Hak-Hak Dokter dalam Masyarakat Islam

Di tataran dunia, Dokter menjalankan tugas yang amat penting, pelayanan yang amat mulia. Dalam konteks sekarang ini, dan akan begitu selamanya, merekalah yang bertugas menjaga manusia dari wabah dan berbagai penyakit lainnya. Mereka berusaha keras mendeteksi penyakit dan obatnya sekaligus.
Tugas mulia ini, insya Allah pekerjaan yang diberkahi; usaha yang layak dihaturi terimakasih. Banyak kita mendengar kabar di berbagai Media Massa, para dokter yang terpapar virus ketika sedang bekerja. Di saat bersamaan, di beberapa Negara mereka sama sekali tidak mendapatkan sokongan materi dan moril. Akibatnya, mereka terkena penyakit yang mereka sendiri berusaha menyembuhkannya. 

Jikalau seorang dokter sudah menjalankan peran aktif ini dalam kehidupan, maka wajib bagi masyarakat dan Negara menyediakan perlindungan kesehatan (APD/ Alat Perlindungan Diri), yaitu dengan menyediakan dan memberlakukan berbagai langkah preventif kesehatan untuk menjaganya agar tidak terjerumus ke dalam penyakit-penyakit tersebut. Ini tanda terimakasih minimal yang harus dipersembahkan kepada para dokter. Rasulullah Saw bersabda: 

“Siapa yang tdiak berterimakasih kepada manusia, maka ia tidak akan berterimakasih kepada Allah SWT.”


Kedudukan Ilmu Kedokteran Dalam Islam


Islam sangat memperhatikan ilmu kedokteran. Dalam berbagai haditsnya, Nabi Muhammad Saw menjelaskan urgensi Ilmu Kedokteran dalam kehidupan manusia secara umum, dan dalam kehidupan seorang Muslim secara khusus. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah Saw bersabda:

ما أنزل الله من داء إلا أنزل له دواء
“Tidaklah Allah SWT menurunkan penyakit, kecuali menurunkan obatnya.” (HR al-Bukhari)

Bahkan, para Ulama membagi ilmu menjadi dua bagian; Ilmu Agama dan Ilmu Dunia. Ilmu Dunia adalah Ilmu Kedokteran. Sebagaimana dikatakan oleh al-Rabi’ bin Sulaiman: 

“Saya mendengar al-Syafii mengatakan, ‘Ilmu hanya ada dua; Ilmu Agama, dan Ilmu Dunia. Ilmu yang untuk agama adalah Fikih. Dan Ilmu untuk dunia adalah Ilmu Kedokteran.”

Bahkan, Imam al-Syafii heran dengan minimnya perhatian kaum Muslimin ketika itu terhadap Ilmu Kedokteran. Justru ketika itu, orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashrani yang banyak menyibukkan diri. Diriwayatkan oleh al-Rabi’, saya mendengar al-Syafii mengatakan:

“Saya tidak mengetahui ilmu setelah halal dan haram, lebih mulia dari Ilmu Kedokteran. Hanya saja, Ahli Kitab mengalahkan kita.”

Harmalah mengatakan: 

“Al-Syafii berujar tentang Ilmu Kedokteran yang diabaikan kaum Muslimin dengan mengatakan, “Mereka mengabaikan sepertiga ilmu dan memberikannya kepada Yahudi dan Nashrani.” (Lihatlah Kitab Siyar A’lam al-Nubala’: 8/ 258)


Adab-Adab Seorang Dokter


Dokter Hippokrates menyimpukan sejumlah point yang harus ada di dalam diri seorang Dokter:

“Selayaknya seorang Dokter itu bebas-merdeka, baik etikanya, muda usianya, normal badannya, sehat anggota tubuhnya, bagus pahamnya, baik bicaranya, benar pendapatnya ketika bermusyawarah, menjaga diri dan berani, tidak suka perak, mampu mengendalikan diri ketika marah, tidak mengabaikan ilmunya sama sekali, dan tidak bodoh.
Selayaknya membersamai orang yang sakit dan menyayanginya, menjaga rahasia-rahasianya. Sebab banyak orang-orang yang sakit ingin kita membersamai mereka, dan tidak menginginkan orang lain bersama mereka.
Selayaknya siap memikul cacian, sebab begitulah yang dilakukan oleh kaum berpikiran Negatif dan suka was-was. Selayaknya kita meneguhkan mereka dan memberitahu mereka, sebab penyakit itu diluar kuasanya.
Selayaknya potong rambutnya standar dan normal, tidak memotongnya dan membiarkannya acak-acakan, tidak lalai memotong kuku kedua tangannya dan tidak membiarkannya memanjang.
Selayaknya pakaiannya bersih, putih, dan lembut; tidak berjalan tergesa-gesa sebab itu tanda kurangnya ilmu; dan tidak juga berjalan pelan-pelan, sebab itu tanda kemalasan.
Jikalau ia dipanggil menghampiri orang yang sakit, maka hendaklah duduk bersila, menanyakan kondisinya dengan tenang dan santai, tidak gelisah dan ragu-ragu. Menurutku, bentuk, gaya, dan sistem seperti ini lebih baik dari selainnya. (Kitab Mathali’ al-Budur wa Manazil al-Surur, karya al-Ghazali: halaman 189)


Hak-Hak Para Dokter


Dalam masyarakat dunia secara umum, dan masyarakat Islam secara khusus, para dokter memiliki sejumlah hak. Hak paling penting adalah Penghormatan dan Penghargaan.
Salah satu hak Para Dokter adalah harus dimuliakan di negeri mereka, harus diberikan hunian yang layak, harus diberitahukan kedudukan mulia mereka kepada khalayak. Islam memuliakan para Dokter. Sejarah Peradaban Islam menjadi saksinya. Bahkan, banyak para dokter Nashrani dan Yahudi yang mendapatkan posisi penting dalam Khilafah Islam.
Alangkah bagusnya deskripsi yang disampaikan oleh al-Ustadz Ali al-Thanthawi. Ia menganggap para dokter merupakan bagian dari Rumus Peradaban, dengan mengatakan: 

“Saya tidak akan melawan para dokter, dan saya tidak mampu melawan mereka. Sebab, mereka bagian dari inti peradaban manusia dan salah rumus nyatanya.” (Kitab Dzikrayat karya Ali al-Thanthawi: 4/ 295)

Hak selanjutnya seorang dokter adalah mendapatkan gaji penuh. Ia harus mendapatkan gaji yang akan menghalanginya untuk mengemis kepada manusia lainnya. Semua orang membutuhkannya. Menjadikannya kaya merupakan upaya menjaga profesi dokter; menjaga jiwa-jiwanya yang lemah untuk tidak menipu, mencuri, korupsi, menyelisihi ajaran agama dan undang-undang, serta kemuliaan profesinya.

Ketika minim sekali gaji dokter di sebagian besar negeri kaum Muslimin, maka berubahlah pekerjaan dokter menjadi pedagang pasar. Kami mendapati banyak sekali Rumah Sakit, klinik, dan para dokternya yang tidak bertakwa kepada Allah SWT dalam pekerjaan yang dijalaninya. Mereka mencuri harta pasien dan keluarganya dengan cara yang batil. Kalau mereka kaya, banyak pintu ini yang akan tertutup.
Kita mendapati, ada orang yang tidak sukarela menjadikan dirinya sebagai dokter, bahkan membolehkan seorang dokter untuk mendapatkan upah yang layak bagi dirinya. Dasarnya adalah riwayat dalam Sunan Abu Daud (3/ 265), dari Abu Said al-Khudry, ada sejumlah sahabat Nabi Saw melakukan perjalanan, kemudian mereka singgah di salah satu pemukiman Arab. Mereka ingin singgah, namun penduduknya enggan menjamu.
Pemimpin pemukiman tersebut digigit kalajengking. Kaumnya sudah berusaha mengobatinya dengan segala usaha. Namun, tidak memberikan manfaat. Kemudian ada yang berkata: 

“Ada baiknya jikalau kalian menghampiri orang-orang yang singgah di tempat kalian. Barangkali ada di antara mereka memiliki sesuatu yang akan bermanfaat bagi pemimpin kalian.”

Kemudian mereka pun menghampiri para sahabat dan berkata: 

“Pemimpin kami digigit kalajengking. Kami sudah berusaha mengobatinya dengan segala sesuatu, namun tidak ada efeknya. Apakah ada di antara kalian yang memiliki sesuatu yang akan menyembuhkan pemimpin kami?” 

Sesuatu disini, maksudnya adalah Jampi.
Ada yang menjawab: 

“Saya akan menjampi (meruqyah). Tetapi, tadi kami berharap kalian menjamu kami, tetapi kalian tidak mau. Saya tidak akan mau meruqyah sampai kalian menyediakan hadiah.”

Kemudian mereka menyediakan sejumlah kambing. Sahabat tadi pun membacakan Umm al-Kitab, kemudian menghembus di tempat yang sakit sampai sembuh, seakan-akan ia baru lepas dari ikatan.
Mereka pun memenuhi hadiah yang sudah dijanjikan. Para sahabat berkata, “Bagilah.” Sahabat yang tadi meruqyah berkata, 

“Jangan melakukannya sampai kita mendatangi Rasulullah Saw dan meminta perintahnya." 

Mereka pun berangkat menghampiri Rasulullah Saw dan menyampaikan kejadiannya. Beliau menjawab:

من أين علمتم أنها رقية؟ أحسنتم واضربوا لي معكم بسهم
“Darimana kalian tadi itu Ruqyah? Bagus. Berilah saya satu bagian.”

Dalam Sunan Abu Daud lainnya (3/ 266), dari al-Sya’by, dari Kharijah bin al-Shilat, dari pamannya yang suatu hari melewati suatu kaum, kemudian mereka bertanya: 

“Anda datang dengan kebaikan bagi laki-laki ini. Ruqyalhah laki-laki ini untuk kami.” 

Kemudian mereka membawa seorang laki-laki stress diikat. Ia pun meruqyahnya dengan Umm al-Quran selama tiga hari, pagi dan petang. Setiap kali menyelesaikan bacaannya, ia mengumpulkan ludahnya kemudian meniupkannya, seakan-akan laki-laki tadi baru lepas dari ikatannya. Kemudian, mereka memberikannya sesuatu. Setelahnya, didatangilah Nabi  Saw dan diceritakan kejadiannya. Beliau bersabda: 

“Makanlah, Allah SWT (Maha Melihat) bagi yang makan dengan ruqyah batil. Dan Anda sudah makan dengan Ruqyah yang benar.”

Ada sejumlah Sultan yang menggelontarkan banyak dana bagi para dokter yang mampu menyembuhkan penyakitnya. Diceritakan oleh Zain al-Abidin al-Malthy al-Hanafi tentang sejumlah peristiwa yang terjadi di bulan Rabi’ al-Awwal tahun 862 H:

“Dibuatlah layanan di Istana, disajikan buat doker dan para perawat yang ikut bersamanya, karena kesembutan sultan. Pelayanan tersebut menyebabkan istana tidak beraktifitas selama beberapa hari.” (Lihatlah Kitab Nail al-Amal fi Dzail al-Duwal: 6/ 36)


Keistimewaan-Keistimewaan Para Dokter


Orang yang meruntut sejarah para dokter dalam Islam, ia akan mendapati Peradaban Islam memberikan perhatian besar terhadap mereka. Mereka tidak sekadar diberikan gaji, nanun juga makanan, bahkan termasuk makanan unta mereka (dalam bahasa sekarang: Bensinnya), selain tentunya berbagai tunjangan lainnya.

“Secara umum, para dokter yang berada di dekat para Khalifah, para Raja, dan para Amir, akan mendapatkan kebaikan yang besar, keutamaan yang agung, harta yang melimpah, dan relasi yang kuat. Para dokter sudah pasti mendapatkan tunjangan melimpah dan biaya makan unta yang mereka kenderai... Bahkan, sebagian dokter memiliki kekayaan yang hanya bisa dibandingkan dengan para penguasa ketika itu.”

Sebagian Dokter benar-benar mendapatkan status sosial yang baik dan kehidupan yang nikmat sekali. Bahkan, Bukhtishu (Bakhtshooa Gondishapoori adalah dokter Kristen Persia atau Asyur Nestorian dari abad ke 7, 8, dan 9, mencakup enam generasi dan 250 tahun. Nama Persia-Syria Tengah yang dapat ditemukan pada awal abad ke-5 merujuk pada leluhur eponim dari "keluarga Nestorian Siro-Persia" ini) di zaman Khalifah al-Mutawakkil, mendapatkan kedudukan mulia, kondisi yang baik, harta yang banyak, penghormatan yang luar biasa, pakaian yang setara dengan khalifah; begitu juga dengan gaya, parfum, jamuan, kelapangan harta yang tidak bisa dibayangkan” (Lihatlah Kitab Tarikh al-Bimarsitanat fi al-Islam, karya DR. Ahmad Isa, halaman 28-30)

Perlindungan bagi Para Dokter


Di antara hak para Dokter adalah mendapatkan perlindungan dari bahaya yang bisa mengancam hidup mereka. Ini seringkali diabaikan oleh orang-orang yang tidak paham kedudukan mereka. Wajib hukumnya memenuhi sarana-sarana perlindungan diri (APD) bagi para Dokter.
Kematian seorang dokter tidaklah sama dengan kematian selainnya. Allah SWT menjadikan para dokter, jalan untuk kesembuhan makhluk-Nya. Mereka merupakan salah satu tiang dalam masyarat, pokok setiap peradaban. Karena itulah, salah satu Nasehat Imam al-Syafii, janganlah seseorang tinggal di sebuah negeri yang tidak ada dokternya. Ia mengatakan:

“Janganlah Anda tinggal di Negeri yang tidak ada ulamanya, menfatwakan Anda agama Anda; dan jangan juga di Negeri yang tidak ada Dokternya, memberitahu Anda masalah badan Anda.” (Kitab Adab al-Syafii wa Manaqibuhu, halaman 244)

Jikalau ada kumpulan orang yang berusaha menjaga manusia agar tidak terkena penyakit dan dan terjangkit wabah -ini tentunya perbuatan baik, maka memenuhi dan menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) adalah sesuatu yang wajib bagi bagi para Dokter, bahkan sangat wajib sekali. Merekalah yang menduduki maqam ini. Merekalah pokoknya. Manusia lainnya hanyalah cabang. Merekalah Akar. Manusia lainnya hanyalah ranting. Menjaga Akar, sama dengan Menjaga ranting.***

Denis Arifandi Pakih Sati | Mas’ud Shabri |Huquq al-Athibba’ fi al-Mujtama’ al-Muslim

Posting Komentar

0 Komentar