Sunnah Nabi Muhammad Saw Sebagai Hujjah (Dalil) dalam Syariat

Sunnah Nabi Muhammad Saw memiliki kedudukan penting dalam Syariat Islam, berada di posisi kedua setelah al-Quran al-Karim. Ia merupakan implementasi real kandungan al-Quran, penyingkap hal-hal multi interpretasi, penjelas makna-maknanya, penerang lafadz-lafadznya dan kata-katanya. Jikalau al-Quran menetapkan kaedah dan dasar umum Syariat dan Hukum, kemudian juga Furu’, maka tidak mungkin agama dan syariat akan sempurna kecuali al-Quran dan hadits duduk bersampingan.
Banyak sekali ayat al-Quran dan hadits Nabi yang memerintahkan kita untuk menaati Rasulullah Saw, berhujjah dengan sunnahnya dan mengamalkannya, ditambahkan lagi dengan adanya Ijma’ umat dan pendapat para Imam Mazhab yang menetapkan kehujjahannya dan kewajiban menjadikannya sebagai hujjah.


Dalil-Dalil dari al-Quran al-Karim


Banyak sekali ayat al-Quran yang menunjukkan bahwa Sunnah Nabi Muhammad Saw adalah hujjah dan wajib mengikutinya.
Pertama, Ayat-ayat yang menegaskan wajibnya menaati Rasulullah Saw dan mengikutinya, mewanti-wanti untuk tidak menyelisihinya dan mengubah sunnahnya, ketaatan kepadanya adalah ketaatan kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu." (Surat Muhammad: 33)

Dan firman-Nya:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ ۖ وَمَنْ تَوَلَّىٰ فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka." (Surat al-Nisa: 80)

Dan firman-Nya:

فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ
Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim." (Surat al-Hasyr: 17)

Kedua, Ayat-ayat yang menjelaskan konsekwensi iman adalah menaati Rasulullah Saw, ridha dengan hukum yang ditetapkannya, menjalankan perintah dan larangannya, sebagaimana firman Allah SWT:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (Surat al-Ahzab: 36)

Dan firman-Nya:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (Surat al-Nisa: 65)

Dan firman-Nya:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Surat al-Nur: 51)

Ketiga, Ayat-ayat yang menjelaskan secara global bahwa sunnah adalah wahyu dari Allah SWT, Rasulullah Saw tidak membawa risalah pensyariatan yang berasal dari dirinya sendiri. Sesuatu yang diharamkan oleh Rasulullah Saw dalam sunnahnya, sama dengan yang diharamkan dalam kitab-Nya, sebagaimana firman-Nya:

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ
Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami.
لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ
niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya.
ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ
Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.
فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ
Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu." (Surat al-Haqqah: 44-47)

Dan firman-Nya:

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّىٰ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk." (Surat al-Taubah: 29)

Dan firman-Nya:

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Surat al-A'raf: 157)

Keempat, Ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Rasululah Saw penjelas al-Quran dan pensyarahnya. Beliau mengajarkan hikmah kepada umatnya, sebagaimana mengajarkan al-Quran, sebagaimana firman-Nya:

بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ ۗ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan." (Surat al-Nahl: 44)

Dan firman-Nya:

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ ۙ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (Surat al-Nahl: 64)

Dan firman-Nya:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (Surat Ali Imran: 164)

Para Ulama dan Ahli Tahqiq berpandangan, maksud al-Hikmah adalah Sunnah Rasulullah Saw. Imam al-Syafii mengatakan:
Ketika Allah SWT menyebutkan al-Kitab, maka maksudnya adalah al-Quran. Ketika menyebutkan Hikmah, maka saya mendengar pakar al-Quran berkata bahwa al-Hikmah itu adalah Sunnah Rasulullah Saw.”


Dalil-Dalil Sunnah Rasulullah Saw


Jikalau melihat sunnah Rasulullah Saw, dalilnya sangat banyak sekali. Semuanya menegaskan wajibnya beramal dengan sunnah dan menegaskan kehujjahannya.
Pertama, Hadits-hadits yang menjelaskan bahwa beliau diwahyukan al-Quran dan selainnya, kemudian hukum yang beliau jelaskan dan beliau syariatkan adalah syariat Allah SWT, beramal dengan sunnah sama dengan mengamalkan al-Quran, menaati Rasulullah Saw adalah menaati Allah SWT, bermaksiat kepadanya adalah maksiat kepada Rabb, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

“Hampir saja seseorang duduk di sofanya, kemudian ia menyampaikan haditsku seraya berkata, ‘Di hadapan kita ada Kitabullah. Kehalalan yang kita dapatkan di dalamnya, maka kita halalkan. Keharaman yang kita dapatkan di dalamnya, kita haramkan. Ketahui, apa yang diharamkan oleh Rasullah Saw, sama dengan yang diharamkan oleh Allah SWT.” (HR Ibn Majah)

Dalam riwayat Abu Daud:

“Ketahuilah, saya diberikan al-Kitab dan semisalnya bersama al-Kitab tersebut. Ketahuilah, hampir saja seseorang yang kekenyayangan berkata di atas sofanya, ‘Berpegangteguhlah dengan al-Quran ini. Kehalalan yang kalian dapatkan di dalamnya, maka halalkanlah. Keharaman yang kalian dapatkan di dalamnya, maka haramkanlah.”

Dan sabdanya:

“Pemisalanku dan pemisalan apa yang aku bawa seperti seseorang yang mendatangi suatu kaum dan berkata, ‘Wahai kaum, saya melihat pasukan dengan mataku, saya adalah pemberi peringatan yang nyata.’ Ada sekelompok orang yang menaatinya, kemudian berangkat di awal malam dengan pelan-pelan dan selamat. Ada sekelompok lainnya yang mendustai dan tetap berada di tempat mereka. Kemudian di pagi harinya pasukan tadi menyerang dan menghancurkan mereka. Begitulah pemisalan orang yang menaatiku dan mengikuti apa yang aku bawa, serta pemisalan orang yang mendustaiku dan mendustai kebenaran yang aku bawa.” (Hr al-Bukhari)

Abu Hurairah meriwayatkan secara Marfu’:

“Siapa yang menaatiku, maka ia sudah menaati Allah SWT. Dan siapa yang mendurhakaku, maka ia durhaka kepada Allah SWT.”

Dalam hadits lainnya:

“Semua umatku akan masuk surga, kecuali yang tidak mau.”

Para sahabat bertanya:

“Wahai Rasulullah, siapakah yang tidak mau?”

Beliau menjawab:

“Siapa yang menaatiku, masuk surga. Siapa yang durhaka kepadaku, maka ia enggan.”

Kedua, Hadits-hadits yang memuat perintah Rasulullah Saw untuk berpegangteguh dengan sunnahnya, menjadikannya sebagai landasan syiar dan ibadah, mendengarkan haditsnya, menghafalnya, dan menyampaikannya kepada orang yang belum mendengarnya. Beliau melarang berdusta atas namanya dan mengancam pelakunya dengan ancaman yang keras, sebagaimana sabdanya:

تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما كتاب الله وسنتي ولن يتفرقا حتى يردا علي الحوض
“Saya meninggalkan bagi kalian dua hal. Kalian tidak akan tersesat selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah. Keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya mengantarkan ke al-Haudh.” (Hr al-Baihaqi dan selainnya)

Dan sabdanya:

فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء المهديين الراشدين ، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ
“Kalian harus berpegang kuat dengan sunnahku dan sunnah para khalifah rasyidin. Pegangkuatlah dan gigitlah dengan geraham kalian.” (Hr Abu Daud)

Dan sabdanya:

صلوا كما رأيتموني أصلي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat.” (Hr al-Bukhari)

Dan sabdanya:

خذوا عني مناسككم
“Ambillah Manasik kalian dariku.” (Hr al-Nasai)

Dan sabdanya:

نضر الله امرءا سمع مقالتي فوعاها وحفظها وبلغها ، فرب حامل فقه إلى من هو أفقه
“Semoga Allah SWT menolong seseorang yang mendengar ucapanku, kemudian ia memahaminya, menghafalnya dan menyampaikannya...” (Hr al-Turmudzi dan selainnya)

Dan sabdanya:

إن كذب علي ليس ككذب على أحد، من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار
“Dusta atas namaku tidaklah sama dengan dusta atas nama yang lainnya. Siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka bersiap-siaplah menduduki tempat duduknya dari Neraka.”


Amalan Sahabat Nabi Muhammad Saw


Para sahabat radiyallahu anhum juga berhujjah dengan Sunnah Nabi Muhammad Saw dan meniti jalan hidayahnya, menjalankan segala perintahnya dan menjadikannya rujukan dalam detail masalah. Mereka adalah manusia paling semangat memperhatikan setiap ucapannya, perbuatannya, hafalannya, dan pengamalannya. Tingkatan pengikutannya kepada Nabi Muhammad Saw sampai pada tingkatan; mereka mengerjakan semua yang beliau kerjakan, dan meninggalkan semua yang beliau tinggalkan tanpa sama sekali mengetahui sebab atau hikmahnya, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari, dari Ibn Umar radhiyallahu anhuma, "Rasulullah Saw memakai cincin emas, kemudian orang-orang pun memakai cincin emas. Kemudian beliau membuangnya dan berkata:

إني لن ألبسه أبداً
"Saya tidak akan memakainya lagi selama-lamanya."

Maka, orang-orang pun membuangnya.
Diriwayatkan oleh Abu Daud, dari Abu Said al-Khudry radhiyallahu anhu, "Ketika Rasulullah Saw sedang shalat bersama para sahabatnya, beliau mencopot kedua sandalnya dan meletakkannya di bagian kirinya. Ketika menyaksikannya, orang-orang pun membuang sandal mereka. Selesai shalat, beliau bertanya:

ما حملكم على إلقائكم نعالكم
"Apa yang membuat kalian membuang sandal kalian?"

Mereka menjawab:

"Kami melihatmu membuang kedua sandalmu, maka kami pun membuang sandal kami."

Beliau bersabda:

إن جبريل أتاني فأخبرني أن فيهما قذرا
"Jibril mendatangiku dan memberitahuku bahwa di kedua sandalku ada kotorannya."


Ijma’ Umat Islam


Jikalau kita mengkaji atsar para salaf dan para Imam sesudahnya, maka kita tidak akan mendapati di hati seorang pun di antara mereka yang di dalamnya ada sebiji iman dan keikhlasan, pengingkaran untuk berpegangpeguh dengan sunnah, menjadikannya sebagai hujjah dan mengamalkan ajarannya.
Bahkan sebaliknya, kita tidak mendapati mereka kecuali berpegangteguh dengan sunnah, menjadikannya sebagai petunjuk, bersemangat mengamalkannya, dan berhati-hati agak tidak melanggar tuntunannya.
Mereka melakukannya, karena ia merupakan salah satu Ushul Islam, landasan pokok memahami al-Quran dan pangkal sejumlah besar hukum Islam. Mereka bersepakat bahwa Sunnah adalah Hujjah. Mereka satu kata. Mereka satu hati.
Imam al-Syafii mengatakan:

“Ijma’ tegas menyatakan, bagi seseorang yang nyata baginya Sunnah Rasulllah Saw, maka tidak boleh baginya meninggalkan sunnah demi pendapat seseorang.”

Dalam Kitab al-Umm, ia juga mengatakan:

“Saya tidak mendengar seorang pun yang orang-orang menyatakannya sebagai ulama atau menyatakan dirinya ulama, menyelisihi pandangan bahwa Allah SWT mewajibkan hamba-Nya untuk mengikuti Rasul-Nya dan menjalankan hukumnya; menyelisihi pandangan bahwa Allah SWT tidak memberikan pilihan lain kecuali mengikutinya; menyelisihi pandangan bahwa tidak ada kelaziman mengikuti setiap ucapan kecuali Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Selain keduanya, harus mengikuti keduanya. Kemudian menyelisihi pandangan bahwa Allah SWT mewajibkan kepada kita, kepada orang-orang sebelum kita dan sesudah kita, wajibnya menerima kabar dari Rasullah Saw.”

 Ibn Hazm berkomentar mengenai firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (Surat al-Nisa: 59)
“Para ulama ber-Ijma’ bahwa firman ini ditujukan kepada kita dan kepada setiap yang diciptakan dan memiliki ruh, baik jin maupun manusia, sampai hari kiamat kelak, persis dengan nasehat yang juga ditujukan kepada orang-orang yang hidup di zaman Rasulullah Saw dan orang-orang yang datang setelahnya. Tidak ada perbedaan.”

Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah mengatakan:

“Ketahuilah, tidak ada seorang Imam pun yang diakui khalayak ramai, menyelisihi Sunnah Rasulullah Saw, baik detail maupun global. Mereka bersepakat dengan penuh keyakinan wajibnya mengikuti Rasullah Saw, kemudian semua orang bisa diambil ucapannya dan ditinggalkan kecuali Rasullah Saw.”


Tidak Mungkin Beramal Hanya dengan al-Quran


Logika yang menunjukkan kehujjahan Sunnah Rasulullah Saw dan kemustahilan memahami syariah dan detailnya, serta hukum al-Quran tanpa menyertakannya adalah cakupannya terhadap nash-nash mujmal (global) yang membutuhkan penjelasan. Kemudian, ada juga masalah yang membutuhkan keterangan dan penafsiran.
Penjelasan itu harus ada, agar bisa memahami maksud Allah SWT, mengistinbathkan rincian hukum-hukum al-Quran. Tidak ada cara yang bisa ditempuh kecuali dengan sunnah. Tanpa sunnah, maka akan banyak hukum al-Quran yang tidak terpakai dan akan banyak taklif yang batal.
Ibn Hazm mengatakan:

“Di ayat al-Quran mana yang menjelaskan bahwa Zuhur empat rakaat, Maghrib tiga rakaat, cara rukuk seperti ini, cara sujud seperti ini, cara membaca dalam shalat dan cara salam, penjelasan mengenai apa-apa saja yang harus dijauhi ketika berpuasa, penjelasan mengenai tatacara zakat emas dan perak, zakat domba, unta dan sapi, jumlah yang harus dizakatkan, jumlah zakat yang dibayarkan, penjelasan mengenai amalan-amalan haji ketika wukuf di Arafah, tatacara shalat di Arafah dan di Muzdalifah, melempar jumrah, tatacara ihram dan hal-hal yang harus dijauhi, memotong tangan pencuri, sifat susuan yang menyebabkan mahram, makanan-makanan yang diharamkan, tatacara menyembelih dan berkurban, hukum-hukum hudud, sifat terjadinya talak, hukum-hukum jual beli, penjelasan mengenai riba, qadha’, dan saling klaim di pengadilan, sumpah, Ahbas dan Umra, sedekah dan segala jenis fikih? Di dalam al-Quran, hanya bersifat global. Jikalau kita meninggalkan sunnah, maka kita tidak tahu bagaimana mengamalkannya. Jalannya adalah kembali kepada penukilan dari Rasullah Saw. Ijma’ hanya ada dalam masalah-masalah ringan. Kembali ke hadits itu sangat penting. Kalau seandainya para pemimpin mengatakan, ‘Kita tidak mengambil kecuali yang kita dapati dalam al-Quran, maka ia menjadi kafir berdasarkan Ijma’ umat.”

Karena itulah, ketika dikatakan kepada Mutharrif bin Abdullah al-Syikkhir, “Janganlah engkau berbicara dengan kami kecuali hanya dengan al-Quran.” Kemudian ia menjawab: 

“Demi Allah, kami tidak mencari ganti al-Quran, tapi kami merujuk orang yang lebih paham di antara kita tentang al-Quran.”

Ketika ada yang berkata kepada Imran bin Hushain, “Engkau menyampaikan kepada kami hadits-hadits yang tidak ada landasannya dalam al-Quran.” Ia pun marah dan berkata: 

“Engkau bodoh. Apakah engkau mendapati dalam al-Quran bahwa shalat Zuhur empat rakaat tidak dijaharkan bacaannya?” 

Kemudian ia menjelaskan juga masalah shalat, zakat, dan sejenisnya. Kemudian ia melanjutkan:

“Apakah engkau mendapatkan tafsirnya dalam Kitabullah? Kitabullah kabur (Abham) dalam semua ini. Sunnahlah yang menafsirkannya.”

Hukum-hukum yang diambil dari sunnah, hakikatnya diambil dari al-Quran, disirami dengan Ushulnya. Sebab, begitulah Allah SWT menjelaskan dalam kitab-Nya. Mengambil hukum dari sunnah, sama dengan mengambilnya dari al-Quran. Sebagaimana meninggalkannya, sama dengan meninggalkan al-Quran. Itulah yang dipahami sahabat dan para salaf.
Itulah yang dikatakan oleh Abdullah bin al-Mas’ud:

“Allah SWT melaknat para wanita yang membuat tato dan yang minta dibuatkan tato, para wanita yang mencukur alis matanya, para wanita yang menghias giginya untuk mempercantik diri, dan para wanita yang mengubah ciptaan Allah SWT.”

Kabar tersebut sampai ke telinga salah seorang wanita dari Bani Asad, dikenal dengan nama Umm Yaqub. Kemudian wanita tersebut mendatangi Abdullah bin Masud dan berkata, “Saya mendengar engkau melaknat ini dan ini.” Ia menjawab: 

“Kenapa saya tidak boleh melaknat orang yang juga dilaknat oleh Rasullah Saw, dan orang yang juga terdapat dalam kitabullah.” 

Wanita itu berkata, “Saya sudah membaca lembar demi lembarnya, saya tidak mendapatkan ucapanmu itu.” Ia berkata: 

“Jikalau engkau benar-benar membacanya, engkau akan mendapatkannya. Apakah engkau tidak membaca ayat, ‘Apa yang dibawa oleh Rasul kepada kalian, maka ambillah. Dan apa yang kalian dilarang, maka tinggalkannya.’ (Surat al-Hasyr: 7) 

Wanita itu menjawab, “Iya.” Ia berkata: 

“Ia sudah melarangnya.” (Hr al-Bukhari).

Berdasarkan semua pemaparan di atas, jelaslah wajibnya berhujjah dengan sunnah dan mengamalkannya. Hukumnya sama dengan al-Quran; wajib ditaati dan wajib diikuti. Orang yang tidak mau berpegang dengan sunnah, sama saja ia berlepas diri dari al-Quran. Taat kepada Rasullah Saw, sama dengan taat kepada Allah SWT. Bermaksiat kepada Rasullah Saw, sama dengan bermaksiat kepada-Nya. Menjaga diri dari ketegelinciran dan kesesatan, hanya ada pada point: Berpegang teguh dengan al-Quran dan Sunnah. Keduanya.***

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.