Hukum Menghitung Zikir dengan Kedua Tangan Atau Salah Satunya (Kanan/ Kiri)

Islam mendorong Umatnya untuk banyak-banyak berzikir mengingat Allah SWT di semua waktu dan di segala kondisi. Islam juga menjelaskan fadhilah besar yang ada di baliknya. Diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiyallahu anhu, sekelompok sahabat Nabi Muhammad Saw berkata, “Ya Rasulullah, orang-orang kaya berlaku dengan pahala yang banyak; mereka shalat sebagaimana kami shalat; mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa; dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” 

Nabi Saw menjawab: 

أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ

Bukankah Allah SWT sudah menetapkan bagi kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Setiap Tasbih adalah sedekah. Setiap Takbir adalah sedekah. Setiap Tahmid adalah sedekah. Setiap Tahlil adalah sedekah. Amar Maruf adalah sedekah. Dan Nahi Munkar adalah Sedekah.” (Hr Muslim)

Maka, boleh bagi seorang Muslim untuk bertasbih dengan cara apapun, baik dengan kedua tangan atau dengan kanan saja atau dengan kiri saja atau tata cara lainnya dengan menggunakan alat Tasbih yang dikenal di masyarakat. Tidak ada larangan sharih; jelas; terang yang melarang bertasbih dengan tangan kiri. Nabi Saw memerintahkan para wanita untuk menjaga Takbir, Taqdis, dan Tahlil dengan bulatan jari, kemudian beliau bersabda: 

فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ، مُسْتَنْطَقَاتٌ

“Mereka akan dipertanyakan; diminta untuk berbicara.” (Hr Abu Daud)

Jari-jari adalah bagian dari tubuh manusia yang akan dimintai pertanggungjawabannya nanti di Hari Kiamat; apa kebaikan yang dilakukannya dan apa keburukan yang sudah dikerjakannya. Hadits di atas sama sekali tidak mengaitkan dengan tangan kanan saja. 

Paling maksimal, kita hanya bisa mengatakan, Nabi Saw suka berkanan-kanan (al-Tayamun) dalam segala urusannya, berdasarkan riwayat Aisyah radhiyallahu anha: 

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ التَّيَامُنَ، يَأْخُذُ بِيَمِينِهِ، وَيُعْطِي بِيَمِينِهِ، وَيُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِي جَمِيعِ أُمُورِهِ

“Rasulullah Saw suka berkanan-kanan; mengambil dengan kanan; memberi dengan kananl dan suka berkanan-kanan dalam segala urusannya.” (Hr Abu Daud)

Tasbih merupakan salah satu perkara penting. Maka, pada dasarnya hendaklah dilakukan dengan tangan kanan. Karena itulah diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru radhiyallahu anhu, “Saya melihat Rasulullah Saw mennghitung Tasbih.” Ditambahkan oleh Muhammad bin Quddamah; gurunya Abu Daud: “dengan tangan kanannya.” (Hr Abu Daud dalam Sunannya)

Para Ulama Hadits menjelaskan, tambahan lafadz “dengan kanannya” dalam hadits sebelumnya adalah Syadzah (ganjil). Ada sekelompok Hadizh yang meriwayatkannya, namun mereka tidak mentsabitkannya dalam riwayat-riwayat mereka. 

Dalam Kitab Mughni al-Muhtaj (1/ 378) dijelaskan: 

وتكره الإشارة بمسبحته اليسرى ولو من مقطوع اليمنى، قال الولي العراقي: بل في تسميتها مسبحة نظر، فإنها ليست آلة التنزيه

“Dimakruhkan isyarat dengan alat Tasbih tangan kirinya, walaupun tangan kirinya bunting. Berkata al-Waly al-Iraqi: Bahkan penamaanya dengan alat Tasbih perlu dikaji lagi. Sebab, ia bukanlah alat penyucian.” 

***

Kesimpulannya, tidak masalah bertasbih dengan cara apapun. Bertasbih dengan menggunakan kedua tangan, baik kedua tangan atau tangan kanan saja atau tangan kiri saja. Namun, bertasbih dengan tangan kanan lebih baik. 

Tidak layak mengingkari siapapun dalam masalah ini. Masalahnya lapang. Disunnahkannya bertasbih dengan tangan kanan hanya sebentuk nasehat untuk melakukan yang lebih afdhal, tetapi tidak menafikan kebolehannya dengan tangan kiri.[]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.