Sejarah Fatwa Syâdz dan Efek Negatifnya Terhadap Fikih

Bagi kalangan awam yang sudah mencapai usia Taklîf, fatwa merupakan salah satu sarana penting untuk mengetahui hokum sebuah masalah dan sebuah kejadian. Di zaman Nabi, jikalau ada sebuah masalah, bisa lansung ditanyakan dan lansung mendapatkan jawabannya. Setelah beliau meninggal, maka fatwa adalah jalannya. Dengan adanya fatwa, orang awam tidak perlu susah-susah lagi untuk mengkaji dan meneliti. Selain menyulitkan, mereka juga tidak memiliki perangkat mengkajinya dan menelitinya. Fatwa, mulai muncul setelah kematian Nabi Muhammad Saw, dengan tetap bersandar kepada salah satu Ushùl al-Syarî’ah. Ia merupakan hasil saringan Ijtihâd orang-orang terpilih umat ini. Mereka sudah memenuhi syarat untuk melakukan al-Ijtihâd. Dan al-Ijtihâd itu sendiri, tidak akan pernah terputus sampai Hari kiamat kelak, sebagaimana dinyatakan dalam kajian Ushùl al-Fiqh.

Fikih tidak pernah lepas dari perbedaan. Itulah tabiat fikih. Pangkalnya adalah al-Ijtihâd; beda kepala beda pula hasil Ijtihadnya. Tapi, mereka berbeda bukan asal berbeda. Ada dalilnya dan Ushulnya yang menjadi tempat berpijak. Hanya saja kadang-kadang, ada pendapat fikih yang terasa jauh sekali dari tabiat asli fikih, perbedaannya terlalu kentara jikalau dibandingkan pendapat-pendapat fikih kebanyakan.

Dalam kondisi seperti ini, pendapat fikihnya tidak bisa dianggap lagi wujudnnya. Ia sudah masuk ke dalam apa yang dinamakan dengan Pendapat al-Syâdz (al-Fatwa al-Syâdzah)

Pengertian Fatwa Nyeleneh (al-Fatâwâ al-Syâdzah)


Ibn Manzhùr mengatakan:

“Memberikannya fatwa dalam suatu masalah, dengan menjawab pertanyaan si penanya. Bentuk isimnya adalah al-Fatwâ. Dan al-Fatwâ sendiri adalah menjelaskan hokum-hukum yang sulit. Kata asalnya adalah al-Fatâ, yaitu pemuda yang berusia muda lagi kuat, seakan-akan ia menguatkan sesuatu yang sulit menjelaskannya. Seorang pemberi fatwa (al-Muftí) dikatakan berfatwa apabila ia menghasilkan hokum.” (Lihatlah Lisân al-‘Arab karya Ibn Manzhùr, Materi “Fatâ”)


Makna al-Syâdz Secara Bahasa


Ibn Fâris berkata:

“Al-Syín dan al-Dzâl menunjukkan al-Infirâd (sendirian) dan al-Mufâraqâh (memisahkan diri).” (Lihat Maqâyis al-Lughah, Materi Syadzza)

Ibn Manzhùr mengatakan:

“Syadzza – Yasudzzu – Sudzzuzan. Maknanya, jikalau menyendiri dari banyak orang. Jarang itu disebut al-Syâdz.” (Lihat Kitab Lisân al-Arab, Materi Sya-Dza-Dza)


Makna al-Syâdz Menurut Istilah


Untuk mengartikan al-Syâdz, harus diperhatikan bidang penggunaannya. Pengertian yang dimaksud dalam kajian Ushùl al-Fiqh, berbeda dengan Deskripsi yang dimaksudkan oleh para Ahli Hadits (al-Muhadditsín), Ahli Nahwu (al-Nuhâh), dan Para Pakar Bacaan (al-Qurrâ’).
Bagi Ahli Hadits, al-Syâdz memiliki sejumlah makna:

Pertama:
أن يروي الثقة حديثا يخالف ما روى الناس
Seorang perawi yang terpercaya (al-Tsiqah) meriwayatkan hadits yang menyelisihi orang banyak. (Lihatlah Kitab Muqaddimah Ibn al-Shalâh, halaman 55)
Kedua:
هو الذي ليس له إلا إسناد واحد
Hadits yang tidak memiliki kecuali satu pensanadan saja. (Lihatlah Kitab Muqaddimah Ibn al-Shalâh, halaman 56)

Bagi Para Pakar Bacaan (al-Qurrâ’), al-Syâdz adalah:
Ibn al-Jazarí mengatakan:

كل قراءة وافقت العربية ولو بوجه، ووافقت أحد المصاحف العثمانية ولو احتمالا، وصح سندها فهي القراءة الصحيحة، ومتى اختل ركن من هذه الأركان فهي شاذة
“Semua bacaan yang sesuai dengan Bahasa Arab walaupun satu wajah, sesuai dengan salah satu sunnah Mushaf al-Utsmâniyah walaupun kemungkinan, kemudian sanadnya shahih, maka ia adalah Bacaan yang Benar (al-Qirâah al-Shahíhah). Jikalau salah satu rukunnya bermasalah, maka ia disebut al-Syâdz.” (Lihatlah Kitab al-Nasyr fí al-Qirâat al-‘Asyr, 1/ 9)

Jadi, makna al-Syâdz bagi para Pakar Bacaan (al-Qurrâ’) adalah ketika seorang al-Qâri menyelisihi salah satu dari tiga rukun di atas.
Bagi Para Pakar Bahasa (Ahli al-Lughah), al-Syâdz seperti perbedaan Ibn Jinní dengan Para Pakar Bahasa lainnya dalam masalah penetapan al-Majâz di sebagian besar bahasa. (Lihatlah Kitab al-Khashâis, 2/ 449)
Sedangkan pengertian Fatwa Syâdz, maka harus dilihat dua hal:

  • Melihat pendapat para Ahli Fikih (al-Fuqâhâ’) dan pandangan fikih mereka.
  • Mengkaji kitab para pakar Ushùl al-Fiqh (al-Ushùliyyùn).

Kita mulai dulu dari yang kedua. Al-Âmidí mengatakan:

“Al-Syâdz adalah orang yang melakukan penyelisihan (al-Mukhâlif) setelah setuju (al-Muwâfaqah). (Lihat Kitab al-Ihkâm fí Ushùl al-Ahkâm, 1/ 238)

Al-Ghazâli Abù Hâmid menjelaskan:

“Al-Syâdz adalah ungkapan untuk sesuatu yang keluar dari Ijmâ’ setelah memasukinya.” (Lihat Kitab al-Musthashfa: 371)

Biasanya, kajian tentang Syâdz seringkali didapatkan dalam masalah-masalah Ijmâ’ di kitab-kitab Ushùl al-Fiqh. Khususnya masalah apakah Ijmâ’ itu hujjah terhadap perbedaan? Masalah ini adalah masalah Ushùliyah. Tujuan kita dalam hal ini adalah menjelaskan Fatwa Syâdz dari sisi Fikih.
Pengkaji masalah ini, tidak mendapatkan pengertian konprehensif  tentang Fatwa Syâdz di kalangan ulama terdahulu. Semuanya terpencar, berada di luar standar syariat, maqâshidnya, dan ushùlnya. Maka, Anda mendapati para Ahli Fikih menyajikan hokum Syâdz di berbagai bahasan dengan bentuk yang berbeda-beda. Kadangkala, mereka menyajikan masalah ini ketika membahas konksekwensi orang yang menyelisihi al-Nash al-Sharíh Ghair Mansùkh wa Lâ Muhtamal (Nash yang jelas, tidak Mansukh dan Tidak Muhtamal). Kadangkala, mereka menyajikannya terhadap orang yang menyelisihi al-Qiyâs al-Jalí yang memiliki al-‘Illat al-Manshùshah. Kadangkala juga menyajikannya terhadap orang yang pendapatnya menyelishi al-Ijmâ’ al-Sharíh.
Hampir bisa dipastikan Anda tidak akan mendapati Kitab yang khusus membahas Fatwâ Syâdz di kalangan Ulama Terdahulu (al-Mutaqaddimín), Justru yang melakukannya adalah ulama kontemporer (al-Mu’âshirín), seperti Syeikh Yùsuf al-Qarâdhawi dalam Kitabnya al-Fatwâ al-Syâdzah. Hanya saja, ia lebih konsen membahas masalah al-Syudzùz saja layaknya para ulama lainnya yang mengkaji masalah ini.
Tujuan Artikel ini adalah membuat pengertian yang tepat untuk Fatwâ Syâdz, bukan sekadar mengartikan masing-masing katanya.

Pengertian al-Fatwâ al-Syâdzah

Pengertian Fatwâ Syâdz adalah, pendapat fikih yang bertentangan dengan Ijmâ’ Sharíh, tidak sejalan dengan Maqâshid al-Syarí’ah, dan dimustahilkan oleh akal atau logika. Sebagian besar Fatwâ Syâdz keluar dari Ijmâ’. Ini jelas. Sebab ia sama sekali tidak memperhatikan realita, muaranya, tidak menimbang-nimbang (al-Muwâzanah) antara Maslahah dengan Mafsadah yang merupakan kandungan Maqâshid al-Syarí’ah, atau dimustahilkan oleh akal dan tabiat yang benar.
Ini bukan bertujuan untuk menyatakan bahwa sebuah fatwa atau pendapat fikih dikatakan Syâdz, karena sekadar menimbang tiga point di atas. Tapi, ketiga unsur di atas harus ada dalam sebuah fatwa, barulah ia layak disebut sebagai Fatwâ Syâdz. Kalau sudah terdapat semuanya dalam sebuah fatwa, maka ia bisa dipastikan sebagai Fatwâ Syâdz, walaupun dikeluarkan oleh seorang Mujtahid yang sudah rekomendid lagi terkenal.

Kemunculan Fatwâ Syâdz


Untuk mengetahui kemunculan Fatwâ Syâdz, maka harus kembali melihat masa para sahabat radhiyallahu anhum, kemudian juga harus melihat apakah Nabi Muhammad Saw hadir bersama mereka atau tidak.

Pandangan-Pandangan Syâdz di Masa Kenabian

Peneliti buku–buku sejarah Nabi Muhammad Saw akan mendapati jarangnya pendapat-pendapat Syadz yang  berasal dari para sahabat. Sebab, mereka berada di masa kenabian. Masalah agama apa saja yang mereka rasakan sulit menemukan jawabannya, mereka bisa lansung  bertanya kepada Nabi Muhammad Saw.
Di antara pendapat yang bisa dianggap Syâdz adalah riwayat berikut, dari Abù Daùd dalam al-Sunan, dari Jâbir radhiyallahu anhu berkata:

“Kami berangkat dalam suatu perjalanan, kemudian salah seorang di antara kami terkena batu, sehingga menyebabkan luka di kepalanya. Malamnya, ia bermimpi basah. Ia bertanya kepada para sahabatnya, ‘Apakah pendapat kalian, saya bisa mendapatkan al-Rukhshah (keringanan) untuk bertayammum?’ Mereka menjawab, ‘Kami tidak mendapati keringanan untukmu, engkau mampu menggunakan air.’ Kemudian ia mandi dan meninggal. Ketika kami sampai kepada Nabi Saw dan beliau diberitahukan masalah tersebut, beliau berkata:
قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللَّهُ، أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا، فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ، إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِرَ – أَوْ يَعْصِبَ شك الراوي – َعلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً، ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهَا وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ
“Mereka membunuhnya. Semoga Allah SWT membunuh mereka. Kenapa mereka tidak bertanya jikalau tidak tahu. Obat kebodohan adalah bertanya. Cukup baginya bertayammum dan mengambil perban ke lukanya, kemudian mengusap kain perban tersebut dan memandikan bagian tubuhnya yang lain.” (Diriwayatkan oleh Abù Daùd dalam Kitab al-Thahârah, Bab fí al-Majrùh Yatayammam)

Tujuan menyajikan hadits ini, untuk menunjukkan pendapat Syâdz yang bertentangan dengan kaedah-kaedah syariat dan Maqâshidnya sudah ada semenjak zaman kenabian. Hanya saja, nasehat kenabian segera meluruskan kesalahan tersebut.

Pandangan-Pandangan Syâdz di Masa Sahabat

Setelah masa kenabian, mulailah tampak tanda-tanda kemunculan pendapat-pendapat Syâdz dari kalangan para sahabat, seperti Fatwa Ibn Abbâs yang membolehkan Ribâ al-Fadhl (Lihat Kitab Bidâyat al-Mujtahid karangan Ibn Rusydi, 3/ 148), kemudian membolehkan Nikâh al-Mut’ah (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid karangan Ibn Rusydi, 3/ 80). Ada pendapat yang menyatakan bahwa ia sudah menarik kembali pendapatnya. Kemudian, ia juga menjadikan Nenek berada di posisi ibu dalam warisan ketika tidak ada ibu. (Lihat Kitab Bidâyat al-Mujtahid karangan Ibn Rusydi, 2/ 258)
Di antara pendapat lainnya adalah  pendapat Umar bin al-Khattâb yang ketika wudhu memasukkan air ke dalam matanya. Ibn Abd al-Barr mengatakan:

“Ini adalah salah satu perbuatannya yang tidak diikuti. Ada sejumlah hal-hal Syâdz lainnya yang dilakukannya, berdasarkan sikap al-Wara’. (Lihatlah Kitab al-Istidzkâr karangan Ibn Abd al-Barr, 1/ 254).

Hal yang sama juga berasal dari Aisyah radhiyallahu anha yang mengingkari Ibn Arqam karena dianggap Syâdz ketika membolehkan Ba’i al-‘înah (Lihatlah Kitab Nail al-Awthâr karangan al-Syaukanî 8/ 335), yaitu seseorang menjual sebuah barang sampai jangka waktu yang ditentukan, kemudian membelinya lagi dari pihak sebelumnya dengan harga lebih murah dari harga jualnya, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Mu’jam Lughah al-Fuqahâ’ karya Muhammad Qal’ajî, halaman 114)
Fenomena adanya pendapat-pendapat Syâdz pada masa ini, bisa dilihat dari cerita Ibn Khaldùn dalam catatan sejarahnya tentang Khalîfah Abu Ja’far al-Manshùr ketika memberikan titah kepada al-Imâm Mâlik agar menulis al-Muwattha’.
Ia berkata:

يا أبا عبد الله، إنه لم يبق على وجه الأرض أعلم مني ومنك، وإني قد شغلتني الخلافة، فضع أنت للناس كتابا ينتفعون به، تجنبْ فيه رخص ابن عباس وشدائد ابن عمر وشواذ ابن مسعود ووطّئه للناس توطئة، قال مالك: فوالله لقد علمني التصنيف يومئذ
“Wahai Abu Abdillah, tidak ada seorang pun yang di muka bumi yang lebih alim dari pada saya dan dirimu. Saya sudah sibuk dengan kekhalifahan. Hendaklah engkau menulis sebuah Kitab yang bisa dimanfaatkan khalayak ramai. Dalam buku ini, jauhilah keringanan-keringan yang dibuat oleh Ibn Abbas, kekerasan-kekerasan (al-Syadâid) dalam hokum yang ditetapkan oleh Ibn Umar, dan pendapat-pendapat al-Syâdz dari Ibn Mas’ùd. Masukkanlah ia.”

Kemudian Mâlik berkata: 

“Demi Allah, hari itu ia sudah mengajarkanku tentang penulisan.” (Lihatlah Tarîkh Khaldùn, 1/ 18)

Pointnya disini, peringatan khalifah kepada Mâlik untuk tidak terjerumus ke dalam pendapat Syâdz, sebab ia adalah sesuatu yang dijauhi, perlu ditakwilkan oleh para pemilik pendapat tersebut, tidak masuk dalam kategori al-Masyhùr.

Pandangan-Pandangan Syâdz di Masa Tâbi’în

Di bagian ini, pengkaji kitab-kitab induk fikih bisa mendapati semakin bertambahnya pendapat-pendapat Syâdz. Secara ringkas, beberapa di antaranya akan dipaparkan disini. Tujuan memaparkannya bukan untuk membuatnya terkenal, tetapi sebagai contoh untuk permasalahan yang sedang dibahas.
Di antara pendapat-pendapat Syâdz di masa ini adalah fatwa al-A’masy yang menyatakan azan subuh disyariatkan sampai masuk waktu pagi, dikomentari oleh al-Hâfifz Ibn Hajar: 

“Jikalau tidak azan sampai masuk pagi, maka lazimnya boleh makan setelah terbitnya fajar.” (Lihatlah Kitab Fath al-Bâri karangan Ibn Hajar, 2/ 422)

Begitu juga dengan pendapat al-Sya’bi yang tidak mensyaratkan Thahârah untuk shalat Jenazah. (Lihatlah Kitab Fath al-Bâri karangan Ibn Hajar, 4/ 380)
Ibn Rusydi mengatakan:

“Diriwayatkan dari al-Zuhri, Fardhu ketika berwudhu adalah sampai ke mata kaki. (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid, 1/ 59), kemudian ia melanjutkan, “Namun Asyhab berpendapat Syâdz, dengan menyatakan bahwa wajib mengusap bagian dalam perut al-Khuff.” (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid, 1/ 19)

Pandangan-Pandangan Syâdz di Tingkat Mazhab-Mazhab Fikih (al-Mazâhib al-Fiqhiyyah)

Bisa diktakan, Mazhab paling banyak pendapat Syâdz adalah Mazhab Ahli al-Zhâhir, yaitu Mazhab yang para pengikutnya berpegang dengan Zhawâhir al-Nash, tidak melampui Qiyâs dan semisalnya. Salah satu tokohnya yang terkenal adalah Ibn Hazm rahimahullah.
Sebagian besar pendapat Mazhab ini dalam masalah-masalah Furù’, bertentangan dengan Mazhab Jumhùr al-Ulâmâ. Pendapat-pendapat mereka menjadi Syâdz karena memakai Ushùl yang tidak pernah ditinggalkannya dan tidak boleh diabaikan.
Al-Hâfidz Ibn Abdil Barr rahimahullah mengatakan:

“Sejumlah Ahli al-Zhâhir melakukan Syâdz. Mereka menyelisihi Jumhùr al-Ulâmâ dan jalan yang ditempuh kaum mukminin lainnya. Mereka menyatakan, ‘Orang yang sengaja meninggalkan shalat pada waktunya, tidak ada kewajiban baginya untuk mengerjakannya di selain waktunya, sebab ia bukanlah orang yang tidur dan tidak pula lupa. Rasulullah Saw hanya bersabda, “Siapa yang ketiduran dari shalatnya atau lupa, maka hendaklah ia mengerjakan shalatnya jikalau ia ingat.” ( HR Abu Daud, Nomor 435, Kitab al-Shalât).” (Lihatlah Kitab al-Istidzkâr, 1/ 64)

Ia lebih lanjut mengatakan:

“Daùd juga berpendapat Syâdz dan menyelisihi Jumhur Ulama, dengan membolehkan membaca al-Quran bagi yang dalam kondisi junub.” (Lihatlah Kitab al-Istidzkâr, 3/ 462)

Al-Syaukâni mengatakan:

“Ibn Hazm berpendapat al-Syâdz, dengan mengatakan, ‘Kencing laki-laki mana pun, maka cukup dipercikkan air, baik anak-anak maupun sudah dewasa. Ia menafikan al-Qayyid (ikatan lafadz) yang menjadi muara al-Muthlaq alaihi.” (Lihatlah Kitan Nail al-Awthâr, 1/ 118)

Ibn Rusyd mengatakan:

Ahli al-Zhâhir berpandangan, al-Rafats (kata-kata jelek) membatalkan puasa. Pendapat ini al-Syâdz.” (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid, 1/ 346)

Ada sejumlah pendapat fikih lainnya yang tersebar di sejumlah Kitab, pendapat berbagai Ahli Fikih. Beberapa di antaranya sebagai berikut:
Ibn Abd al-Barr mengatakan:

“Sebagian ulama berpendapat al-Syâdz, dengan membolehkan akikah bagi yang sudah tua.” (Lihatlah Kitab al-Istidzkâr, 9/ 315)

Ibn Rusyd mengatakan:

“Ada sejumlah orang berpendapat Syâdz, kedua telinga dibasuh bersama muka.” (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid, 1/ 16)

Ia juga menjelaskan:

“Ada sejumlah orang yang berpendapat Syâdz, dengan mengatakan bolehnya menyembelih hewan kurban sampai akhir bulan Dzu al-Hijjah. Ini adalah pendapat yang al-Syâdz.” (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid, 1/ 351)

Abù Hanîfah berpendapat al-Syâdz, dengan mengatakan pembunuh dengan Palu, tidak ada diyatnya.” (Lihatlah Kitab Bidâyat al-Mujtahid, 2/ 332)


Sebab-Sebab Munculnya Fatwa Syâdz


Jikalau melihat sejumlah kitab Ushùl al-Fiqh, kemudian sejumlah Kitab kontemporer seputar sebab kemunculan pendapat Syâdz (al-Fatwa al-Syâdzah), maka akan didapati tiga sebab utamanya:

1.    Faktor Ilmiah
2.    Faktor yang Berhubungan dengan Kepribadi al-Muftî (Orang yang Memberikan Fatwa)
3.    Faktor Kondisi


1#Faktor-Faktor Ilmiah

Ada sejumlah faktor ilmiah yang membelakangnya:

Pertama, Bertentangan dengan al-Ijmâ’

Bertentangan dengan al-Ijmâ’, pangkalnya adalah ketidaktahuan mengenai apa-apa saja yang sudah menjadi Ijma’para ulama, atau memang sengaja menyelisihinya.
Imâm al-Ghazâlî mengatakan:

“Disyaratkan bagi seorang Mujtahid untuk mengetahui masalah-masalah yang sudah menjadi Ijmâ’, agar ia tidak berfatwa bertentangan dengan Ijmâ’, sebagaimana ia harus memahami Nash agar tidak menyelisihinya.” (Lihatlah Kitab al-Mustashfâ, 2/ 364)

Kedua, Lemahnya Kemampuan Ushùl al-Fiqh

Jikalau tidak memiliki kemampuan Ushùl al-Fiqh, seseorang akan menyelisihi al-Qiyâs al-Jalî, tidak bisa melakukan al-Jam’u antar Nash, baik Muqayyad maupun Muthlaq, dan sebagainya.

Ketiga, Lemahnya Kemampuan al-Maqâshid

Orang yang tidak memiliki kemampuan al-Maqâshid, maka ia akan terjerumus ke dalam kesalahan dan pendapat Syâdz. Itu bisa dipastikan. Sebab, ia sama sekali tidak mengetahui ikatan hokum dan al-Manâth, mengabaikan fakta dan realita fatwa.
Al-Syâthibî mengatakan:

“Selayaknya seorang Mujtahid memperhatikan al-Maâlât sebelum menjawab  pertanyaan.” (Lihatlah Kitab al-Muwâfaqât, 4/ 332)

Keempat, Mengingkari Salah Satu Ushul, seperti mengingkari kehujjahan al-Qiyâs.

Orang yang mengingkarinya akan terjerumus ke dalam kegelapan Syâdz. Tidak diragui.
Imâm al-Syâfii mengatakan:

الِاجتهاد والقياس اسمان لمعنى واحد
“Al-Ijtihâd dan al-Qiyâs adalah dua nama untuk satu makna.” (Lihatlah Kitab al-Risâlah, halaman 477)

Abù Ma’âli al-Juwainî mengatakan:

Al-Qiyâs adalah Manâth al-Ijtihâd, pokok pandangan, ia yang menjadi pangkal cabang-cabang fikih, Uslùb al-Syarîah. Ia yang mengantarkan independensi rincian hokum realita. Ia yang menjadi pokok menyentuh semua realita.” (Lihatlah Kitab al-Burhân, 2/ 3)


2#Faktor-Faktor Pribadi

Ada beberapa hal  yang terkait dengan faktor pribadi ini, yaitu:

  1. Hobi Menyelisihi yang lainnya dan Ingin Terkenal
  2. Tergesa-gesa menyampaikan hokum suatu masalah
  3. Takjub dengan diri sendiri dan pendapat pribadi


3#Faktor-Faktor Kondisi

Ada sejumlah faktor kondisi yang melatarbelakangi lahirnya pendapat Syâdz (al-Fatwa al-Syâdzah), yaitu:

  1. Faktor Politik, seperti tekanan penguasa dan selainnya.
  2. Fatwa di Stasiun Televisi atau Radio atau via Telepon, sebab tidak diketahui dengan detail bagaimana kondisi orang yang meminta fatwa (a-Mustaftî) dan kebiasaan (al-Urf) di negerinya, serta kondisi yang melingkupinya. 
  3. Mengikuti pendapat public

Masalah pendapat Syâdz (al-Fatwa al-Syâdzah) akan selalu ada dan akan tetap ada. Entah sampai kapan, hanya Allah SWT saja yang tahu. Apalagi di masa-masa ketika Islam dan Umat Islam begitu inferior di hadapan peradaban-peradaban bangsa lainnya. Pendapat Syâdz (al-Fatwa al-Syâdzah) akan terus dimunculkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai Pakar Agama, Intelektual Muslim atau Cendekiawan Muslim.
Maka, tugas kita adalah mengajarkan anak-anak kita dan generasi Umat Islam tentang ajaran Islam yang benar dan lurus, serta menjauhkan mereka dari pendapat Syâdz (al-Fatwa al-Syâdzah). Diberitahu, tentu harus. Tapi juga harus dijelaskan, pendapat-pendapat seperti ini tidak boleh diikuti.***

Denis Arifandi Pakih Sati | Nabîl al-Abdhulî | Tarîkh al-Fatâwa al-Syâdzah wa Atsaruha fi al-Fiqh al-Islâmî

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.