Masjid Aya Sofia (Hagia Sophia) & Keputusan Pengadilan Turki

Kota Konstantinopel (Istanbul hari ini) adalah salah satu kota Internasional paling penting, didirikan pada tahun (330 M) oleh Kaisar Bizantium Constantine I. Selain itu, posisi internasionalnya juga unik, sampai dikatakan: 

"Jika dunia ini menjadi satu kerajaan, Konstantinopel akan menjadi kota yang paling cocok sebagai ibukotanya."

Sejak didirikan, Byzantium telah menjadikannya ibukota Negara mereka, salah satu kota terbesar dan paling penting di dunia (Al-Salabi, 2003, 69).
Ketika umat Islam berjihad melawan Byzantium, kota ini memiliki posisi istimewa. Sebab, Rasulullah Saw semenjak lama sudah memberitahukan kabar gembira kepada para sahabatnya akan penaklukannya, di beberapa kesempatan. Salah satunya, ketika sedang menggali parit (al-Khandaq). Dan ini jugalah yang pangkal sebab kenapa para Khalifah kaum Muslimin dan para pemimpin mereka bersaing untuk menaklukkannya sepanjang masa, berharap mampu mengejawantahkan hadits Rasulullah Saw. (Al-Salabi, 2003, 69).

Sebelum penaklukan Konstantinopel. ia merupakan hambatan besar penyebaran Islam di Eropa. Artinya, jikalau ia jatuh, maka Islam bisa memasuki Eropa dengan kekuatan dan kedamaian bagi para pengikutnya, kemudian jumlah mereka juga akan lebih besar dibandingkan sebelumnya. Penaklukan Konstantinopel merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah dunia, terutama sejarah Eropa dan hubungannya dengan Islam. Bahkan, beberapa sejarawan Eropa dan para pengikutnya di akhir Abad Pertengahan dan awal zaman modern, benar-benar menganggap eksistensinya. (Ozentuna, 1988, 384).
Bisa dikatakan, salah satu peristiwa yang menjadi fokus perhatian internasional adalah penaklukan Konstantinopel dan konversi Gereja Hagia Sophia (Aya Sofia) menjadi Masjid...  Mari kita lihat, apa alasan dan konteks peristiwa bersejarah yang hebat ini?

Rentetan Peristiwa Penaklukan Ottoman Islam (Turki Utsmani) Terhadap Konstantinopel dan Kedudukan Hagia Sophia


Ottoman atau Turki Utsmani atau Khilafah Utsmaniyah menyerang kota Konstantinopel dipimpin oleh Muhammad al-Fatih. Byzantium, di bawah kepemimpinan Constantine, mempertahankan wilayahnya dengan penuh heroik. Kaisar Byzantium mencoba untuk menyelamatkan kotanya dan rakyatnya dengan semua trik yang ia bisa, menawarkan berbagai solusi kepada Sultan, agar ia tergoda untuk menarik pasukannya dengan sejumlah imbalan uang atau kepatuhan, atau selainnya. Tetapi Al-Fatih menjawab sebaliknya, meminta kota itu segera diserahkan. Ia sama sekali tidak akan menyakiti seorang pun warganya dan tidak juga gereja-gerejanya. (Al-Salabi, 2003, 75).

Muhammad Al-Fateh menyadari, kota itu lambat laun akan jatuh. Namun, ia mencoba memasukinya dengan damai. Maka, ia menulis surat kepada kaisar, menyerunya untuk menyerahkan kota tersebut tanpa pertumpahan darah, menawarkannya kebebasan, begitu juga bagi keluarganya, para pembantunya, dan semua penduduk kota ke tempat aman mana pun yang mereka inginkan; darah orang-orang yang berada di kota akan aman; tidak menjadi sasaran bahaya apapun; silahkan memilih untuk tinggal di kota atau meninggalkannya. Ketika pesan itu sampai kepada kaisar, ia mengumpulkan para penasihatnya, menyampaikan kepada mereka tawaran yang sudah diterimanya. Beberapa orang di antara mereka cenderung untuk menyerah saja, namun beberapa lainnya bersikeras untuk terus mempertahankan kota sampai mati. Kaisar cenderung pada pendapat kelompok yang menyatakan untuk terus bertarung  sampai titik darah penghabisan.
Kaisar menjawab utusan al-Fatih dengan pesan: 
“Berterima kasih kepada Tuhan jikalau Sultan mau berdamai. Ia rela jikalau harus membayar al-Jizyah. Namun untuk Konstantinopel, ia bersumpah akan mempertahankannya sampai akhir hayatnya, baik ia berhasil mempertahankan tahtanya maupun harus dimakamkan di bawah temboknya."(Fahmy, 1987, 116)
Ketika pesan itu sampai di Al-Fatih, ia berkata:
"Baiklah, tidak lama lagi, saya akan memiliki tahta di Konstantinopel, atau saya akan memiliki kuburan disana."
Sultan al-Fateh kembali ke tendanya, memanggil pasukan terbaiknya, kemudian mengeluarkan instruksi terakhir dan berpidato:
“Jikalau kita berhasil menaklukkan Konstantinopel, salah satu hadits Rasulullah Saw akan terpenuhi; salah satu mukjizatnya akan terwujud. Kita akan mendapatkan keuntungan, berkah hadits ini; kemuliaan dan kehormatan. Sampaikan kepada para pasukan kita; satu per satu, kemenangan besar yang akan kita raih, akan semakin meningkatkan kemuliaan Islam dan keagungannya. Setiap prajurit wajib menjadikan ajaran syariat kita sebagai panduan, sehingga tidak ada seorang pun dari mereka melanggar ajarannya. Hendaklah mereka menghindari gereja dan tempat ibadah, tidak merusaknya, tidak menganggu para pendeta, orang-orang lemah yang tidak berperang..."(Al-Salabi, 2003, 85).
Pada saat bersamaan, Kaisar Byzantium sedang mengumpulkan orang-orang di kota untuk mengadakan doa bersama; pria, wanita, dan anak-anak. Semuanya berdoa, memohon, dan menangis di gereja-gereja. Tentunya dengan cara Kristiani. Mereka berharap agar doa mereka dikabulkan, sehingga kota mereka bisa lolos dari pengepungan. Kaisar berpidato di hadapan mereka, dan itulah pidato terakhir yang disampaikannya. Ia meyakinkan mereka untuk mempertahankan kota, bahkan walaupun ia sendiri harus mati; berharap kematian menghadapi kaum Muslimin Ottoman (Daulah Utsmaniyah). Sebagaimana dikatakan oleh para Pakar Sejarah, pidato tersebut pidato yang luar biasa, membuat menangis semua yang mendengarkannya. Kaisar pun mengerjakan sembahyang terakhirnya bersama kaum Kristiani lainnya di Gereja Hagia Sophia (Aya Sofia), mengucapkan selamat tinggal dan menyalami mereka satu per satu. Pemandangan yang mengharukan. Para sejarawan Kristen menulis kejadian ini. Orang yang menyaksikannya berkata:
"Andaikan ada seseorang yang memiliki hati terbuat dari kayu atau batu, airmatanya pasti akan tumpah menyaksikan pemandangan ini."(Al-Salabi, 2003, 85).
Ketika Kota tidak kunjung diserahkan secara damai, Sultan Muhamad al-Fateh mengintensifkan serangan, menargetkan pagar dan kastil, berupaya keras dengan moril dan materil untuk mendapatkan kemenangan. Pada pukul 01.00 pagi, hari Selasa, bulan Jumadi al-Awwal, tahun 857 H /29 Mei, mulailah seragan umum terhadap kota Konstatinopel setelah instruksi dikeluarkan kepada para Mujahidin. Mereka meneriakkan Takbir dan bergegas menuju dinding pertahanan kota. Orang-orang Byzantium merasakan ketakutan besar. Serangan kedua ini dilakukan secara simultan melalui darat dan laut, berdasarkan perencanaan yang detail, disiapkan dengan ketat. Akhirnya, pasukan Ottoman berhasil memasuki kota. (Salem Al-Rashidi, Mohammed Al-Fateh).
Setelah Konstantinopel berhasil ditaklukkan secara paksa, Muhammad al-Fateh pergi ke Gereja Hagia Sophia (Aya Sopia). Banyak orang berkumpul disana, bersama para Pendeta yang melantunkan doa-doa. Ketika ia mendekati pintunya, orang-orang Kristen merasa sangat takut. Salah satu Pendeta membukakan pintu. Kemudian ia memintanya untuk menenangkan jamaahnya, meyakinkan mereka dan kembali ke rumah masing-masing dengan aman. Mereka pun merasa aman. Ada beberapa pendeta yang bersembunyi di lantai bawah Gereja. Ketika mereka melihat toleransi al-Fateh dan sikap pemaafnya, mereka pun keluar dan menyatakan masuk Islam (Ziyadah Abu Ghanimah, Kitab Jawanib Mudhiah min Tarikh al-Utsmaniyyin).
Al-Fateh kemudian memerintahkan konversi Gereja menjadi Masjid. Persiapan harus segera dilakukan, agar Jumat depan bisa dikerjakan shalat Jumat pertama. Para pekerja segera melakukan persiapan. Mereka menghapus salib dan patung, menghapus gambar-gambar yang ada dengan lapisan kapur, membuat mimbar untuk Khatib. Tidak ada masalah mengkonversi Gereja menjadi Masjid, sebab penaklukan terjadi dengan kekerasan (perang) atau ada perlawanan. Dalam Islam, penaklukan dengan peperangan memiliki hukum tersendiri. Beda halnya jikalau penaklukan terjadi dengan damai.
Sultan memberikan kebebasan kepada orang-orang Kristen untuk mengadakan ritual keagamaan, memilih pemimpin agama mereka, memiliki hak untuk memerintah dalam masalah-masalah sipil. Ia juga memberikan hak ini kepada para pemimpin gereja di daerah-daerah lainnya. Tetapi, pada saat yang bersamaan, semuanya wajib membayar al-Jizyah.(Al-Omari, 1997, 384).
Sheikh Aq Shamsuddin adalah orang pertama yang menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Hagia Sophia (Harb, 1994, 374).

Hagia Sophia (Aya Sofia) dan Sejarahnya


Dinamakan Hagia Sophia, berkaitan dengan sosok suci Koptik dari Mesir. Dalam Bahasa Yunani, namanya berarti "kebijaksanaan ilahi". Dahulu, wanita ini menyembah berhala, kemudian ia terpengaruh agama Kristen dan memeluknya. Ia mendalami ibadah dan ritualnya, sampai memengaruhi orang-orang-orang Kristen di sekitarnya. Maka, reputasi keagamaannya menyebarluas, sampai ke telinga penguasa Apostolik Romawi penyembah berhala yang memerintahkannya untuk dipancung dan dibunuh. Dengan demikian, Hagia Sophia menjadi "syahid" keimanan Kristen. Pada masa pemerintahan Kaisar Byzantium Constantine the Great, jasadnya dipindahkan ke Konstantinopel. Ia dimakamkan disana, kemudian dibangun di sekitarnya sebuah Gereja besar pada tahun 360 M  (Ismail, 2010).
Bangunan ini adalah mahakarya arsitektur yang mewakili puncak arsitektur Byzantium, dibangun dengan gaya Basilika, dimahkotai salah satu kubah terbesar di dunia dengan diameter 21 meter, menjulang dari tanah dengan ketinggian 55 meter. Ujung-ujungnya berpusat di bahu empat persegi. Rumah ibadah ini, interiornya dihiasi banyak lukisan, gambar, dan relief untuk menutupi dindingnya. Pelancong Arab; Ibn Battuta menulis deskripsi Hagia Sophia dan menganggapnya sebagai "Gereja Roma Paling Besar dan Paling Megah" (Ismail, 2010).
Pada 1204 M, setelah kejatuhan Konstantinopel di tangan Pasukan Salib Katolik, Hagia Sophia (Aya Sofia) diubah menjadi Katedral Katolik Roma. Statusnya terus seperti ini, sampai Romawi Byzantium merebutnya kembali pada tahun 1261 M. Setelah Kekaisaran Byzantium didirikan kembali, Hagia Sophia (Aya Sofia) kembali menjadi Katedral Patriarkal Ortodoks. (Gan Demir, 2014, 18)
Setelah Islam menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M, Sultan Muhammad al-Fateh memerintahkan konversi Hagia Sophia (Aya Sofia) menjadi Masjid. Maka, ketika itulah azan pertama kali dikumandangkan di hadapan Sultan, kemudian ditunaikanlah shalat di dalamnya. Salah satu kebiasaan orang-orang Turki Ottoman jika berhasil menaklukkan sebuah kota atau kastil adalah memasang bendera Ottoman di dinding dan menara mereka, kemudian mengumandangkan azan, dan mengubah Gereja terbesarnya menjadi Masjid sebagai tanda penaklukan. (Gan Demir, 2014, 33).

Sejak itu, Hagia Sophia (Aya Sofia) berubah menjadi Masjid umat Islam; tempat Allah SWT disembah dan tidak disekutukan apapun. Selama ratusan tahun, statusnya adalah Gereja. Kemudian statusnya berubah menjadi Masjid sepanjang periode pemerintahan Ottoman, yang hanya diselingi beberapa perubahan. Setelah runtuhnya Dinasti Ottoman dan berdirinya Republik Turki, dalam bingkai sekularisasi dan westernisasi, Masjid Hagia Sophia (Ayu Sofia) ditutup pada tahun 1931 M, sampai pemerintah Ataturk memutuskan untuk mengubahnya menjadi museum pada 1934 M, dibuka untuk pengunjung pada 1 Februari 1935 (Qan Demir, 2014, 19).
Pada tanggal 10 Juli 2020 M, Pengadilan Turki membatalkan keputusan yang menjadikan Hagia Sophia sebagai museum dan menyatakannya ilegal secara hukum. Keputusan ini diikuti oleh keputusan Presiden Republik Turki, Recep Tayyip Erdogan yang mengklasifikasi ulang Hagia Sophia menjadi Masjid dan membukanya bagi khalayak umum untuk beribadah.
Dengan demikian, Hagia Sophia telah melalui beberapa transformasi historis. Hagia Sophia, dimulai sebagai Gereja Ortodoks Yunani, kemudian berubah menjadi Gereja Katolik Roma, kemudian kembali ke asalnya Gereja Ortodoks, kemudian dikonversi lagi setelah penaklukan Islam menjadi Masjid, kemudian menjadi Museum berdasarkan keputusan Pemerintah Republik Turki, kemudian hari ini kembali menjadi Masjid bagi umat Muslim.
Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah SWT.


Legalitas Konversi (Perubahan) Hagia Sophia (Aya Sofia) Menjadi Masjid


Sultan Muhammad al-Fateh sengaja mengkonversi Hagia Sophia (Aya Sofia) menjadi Masjid berdasarkan fatwa hukum yang menyatakan legalnya mengubah Gereja menjadi Masjid di Negeri yang ditaklukkan secara paksa (baca: Perang). Negara yang ditaklukkan dengan perang, diatur dengan Hukum Syariah perang. Fatwa ini disampaikan oleh Sheikh Aq Shamsuddin; pendidik Sultan dan orang yang pertama kali menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Hagia Sophia (Aya Sofia). Ada pendapat lainnya yang menyatakan, Sultan Muhammad al-Fateh membeli Gereja Hagia Sophia dari Romawi dengan uangnya sendiri dan menjadikannya Masjid, kemudian mewakafkannya untuk umat Islam (Ismail, 2010).
Namun, pendapat pertama yang menyatakan bahwa ia dikonversi berdasarkan hukum dan fakta penaklukkannya dengan jalan perang, yang memiliki hukum tersendiri dalam Syariah Islam, lebih mendekati kebenaran.
Sejarawan Dr. Muhammad Harb mengatakan dalam bukunya berjudul al-Utsamniyyun fi al-Tarikh wa al-Hadharah:

"Al-Fatih secara hukum, ia berhak -selama kota tersebut ditaklukkan secara paksa (perang)- atas nama pasukan penakluk untuk memiliki segala sesuatu yang ada di kota tersebut, kemudian ia juga berhak mengkonversi atau mengubah setengah dari Gereja dan Sinagog, dalam jangka waktu yang lama, menjadi Masjid dan Jami', kemudian membiarkan setengah lainnya untuk penduduk kota sebagaimana adanya." (Harb, 1994, 53).

Profesor Dr. Ahmed Shimshergel; seorang  Guru Besar sejarah di Universitas Marmara mengatakan:

“Tidak ada hambatan politik, hukum, maupun administratif untuk mengubah Hagia Sophia (Aya Sofia) dari Museum menjadi Masjid. Keputusan untuk mengubah Hagia Sophia (Aya Sofia) dari Masjid menjadi Museum diambil oleh kabinet, dan itu adalah keputusan menteri; seorang eksekutif tanpa legitimasi hukum dan tanpa referensi hukum."

Ia menambahkan, Hagia Sophia (Aya Sofia) diubah menjadi Masjid atas perintah Sultan Muhammad al-Fateh, sesuai dengan hak dan hukum Islam untuk negara-negara yang ditaklukkan secara paksa, menolak perdamaian dan menyerah.
Kaisar Constantine XI bersikeras untuk terus berjuang dan mempertahankan kota. Maka dengan itu, Istanbul ditaklukkan dengan pedang. Dan hak orang yang menaklukkan dengan pedang adalah memiliki wewenang mengatur urusan negara yang ditaklukkannya berdasarkan fakta kepemilikan atas apa yang ada di dalamnya. (Angie Kaya, 2020).
Syekh al-Allamah Muhammad al-Hassan Walad al-Dido membuat substitusi dalam hal ini, dengan membedakan tanah perdamaian ( ditaklukkan dengan al-Shulh) dengan tanah yang ditaklukkan secara paksa (perang) oleh umat Islam.
Ia mengatakan:

"Konstantinopel dan tanahnya adalah wakaf bagi umat Islam sampai Hari Kiamat. Sebab, ia ditaklukkan secara paksa. Sedangkan untuk Hagia Sophia, ia bukanlah Gereja, melain filial Gereja, dikuasai oleh Kaisar atau Raja dan menganggapnya sebagai tempat suci. Sultan Muhammad al-Fateh membelinya dari rakyatnya dan tidak mengambilnya secara paksa, meskipun ia berhak melakukanya. Itu dilakukannya sebagai bentuk hubungan baik."


Orang-Orang Turki Ottoman adalah Para Penakluk dan Ahli Peradaban, bukan Para Pasukan Perang dan Penjajah


Dalam bukunya "History of the Ottoman Turks," sejarawan Inggris Edward Shepherd Creasy berusaha mengubah citra penaklukan Ottoman atas Konstantinopel, menggambarkan Sultan Muhammad al-Fateh sebagai sosok Antagonis. Ia melakukannya karena murka dan benci akan penaklukan besar Islam. Ensiklopedia Amerika yang dicetak pada tahun 1980 berisikan bias kedengkian Perang Salib melawan Islam. Di dalamnya dinyatakan, Sultan Muhammad al-Fateh memperbudak sebagian besar orang Kristen di Konstantinopel, membawa mereka ke pasar budak di kota Edirne, kemudian dijual disana.
Tetapi fakta sejarah mengatakan, Sultan Muhammad al-Fateh memperlakukan rakyat Konstantinopel dengan penuh belas kasih, memerintahkan prajuritnya untuk memperlakukan para tahanan dengan baik dan ramah.  Ia membebaskan sejumlah besar tahanan dengan uangnya sendiri, terutama para pemimpin Yunani dan Pendetanya, bertemu dengan para uskup, menenangkan dan meyakinkan mereka bahwa ia akan melestarikan kepercayaan, hukum, dan rumah ibadah mereka, memerintahkan mereka untuk menunjuk Patriark baru. Mereka memilih Ignadius sebagai Patriark. Setelah pemilihannya dalam prosesi yang dihadiri para uskup, ia pergi menghampiri Istana Sultan. Sultan al-Fatih menyambutnya dengan sangat hangat dan menghormatinya dengan sangat hormat. Ia menjamunya dan berbicara tentang berbagai topik; Agama, politik dan sosial.
Dan Sultan al-Fatih menunjukkan toleransinya kepada orang-orang Kristen di Konstantinopel, didorong oleh komitmen murninya terhadap Islam, meneladani Nabi yang mulia dan para Khalifah Rasyidin setelahnya yang bersikap toleran terhadap musuh-musuh mereka. Banyak sikap baiknya yang tercatat dalam sejarah al-Fateh, menunjukkan kepada kita kedalaman iklasnya terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Antusiasmenya menyebarluaskan kemanusiaan, semata-mata untuk mencari keridhaan Allah SWT. Niatnya adalah untuk menghilangkan tirani dan kediktatoran, serta untuk memberikan hak rakyatnya memilih kepercayaan yang mereka anggap pantas. Negaranya adalah Negara berkeadilan, tegak di atas hukum, kebebasan, martabat manusia, penaklukan yang tulus, konstruksi kota dan sipil, di bawah panji-panji Islam yang agung.

Sikap Moderat Keturunan Turki; Sultan Muhammad al-Fateh


Ketika mengumumkan kembalinya Hagia Sophia menjadi Masjid, Presiden Turki menekankan bahwa keputusan pengadilan dan kepemimpinan adalah keputusan rakyat Turki yang berdaulat. Dalam sebuah pidato kepresidenan yang disampaikannya di moment kembalinya Hagia Sophia (Aya Sofia) sebagai Masjid, Presiden Erdogan menggambarkan bahwa keputusan pemerintah Turki untuk mengubah Masjid menjadi museum pada tahun 1930-an bukan saja pengkhianatan sejarah, tetapi pelanggaran hukum. Sebab, Hagia Sophia bukanlah milik negara atau lembaga apa pun, ia adalah properti wakaf Sultan Muhammad al-Fateh.
Ia menambahkan:

"Dahulu, Mentalitas ini berpandangan untuk menjadikan Masjid sebagai lokasi pameran foto; menjadikan Istana Yildiz yang bersejarah di Istanbul sebagai rumah judi; dan menjadikan Hagia Sophia (Aya Sofia) sebagai klub jazz. Mereka berhasil mengeksekusi beberapa di antaranya."

Ia menyatakan, Turki berhak mengubah Hagia Sophia (Aya Sofia) menjadi Masjid dengan cara yang sesuai dengan aturan Wakaf.
Hal terpenting yang ia katakan:

"Masjid Hagia Sophia akan tetap menjadi warisan dunia, pintunya selalu terbuka bagi semua warga negara, orang asing, dan non-Muslim."

Kita menyaksikan Muslim Turki menjaga identitas peradaban mereka selama berabad-abad, bangga dengan sejarah leluhur mereka, salah satunya yang paling utama adalah Sultan Muhammad al-Fateh. Pun begitu dengan masyarakat Islam dan manusia-manusia Merdeka lainnya, baik di Timur maupun di Barat.
Masjid Hagia Sophia (Aya Sofia) menjadi sasaran ketidakadilan. Dahulu, ia adalah tujuan orang-orang yang ingin mengerjakan shalat; rukuk dan sujud; menjadi kompleks sains, hikmah, kebudayaan dan pengetahuan, melalui lembaga-lembaga ilmiah yang dibangun di sekitarnya di berbagai bidang; mulai dari astronomi sampai yurisprudensi, dari matematika sampai akidah,  ilmu tafsir, bahasa, hadis dan perilaku.
Pada tahun 1934-1935, Masjid Hagia Sophia (Aya Sofia) diubah menjadi museum dengan keputusan tidak adil, melanggar nilai-nilai keadilan, keuntungan historis yang bermanfaat bagi manusia dan wakaf Islam, menyebabkan duka besar di hati umat Islam.
Masjid Hagia Sophia (Aya Sofia) berubah menjadi sumber kekecewaan dan kegalauan yang mempengaruhi jiwa, menghilangkan ketenangannya, baik di Turki sendiri maupun di luar negeri.
Kasus Hagia Sophia berubah menjadi simpul permanen yang menyebabkan luka parah dan terus berdarah, sampai kita mendapatkan keputusan adil dari peradilan dan mendukung kembalinya ke era sebelumnya. Keputusan ini, yang memenangkan persetujuan politik, partai, dan rakyat luas Turki dan Islam, adalah keputusan yang moderat dan adil dari umat manusia. Keputusan ini tidak ada hubungannya dengan konflik antar agama dan peradaban, sekadar mengembalikan masalah ke posisi sebenarnya, kemudian juga untuk mengangkat ketidakadilan historis ke tengarh kemanusiaan yang mulia.
Membuka lagi  pintu ibadah di Masjid yang dahulu diharamkan bagi para pemiliknya; hampir seabad, adalah perkara besar, kebahagiaan bagi orang-orang yang merdeka, pecinta keadilan dan pendukung hak asasi manusia.
Ia adalah peristiwa besar, membantu anak manusia untuk mengambil nasehat diri dan pelajaran, sesuai dengan takdir Allah SWT dan ilmunya di alam semesta. Di tengah anak manusia, ada yang menjadi kunci kebaikan dan gembok keburukan. Dan ada juga yang sebaliknya. Allah SWT punya ketentuan atas segala urusan.***

Referensi:

Isra' Gazwal Erdogan; Aya Sofia fi al-'Ahd al-Bizathy; Majalah Istanbul li al-Ulum al-Ijtimaiyyah; Nomor 1; Musim Panas Tahun 2012.
Ismail Qan Dimir; Aya Sofia al-Ma'bad al-Azhim; Istanbul; 2004.
Sayyid Ali Ismail; Aya Shofia... al-Kanisah... al-Masjid... al-Muthaf; Majalah Turats al-Imaratiyyah; Nomor 132; September 2010.
Abd al-Salam Abd al-Aziz Fahmi; al-Sultan Muhammad al-Fatih Fatih al-Qasthanhiniyyah wa Qahir al-Ruum; Dar al-Qalam Damaskus; Cetakan ke-4; 1407 H/ 1987 M.
Abd al-Aziz al-Umary; al-Futuh al-Islamiyah 'Abr al-Ushur; Dar Isybiliyah di Riyadh; Cetakan ke-1; 1428H/ 1997M.
Ali Muhammad al-Shalaby; al-Daulah al-Utsmaniyah Awamil al-Nuhudh wa Asbab al-Suquth; Dar Ibn Katsir di Damaskus; Tahun 2003; Cetakan ke-1.
Kultsum Anjy Kaya; Prof. Chemshergel; La Yujad ay Mani' min I'adah Aya Sofia ila Masjid; Wikalah al-Anadhol al-Ikhbariyah; 10/6/2020; Lihat: https://bit.ly/38Qyle8.
Muhammad Harb; al-Utsmaniyyun fi al-Tarikh wa al-Hadharah; al-Markaz al-Mushry li al-Dirasat al-Utsmaniyyah wa Buhuts al-'Alam al-Turki; Tahun 1994 M.
Yilmaz Uztuna; Tarikh al-Daulah al-Utsmaniyah; Terjemah Adnan Mahmud Salman; Jilid 1; Terbitan Lembaga Faishal al-Tamwil di Turki; Istanbul; Tahun 1988 M.


Denis Arifandi Pakih Sati | Syeikh Ali al-Shalaby | Masjid Aya Sofia wa al-Hukm al-Qadhai

Posting Komentar

0 Komentar