Muslim; Logis & Imani

 Seorang muslim merupakan sosok yang Aqlaniyah (Logis) sekaligus Imaniyah (Iman). Tidak sekadar mengandalkan akal, namun harus mengembalikan semua perkara kepada Allah SWT; Zat yang Maha Kuasa. 

Tawakkal, seringkali disalah artikan, apalagi di masa mewabahnya virus sekarang ini, dengan artian yang salah. Usaha dulu yang keras dan maksimal, kemudian setelahnya baru menyerahkan masalah hasilnya kepada Allah SWT. Itu namanya Tawakkal. 

Tawakal (tanpa double “K”) memiliki arti sebaliknya. Hanya berpangku tangan tanpa mau berusaha keras dan optimal, hanya menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Paham ini ciri utama kaum Jabariyyah (Fatalism). Pun Islam bukan berpaham Qadariyah Ekstrim; seolah-olah manusia menciptakan sendiri perbuatannya, tanpa ada intervensi Tuhan.  


Ilmiahnya, jikalau sebuah musibah terjadi, termasuk wabah, ia tidak hanya akan menimpa para pelaku maksiat saja, tidak penganut agama tertentu saja. Semuanya. Semua manusia dan semua benua. Bahkan, para sahabat saja, yang keshalehannya jauh dibandingkan kita, juga meninggal karena wabah. Artinya, kita harus berupaya optimal dengan segala kemampuan yang anda untuk mencegah musibah dan wabah terjadi. 

Imaniyahnya, yang membedakan kita dengan manusia-manusia yang tidak beriman, kita meyakini bahwa sebuah musibah tidak akan menimpa siapapun kecuali dengan izin-Nya. Lihat Surat al-Taubah, ayat 51. 

Pada akhirnya, ada riwayat dari al-Turmudzi, dari Uqbah bin Amir, “Wahai Rasulullah, apa itu keselamatan?” 

Beliau menjawab: 

‘Tahan lisanmu.” – Jangan sebar Hoakz

“Luaskanlah rumahmu.” – Di rumah saja dulu, jangan kemana-mana. Isolasi diri. 

‘Dan tangisi kesalahanmu.” – Taubat dan kembali kepada Allah SWT. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.