Sengitnya (Kerasnya) Perbedaan Ahli Fikih

Pada awalnya, Fikih bertujuan untuk melakukan al-Tarjih (memilih pendapat paling kuat) di antara berbagai riwayat dan pendapat yang berbeda-beda. Namun, kondisi yang berubah-ubah memancing berbagai persoalan dan masalah baru. Mulailah para Ahli Fikih (al-Fuqaha’) mengeluarkan hukum-hukum yang baru berdasarkan hukum-hukum yang sudah dikenal sebelumnya. Begitulah. Ini menjadi masa baru dalam sejarah fikih. Dikenal dengan masa al-Takhrij. 

Menjadikan al-Takhrij sebagai pegangan dalam kodifikasi masalah undang-undang dan Muamalah, hukumnya sah-sah saja. Sebab, masalah dan persoalan baru selalu muncul. Solusinya, kembali kepada Qiyas dan Ijtihad. Sedangkan jikalau memperlebar dan memperluas cakupan kaedah al-Takhrij, sampai mencakup ibadah, jelas sebuah kesalahan Ijtihadi yang menyebabkan Ibadah berubah menjadi Cabang Ilmu. Konklusinya, agama menjadi keilmuan yang rumit, tidak mengenalnya dan menguasainya kecuali Ahli Fikih.  

Padahal, Nabi Muhammad Saw sudah memberitahu kita, agama yang dibawanya mudah dan gampang, “Saya diutus dengan yang lurus lagi toleran.” Para Ahli Fikih sudah membuat Furu’ (cabang-cabang) masalah Ibadah dengan sempurna, sebagaimana ada juga Furu’ dan pembaharuan dalam berbagai cabang keilmuan.

Inilah yang dilakukan oleh Mayoritas Ahli Fikih. Di antara Ahli Fikih, ada yang terlalu banyak teori dalam Ushul Fikih; ia mengumpulkan masalah, menjawabnya, mengartikannya, dan membagi bagian-bagiannya. Metode seperti ini menjadi sebab larut dalam masalah-masalah Ta’abudiyyah yang tidak terjadi di zaman para Sahabat. 

Ketika Imam al-Syafii pertama kali sampai di Kufah, ia tidak tahan melihat cara shalat seorang pemuda, kemudian berkata kepadanya:

أحسن الصلاة حتى لا يعذب الله وجهك الجميل في النار
“Shalatlah dengan baik, agar Allah SWT tidak menyiksa wajahnya yang ganteng di Neraka.”

Pemuda itu menjawab: 

“Saya sudah shalat di Masjid ini selama 15 tahun di hadapan Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf, tetapi keduanya tidak berkomentar apapun atas shalatku. Sedangkan Anda mencela shalat saya?!” 

Ketika itu, kedua Imam sedang berada di luar Masjid. Pemuda tadi menghampiri kedua Imam dan bertanya,; 

“Apakah kalian menyaksikan kerusakan dalam shalat saya?” 

Keduanya menjawab: 

“Tidak, demi Allah.” 

Pemuda tadi memberitahu keduanya tentang seseorang di Masjid yang mengkritik shalatnya. Keduanya berkata: 

“Hampiri ia lagi dan tanyakan, ‘Bagaimana Anda mengerjakan shalat?” 

Pemuda tadi menghampiri Imam al-Syafii dan bertanya: 

يا من عاب على صلاتي يِمَ تدخل في الصلاة
“Wahai orang yang mencela shalat saya, bagaimana Anda memulai shalat?” 

Imam al-Syafii menjawab: 

“Dengan dua Fardhu dan satu sunnah.” 

Pemuda tadi kembali ke kedua Imam dengan membawa jawaban Imam al-Syafii. Keduanya berkata: 

“Ia sosok yang memiliki banyak ilmu.” 

Keduanya mengirim pemuda tersebut kembali untuk bertanya kepada Imam al-Syafii: 

“Apakah kedua Fardhu dan satu sunnah tersebut?” 

Ia menjawab: 

“Fardhu pertama adalah niat. Fardhu kedua adalah Takbir al-Ihram. Sedangkan sunnahnya adalah mengangkat kedua tangan.” 

Kalau masalah ini berhubungan dengan dua sahabat Nabi, maka diskusi dengan metode tanya jawab ini tidak akan terjadi.

Al-Fadhl bin Musa meriwayatkan, pada suatu hari al-A’masy; Ahli Hadits terkenal sedang sakit. Kemudian Abu Hanifah membesuknya bersama al-Fadhl bin Musa. Abu Hanifah berkata kepada al-A’masy: 

“Wahai Abu Ahmad, jikalau tidak memberatkan Anda, saya ingin membesuk Anda.” 

Al-A’masy menjawab: 

“Demi Allah, ia berat bagiku. Anda berada di rumah Anda, maka bagaimana Anda akan menemui saya...” 

Ketika keluar, Abu Hanifah berkata kepada al-Fadhl: 

“Al-A’masy tidak puasa Ramadhan sekali pun dan tidak mandi junub.” 

(Padahal al-A’masy berpandangan keluarnya air mani menyebabkan wajib mand, dan juga bersahur berdasarkan hadits riwayat Hudzaifah).
Abu Hanifah mengucapkan kata-kata "berbahaya" ini, hanya karena al-A’masy berbeda pandangan dengannya dalam dua masalah, yaitu masalah Sahur dan Mandi Junub. Tidak terbayang di benak kita, seorang sahabat akan mengatakan hukum-hukum seperti ini, hanya karena berbeda pandangan masalah-masalah furu’. Dan ini tidak mengurangi rasa hormat kita terhadap sosok Imam Abu Hanifah.
Larut dalam kajian dan masalah seperti ini, kadangkala menyebabkan munculnya cabang ilmu baru yang tidak dikenal para sahabat yang mulia dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Misalnya, wudhu’ itu adalah 4 Fardhu, 13 sunnah, dan 8 sunnah.
Timbangan Keilmuan yang dibuat fikih untuk Ilmu Agama, kadangkala menyebabkan mucnulnya hal-hal ganjil, di antaranya ucapan Abu Hanifah kepada Imam al-Auza’i: 

 لولا فضل الصحبة (يقصد صحبة النبي) لقلت أن علقمة أفقه من عبد الله بن عمر
“Jikalau bukan karena keutamaan sahabat Nabi Saw, maka saya akan mengatakan ‘Alqamah lebih ahli fikih dari Abdullah bin Umar.”

Ide ini tidak akan bergelayut di akal Abu Hanifah jikalau bukan karena prasangkanya Abdullah bin Umar berbeda dengan ‘Alqamah di bidang yang berkembang pada zamannya, yaitu Fikih.
Kadangkala, logika seperti ini muncul dengan bentuk yang lebih berani. Misalnya, al-Dhahhak yang tidak suka minyak wangi, kemudian dikatakan kepadanya tentang para sahabat Nabi yang berparfumkan al-Misk. Ia menjawab: 

نحن أعلم منهم
‘Kita lebih paham dari mereka.”

Dahulu para sahabat, enggan menjawab pertanyaan. Mereka menahan diri atas masalah-masalah baru. Contohnya, Kharijah bin Zaid bin Tsabit meriwayatkan, pada suatu hari Zaid ditanya tentang sesuatu, kemudian ia menjawab, “Apakah sudah terjadi?” Jikalau mereka menjawab “belum terjadi”, maka ia tidak menjawab pertanyaan mereka. Jikalau mereka menjawab “sudah terjadi”, barulah ia menjawab.
Diriwayatkan oleh Masruq, “Saya berjalan bersama Ubay bin Kaab, kemudian ada seseorang bertanya, ‘Wahai paman, begini dan begini.’ Ia menjawab, ‘Wahai keponakanku, apakah sudah terjadi?’ Ia menjawab, ‘Belum.’ Ia berkata, ‘Biarkanlah kami, sampai masalahnya terjadi.”
Ketika Fikih berkembang, orang-orang mulai membuat masalah-masalah furu’ dan memaksa diri mereka untuk menjawabnya. Contohnya, Imam Khadnady ditanya tentang pengikut Mazhab Syafii yang meninggalkan shalat selama setahun atau dua tahun, kemudian ia beralih ke Mazhab Abu Hanifah al-Nu’man, “Bagaimana ia menqadhanya; apakah sesuai dengan Mazhab Syafii atau Mazhab Abu Hanifah?”
Hal-hal seperti ini tidak ada dan tidak dikenal di zaman sahabat. Jikalau pertanyaan tadi ditanyakan kepada para sahabat, maka ia akan melaknat orang yang bertanya seraya berkata: 

"Apakah Anda ingin mengubah agama Muhammad menjadi Yahudi?” 

Namun, abad terakhir orang-orang sudah berani banyak bertanya, dan para Ahli Fikih menjawabnya. Sebab, ia menempatkan fikih sebagai Ilmu Islam paling Agung. ***

Referensi:

Ibn al-Qayyim al-Jaudiyah, I’lam al-Muwaqqi’in, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut: 1411 H – 1991 M
Ibn Abd al-Barr, Jami’ Bayan al-Ilm wa Fadhlihi, Idarah al-Thiba’ah al-Amiriyyah: Kairo
Rihlah al-Imam al-Syafii berdasarkan karya dan riwayat muridnya al-Rabi’ bin Sulaiman dl-Jizy, al-Mathba’ah al-Salafiyah: 1350 H
Waliyullah al-Dahlawy: Hujjatullah al-Balighah, Juz 1, Bab Asbab Ikhtilaf al-Shahabah wa al-Tabiin fi al-Furu’, Dar al-Jil, cetakan ke-1, Beirut; Lebanon, 1426 H – 2005 M


Denis Arifandi Pakih Sati | Abd al-Wahhab al-Qursy | Min Jarair al-Ikhtilaf baina al-Fuqaha’

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.