Solidaritas Sosial dalam Zakat Fitrah

Islam adalah agama kasih sayang dan solidaritas, agama kasih sayang dan cinta, agama yang mengikat antara orang-orang kaya dengan orang-orang fakir, agama solidaritas sosial, agama yang menetapkan tanggungjawab orang-orang yang lapar kepada para tetangga mereka yang kaya.

Tidak akan masuk surga bersama orang-orang yang berpacu melakukan kebaikan, seseorang yang tidur di malam hari dengan kondisi kenyang, namun tetangganya kelaparan. Agama ini adalah agama yang menetapkan hak orang-orang fakir di dalam harta orang-orang kaya. 

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ

dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu

لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)." (Surat al-Maarij: 24-25)


Di Hari Raya, Syariah Islam lebih menasehati lagi orang-orang yang memiliki kemampuan harta untuk membantu orang-orang yang lemah dan orang-orang miskin. Maka, di Hari Raya Idul Fitri disyariatkan Zakat Fitrah. Di Hari Raya Idul Adha disyariatkan kurban. Semua itu untuk memberikan kelapangan kepada keluarga, kepada kaum Fakir dan orang-orang yang membutuhkan, walaupun Syariah Islam tidak menentukan kadar tertentu untuk kurban orang kaya, sesuai dengan kemampuannya dan kedermawanannya. (Lihatlah Fath al-Munim Syarh Shahih Muslim: 8/ 90)

Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim, dari Muhammad bin Jafar, diceritakan kepada kami oleh Syu’bah, “Saya mendengar al-‘Alla bin Abdurrahman meriwayatkan hadits dari bapaknhya, dari Abu Hurairah, seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya memiliki kerabat yang saya menyambung silaturrahim dengan mereka, namun mereka malah memutusnya; saya berbuat baik kepada mereka, namun mereka malah berbuat buruk; saya bersikap santun kepada mereka, namun mereka masa bodoh.” Kemudian beliau menjawab: “Jikalau engkau persis sebagaimana engkau jelaskan, seakan-akan mereka ada kebosanan. Allah SWT akan terus menolongmu menghadapi mereka selama engkau berbuat seperti itu.” (Lihatlah Shahih Muslim, hadits ke 2558)

Islam adalah Agama Kasih Sayang dan Cinta; Agama Bersatu dan Berkumpul; Agama Solidaritas dan Ikatan Sesama Manusia. Semuanya berasal dari Adam, baik laki-laki maupun perempuan; Adam maupun Hawa.   

Jikalau Masyarakat Muslim sama dengan bangunan, maka perpaduan antara batu batanya menjadi sumber kekuatannya, kekokohannya, kemanfaatannya yang lebih besar dan usianya yang lebih panjang. Bangunan itu dimulai dengan dua bata dahulu, kemudian tiga, kemudian empat, sampai sempurna batanya dan besar. Begitu juga halnya dengan masyarakat manusia, dimulai dengan perpaduan antara kedua orangtua dan anak-anaknya. Itulah sebabnya mengapa ada perintah untuk berbakti kepada kedua orangtua, kemudian perintah menyambung silaturrahim, kemudian perintah berbuat baik kepada tetangga, kemudian perintah berbuat baik kepada Muslim lainnya, kemudian perintah berbuat baik kapada non muslim, kemudian perintah berbuat baik kepada binatang-binatang ternak.

Islam bertujuan membentuk masyarakat yang saling bersolidaritas, saling berkomunikasi, saling mencintai, dan saling berinteraksi, sebagaimana kedua tangan saling membasuh antara satu bagian dengan bagian lainnya; saling membantu antara satu bagian dengan bagian lainnya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Nu’man bin Basyir, Rasulullah Saw bersabda:

مثل المؤمنين في توادهم، وتراحمهم، وتعاطفهم مثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى

“Pemisalan orang-orang beriman dalam kasih sayang mereka, cinta kasih mereka, dan lemah lembut di antara mereka, seperti tubuh yang jikalau ada bagian tubuh merasa sakit, maka semua tubuh lainnya akan bergadang dan demam.” (Lihatlah Shahih Muslim, No: 2586)

Berdasarkan hal ini, disyariatkanlah Zakat Fitrah di Hari Raya Idul Fitri, menjadikannya sebagai hak orang fakir, Rasulullah Saw menetapkan kadarnya, sebagaimana menetapkan Nishabnya dalam harta yang ada kewajiban zakatnya: 

“Dan tidak ada yang diucapkan dengan hawa nafsu, kecuali ia adalah wahyu yang diwahyukan.” (Surat al-Najm: 3-4)

Diriwayatkan dari Umar bin Nafi’, dari bapaknya, dari Ibn Umar radhiyallahu anhuma berkata:

“Rasulullah Saw mewajibkan Zakat Fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum kepada yang berstatus budak dan merdeka; laki-laki dan wanita; anak kecil dan dewasa dari kalangan kaum Muslimin. Diperintahkan mengeluarkanya sebelum orang-orang berangkat mengerjakan shalat.” (Lihat Shahih al-Bukhari, Nomor 1503)

Kadarnya adalah satu sha’ kurma atau gandum atau makanan pokok lainnya, setara dengan 2,5 kg dengan timbangan yang kita kenal hari ini. Wajib ditunaikan setiap jiwa untuk dirinya sendiri dan setiap jiwa yang berada dalam tanggungannya, baik kecil maupun dewasa; kaya maupun fakir.

Dengan saling bantu-membantu yang kecil ini, terbentuklah solidaritas sosial; terbentuklah silaturrahim di antara unsur-unsur yang ada di tengah umat; orang-orang fakir tidak butuh upah kerja lagi di hari itu; tidak perlu mengemis dan meminta-minta; ikut berbahagia dengan keluarganya bersama orang-orang kaya.

Itulah sebabnya mengapa boleh membayarnya dengan tunai untuk menjaga maksud dan tujuan pensyariatannya, sebagaimana termaktub dalam hadits “kayakanlah mereka untuk tidak meminta-minta di hari ini”. Jikalau Anda memberikannya makanan (dan itulah hukum asalnya), bisa jadi ia menjualnya dan membeli apa yang dibutuhkannya. Ketika itu bertemulah kaum musliminin; kaya dan fakir, di atas meja hidangan kebahagiaan dan penuh senyuman.” (Lihatlah Kitab al-Minhal al-Hadits fi Syarh al-Hadits: 2/ 175)

Dalam Atsar dijelaskan, ada seorang perempuan tua yang menghadang Umar ketika ia berangkat menuju Khaibar. Kemudian perempuan tersebut menyebutkan hajatnya. Dan Umar memerintahkannya untuk mendatanginya di Madinah, dan ia pun memberikannya bagian dari harta zakat.

Thawus mengatakan, Muadz radhiyallahu anhu mengatakan: 

“Bawakanlah kepadaku bahan pakaian sebagai zakat, ganti gandum. Itu lebih mudah bagi kalian, dan lebih baik bagi para sahabat Nabi di Madinah.” (Lihatlah Bab all-‘Aradh fi al-Zakat: 2/ 116)

Hadits ini merupakan salah satu pondasi Islam yang menjadi tiang tegaknya masyarakat yang berkasih sayang, saling membantu, dan saling tolong-menolong. Solidaritas sosial dalam Islam tidak bisa disandingkan dengan Mazhab Klasik apapun. Ia memberikan hak kepada siapa yang yang berhak mendapatkannya; memercikkan ruh cinta dan kasih di antara kaum muslimin; membersihkan dan menyucikan mereka; menumbuhkan rasa kasih sayang dan harta di antara mereka. (Lihatlah Kitab Fiqh al-Islam Syarh Bulugh al-Maram: 3/ 89)

Zakat mengandung sejumlah unsur; menyebar luaskan solidaritas sosial dan ukhuwwah yang mendalam; menyebarkan cinta dan kasih sayang di antara pribadi-pribadi yang ada di tengah masyarakat Muslim; menjadikannya sebagai satu keluarga kokoh; kuat membantu yang lemah; orang yang mampu membantu yang tidak mampu; kaya membantu fakir. Untuk membangun masyarakat yang bersolidaritas ini, Islam menerapkan sejumlah kaedah-kaedah yang menjamin hak pribadi dalam bingkai solidaritas masyarakat ketika mengalami kefakiran atau ada kebutuhan.

Masyarakat pun harus ikut serta memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup yang layak bagi pihak-pihak membutuhkan. Allah SWT menetapkan hak mereka di dalam harta orang-orang kaya, sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Maarij ayat 24-25.

Zakat akan mendidik etika, mentarbiyah jiwa dengan makna-makna moralitas. Sebab, zakat melatih seseorang untuk berbagi, berderma, membiasakan diri untuk berkorban dan mendahulukan orang lain. (Lihatlah Kitab al-Tahrir wa al-Tanwir karya Ibn Asyur: 11/ 23)***


(Denis Arifandi Pakih Sati| Muhammad Mahmud|al-Takaful al-Ijtima’i fi Zakat al-Fithri)

Posting Komentar

0 Komentar