Hukum Zikir Berjamaah & Mengeraskan Suara

Islam mendorong umatnya untuk berzikir mengingat Allah SWT dan menyediakan pahala yang besar bagi pelakunya. Dalam al-Quran dijelaskan: 

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (Surat al-Ahzab: 35)

Nabi Muhammad Saw bersabda: 

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالوَرِقِ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟ قَالُوا: بَلَى. قَالَ: ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى

“Apakah kalian ingin saya ceritakan dengan amalan terbaik kalian; paling suci menurut Tuhan kalian; paling meninggikan derajat kalian; lebih baik bagi kalian dari menginfakkan emas dan perak; lebih baik bagi kalian daripada bertemu musuh kalian, kemudian kalian memancung leher mereka dan mereka memancung leher kalian? Mereka menjawab: Berzikir mengingat Allah SWT.” (Hr al-Turmudzi)

Sedangkan orang-orang yang lalai berzikir mengingat-Nya, maka Allah SWT sudah mencela mereka dan melarang sikap lalai tersebut. 

Allah SWT berfirman: 

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya)." (Surat al-Anbiya': 1)

Banyak dalam al-Quran, ayat-ayat yang mendorong untuk berzikir secara mutlak tanpa mengkhususkan dengan sifat tertentu atau kondisi tertentu atau lafadz tertentu. Namun, permintaan zikir dari Mukallaf tersebut bersifat Mutlak tanpa terikat apapun (Ghair Muqayyad). Allah SWT berfirman: 

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (Surat al-Nisa': 103)

Maka, berzikir yang disyariatkan dengan cara yang khusus, atau kondisi yang khusus atau bersyarat dengan lafadz tertentu, merupakan bentuk Taqyid al-Muthlaq (mempersempit yang mutlak/ bebas) tanpa ada dalil yang menyempitkannya; merupakan bentuk Takhshish (pengkhususan) yang tidak ada dalam al-Quran dan sunnah. Artinya, wajib untuk membiarkan zikir yang disyariatkan sesuai dengan Mutlaknya tanpa Taqyid; berdasarkan umumnya dalam setiap kondisi, waktu, zaman dan cara, baik lafadz maupun shighat. 

Wirid-wirid khusus yang berasal dari para sahabat atau salaf atau tabiin atau ulama yang mendalam ilmunya atau para wali Allah SWT yang shalihin; para ahli ibadah dan ahli ilmu, maka boleh berzikir dengannya. Sebab, lafadz-lafadznya berkisar seputar zikir dan Tahmid, mencakup ayat-ayat al-Quran dan wirid dari Nabi Muhammad Saw. Semua itu disyariatkan. Tidak ada yang meraguinya. Apalagi kadang-kadang Allag SWT mendorong para hamba-Nya dan para wali-Nya untuk berzikir khusus, sebagaimana terdapat dalam hadits: 

أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ

“… Saya memohon kepada-Mu dengan nama-Mu, Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu, atau Engkau simpan di ilmu ghaib di sisi-Mu.” (Hr Ibn Abu Syaibah)

Orang-orang berkumpul untuk berzikir di Masjid setelah shalat berjamaah, tanpa menimbulkan was-was, merupakan sesuatu yang disyariatkan dalam agama. Sebagaimana kami jelaskan sebelumnya, tidak ada Taqyid (batasan) zikir dengan batasan-batasan tertentu. Kemudian sebagaimana diriwayatkan dari Ibn Abbas radhiyallahu anhuma: 

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ المَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Meninggikan (mengeraskan) suara ketika berzikir; ketika orang-orang selesai mengerjakan shalat wajib, sudah ada semenjak zaman Nabi Muhammad Saw.” 

Ibn Abbas melanjutkan: 

كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

“Saya tahu mereka melakukannya, ketika saya mendengarnya.” (Hr al-Bukhari)

Imam al-Nawawi berkata dalam kitab syarhnya terhadap Shahih Muslim (5/ 84): 

هذا دليل لما قاله بعض السلف أنه يستحب رفع الصوت بالتكبير والذكر عقب المكتوبة وممن استحبه من المتأخرين بن حزم الظاهري

“Ini dalil sebagian Salaf yang berpandangan sunnahnya meninggikan suara ketika Takbir dan Zikir setelah shalat wajib. Di antara ulama yang menyunnahkannya di kalangan Mutaakhirin adalah Ibn Hazm al-Andalusi.” 

Kemudian dasar lainnya adalah hadits Qudsi:

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Allah SWT berfirman: Aku sesuai dengan dugaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya jikalau ia mengingat-Ku. Jikalau ia berzikir mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya di dalam diri-Ku. Jikalau ia berzikir mengingat-Ku di tengah khalayak, maka Aku mengingatnya di tengah khalayak yang lebih baik dari mereka. Jikalau ia mendekatkan diri kepada-Ku satu jengkal, maka Aku mendengarkan diri kepadanya sehasta. Jikalau ia mendengarkan diri kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatkan diri kepadanya satu ba’. Jikalau ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (Hr al-Bukhari)

Dalam Hasyiyah al-Thahthawy (318) dijelaskan: 

وأجمع العلماء سلفاً وخلفاً على استحباب ذكر الله تعالى جماعة في المساجد وغيرها من غير نكير، إلا أن يشوش جهرهم بالذكر على نائم أو مصلّ أو قارئ قرآن

“Para ulama berijma, baik salaf maupun khalaf, tentang sunnahnya berzikir mengingat Allah SWT secara berjamaah di Masjid dan selainnya, tanpa ada yang mengingkarinya. Kecuali jikalau zikir secara Jahr itu menganggu orang yang sedang tidur atau orang yang sedang shalat atau orang yang sedang membaca al-Quran.” 

Dalam Kitab Radd al-Mukhtar (6/ 398): 

وقد شبه الإمام الغزالي ذكر الإنسان وحده وذكر الجماعة بأذان المنفرد، وأذان الجماعة قال: فكما أن أصوات المؤذنين جماعة تقطع جرم الهواء أكثر من صوت المؤذن الواحد كذلك ذكر الجماعة على قلب واحد أكثر تأثيراً في رفع الحجب الكثيفة من ذكر شخص واحد

“Imam al-Ghazali menyamakan zikir sendirian dan zikir berjamaah, dengan azan sendirian dan azan berjamaah. Ia mengatakan: Sebagaimana suara para Muazzin lebih mampu memecah udara dibandingkan suara satu Muazzzin, maka begitu juga dengan pengaruh Zikir Jamaah terhadap hati seseorang; ia lebih mampu mempengaruhi untuk mengangkat hijab besar yang di dalam hati, dibandingkan dengan zikir sendirian.” 

Sedangkan Zikir dengan Jahr, maka secara Syariat dibolehkan karena tiadanya Taqyid zikir untuk harus dilakukan secara Sirr, di antaranya Takbir di Hari Raya, Talbiyah Haji dan Umrah. Kemudian ada juga riwayat dari Hadist Abu Hurairah dan Abu Said al-Khudry radhiyallahu anhuma, keduanya menyaksikan Nabi Saw bersabda: 

لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum duduk berzikir mengingat Allah SWT, kecuali Malaikat melingkupi mereka; rahmat-Nya menaungi mereka, ketenangan turun akan mereka, dan Allah SWT menyebut mereka kepada (makhluk) yang ada di dekat-Nya.” (Hr Muslim)

Sedangkan firman Allah SWT: 

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." (Surat al-A'raf: 205)

Maka, itu merupakan perintah untuk merendahkan suara dalam konndisi khusus, yaitu diam untuk mendengarkan al-Quran. Sebab, meninggikan suara ketika al-Quran dibacakan bertentangan dengan adab yang mulia. 

Ima al-Thabari berkata dalam Tafsirnya (13/ 353): 

“(Dan ingatlah) wahai para pendengar yang berdiam mendengarkan al-Quran, jikalau dibacakan dalam shalat atau khutbah… (Tuhanmu dalam hatimu)… (dan dengan tidak mengeraskan suara) maksudnya, berdoa dengan lisan kepada Allah SWT secara Sirr bukan Jahr. Ia mengatakan: Hendaklah berzikir mengingat Allah SWT ketika Anda mendengarkan bacaan al-Quran dengan berdoa jikalau Anda berdoa, tanpa Jahr; dengan ucapan Sirr.”

Kemudian ada riwayat dari Ibn Masud radhiyallahu anhu yang melarang meninggikan suara dalam berzikir, maka sama sekali tidak shahih. Imam Ibn Hajar al-Haitsami menjelaskan dalam Kitab al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra (1/ 177): 

ما نقل عن ابن مسعود أنه رأى قوماً يهللون برفع الصوت في المسجد فقال: ما أراكم إلا مبتدعين حتى أخرجهم من المسجد، فلم يصح عنه بل لم يرد

“Nukilan daro Ibn Masud yang berkata ketika melihat suatu kaum meninggalkan suara di Masjid: ‘Saya tidak melihat kalian kecuali para pelaku bidah’ sampai ia mengeluarkan mereka dari Masjid, maka riwayatnya sama sekali tidak shahih, bahkan tidak ada riwayatnya.”

Kesimpulannya, pada dasarnya berzikir adalah ibadah mutlak yang disyariatkan tanpa taqyid, sehingga sah dilakukan dalam kondisi apapun, bentuk apapun, dan kapan pun, kecuali ada larangannya. Boleh dilakukan sendirian dan bersama-sam, Sirr dan Jahr, dengan lafadz  apapun dari lafadz dari Syariat, tidak masalah berkumpul untuk berzikir dan berdoa setelah shalat di Masjid dan selainnya. Ia masuk dalam bab “Saling tolong menolong dalam kebajikan dan ketakwaan” yang memang diperintahkan oleh Allah SWT. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." (Surat al-Maidah: 2)***

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.