Fatwa Syadz (Ganjil)

Fatwa Ganjil (Syadz), sebagaimana dikatakan oleh Syeikh Yusuf al-Qaradhawi, sedikit terjadi di zaman dahulu, banyak terjadi di zaman sekarang.


Di zaman Media Sosial ini, jikalau tidak ada sikap al-Wara', semua orang seolah-olah bisa memberikan fatwa sesuka hatinya. Apalagi jikalau Followernya banyak. 


Walaupun kemampuan seadanya, namun karena memiliki pesona begitu kuat di depan pengikutnya, maka ia pun Maghrur; tertipu dengan dirinya sendiri. Semua yang ditanyakan kepadanya, ada jawabannya. 


Di zaman kenabian, Fatwa Syadz jarang terjadi. Sebab Nabi Muhammad Saw masih ada. Masalah apapun yang terjadi, bisa lansung ditanyakan. 


Di antara Fatwa Ganjil yang terjadi di zaman itu adalah hadits riwayat Abu Daud, yang menceritakan ada sekelompok sahabat yang melakukan safar, kemudian salah seorang di antara mereka, kepalanya terluka dan bermimpi basah di malam harinya.

"Apakah ada rukhash bagiku," katanya bertanya kepada para sahabat lainnya. 

"Tidak ada. Anda bisa menggunakan air." 

Ia pun mandi dan meninggal. Ketika berita ini sampai kepada Nabi Saw, beliau murka. Kemudian menegaskan bahwa mereka sudah membunuhnya. "Kenapa mereka tidak bertanya kalau tidak tahu. Obat bodoh itu bertanya."


Maka, fatwa yang tidak tegak di atas ilmu, asal memberikan jawaban tanpa tegak di atas Bayan, bisa menyebabkan rusaknya Maqashid Syariah; hilang atau rusaknya agama, jiwa, harta, kehormatan, dan keturunan.

Fatwa Syadz di zaman setelahnya, semakin banyak jumlahnya. []

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.