Ketika Ulama Mengoreksi Lagi Pandangan Fikihnya

 Di antara fenomena ilmiah yang seringkali disalahpahami sebagian orang adalah fenomena al-Tarâju’at al-Fiqhiyyah, yaitu ketika seorang ulama mengoreksi pandangan fikihnya dan menarik pandangan sebelumnya, atau fenomena ketika seorang Mufti mengoreksi fatwanya atau mengubahnya. Fenomena ini sudah ada semenjak zaman Nabi Muhammad Saw. Salah satunya adalah hadits riwayat Muslim dalam Shahihnya, dari Abu Qatadah, ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw:

يا رسول الله أرأيت إن قتلت في سبيل الله صابرا محتسبا مقبلا غير مدبر يكفر الله عني خطاياي؟

“Wahai Rasullah, bagaimana pandangan Anda, jikalau saya dibunuh di jalan Allah SWT dalam kondisi bersabar, ikhlas, maju ke medan perang dan berpaling, apakah Allah SWT mengampunkan kesalahan-kesalahan saya?”

Beliau menjawab, ‘Ya.” Ketika ia berpaling, beliau kembali memanggilnya dan berkata:

نعم إلا الدين؛ كذلك قال جبريل

“Ya, kecuali hutang. Begitilah yang dikatakan Jibril.” (Hr Muslim)


Pada awalnya,  Rasulullah Saw berfatwa gugurnya semua dosa karena syahid di jalan Allah SWT, kemudian Jibril turun dan meluruskan fatwanya bahwa Syahid memang menggugurkan semua dosa kecuali hutang. Kemudian beliau memanggil lagi laki-laki tersebut dan mengoreksi fatwanya.

Hal tersebut juga terjadi di zaman sahabat. Salah satu kisahnya diriwayatkan oleh al-Hakam bin Mas’ud al-Tsaqafy, Umar bin al-Khattab radhiyallahu anhu memutuskan masalah warisan perempuan yang meninggal, dengan meninggalkan suaminya, ibunya dan saudara-saudara sebapaknya & ibunya dan saudara-saudara seibunya. Ia memutuskan saudara seibu sebapak dan saudara seibu, bersekutu mendapatkan sepertiga. Kemudian ada seseorang yang berkata kepadanya:

“Pada tahun ini dan ini, engkau tidak menetapkan mereka bersekutu?”

Ia menjawab

“Itu yang kami putuskan ketika itu. Hari ini, ini yang kami putuskan.” (10/ 120, dengan pensanadan yang shahih)

Umar bin al-Khattab menggunakan kedua ijtihad, sesuai dengan kebenaran pandangannya. Keputusan di perkara yang pertama, tidak menghalanginya untuk menggunakan keputusan yang kedua. Keputusan yang pertama, tidak batal karena yang kedua.


Imam 4 Mazhab yang Mengoreksi Kembali Pandangannya

Mari sekarang kita lihat para Imam 4 Mazhab yang mengoreksi kembali pandangan fikihnya:

Pertama, Imam Malik

Dari Abdurrahman bin Wahb, mendengar pamannya berkata, ia mendengar Malik ditanya tentang menyela jari-jari kedua kaki ketika wudhu, ia menjawab:

ليس ذلك على الناس

“Tidak ada keharusan melakukannya.”

Pamannya tersebut diam saja, sampai orang-orang agak lengang, kemudian ia menghampiri Malik dan berkata:

“Wahai Abu Abdillah, saya tadi mendengar fatwamu kepada khalayak tentang masalah menyela jari kedua kaki. Engkau mengatakan bahwa tidak ada keharusan melakukannya. Kami memiliki riwayat sunnah mengenai masalah tersebut.”

Ia berkata, “Apa?” Pamannya menjawab:

“Bercerita kepada kami al-Laits bin Saad, Ibn Luhai’ah, dan Amru bin al-Harits, dari Yazid bin Amru al-Mu’afiry, dari Abu Abdurrahman al-Hably, dari al-Mustawrid bin Syaddad al-Qursy berkata: 

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يدلك بخنصره ما بين أصابع رجليه

“Saya melihat Rasullah Saw memijat dengan kelingkingnya di antara jari-jari kedua kakinya.”

Ia berkata:

“Ini hadits yang baik, saya tidak pernah mendengarnya kecuali ini.”

Setelah itu saya mendengarnya ditanya lagi, dan ia memerintahkan untuk menyela jari-hari kedua kaki.” (Hr al-Baihaqi dalam al-Sunan, hadits 361)

Kedua, Imam Abu Hanifah dan Para Pengikutnya

Imam Abu Hanifah mengoreksi sejumlah pendapatnya, sampai ada tulisan khusus yang menjelaskan tentang revisi-revisi pendapatnya. Ketika Abu Yusuf bertemu dengan Imam Malik di Madinah, ia bertanya tentang sebab perbedaan Imam Malik dengan Imam Abu Hanifah seputar ukuran Sha’ dan Mud.

Imam Malik memerintahkan penduduk Madinah untuk membawakan Sha’ mereka. Mereka menyatakan, sanad mereka dalam Sha’ ini adalah generasi mereka terdahulu.

Malik berkata kepada Abu Yusuf:

“Menurut pendapatmu, apakah mereka berdusta?”  

Ia menjawab:

‘Tidak, demi Allah. Mereka tidak berdusta.”

Malik berkata:

“Saya meneliti Sha’ ini, saya mendapatinya lima sepertiga liter wahai Penduduk Irak.”

Abu Yusuf memerintahkan:

“Saya rujuk kepada pendapatmu wahai Abu Abdullah. Jikalau sahabatku (Abu Hanifah) melihat seperti apa yang saya lihat, ia akan berpendapat dengan pendapatku.”

Ketiga, Imam al-Syafii

Kalau Imam al-Syafii, rasanya tidak perlu disebutkan contohnya. Jikalau kita membaca kitab-kitab Mazhab Syafii, maka kita akan mendapati masalah-masalah yang komentarnya, “Pendapatnya dahulu begini. Kalau baru begini.”

Keempat, Imam Ahmad

Dalam al-Mughny dijelaskan, Ali bin Said al-Razi berkata, “Saya bertanya kepada Imam Ahmad mengenai Shalat Tasbih, kemudian ia menjawab:

ما يصح فيها عندي شيء

‘Menurutku, tidak ada riwayat yang shahih.’

Saya bertanya, ‘Abdullah bin Amru?’ Ia menjawab, ‘Semua yang diriwayatkan dari Amru bin Malik, ada komentarnya.’

Saya berkata:

‘Diriwayatkan oleh al-Mustamir bin al-Rayyan, dari Abu al-Jauza’.’

Ia bertanya, ‘Siapa yang memberitahumu?’ Saya menjawab, ‘Muslim (ibn Ibrahim).’ Ia berkata, ‘Al-Mustamir adalah Syeikh yang tsiqah.’ Ia takjub.”

Ibn Hajar al-Asqalany berkata:

“Pada awalnya, masalah tersebut tidak sampai kabarnya kepada Ahmad, kecuali dari jalur periwayatan Amru bin Malik; seorang al-Nakri (munkar). Ketika ia mendengar adanya jalur riwayat al-Mustamir, ia kagum. Lahirnya, ia rujuk dari pendapat sebelumnya yang mendhaifkannya.” (Lihatlah al-Lali al-Mashnuah fi al-Ahadits al-Maudhuah, 2/ 43)

Kelima, Ibn Taimiyah

Di antara pendapatnya yang dikoreksi oleh Ibn Taimiyah adalah jangka waktu mengusap al-Khuff (sepatu). Awalnya, ia berpendapat 24 jam bagi yang berstatus mukim, kemudian tiga hari untuk yang berstatus musafir. Kemudian akhirnya ia mengoreksi pendapatnya dan menyatakan tidak ada batasan waktu untuk kondisi darurat dan ada kebutuhan.

Ia mengatakan:

“Ketika saya menempuh perjalanan panjang, masa mengusap sudah selesai, namun perjalanan belum berujung. Tidak mungkin dilepas dan berwudhu kecuali ditinggalkan oleh rombongan atau kondisinya tidak mungkin untuk berdiri. Kuat dugaanku setelahnya tidak ada jangka waktu ketika memang ada hajat.” (Lihat Majmu’ al-Fatawa: 21/ 215)


Para Ulama Kontemporer yang Mengoreksi Pendapatnya

Sebagai contoh, kita bisa melihat beberapa ulama kontemporer yang mengoreksi pendapat dan fatwa mereka dalam sejumlah masalah.

Pertama, Syeikh Muhammad Nashir al-Din al-Albany

Ia merupakan sosok ulama yang dikenal banyak melakukan penelitian ilmiah di zaman kita. Ia banyak melakukan revisi hukum terhadap sejumlah hadits. Pada awalnya ia mendhaifkan, kemudian ia menemukan sesuatu baru yang membuatnya mengubah ijtihadnya, kemudian ia memshahihkannya atau sebaliknya. Sebagian besar hukum fikih itu berubah mengikuti perubahan hukum hadits.

Kedua, Syeikh Syuaib al-Arnauth

Apa yang dialami Syeikh al-Albany, bukan ia semata yang mengalaminya. Syeikh Syuaib al-Arnauth juga.

Pendapat dahulunya, ketika mentakhrij hadits-hadits Zaad al-Maad, ada hadits yang dihukumnya Hasan. Pendapat terbarunya, ketika ia mentakhrij al-Musnad, ia menghukumi hadits serupa dengan Dhaif.

Al-Syeikh al-Qaradhawi mengomentari revisinya ini dengan mengatakan:

“Takhrijnya terhadap al-Musnad, ia berada dalam posisi lebih matang dan lebih independen di satu sisi. Esok, ada lima ulama lainnya yang akan bersamanya. Ini adalah kerja bersama yang berharga.”

Ketiga, Syeikh Yusuf al-Qaradhawi

Revisi pendapat atau fatwa ini, juga dilakukan oleh pakar fikih kontemporer Syeikh Yusuf al-Qaradhawi. Misalnya fatwa bolehnya masuk ke Knesset (Parlemen Israel). Pada awalnya, ia membolehkan. Kemudian, ia melarang dan mengharamkan.

Ia mengatakan dalam fatwa terbarunya:

“Nyata bagiku, setelah mengkaji berbagai pandangan, mengkaji lebih dalam, mengkaji berbagai sisi gelapnya; sikap yang benar –sesuai syariat Islam, menolak masuk ke Parlemen Zionis sang musuh (Knesset). Sebab tindakan tersebut menunjukkan pengakuan tidak lansung terhadap hak wujud mereka atau hak eksistensi mereka di bumi terjajah.”

Keempat, Syeikh Muhammad Shaleh al-Utsaimin

Ia banyak rujuk dalam berbagai masalah, salah satunya masalah Tahiyyat al-Masjid, dengan mengatakan:

“Dahulu, saya mengatakan wajibnya mengerjakan Tahiyyat al-Masjid. Namun setelah itu, pendapat yang kuat menurutku adalah tidak wajib. Tetapi, jikalau ada yang menyatakan wajib, maka kita tidak bersikap keras kepadanya atau mengingkarinya.”

Contoh lainnya adalah masalah Jalsat al-Istirahah (duduk istirahat). Ia mengatakan:

“Jikalau seseorang membutuhkannya, maka ia menjadi Wajib li Ghairiha (wajib karena sebab lainnya), agar bisa nyaman dan tidak menyulitkan. Namun jikalau tidak butuh, maka tidak wajib. Saya condong dengan pendapat yang menyatakan hukumnya sunnah secara Mutlak. Selayaknya seseorang itu duduk istirahat. Saya juga melakukannya jikalau saya menjadi Imam. Setelah lama mengkaji, nyata bagiku bahwa pendapat yang diperinci tersebut adalah pendapat yang moderat; lebih kuat dari pendapat yang menyatakan bahwa ia mutlak sunnah. Walaupun pendapat yang rajih dalam masalah ini, tidaklah rajih menurutku. Tetapi jiwaku lebih condong. Dan saya berpegang dengan pendapat tersebut.”


Kenapa Para Ulama Mengubah Pandangannya (Pendapatnya)?

Perubahahan Kebiasaan/ al-‘Urf

Ini bukan tujuan pembahasan kita kali ini. Sebab, untuk sebab yang satu ini, tidak ada masalah sama sekali. Hakikatnya, perubahan itu bukanlah Ijtihadnya, namun realita yang terjadi. Masalah yang terdahulu, tidak sama dengan masalah yang baru saja terjadi atau terbaru. Inilah alasannya, kenapa contoh yang kami paparkan bukanlah contoh-contoh yang mengalami perubahan, dan bukan pula contoh yang berubah karena al-‘Urf.

Tekanan Hajat (Kebutuhan)

Hajat atau kebutuhan yang menekan, kedudukannya sama dengan kondisi darurat. Jikalau pada awalnya, cakupannya sempit, hanya mencakup satu dua orang saja, namun seiring perjalanan waktu ia semakin luas dengan mencakup kelompok manusia atau masyarakat.

Contohnya adalah fatwa Syeikh Dr. Yusuf al-Qaradhawi yang membolehkan pembelian rumah dengan peminjaman berbunga atau riba di negara-negara Barat, yaitu ketika kondisinya tidak memungkinkan membeli rumah tersebut kecuali melalui Pinjaman Ribawi. Padahal pendapat sebelumnya, ia tegas mengharamkannya.

Tekanan kebutuhan, rintihan orang-orang yang membutuhkan, aduan berulang-ulang, dan melihat lansung realitanya, membuatnya mengubah fatwanya. Dan ini juga yang pada akhirnya menjadi pendapat al-Majlis al-Uruby li al-Ifta wa al-Buhuts.

Tidak ada yang mengingkari, ketika seorang peminta fatwa (al-Mustafti) bersikap ngeyel, ia membuat pemberi fatwa (al-Mufti) beralih dari jenjang al-Afdhal (lebih baik) ke jenjang al-Fadhil (baik), atau membuatnya melunak karena merasakan hajat besar al-Mustafti sehingga memberikannya keringanan (al-Rukhsah).

Diriwayatkan oleh Ibn Abbas radhiyallahu anhu, seseorang mendatangi Nabi Muhammad Saw dan berkata:

إن لي امرأة لا ترد يد لامس

“Saya memiliki istri yang tidak menolak sentuhan laki-laki lainnya.”

Beliau menjawab, “Ceraikan.” Ia berkata, “Tapi saya mencintainya.” Beliau berkata:

فأمسكها إذا

“Kalau begitu, pertahankan.” (Shahih Sunan al-Turmudzi, 3465)

Terpaksa

Kadangkala, seorang Mufti dipaksa merevisi fatwanya karena sebab tertentu, seperti diancam nyawanya atau hartanya atau anaknya, seperti yang terjadi di zaman Imam Ahmad rahimahullah, yaitu ketika terjadi peristiwa al-Mihnah (fitnah masalah penciptaan al-Quran). Sebagian besar ulama pada zamannya berfatwa dengan fatwa yang sesuai dengan pendapat kelompok al-Mu’tazilah.

Salah satu riwayat sejarah menjelaskan, sebagaimana terdapat dalam Kitab Mizan al-I’tidal, ketika salah seorang Mufti ditanya mengenai penciptaan al-Quran, ia menjawab berkebalikan dengan fatwa yang dahulu pernah difatwakannya. Ia menjelaskan:

“Saya takut dibunuh. Jikalau saya dicambuk, saya akan mati.”

Berdasarkan riwayat ini dan riwayat sejenis, kita bisa mengetahui bagaimana keadaan mereka yang dihadapkan dengan pedang; berfatwa sesuai dengan pesanan atau dibunuh. Hal itu memaksanya untuk berfatwa dan merevisi fatwanya terdahulu. Hanya saja, revisi yang seperti ini, sama sekali tidak dianggap. Tidak bisa dijadikan sebagai landasan ibadah.  Dan Mufti juga tidak boleh dikritik tajam atau diserang karena fatwanya tersebut. Sebab, ia terpaksa.

Ijtihad Pertama yang Salah

Ketika seorang Mujtahid atau Mufti atau Ahli Fikih sadar dengan kesalahan Ijtihadnya terdahulu, maka ia akan merevisi pendapatnya. Hanya saja, sebab terjadinya kesalahan tersebut, perlu juga dijelaskan lebih lanjut.

  •  Pertama, Lupa atau Tersalah

Misalnya adalah hadits yang disebutkan oleh al-Albany, “Hadramaut lebih baik dari Bani al-Harits.” Al-Albany menyebutkannya dalam Dhaif al-Jami’, kemudian menyebutkannya dalam al-Silsilah al-Shahihah (7/ 121), “Terjadi kelupaan di Kitab Dhaif al-Jami’ (7225). Seharusnya, ia di Shahih al-Jami’. Maka, dipindahkanlah ke kitab tersebut. Saya memohon ampunan kepada Allah SWT dan bertaubat.

  • Kedua, Bertambah Luasnya Ilmu

Ketika ilmu bertambah luas dari sebelumnya, semakin banyak dari sebelumnya, atau masalahnya kembali dikaji dan didalami secara konfrehensif, maka kadangkala akan terjadi revisi pandangan atau pendapat atau fatwa.

  • Ketiga, Terlalu Menganggap Besar Kesalahan Mujtahid

Sebagian orang menganggap besar revisi yang dilakukan seorang ulama, baik yang berpangkal dari kesalahan atau minimnya ilmu atau minimnya keahlian fikih atau lupa atau tidak tahu jikalau ada yang berbeda, khususnya para pemuda yang bertugas memikul beban agama ini, yang berpandangan bahwa Allah SWT menjaga agama ini dengan menjaga para ulama dari ketegelinciran dan kesalahan.

Aslinya, ini merupakan gambaran salah yang muncul di benak para pemuda tersebut, menempatkan al-‘Ishmah bukan pada tempatnya. Tidak ada seorang pun Mujtahid kecuali bisa melakukan kesalahan, selain Rasulullah Saw. Bahkan, Rasulullah Saw tidak Ma’shum dari kesalahan dalam berijtihad, tetapi beliau Ma’shum dengan keputusan salah. Beliau mungkin salah, namun wahyu meluruskan, sebagaimana kasus yang terjadi dalam hadits tentang diampunkan dosa orang yang syahid di jalan Allah SWT.

Penyebab munculnya sikap seperti ini, tidak bisa dilepaskan dari dua sebab utama:

1-Tidak Mengenal Makna Ijtihad dengan Baik

Sebagian pemuda berpandangan, Ijtihad haruslah benar. Ini pandangan yang salah. Ijitihad dilakukan oleh Mujtahid yang memiliki kelayakan berijtihad, mengerahkan segenap kemampuannya; bisa jadi ia mendapatkan kebenaran, dan bisa jadi ia salah.

Dalam kisah perang Bani Quraizhah, Nabi Muhammad Saw tidak mencela seorang pun dari kedua kelompok. Padahal keduanya saling kontradiksi; saling bertolakbelakang. Salah satu kelompok mengerjakan shalat Ashar, dengan berpandangan bahwa itulah yang benar. Sedangkan kelompok lainnya menunda shalat Ashar setelah shalat Maghrib, dengan berkeyakinan itulah yang benar.

2-Mereka Menduga, Ijtihad yang Salah tidak akan menggugurkan dosa. Ada di antara mereka yang mengatakan, “Jikalau Mujtahid tersebut merevisi pandangannya, maka apa yang kita lakukan? Kita sudah lama menjalankan ijtihadnya yang salah? Bagaimana kita meluruskan kesalahan selama ini?”

Penting diketahui, orang yang benar dalam ijtihadnya mendapatkan pahala (al-Ma’jur), dan orang yang salah dalam Ijtihadnya juga diberikan uzur (al-Ma’dzur), bahkan ia mendapatkan pahala sesuai dengan Nash hadits. Diriwayatkan oleh Amru bin al-‘Ash, ia mendengar Rasulullah Saw bersabda:

إذا حكم الحاكم فاجتهد ثم أصاب فله أجران، وإذا حكم فاجتهد ثم أخطأ فله أجر

“Jikalau hakim menetapkan hukum, kemudian ia berijtihad dan salah, maka ia mendapatkan dua pahala. Jikalau ia menetapkan hukum dan berijtihad, kemudian salah, maka ia mendapatkan satu pahala.” (Kitab al-Lu’lu wa al-Marjan, disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim 2/ 195)

Asalkan ijtihad itu dilakukan oleh orang-orang yang memenuhi syarat-syarat Ijtihad. Jikalau ia berijtihad, padahal tidak memenuhi syarat, maka ia berdosa.

Ketika ulama melakukan kesalahan, sebagian pemuda berpandangan bahwa mereka bisa berijtihad memahami agama. Alasannya, jikalau semua bisa melakukan kesalahan, kemudian dosanya diampuni, kenapa Ijtihad hanya bisa dilakukan ulama?

Jawabnya, dosa kesalahan dalam berijtihad itu, hanya diangkat dari orang-orang yang memenuhi syarat-syarat Ijtihad, bukan semua orang. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah Saw tidak menyukai orang yang berijtihad tanpa ilmu. Ada sahabat yang berfatwa terkait orang yang terluka parah ketika hari yang dingin untuk wajib mandi. Ia pun mandi, dan meninggal. Rasulullah Saw mengecam dan bersabda:

قتلوه, قتلهم الله, هلا سألوا إذا لم يعلموا؟ إنما شفاء العي السؤال

“Mereka membunuhnya, semoga Allah SWT membunuh mereka. Kenapa mereka tidak bertanya jikalau tidak tahu? Obat tidak tahu adalah bertanya.” (Muttafaq alaihi)

Sebaliknya, ketika Bilal mmelakukan kesalahan, dengan membeli satu Sha’ dengan dua Sha’, sehingga terjadi riba, maka Nabi Muhammad Saw memerintahkannya untuk mengembalikan barang tersebut tanpa menyatakannya fasik atau melaknatnya atau bersikap kasar kepadanya. Sebab, Bilal adalah Ahli Ijtihad; memenuhi syarat berijtihad.

Memalsukan Agama

Di antara sebab seorang Mufti merevisi fatwanya; gagal dalam ujian, mendahulukan dunia dari agama, sebagaimana Allah SWT memisalkan mereka dalam firman-Nya:

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

Maka kecelakaan yAng besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan." (Surat al-Baqarah: 79)

Dan firman-Nya:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَىٰ بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ مَنْ أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَىٰ نُورًا وَهُدًى لِلنَّاسِ ۖ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا ۖ وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: "Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia". Katakanlah: "Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya)?" Katakanlah: "Allah-lah (yang menurunkannya)", kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya." (Surat al-An'am: 91)

Ini banyak terjadi di kalangan Ulama Sulthah (Ulama Penguasa), memalsukan agama sesuai dengan hawa nafsu penguasa. Wajib bagi seseorang meragui seorang ulama yang mengubah Ijtihadnya setelah dikalungkan kepadanya kuasa agama di Negara, khususnya dalam masalah-masalah yang ingin dikuatkan oleh Negara.

Hal yang sama juga wajib bagi peneliti ketika seorang Ulama mengubah semua pemikirannya dan semua Ijtihadnya setelah ia mati-matian membela Ijtihad pertamanya.***

Posting Komentar

0 Komentar