Hukum & Ketentuan Kadar Keuntungan Perdagangan dalam Islam

Mendapatkan keuntungan merupakan tujuan perdagangan. Tidak ada seorang pun yang berdagang, kemudian hanya berorientasi berbagi saja. Kalau ada, namanya bukan dagang, namun beramal social; non profit.

Terkait keuntungan ini, ada satu masalah yang seringkali menjadi tanda Tanya di kepala para Pedagang atau Pengusaha:

  • Apakah ada hadits yang menjelaskan masalah keuntungan yang boleh diambil dalam perdagangan (bisnis)?
  • Berapa persen keuntungan yang boleh diambil dalam perdagangan? Apakah 100 % (seratus persen)? Atau mungkin boleh lebih? Atau sesuka hati saja? Atau ada batasannya?
  • Bagaimana cara mengambil keuntungan dalam berdagang menurut Islam? Apakah ada konsep tersendiri?

*** 

Pada dasarnya, dalam jual beli yang berlaku adalah saling ridha; saling rela di antara kedua belah pihak, yaitu penjual dan pembeli. Ini sesuai dengan firman Allah SWT: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (Surat al-Nisa': 29)

Saling ridha dan saling berkerelaan di antara kedua belah pihak mencakup kuantitas (ukuran) barang yang diperjualbelikan dan jenisnya; jikalau ia ada nilainya menurut Syariat. Ia juga mencakup kadar harganya dan keuntungannya.  

Diriwayatkan dari Urwah al-Bariqy radhiyallahu anhu, Nabi Saw memberikannya uang satu dinar untuk membeli domba, kemudian dengan uang itu ia membeli dua ekor domba, kemudian salah satunya dijual dengan harga satu dinar. Kemudian ia pulang dengan membawa seekor domba dan satu dinar uang. Nabi Saw mendoakannya keberkahan dalam perdagangannya. Kalau saja ia membeli tanah dengan uang tersebut, ia akan untung.” (Hr al-Bukhari)

Ini merupakan dalil nyata disyariatkannya keuntungan mencapai 100 % (seratus persen).

Dalam keputusan Majma’ al-Fiqh al-Islami al-Dawly ke-5 diputuskan: 

ليس هناك تحديد لنسبة معينة للربح يتقيد بها التجار في معاملاتهم، بل ذلك متروك لظروف التجارة عامة وظروف التجار والسلع، مع مراعاة ما تقضي به الآداب الشرعية من الرفق والقناعة والسماحة والتيسير

“Tidak ada batasan persentase tertentu keuntungan yang bisa didapatkan oleh para pedagang (pengusaha) dalam bisnis yang mereka jalanlan. Namun, diserahkan kepada kondisi perdagangan secara umum, kondisi para pedagang dan barang-barang yang diperdagangkan, dengan tetap menjaga adab-adab yang sesuai syariah, berupa kelemah-lembutan, tidak tamak, toleran, dan memberikan kemudahan. 

***

Disunnahkan bagi Para Pedagang untuk meringankan kadar keuntungan yang diambilnnya dari para konsumennya dan memperhatikan kondisi mereka. 

Nabi Saw bersabda: 

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ، وَإِذَا اشْتَرَى، وَإِذَا اقْتَضَى

“Semoga Allah SWT merahmati seseorang yang bersikap toleran jikalau menjual, jikalau membeli, dan jikalau membayar.” (Hr al-Bukhari)

Hendaklah pedagang memperhatikan hal ini dengan baik; Jangan sampai ia berlaku atau berkata dusta di hadapan pembeli seolah-olah ia hanya mendapatkan keuntungan sekian dan sekian (kecil sekali), padahal aslinya tidak. 

Rasulullah Saw bersabda: 

لَا تَحِلُّ الْخِلَابَةُ لِمُسْلِمٍ

“Tidak halal bagi seorang Muslim (melakukan) sesuatu yang membuat orang lain tertarik dengan dusta.” (Hr Ibn Majah)

***

Maka, pada dasarnya keuntungan yang didapatkan dalam perdagangan atau bisnis tunduk akan keridhaan di antara kedua belah pihak yang terlibat dalam Transaksi. Tidak ada batasan keuntungan dalam Syariat. Hanya saja, penting diperhatikan nilai-nilai Ihsan dalam Muamalah atau bisnis, yaitu meringankan dan mempermudah orang lain.[]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.