Akal itu Terbatas

Dalam Islam, akal ada batasannya. Walaupun ia memiliki kemampuan besar, namun ia tetap memiliki kelemahan dalam banyak hal. Sejak awal, Allah SWT memang menciptakannya terbatas. Keluar dari batasannya, pemilik akal akan tersesat dalam kegelapan, tenggelam dalam kerancuan dan kebingungan.


 Persis seperti yang dijelaskan oleh al-Imâm al-Syâthiby, dalam Kitabnya al-I’tishâm, 2/ 318:

“Allah SWT menetapkan batasan akal yang tidak bisa dilampuinya. Ia tidak bisa mengetahui semua yang diinginkannya. Kalau seandainya bisa, maka posisinya akan sama dengan al-Bâri; Allah SWT yang mengetahui segala sesuatu yang sudah terjadi, apa yang akan terjadi dan apa yang tidak akan terjadi.” 

Akal terbatas jangkauannya. Batasan itu tidak bisa dilaluinya. Terbatas padahal hal-hal yang dijangkau oleh inderanya. Jikalau ia mampu mengetahui adanya Pencipta alam semesta dengan indera yang dimilikinya, namun ia tidak mampu mengungkap detail tentang Pencipta dan bagaimana Penciptanya; tidak mampu mengungkap detail masalah ruh dan bagaimana ruh tersebut; bagaimana surga dan neraka; dan masalah-masalah ghaib lainnya.***

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.