Dialektika Fikih Terhadap Seni

Entah bahasa apa yang cocok untuk mengartikan al-Takyíf ini dalam bahasa Indonesia. Ada yang mengartikannya dengan “Adaptasi”. Ada juga yang mengartikannya dengan “Dialektika”. Ada juga yang saya dapati mengartikannya dengan “Rekayasa”. Untuk yang terakhir, maknanya terlalu peyoratif. Saya tidak setuju. Sebab, makna al-Takyíf al-Fiqhí itu positif. Entah mana yang cocok. Tapi nanti kita bisa menentukan arti tepatnya atau mendekati makna aslinya setelah membaca Artikel berikut. Al-Takyíf merupakan istilah undang-undang, kemudian dipinjam dan digunakan dalam kajian fikih. Inilah awal mula digunakannya istilah al-Takyíf al-Fiqhí di kalangan ulama kontemporer, sepadan dengan makna yang digunakan ketika menyebut al-Takyíf al-Qanùni (Dialektika Undang-Undang).
Maksud al-Takyíf al-Fiqhí atau al-Takyíf al-Qanùni adalah menentukan pengertian al-Tasharruf (tindakan) atau masalah atau kejadian dengan pandangan fikih atau undang-undang atau peradilan, kemudian membaginya dan menempatkannya di bab yang sesuai, agar bisa diolah dan ditetapkan hukumnya sesuai dialektikanya dan susunannya.

Misalnya, apakah tindakan ini masuk dalam bab Ibadah atau Muamalah atau Adat Kebiasaan?  Apakah wajib atau Haram, dianggap salah satu hak Allah SWT atau hak para hamba? Apakah ini criminal yang masuk ke dalam bab al-Hudùd atau bab al-Qishâs atau bab al-Ta’zír? Apakah pembunuh ini jenisnya al-‘Amd atau Khata’ atau Syibh ‘Amd? Apakah menguasai harta orang lain dalam kondisi ini dengan deskripsi seperti ini dianggap pencurian, atau diangggap pengkhianatan terhadap amanah atau Perampokan?
Jawaban terpilih dari setiap pertanyaan dan pemisalan ini, dianggap sebagai Dialektika dan Pembagian awal masalah. Ia yang akan menjadi pondasi hukum fikih atau undang-undang atau peradilan.
Al-Takyíf al-Fiqhí sama kedudukannya dengan Dokter yang memeriksa dan melakukan diagnosis awal kondisi pasiennya, sebelum mengobati atau melakukan diagnose lebih lanjut.
Dari sisi ilmiah, al-Takyíf al-Fiqhí masuk dalam ruang yang dikenal ulama dengan nama Tahrír Mahall al-Nizâ’. Sebagaimana diketahui, jikalau tidak ada Tahrír Mahall al-Nizâ’, maka akan terjadi berbagai diskursus dan perdebatan di antara berbagai kalanga. Padahal, perbedaan itu bisa dilebur atau dipersempit dengan Tahrír Mahall al-Nizâ’, yaitu Dialektika yang benar atas masalah.
Ia juga bisa dinamalan dengan al-Munâthaqah bi al-Tashawwur (berbicara dengan deskripsi), didahulu oleh al-Tashdiq (pembenaran), sesuai dengan kaedah al-Hukm ‘ala Syai-in Far’un ‘an Tashawwurihi (hokum atas sesuatu, cabang dari deskripsinya). Hanya saja, al-Takyíf lebih khusus dari al-Tashawwur.

Dialektika Fikih (al -Takyíf al-Fiqhí) Terhadap Seni


Perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang masalah seni, kedudukannya, dan hukumnya dalam Islam, khususnya seni yang lebih dikenal dan lebih menyebar luas di tengah masyarakat, seperti nyanyian, music, dan patung, sebagian pangkal masalahnya adalah shahih atau tidaknya dalil-dalil yang ada seputar masalah tersebut dari sisi riwayatnya. Kemudian pangkal masalah lainnya adalah penggunaan dalil-dalil yang bisa dijadikan sandaran dalam masalah terkait dari sisi al-Dilâlah dan al-Muqtadhâ. Ada sebab lainnya yang menjadi pankal perbedaan ini, jarang diperhatikan dan dikaji, yaitu dialektika masalah dan penyusunannya.
Ketika kita membaca berbagai kitab dan fatwa terkait seni, baik lama maupun baru, maka kita biasanya akan mendapati masalah ini tidak begitu diperhatikan, atau disebutkan sebagiannya saja (al-Juz-i), atau kita mendapatinya ada al-Takyíf namun tidak jelas dan samar.
Masalah al-Takyíf Seni memiliki efek besar dalam pengkajiannya dan penting untuk didudukkan hukumnya. Atas dasar itulah perlu dijelaskan dan diperinci unsur-unsur penting yang terkandung di dalamnya dan pandangan-pandangan yang membentuknya, kemudian juga perlu ditunjukkan adanya titik temu di antara semua jenisnya.

1# Seni Sebagai al-Lahw

Jenis ini dikenal luas di kalangan ulama, khususnya nyanyian, dendang, dan tarian. Inilah yang dijelaskan oleh banyak sekali hadits Nabi Muhammad Saw, baik dalam bentuk al-Ibâhah (boleh) maupun dalam bentuk al-Taqyíd (dibatasi) dan al-Tawjíh (diarahkan).
Dalam Shahíh al-Bukhâri, ada Bâb al-Lahwi bi al-Hirâb wa Nahwiha. Dalam Sunan al-Turmudzí, ada Bâb al-Lahwi wa al-Ghinâ' ‘inda al-‘Ars. Dan Bab sejenisnya, banyak didapati dalam Kitab-Kitab Sunnah. Dan maksud al-Lahwi disini adalah hiburan ketika pesta.
Tidak ada seorang pun yang berpandangan bahwa semua seni adalah al-Lahwi, atau berpandangan bahwa semua al-Lahwi adalah seni. Artiya, sebagian seni itu ada yang masuk dalam kategori al-Lahwi, dan sebagian lainnya kenikmatan (Imtâ’ al-Nafs).
Dengan al-Takyíf ini, masalah hokum kebolehan seni atau keharamannya, membutuhkan diskusi lebih lanjut. Secara umum, mengenai hokum al-Lahwi; apakah hukumnya al-Ibâhah (boleh) kecuali yang dinafikan dalil, atau al-Hazhr (haram) kecuali yang dinafikan dalil?
Jikalau melihat banyaknya jenis al-Lahwi dan hiburan, kemudian sebarannya yang begitu luas di masa sekarang ini, di seluruh lapisan masyarakat, bahkan sudah ada semenjak zaman Nabi, maka tidak mungkin dan tidak layak berpendapat kecuali memastikan kebolehannya. Itu hokum asalnya dan berdasarkan nash-nash yang ada.
Artinya, masalah yang perlu dikaji lebih lanjut adalah kondisi ketika al-Lahwi ini melampui batas, ketika ia memberikan pengaruh buruk terhadap kewajiban.
Jikalau al-Lahwi mengandung atau melazimkan perbuatan-perbuatan yang haram, maka tidak diragui hukumnya haram. Tapi, jikalau dikatakan keharamannya sebagai hokum asalnya karena bercampur hal-hal yang diharamkan di beberapa kondisinya atau di sebagian besar kondisinya, maka ini tidak benar dan tidak layak. Kaedah Fikih yang menjadi pegangan Jumhur ulama menegaskan al-Harâm lâ Yuharrim al-Halâl (Haram tidak mengharamkan Halal). Atau lafadz lainnya: al-Hâlal lâ Yahrum bi Mulâqat al-Harâm (Halal tidak akan Haram dengan masuknya yang Haram).
Jadi, al-Takyíf untuk Seni sebagai al-Lahwi, hokum asalnya adalah al-Ibâhah (boleh), sama dengan ucapan, perbuatan, dan hiburan lainnya. Kemudian, jikalau keluar dari makna ini atau pengertian ini, maka dilihat dengan dalil. Jikalau sekadar al-Lahwi atau permainan atau mendengarkan keduanya, maka hukumnya al-Ibâhah.
Hal yang mempengaruhi hokum adalah berlebih-lebihannya dalam al-Lahwi dan terus menerus melakukannya, sampai lalai menjalankan hak dan kewajiban, atau kecanduan, atau menghabiskan waktu dan usia dengan kesia-siaan. Dalam kondisi seperti ini, maka hokum al-Lahwi beralih dari al-Ibâhah (boleh) ke al-Karâhah (Makruh), atau ke al-Tahrím (haram), sesuai tingkat berlebih-lebihannya dan efeknya.
Imam al-Ghazali mengatakan dalam Kitab Ihyâ Ulùm al-Dín (2/ 282):

“Tidak semua kebaikan, akan menjadi kebaikan jikalau sering dilakukan. Dan tidak setiap Mubah, akan Mubah jikalau sering dilakukan. Roti itu Mubah, namun jikalau mengkomsumsinya berlebihan, hukumnya menjadi haram.”

Inilah yang dinamakan oleh al-Syâthibí dengan al-Mubâh bi al-Juz, al-Mathlùb al-Tark bi al-Kull (boleh sebagian, diminta untuk meninggalkan secara total). Ia memisalkannya dengan berjalan-jalan di taman, mendengarkan kicauan burung, nyanyian yang Mubah, permainan yang Mubah dengan Merpati. Semua ini hukumnya al-Mubâh bi al-Juz. Jikalau suatu hari dilakukan, atau dalam kondisi tertentu, maka hukumnya tidak masalah. Jikalau terus-menerus dilakukan,  maka hukumnya Makruh,  pelakunya disebut kurang akal, bertentangan dengan tradisi baik, dan berlebihan melakukan kemubahan.” (Lihat Kitab al-Muwâfaqât: 1/ 209)
Inilah yang dimaksudkannya dengan al-Mubâh bi al-Juz, al-Mathlùb al-Tark bi al-Kull (boleh sebagian, diminta untuk meninggalkan secara total). Maksudnya, dilarang melakukannya terus-menerus.

2# Seni Sebagai Industri dan Pekerjaan

Ada sisi lainnya yang perlu dilihat dan dikaji ketika membahas masalah seni dan menetapkan hukumnya, yaitu sebagian besarnya tumbuh dan berkembang sebagai pekerjaan dan industri jasa, dijadikan sebagai mata pencaharian oleh pelakunya. Seni bisa jadi adalah layanan yang diminta oleh para penggemarnya dan para penikmatnya, kemudian juga merupakan layanan dari orang yang menguasainya dan memproduksinya.
Seni Arsitektur masuk ke dalam bahasan ini, ditunjukkan oleh firman Allah SWT:

قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الصَّرْحَ ۖ فَلَمَّا رَأَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَا ۚ قَالَ إِنَّهُ صَرْحٌ مُمَرَّدٌ مِنْ قَوَارِيرَ ۗ قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Dikatakan kepadanya: "Masuklah ke dalam istana". Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: "Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca". Berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam." (Surat al-Nam: 44)

Dan firman-Nya:

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ ۚ اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا ۚ وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih." (Surat Saba': 13)

Intinya, semua seni, jikalau tidak menjadi pekerjaan atau sumber rezeki, dan pemasukan buat pelakunya, maka ia akan terlindas dan hilang.
Ibn Khaldùn berpandangan dalam kitabnya Târikh Ibn Khaldun (1/ 401), karya seni dan karya Tersier hanya akan tampak, banyak memintanya dan banyak yang ingin mempelajarinya, di tengah masyarakat yang berperadaban sejahtera dan berarsitektur kemajuan:

“Jikalau lautan infrastruktur sudah berkembang dan hal-hal tersier sudah dipinta, maka secara umum dunia industry sudah bagus dan sudah baik. Ia sudah sempurna dengan semua hal-hal yang menyempurnakannya, kemudian industry-industri lainnya akan bertambah banyak mengiringinya. Semua itulah yang akan menjadi pondasi kesejahteraan dan turunannya, seperti tukang jagal, tukang semak, tukang kikir, dan sejenisnya.
Semua jenis ini akan berakhir jikalau pembangunan menyebabkan munculnya banyak tersier dan menjadikannya sebagai suatu ketergantungan, kemudian menjadi mata pencaharian bagi pelakunya di perkotaan, bahkan keuntunganya menjadi keuntungan paling besar yang menghantarkan kepada kesejahteraan di perkotaan, seperti tukang minyak rambut, tukang kepang rambut, tukang kamar mandi, tukang lilin, pengajar nyanyi, pengajar menari, pengajar pemukul gendang, kemudian juga seperti para pembuat kertas yang seringkali mengeluhkan capeknya mencetak buku, menjilidnya, dan membenarkannya. Industri ini menumbuhkan kesejahteraan di Kota, menyebabkan terlalaikannya masalah-masalah pemikiran dan semisalnya.
Kadangkala keluar dari pengertian di atas jikalau pembangunannya tidak seperti yang dijelaskan. Sebagaimana kami sampaikan tentang penduduk perkotaan, ada di antara mereka yang mengajar burung, mengajar orang-orang non Arab dan Afrika, kemudian membayangkan banyak hal-hal aneh mengilhamkan pikiran, mengajarkan pengukuran, menari, berjalan di atas benang di udara, kemudian mengajarkan hewan memikul beban, batu, dan berbagai industry lainnya. Semua itu tidak didapatkan di Maghrib, sebab pembangunan di perkotaan tidak seperti pembangunan Mesir dan Kairo. Semoga Allah SWT mengekalkan keduanya bagi kaum muslimin.”

Industri dan kerja seni seperti ini, tidak ada seorang pun yang menyatakan keharamannya. Hal yang sama dengan seni lainnya, ketika ia dijadikan sebagai pekerjaan dan profesi.

3# Seni Sebagai Hiasan dan Barang Perhiasaan

Hubungan antara seni dan keindahan, banyak sekali. Khususnya bagi  kalangan pecinta seni, kalangan intelektual dan ahli fikih kontemporer. Mereka berpandangan, seni pada dasarnya dan idealnya adalah ungkapan tentang fenomena keindahan alam semesta dan kehidupan. Seni itu akan sukses dan menarik, sesuai dengan kadar keindahan dan keelokan.
Seni yang hakiki adalah seni yang menampilkan keindahan, fokusnya, dan unsurnya, dalam bentuk-bentuk yang indah lagi elok. Dengan begitu, ia menunjukkan pendidikan keindahan, merasakan taste keindahan untuk berbagai jenis ilmu dan indera manusia, baik tergores maupun tidak tergores.
Al-Ustâdz Muhammad Quthb mengatakan dalam Kitabnya Manhaj al-Fan al-Islâmi (halaman 6):

والفن الإسلامي.. إنما هو الفن الذي يرسم صورة الوجود من زاوية التصور الإسلامي لهذا الوجود.
هو التعبير الجميل عن الكون والحياة والإنسان، من خلال تصور الإسلام للكون والحياة والإنسان.
هو الفن الذي يهيئ اللقاء الكامل بين الجمال والحق. فالجمال حقيقة في هذا الكون، والحق هو ذروة الجمال. ومن هنا يلتقيان في القمة التي تلتقي عندها كل حقائق الوجود”
“Seni Islam adalah seni yang menggariskan gambaran alam dari sudut pandang Islam. Inilah ungkapan yang indah tentang alam, kehidupan dan manusia, melalui pandangan Islam terhadap alam, kehidupan, dan manusia. Ia adalah seni yang mempersiapkan pertemuan antara keindahan dan kebenaran. Maka, keindahan adalah hakikat alam semesta ini. Dan kebenaran adalah puncak keindahan. Di puncak, akan bertemu keduanya, ketika itu juga bertemu semua hakikat wujud.

Berdasarkan hal ini, seni merupakan salah satu nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, dibolehkan-Nya kepada para hamba-Nya.

4# Seni Sebagai Degradrasi dan Hedonisme

Jenis atau al-Takyíf inilah yang menjadi patokan orang-orang yang mengharamkan seni dengan segala jenisnya. Tentu saja, ia berbeda dengan deskripsi yang sudah kita paparkan sebelumnya. Ia hanya bersandarkan kepada realita yang disaksikan dan fakta yang belum diurai.
Nyanyian, Musik, Tarian, Patung, Drama, Sinema atau Film, dan lain sebagainya, dipenuhi dengan berbagai fenomena kekotoran, hedonism, mengikuti nafsu syahwat, mengandung berbagai kemungkaran, terjerumus ke dalam berbagai hal hina lagi menghancurkan. Bahkan, sebagian orang mendeskripsikan seni sebagai kegilaan. Berdasarkan realita ini, tidak ada hokum yang layak disematkan kecuali haram.
Syeikh Abu Zaid dalam Kitab al-Tamtsíl, halaman 45 menjelaskan:

“Ketahuilah, kaedah Syariah menjelaskan, jikalau sesuatu hukum asalnya Mubah, kemudian mengandung hal haram atau menyebabkan keharaman, maka ia menjadi haram. Begitu juga dengan film/ drama. Jikalau hokum asalnya digolongkan ke dalam jenis al-Lahwi yang dibolehkan (al-Mubâh), kemudian dicampuri oleh sesuatu yang haram atau menyebabkan haram, maka ia menjadi haram; baik pelaksanaannya, pendapatannya, dan menontonnya, berdasarkan kaedah di atas.”

Dalam kitab yang sama, di halaman 57, ia berkata lebih lanjut:

“Nasehat dan keutamaan yang diklaim ada di dalamnya, tertutupi oleh tirai al-Lahwi yang membangunkan nafsu tertidur dan syahwat yang tenang, sebagaimana realita yang terjadi, mengulang-ngulang perbuatan fahisy, kefasikan, dan kemaksiatan, menghancurkan rumah dari dalam. Semuanya merupakan hal yang berbahaya bagi akidah, akhlak, keutamaan, dan etika.”

DR. Ibrâhim Hilâl menulis sebuah artikel berjudul Ta’tsír al-Fann ‘ala a-Usrah, memaparkan sejumlah pengaruh negative seni kontemporer terhadap keluarga dan para anggotanya, seperti perceraian, degradasi moral, dan kerusakan keluarga, khususnya yang ditampilkan di stasiun-stasiun televise dan masuk ke setiap rumah.
Artikelnya ditutup dengan mengatakan:

“Inilah seni. Dan itulah pengaruhnya terhadap dunia manusia dan kehidupan umat manusia. Dengan begitu, ia menjadi penghalang besar kemajuan kita dan peradaban kita. Jadi, kenapa harus ada lagi di dunia kita dan di lingkungan kita?”

Semua Deskripsi seni di atas, bisa diterima dan bisa juga ditolak dalam satu waktu. Jikalau menyaksikan realita yang terjadi di sebagian besar kondisi, ia bisa diterima. Bahkan, mayoritasnya memang begitu. Lihat saja produksi dan aktifitas seni yang sudah disebutkan, kemudian lihat juga lingkungan yang menyelimutinya.
Akan tetapi, jikalau dilihat dari sisi percampurannya, globalnya, dan pelazimannya atas sesuatu yang tidak lazim, maka ia tertolak. Ini sama halnya dengan apa yang terjadi pada para pengkritik Ibn Hazm. Ketika ia membolehkan nyanyian dan alat gendang, mereka memahami masalahnya dengan point-point yang tidak ada hubungannya, tidak ada kaitannya dengan pendapatnya.
Syeikh al-Zubair Dahhân mengatakan dalam Kitabnnya Tahqíq al-Arib bi Inshâf Ibn Hazm fí Mas-alah al-Ghinâ’ wa al-Mùsiqí wa Alât al-Tharb:

“Pilihan Ibn Hazm ini, merupakan pilihan controversial, menyebabkannya diserang cacian dan celaan. Sebagian orang memandangnya sesat dan menyesatkan. Kadangkala, orang-orang yang berbeda dengannya, mengkritiknya dengan realita nyanyian, alat-alat gendang, dan video tak senonoh yang ada pada hari ini, seakan-akan orang yang membolehkan alat-alat gendang berarti membolehkan gambar-gambar tersebut, padahal sebenarnya orang yang berakal tidak akan meragui keharamannya. Jikalau Ibn Hazm ditanya, maka ia akan  menjawab dengan apa yang diriwayatkan dari seorang Salaf, ‘Tidak ada yang melakukannya kecuali orang-orang fasik di antara kami.’ Hanya saja, penyelewengannya dari makna sebenarnya, bukan berarti diharamkan hokum asalnya.”

Karena itulah, jikalau dikatakan: "Seni nyanyian dan drama yang jelas deskripsinya dengan sifat-sifat yang sudah disebutkan, tidak boleh bagi siapapun menyibukkan diri dengannya, baik melaksanakannya, mendengarnya, maupun menyaksikannya”, maka ucapan tersebut adalah ucapan persial dan setengah-setengah. Sebab, sifat-sifat ini bukanlah sesuatu yang lazim, tidak juga global, tetapi semua itu hanyalah paparan/ eksternal, bukan dzatnya sendiri. Ia ada di sebagian seni, tapi tidak di sebagian seni lainnya. Di sebagian seni, ada perbuatan-perbuatan seperti itu, tapi tidak di sebagian seni lainnya. Bisa jadi di sebagian besar seni ada, tapi tidak semuanya.
Point paling pentingnya, seni yang mengandung hal-hal terlarang tersebut, bisa dilepaskan dan bisa diubah. Ada orang yang berseni dengan kekotoran dan ingin mengotorinya, ada sebagian lainnya yang justru ingin berseni dengan cara-cara yang agung dan bersih. Hanya saja, mereka kadangkala tidak mengusainya dengan baik.
Memisahkan antara seni apapun dengan hal-hal haram lagi kotor yang menempel padanya, membutuhkan cita tinggi dan tujuan mulia. Sesuai dengan kadar azzam, hasilnya akan tampak.

5# Seni Sebagai Sarana (al-Wasílah)

Ini jenis masalah seni lainnya, bisa dijadikan pondasi dalam Dialektika, yaitu fakta sebagian besar seni hanyalah sarana yang mampu menarik hati khalayak dan bisa memberikan pengaruh. Tujuannya tentu jelas, yaitu menasehati dan menyampaikan berbagai info. Dan itulah tujuan seni.
Eksistensi jenis ini tidak sedikit. Dengan berbagai jenis seni dan kerjanya, ia seringkali ditampilkan kepada masyarakat, mulai dari Khat, lukisan, dan hiasan dinding, mulai dari seni sastra sampai ke produksi film, lagu religi dan nasional.
Secara umum, tujuan-tujuan yang ingin dicapai dengan kerja seni sebagai sarana, bisa jadi adalah perbaikan yang positif, dan  bisa jadi adalah pengrusakan yang menghancurkan. Bisa jadi perbaikan bagi sebagian orang, dan bisa jadi kehancuran bagi sebagian lainnya.

6# Seni Sebagai Kebutuhan Fitrah Manusia

Saya tidak mendapati, minimal saya tidak ingat buku yang pernah saya baca, mengkaji seni dari sudut ini atau melakukan Dialektika dengan jenis ini. Maksud jenis yang sedang dibahas ini, manusia dengan berbagai ras dan budaya, mereka berinteraksi dengan seni dan tertarik dengannya, serta sangat mencintainya sebagai bawaan (fitrah) yang sudah tertanam kuat di dalam dirinya.  Inilah yang menafsirkan eksistensi seni di semua suku di sepanjang masa, sebagaimana ia menafsirkan peralihan suatu seni dari satu suku ke suku lainnya, kemudian diterima dengan cepat di kalangan lainnya.

Cerita Syeikh Ahmad al-Raysùni


Ketika masih muda, saya meyakini haramnya nyanyian dan derivasinya. Saya bersikap keras dalam masalah ini. Dalam suatu jamuan yang disajikan kepada para peserta dalam Muktamar Islam di Kota Tetoun Moroko (tahun 1974), ketika berada di istana sang Tuan Rumah, muncullah suara “al-Jauq al-Andalusi” (music klasik Moroko). Saya benar-benar terkejut mendapatinya. Saya merasa asing dan tidak menyukainya. Saya tidak mampu bertahan bersama “kemungkaran” ini, kemudian saya masa bodoh saja dengan orang-orang yang ada di sekitar saya, menundukkan kepala dan segera keluar tanpa melihat kepada seorang pun.
Ketika kembali ke Aula Muktamar, teman saya segera menghampiri, yaitu al-Akh Hammâd al-Zammùry, kebetulan saya duduk di dekatnya:
“Dimana engkau tiba-tiba bersembunyi? Apa yang terjadi?”
Ketika saya menjelaskan sikap saya, ia berkata:
”Kalau saya, sendi-sendi saya menikmatinya, dan saya senang bersama dendang Andalusia.”
Kemudian saya segera menjawab:
“Kalau Saya, sendi-sendi saya sudah berkarat dan kering, tidak lagi menerima kerusakan.”
Teman saya tersebut mengungkapkan fitrahnya dan perasaannya secara spontan, sedangkan saya mengungkapkan sikap fikih sesuai dengan apa yang saya baca dan saya ingat, sampai-sampai saya kenyang karenanya.
Ada kejadian lainnya, saya saksikan bertahun-tahun setelahnya. Momentnya jauh lebih kecil. Suatu hari, saya berkumpul bersama keluarga di rumah, di desa kami. Dalam perkumpulan itu, ada kedua orangtua saya, sejumlah saudara laki-laki dan perempuan, serta sejumlah kerabat. Kemudian salah seorang yang hadir menghidupkan radio yang dibawanya. Kemudian terdengarlah suara nyanyian lembut. Ketika saya merasakan ketidaknyamanan, berdirilah seorang anak kecil berjoget bersama dengan iringan lagu dan syairnya. Padahal usianya baru tiga tahun.
Saya lama memikirkannya dan berkali-kali merenungi kejadian terakhir ini. Saya mendapati, anak kecil ini tidak ada yang menggerakkannya untuk berjoget kecuali fitrahnya dan tabiatnya. Ketika itu, saya mulai mengkaji lagi dan lagi, saya meluruskan pendapat saya selama ini tentang masalah nyanyian dan music, sampai saya yakin semuanya sudah berakar dalam fitrah manusia; asal penciptaan dan kecenderungan kita. Allah SWT mensyariatkannya dan membolehkannya degan kadarnya, dengan bentuknya, atau dengan berbagai bentuknya.
Keyakinan ini semakin kuat ketika saya membaca tulisan menarik yang ditulis oleh al-Imâm Abù Bakar bin al-Arabí dalam Kitabnya ‘Aridhâh al-Ahwâzi syarh Shahíh al-Turmudzí:

“Perkara halal adalah sesuatu yang diizinkan melakukannya. Perkara haram adalah sesuatu yang dilarang melakukannya. Allah SWT dengan keindahan hikmahya ketika menciptakan semua yang ada di bumi bagi kita, Dia membaginya menjadi tiga kondisi:

  1. Ada yang dibolehkannya secara mutlak.
  2. Ada yang dibolehkannya dalam satu kondisi, tidak pada kondisi lainnya. 
  3. Ada yang bolehnnya dalam satu bentuk, tidak bentuk lainnya.

Sedangkan jikalau dikatakan, ada di bumi ini yang dilarang, tidak pernah tersentuh hokum al-Ibâhah kapan pun, dalam bentuk apapun, maka saya tidak mengetahuinya sama sekali. Segala sesuatu tersentuh oleh hokum halal dan haram kecuali al-Tauhíd, tidak dimasuki perubahan, tidak turun dari derajat fardhu dan tangga wajib apapun kondisinya.”

Rasa suka terhadap seni, juga tidak keluar dari bahasan di atas. Allah SWT tidak akan menempatkannya dalam tabiat kita, kemudian Dia mengharamkannya secara mutlak. Tindakan paling layak syariat terhadap kecenderungan fitrah manusia adalah al-Tahdzíb (mendidik) dan al-Tawjíh (mengarahkan), al-Taqyíd (membatasi), dan al-Tarsyíd (menasehati). Tidak ada larangan mutlak atau pengharaman di seluruh bagian.
Imam al-Ghazâli sudah memaparkan masalah ini dalam sebuah pembahasan dengan judul al-Samâ’ wa al-Wajd, menyertakan berbagai hadist dan atsar, di antaranya hadits yang terdapat dalam al-Shahíhain, dari Aisyah radhiyallahu anha, “… Pada hari raya, dua orang berkulit hitam bermain dengan kayu dan tombak. Kayaknya beliau bertanya atau berkata, ‘Apakah engkau melihat?’ Saya menjawab, ‘ya.’ Kemudian beliau menempatkanku di belakangnya, pipiku di pipinya. Beliau berkata, ‘Di hadapanmu wahai Bani Arfidah.’ Sampai saya merasa bosan, beliau berkata, ‘Cukup?’ Saya menjwab, ‘ya.’ Beliau berkata, ‘Pergilah.”
Di antara hokum dan adab yang di Istinbathkan al-Ghazâli, serta fikih yang ditegaskannya adalah berdirinya Nabi Muhammad Saw dalam jangka waktu yang lama menyaksikannya dan mendengarkannya, untuk menemasi Aisyah radhiyallahu anha. Dan ini menunjukkan akhlak baik, menyenangkan hati istri dan anak-anak untul menyaksikan permainan. Dan itu jauh lebih baik dari sikap kering dan kasar.
Saya menukil hal ini untuk menguatkan keterikatan jiwa dengan seni. Ia adalah kecendrungan fitrah seorang anak manusia dan kebutuhan alaminya, serta untuk menjelaskan bagaimana sikap Nabi Muhammad menghadapinya.***

Denis Arifandi Pakih Sati |  Syeikh Ahmad al-Raysuní | diterjemahkan dan disusun ulang dari Makalah dengan judul “al-Masalah al-Fanniyah fí al-Nazhr al-Maqâshidí min Khilâl Madkhal al-Takyíf wa al-Tawzhífí”, disampaikan dalam seminar bertajuk “al-Funùn fi Dhau Maqâshid al-Syarí’ah”, yang diadakan oleh Pusat Studi Maqâshid al-Syaríah London, di tanggal 4-5 November 2016, di Kota Istanbul.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.