Hukum & Batasan (Aturan) Penggunaan Alkohol dalam Pembuatan Obat

Alkohol itu ada jenis yang memabukkan, dan ada jenis yang tidak memabukkan. Jikalau alcohol yang digunakan bukan jenis yang memabukkan, maka tidak masalah menggunakannya untuk pembuatan makanan dan obat-obatan. Sedangkan jikalau alcohol tersebut dari jenis yang memabukkan, seperti Ethanol atau Ethyl Alcohol, maka penggunakannya untuk pembuatan obat-obatan, ada perinciannya. 

Jikalau obat tersebut adalah alcohol semata atau alcohol adalah jenis yang mendominasi, maka tidak boleh berobat dengannya. Minumar keras (khamar) atau jenis memabukkan apapun, tidak bisa dijadikan obat selama-lamanya. Allah SWT tidak menjadikan kesembuhan padanya, walaupun banyak dokter yang berpandangan demikian. 

Diriwayatkan dari ‘Alqamah bin Wail dari bapaknya, disebutkan Thariq bin Suwaid atau Suwaid bin Thariq, bertanya kepada Nabi Saw tentang Khamar, kemudian beliau melarangnya, kemudian bertanya lagi, dan beliau tetap melarangnya. Ia berkata: “Wahai Nabi Allah, ia obat.” Kemudian beliau menjawab: 

لَا، وَلَكِنَّهَا دَاءٌ

“Tidak, tetapi ia adalah penyakit.” (Hr Abu Daud)

Nabi Saw bersabda: 

لَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Janganlah kalian berobat dengan yang haram.” (Hr Abu Daud)

Jikalau persentasi jenis alcohol memabukkan, yang digunakan dalam pembuatan obat itu sedikit, maka boleh digunakan dengan beberapa syarat: 

  1. Tidak ada obat alternative bermanfaat lainnya yang bisa digunakan, yang tidak mengandung alcohol
  2. Berdasarkan dugaan kuat akan sembuh dengan obat ini, yaitu berdasarkan rekomendasi dokter muslim yang baik agamanya. 
  3. Alcohol tersebut menyatu dengan obat, yaitu jumlah kandungannya sedikit, sudah larut dan bercampur bersama unsur-unsur obat lainnya. 

Dalam Kitab Mughni al-Muhtaj (5/ 519) dijelaskan: “

“Perhatian: Masalah yang diperbedakan adalah berobat dengan jenis yang sudah larut di dalamnya. Sedangkan pasta dan sejenisnya, yang larut di dalam obat tersebut, maka boleh berobat dengannya ketika memang tidak bisa berobat dengan jenis-jenis yang suci. Seperti berobat dengan najis, seperti daging ular dan pipis, maka hukumnya boleh berobat dengan obat-obat tersebut untuk mempercepat kesembuhan, dengan syarat ada rekomendasi dari dokter muslim yang bagus agamanya atau ada pengetahuannya tentang berobat dengannya.”

Pada hari ini, perusahaan-perusahaan obat (medicine/ farmasi) rata-rata menggunakan alcohol ethanol untuk membuat obat-obat seperti pelarut bahan efektif di dalam obat, dimana alcohol tersebut larut di dalamnya. 

Maka, tidak masalah menggunakan alcohol ethanol dalam kondisi seperti ini, selama tidak ada alternative obat yang lebih bermanfaat atau setara dalam efektifitasnya, yang benar-benar tidak mengandung alcohol sama sekali. 

Turunan dari hokum ini juga akan berefek terhadap hokum bekerja di perusahaan pembuatan obat-obatan dan menjualnya untuk para konsumen. []

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.