Menakut-nakuti (Mengancam) Umat dengan Fikih

Dalam kehidupan sehari-hari, Metode Menakut-nakuti (al-Takwíf) atau Mengancam dan sejenisnya, menjadi sesuatu yang lumrah dilakukan. Ini berlaku dalam semua bidang kehidupan. Jikalau ancamannya sesuatu yang tidak menghilangkan nyawa atau tidak membahayakan, mungkin tidak begitu masalah. Walaupun dari sisi Teori Pendidikan, tetap masalah. Tapi jikalau ancamannya sampai menghilangkan nyawa, atau menakutkan, jelas ini tidak boleh. Haram dilakukan. Kita mulai contohnya dari kehidupan keluarga. Ada suami yang menakut-nakuti istrinya, “Kalau kamu tidak nurut, saya ceraikan.” Atau “Kalau kamu tidak turuti perintahku, saya tidak akan memberikanmu uang bulanan.” 
Ada juga bapak yang menakut-nakuti anaknya, “Jikalau kamu tidak belajar dengan baik, kamu akan bapak kirim ke kampung, tinggal bersama Mbah.” Atau “Kalau kamu masih malas-malasan, kamu tidak akan Bapak kasih uang jajan.”
Di kantor juga ada, yaitu ketika Direktur atau pimpinan menakut-nakuti bawahannya, “Jikalau pekerjaan ini tidak beres, kamu akan saya pecat.” Atau “Jikalau kamu datang telat lagi, maka gaji kamu akan saya potong.”
Di sekolah atau di kampus, juga berlaku. Dosen kepada Mahasiswanya. Atau Guru kepada muridnya. “Kalau kamu masih bicara dalam kelas, saya akan keluarkan kamu.” Atau “Jikalau kamu tidak bisa diam ketika belajar, nilai kamu akan saya kasih ‘D’.”
Hanya saja, ada jenis menakut-nakuti yang paling dahsyat dan paling berbahaya, yaitu menakut-nakuti dengan dalih (ingat dalih, bukan dalil) agama, sebab orang yang melakukannya merampas kesucian para pengucapnya, menempelkan cap halal dan haram. Sehingga, seorang yang berbeda pendapat dengannya, dicap sebagai pelaku maksiat, durhaka kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, bahkan bisa jadi ia mengklaim orang yang  bertentangan dengannya sudah keluar dari ajaran Islam, atau disebut ahli bid’ah minimal.
Semakin rendah tingkat keilmuan seseorang, maka semakin kuat jugalah nepotismenya dan semakin sering juga ia menggunakan metode menakut-nakuti dengan dalih agama. Seolah-olah ia beranggapan, pandangannya dan pendapatnya adalah agama dan wahyu. Sedangkan pihak lainnya hanyalah pengikut hawa nafsu. 


Realita dan Fakta di Masyarakat


Bukan sekali dua kali, saya beberapa kali mendengar sendiri dan juga mendengar aduan dari beberapa teman, ada sejumlah Ustadz, Khatib, Da’i, Muballigh, menyampaikan kepada khalayak ramai dan jama’ah bahwa Zakat Fitrah tidak boleh dengan Uang.
Ia menjelaskan, tidak ada riwayat tsabit dari Nabi Muhammad SAw yang menjelaskannya mengeluarkan Zakat Fitrah dalam bentuk uang, tidak ada juga riwayat dari sahabat, kemudian ia paparkan sejumlah hadits.
Sampai disini tidak ada masalah. Sebab saya juga pernah menyampaikan seperti demikian di tengah masyarakat. Bedanya, saya tidak menyatakan “tidak boleh” secara mutlak. Saya hanya mengatakan, “asalnya zakat fitrah itu dengan makanan pokok” bukan dengan uang. Kalau dengan kata “tidak boleh”, saya tidak melakukannya.
Kita balik lagi. Sampai disini, tidak masalah. Khatib atau Ustadz atau Da’i ini berpegang dengan pendapat Jumhur Ulama yang menyatakan Zakat fitrah dengan Makanan Pokok. Masalahnya muncul, ketika ucapannya itu disambung dengan merendahkan dan menghinakan pendapat Imam Abu Hanifah, dengan mengatakan:
“Jikalau ada wahyu, kemudian ada pendapat manusia, mana yang akan diikuti? Apakah akan mengikuti wahyu Allah SWT dan pendapat Rasulullah Saw atau pendapat Fulan atau Fulan, walaupun banyak ilmunya?”
Jikalau ia menguatkan pendapat Jumhur Ulama, silahkan saja. Tidak masalah. Hanya saja tidak usah menakut-nakuti umat dengan pandangan fikih. Jadinya apa? Orang-orang berpikir, pendapat Abu Hanifah bertentangan dengan wahyu, menyelisihi al-Quran. Padahal, Abu Hanifah, siapa yang meragukan ilmunya? Beliau memang dikenal Ahli Ra’yi, tapi bukan logika kosong tanpa dalil. Antara si Dai atau Ustadz dengan Abu Hanifah, bagaimana bumi dan langit? Jauh!
Apakah orang ini tidak tahu, mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang adalah pendapat Mu’âwiyah radhiyallahu anhu, diamalkan di zaman para sahabat banyak yang masih hidup dan bernafas.  Ia juga merupakan pendapat Amír al-Mukminín Umar bin Abdul Aziz, kemudian juga pendapat ulama besar di kalangan Salaf al-Hasan al-Bashri, juga merupakan pendapat al-Imâm al-Bukhâri, salah satu riwayat dari al-Imâm Ahmad, dan merupakan pendapat yang dipilih oleh Syeikh al-Islâm Ibn Taimiyah ketika memang dibutuhkan. Nah, apakah mereka semuanya menyelisihi wahyu!
Tidak masalah jikalau sesoerang menguatkan suatu pendapat atas pendapat lainnya, kemudian  menjelaskan dalil-dalil yang menjadi sandarannya Syaratnya, jangan membuat orang lain takut dengan pendapat ulama lainnya yang berbeda dengan pendapatnya, tidak menuduh ulama lainnya menyelisihi wahyu dan agama, tidak menuduhnya berdasarkan logika semata dan hawa nafsu. Semua itu tentu akan berpengaruh negative ke masyarakat awam.

Metode Lainnya Untuk Menakut-nakuti Atas Nama Agama


Ada juga Metode menakut-nakuti Umat dengan mencomot hokum dari sebuah ayat atau sebuah hadits, tanpa melihat al-Ta’wíl (kontekstual); apakah maknanya al-Haqíqah atau al-Majâz? Apakah ada indikasi memalingkannya dari makna al-Zhâhir atau tidak? Apakah ia Muthlaq atau Muqayyad? Apakah hukummya al-‘Umùm atau al-Khusùs? Apakah hubungannya dengan dalil-dalil lainnya dari al-Qurân dan Sunnah? Bagaimana menggunakan perangkat al-Tarjíh jikalau al-Zhâhir mengalami kontradiksi? Kemudian juga perlu diperhatikan adab perbedaan pendapat (Adâb al-Khilâf), tidak merendahkan pendapat lainnya dan meremehkan pendapat mereka. Tetapi, sebagaimana dikatakan oleh al-Imâm al-Syâfii: 
“Pendapat saya benar, namun ada kemungkinan salah. Dan pendapat selain saya salah, tetapi ada kemungkinan benarnya.”
Ketika melakukan al-Ijtihâd, hal pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan dalil-dalil dalam satu masalah, kemudian berusaha menyatukannya. Jikalau tidak bisa, maka dilakukan al-Naskh. Jikalau tidak bisa, maka dilakukan al-Tarjíh dengan perangkat-perangkatnya.
Itulah sebabnya mengapa para ulama memberikan perhatian khusus ke masalah yang dinamakan dengan al-Wahdah al-Maudhù’iyyah dalam al-Qurân al-Karím. Sebab ketika semua ayat dikumpulkan dalam satu tema, ia akan memberikan deskripsi sempurna tentang tema terkait.
Ada juga Metode lainnya untuk menakut-nakuti Umat dengan pandangan fikih. Caranya, melakukan al-Istihzâ’ dan al-Sukhriyah (Merendahkan dan Meremehkan); menuduh orang lain atau Ustadz lain atau Ulama lain atau Dai lainnya bukanlah orang yang berilmu atau bukan ulama, bukan ahli fikih, atau sekadar cendekiawan saja yang ilmunya parsial, atau ia tidak layak dijadikan sebagai standar Islam dan ahli fikih, atau ia sesat dan pelaku bid’ah, atau ia lebih buruk dari Yahudi dan Nashrani. Dan masih banyak sebutan menakutkan lainnya, tujuannya merendahkan dan menghinakan.
Metode selanjutnya, sering digunakan untuk menakut-nakuti umat dengan pandangan fikih adalah dengan mengatakan “jikalau kalian tidak mau mengamalkan pendapat yang sesuai dengan al-Quran dan Sunnah ini (kata mereka), maka Allah SWT akan menyiksa kalian.”
Jelas saja, tindakan yang mereka lakukan itu memudharatkan Islam dan umat Islam. Mereka menyempitkan ruang Islam yang luas, menyulitkan umat dengan sesuatu yang sudah dimudahkan oleh Allah SWT. Dan paling berbahaya lagi, mereka melayani para musuh Islam di sisi lainnya. Kenapa? Sebab umat Islam menjadi rigid, kaku. Tidak berkembang. Kolot.
Metode selanjutnya untuk menakut-nakuti umat dengan pandangan fikih adalah menggosipkan dan mengghibah mereka dalam majelis-majelis yang mereka adakan. Mereka mengklaim, gossip seperti ini bukanlah sesuatu yang diharamkan, sebab ia al-Tahdzír agar tidak masuk ke jurang bid’ah dan kemungkaran, walaupun mereka benar.
Parahnya, ada juga yang lansung menyebut subjeknya. Padahal Nabi Muhammad Saw saja, jikalau melihat sebuah kemungkaran yang dilakukan oleh salah seorang sahabatnya, maka beliau hanya akan mengatakan di depan khalayak ramai: 
“Mâ Bâlu Aqwâm Yaf’alùn Hakadza (apa yang terpikir oleh suatu kaum yang melakukan ini?” 
 Padahal, kesalahan ini dilakukan dalam al-Mukhâlafah al-Sharíhah (penyelisihan yang jelas dan nyata), maka bagaimana seharusnya tindakan kita dalam kesalahan-kesalahan yang bersifat khilâfiyah; kedua pendapat tegak di atas dalil dan al-Ijtihâd?!
Efeknya tidak sampai disitu, masalah-masalah furu’ fikih ini masuk ke ruang lowongan kerja. Jikalau memang instansinya khusus miliki suatu kelompok, ya tidak ada masalah. Usaha milik Muhammadiyah, untuk kader Muhammadiyah. Usaha milik NU, untuk kader NU. Tidak ada masalah. Tapi, kalau sampai Instansi milik pemerintah, namun dikhususkan untuk suatu kelompok, itu jelas masalah. Pemerintah milik rakyat. Dan rakyat itu terdiri dari semua kelompok. Ini semakin membuat perpecahan saja.  
Kita harus mempu membedakan antara al-Ikhtilâf al-Mahmùd (perbedaan yang terpuji) yang tegak di atas dalil dan al-Intishâr li al-Ra’yi (memenangkan pendapat) selama kita meyakininya, dengan menggunakan al-Takhwíf al-Fiqhí (menakut-nakuti dengan fikih) berdasarkan sangkaan demi memenangkan kebenaran.***

Denis Arifandi Pakih Sati | Mas’ud Shabri | al-Takhwif al-Fiqhy

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.