Tahlil al-Haram & Tahrim al-Halal

 Ada yang "terlalu" semangat beragama, sampai-sampai yang jelas halal pun diharamkannya, dengan alasan Wara'. Bukankah ini masuk dalam kategori Tahrim al-Halal?!

Lantas, apa bedanya dengan yang yang "terlalu" abai dengan agamanya, sampai-sampai yang haram pun dihalalkannya; Tahlil al-Haram?!


Kedua sikap di atas, sama salahnya. Dosanya pun sama. Syeikh Muhammad Shaleh al-Utsaimin (Lihat Majmu' Fatawa wa Rasail al-Utsaimin: 10/ 732) menjelaskan: 

فتحريم ما أحل الله لا ينقص درجة في الإثم عن تحليل ما حرم الله

'Mengharamkan yang dihalalkan oleh Allah SWT, tidak kurang derajat dosanya dengan menghalalkan yang diharamkan-Nya."  

Bahkan, bisa jadi Tahlil al-Haram, dalam beberapa kasus, lebih ringan dari Tahrim al-Halal, khususnya masalah-masalah Muamalah yang belum jelas hukum hitam putihnya. Balik ke hukum asalnya, yaitu al-Ibahah; Boleh.

Tegasnya, keduanya sama-sama salah; tidak tepat!

Maka, intinya memang balik kepada pertengahan; wasathiyyah, tegak di atas ilmu; memahami dalil dan apa yang ada di balik dalil; bertanya dan terus mengkaji. 

Mengutip ungkapan Syeikh al-Qaradhawy di twitternya, beragama dengan ilmu, jauh lebih baik dari beragama sekadar dengan semangat. 

Semangat itu penting, bukan menafikan. Langkah awal menuju tangga keilmuan. Tapi jangan sampai stagnan disitu. Menuntut ilmu, dalam Islam, dari Ayunan sampai Liang Lahat.

Kecuali Gila, itu lain ceritanya.***

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.