini umum umat Islam.”

Tidak diragui, saran yang disampaikan oleh Syeikh Rasyid Ridha, masih relevan dengan kondisi kita sekarang ini. Relevan sekali. Kita masih mendapati banyak kaum muslimin yang sekadar KTP saja atau Islam KTP. Jumlah mereka ada enam:

1.    Para Ahli Fikih nan Taklid;
2.    Para Ahlu Tasawuf yang Ahli Bid’ah;
3.    Para Penyeru Westernisasi;
4.    Para Atheis;
5.    Para Pembaca Buku-Buku Kontemporer;
6.    Para Aktivis Feminis.

Maka, untuk menghadapi semua itu, kita membutuhkan solusi. Secara global, sebagai berikut:

  1. Kembali kepada al-Quran dan Sunnah Nabi. Dalam memahaminya, perlu dibedakan antara Tsabit lagi Muhkam Nafidz, dengan Furu’ Mutaghayyir Mutasyabih yang dibolehkan adanya perbedaan pendapat.
  2. Membebaskan Islam dari pemahaman-pemahaman salah, baik dalam bidang fikih, tafsir, dan selainnya, atau di bidang ruhiyah atau "rasa", sebagaimana disebutkan oleh Syeikh al-Ghazali. 
  3. Memfilter al-Turats al-Islami, tidak rigid memahaminya. Bangga memilikinya, namun tidak kaku. 
  4. Menggunakan al-Maqāshid dan al-Kulliyyāt, dengan tidak melangkahi al-Tsawābit dan hokum-hukum yang Qath’i
  5. Menetapkan Mizan (Standar/ Timbangan) tentang bagaimana mengambil faedah dari apa yang ada pada orang lain, bukan eksklusif atau malah larut dengan yang lainnya. 
  6. Memberikan kepada para wanita apa yang berhak didapatkannya; posisi dan kedudukan di masyarakat, dengan tetap menjaga aturan Islam.***

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.