Hukum Membaca Surat al-Fatihah bagi Makmum dalam Shalat

Ketika Anda ikut shalat berjamaah, salah satu masalah yang mungkin Anda alami atau pikirkan jawabannya, sebagaimana masalah ini banyak dipertanyakan di kalangan umat Islam adalah masalah membaca Surat al-Fatihah  bagi Makmum dalam shalat berjamaah. Sebenarnya, Makmum itu baca atau tidak sama sekali? Bagaimana pandangan Imam 4 Mazhab dalam masalah ini?

Jikalau tidak, ada hadits yang menyatakan tidak sahnya shalat orang yang tidak membaca surat al-Fatihah dalam shalatnya. Jikalau iya, bukankah ada ayat yang menjelaskan wajibnya mendengarkan bacaan al-Quran ketika ia dibacakan? Kemudian ada juga riwayat yang menjelaskan bacaan Imam adalah bacaan Makmum juga? 

***

Membaca Surat al-Fatihah merupakan salah satu rukun shalat. Ketika kita mengerjakan shalat, kemudian kita tidak membacanya, maka shalat kita tidak sah, baik kita berposisi sebagai Imam, Makmum maupun sedirian; baik shalatnya dikerjakan dengan Jahr maupun Sirr; baik shalatnya Fardhu maupun Sunnah. Dalilnya adalah riwayat Ubadah bin al-Shamit dari Nabi Muhammad Saw bersabda: 

لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca al-Fatihah (Muttafaq alaihi)

Imam al-Nawawi rahimahullah menjelaskan: 

“Membaca Surat al-Fatihah bagi yang mampu membacanya adalah salah satu Fardhu shalat; salah satu rukunnya; Fardhu ‘Ain. Tidak bisa digantikan dengan terjemahan Bahasa selain Arab, tidak juga dengan membaca selain al-Quran. Hukum Fardhu ‘Ain ini berlaku sama untuk semua shalat, baik Fardhu maupun Sunnah, Jahr maupun Sirr, laki-laki maupun perempuan, Musafir, anak kecil, bisa berdiri, hanya mampu berbaring dan duduk, ketika suasananya sedang mencekam dan selainnya. Hukum Fardhu ‘Ainnya sama berlaku bagi Imam, Makmum, maupun yang shalat sendirian.” (Kitab al-Majmu’: 3/ 326)

Dalam hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi Saw bersabda: 

مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ، ثَلَاثًا، غَيْرُ تَمَامٍ

“Siapa yang mengerjakan shalat, namun tidak membaca al-Fatihah, maka shalatnya tidak sempurna (3 kali).”

Kemudian Abu Hurairah ditanya, “Kami berada di belakang Imam?” 

Ia menjawab: 

اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ

“Bacalah bagi dirimu sendiri.” (Hr Muslim)

Berdasarkan riwayat di atas jelaslah wajibnya membaca surat al-Fatihah bagi seorang Makmum. Hukum wajib ini tidak akan gugur kecuali ia berada dalam posisi Masbuq dan sudah mendapati Imam dalam posisi rukuk. Ketika itu, Imam memikul tanggungjawab bacaannya. 

Idealnya, Imam memberikan kesempatan kepada para Makmum untuk membaca surat al-Fatihah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Diriwayatkan oleh Samrah bin Jundab radhiyallahu anhu, ia mengetahui (menghafal) adanya Saktah (diamnya) Rasulullah Saw jikalau selesai membaca “Ghair al-Maghdub ‘alaihim wa la al-Dhallin.” (Hr Abu Daud)

Namun jikalau Imam tidak berdiam (Saktah) setelah selesai membaca surat al-Fatihah, maka tidak ada uzur bagi Makmum untuk tidak membacanya. Bahkan, selayaknya ia membacanya dengan segera. Tidak masalah jikalau ia ketinggalan al-Inshat (diam mendengarkan bacaan Imam). Waktu ketinggalannya kan juga tidak lama. 

Sedangkan menurut para Ulama petinggi Mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali; membaca surat al-Fatihah tidaklah wajib bagi Makmum. Imamlah yang memikul kewajiban tersebut. 

Dalam Kitab Syarh al-Hidayah (2/ 313) dijelaskan: 

ولا يقرأ المؤتم خلف الإمام

“Makmun tidak membaca (surat al-Fatihah) di belakang Imam.” 

Dalam Kitab Maraqi al-Falah (86) dijelaskan: 

ولا يقرأ المؤتم، بل يستمع وينصت، وإن قرأ كُره تحريما

“Makmum tidak membaca. Cukup mendengarkan dan diam. Jikalau ia membaca, maka hukumnya Makruh Tahrimi (Makruh mendekati Haram).” 

Dalam Kitab Syarh Mukhtashar Khalil karya al-Kharsy al-Maliki (1/ 269): 

لا [أي لا تجب] على المأموم، لخبر: (قراءة الإمام قراءة المأموم)، وسواء السرية والجهرية، كان الإمام يسكت بين القراءة والتكبير أم لا، إلا أنه يستحب له القراءة خلف الإمام في السرية

“Tidak wajib bagi Makmum, berdasarkan khabar (bacaan Imam adalah bacaan Makmum), baik Sirr maupun Jahr, baik Imam diam setelah membaca (al-Fatihah) maupun tidak. Hanya saja disunnahkan baginya membaca di belakang Imam dalam shalat Sirriyah.”

Dalam Syarh Muntaha al-Iradat karya al-Bahuty al-Hanbali (1/ 178) dijelaskan: 

الجماعة تتعلق بها أحكام من وجوب الاتباع، وسقوط سجود السهو، والفاتحة عن المأموم

“Shalat berjamaah terkait dengan hokum kewajiban untuk al-Ittiba’ (mengikuti); gugurnya sujud sahwi, dan bacaan surat al-Fatihah bagi Makmum).” 

***

Dengan begitu jelaslah, membaca Surat al-Fatihah hukumnya wajib bagi Imam dan orang yang shalat sendiri (al-Munfarid), sesuai kesepakatan para Ulama. 

Sedangkan Makmum, maka ia wajib membaca surat al-Fatihah menurut Mazhab Syafii, baik dalam shalat Jahr maupun shalat Sirr. Dar al-Ifta’ Mesir menfatwakan hal ini. Sebab, ia lebih sesuai dengan dalil, lebih berhati-hati untuk sahnya shalat, keluar dari perbedaan pendapat di kalangan Ulama. Dahulu para Salaf mengatakan, “Kami beribadah kepada Allah SWT dengan ibadah yang tidak dipermasalahkan seorang Ahli Fikih pun.” 

Kemudian, selayaknya bagi seorang Imam untuk memberikan jeda waktu setelah membaca surat al-Fatihah agar Makmum bisa membaca Surat al-Fatihah juga. 

Sedangkan orang yang berpendapat dengan pendapat Jumhur Ulama; tidak wajibnya membaca surat al-Fatihah di belakang Imam, maka shalatnya sah, tidak perlu diulang.[]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.