Mazhab atau Tidak Bermazhab?

Bermazhab atau tidak, sebenarnya tidak ada masalah. Hanya saja, dibutuhkan 2 hal untuk menghindari "perbedaan" tersebut menjadi "perpecahan".


Pertama, Sa'ah al-Ilm (Luasnya Ilmu)

Sering kita mendengar kata-kata "'Aduww al-Mar-i Ma Yajhaluhu; Musuh Seseorang itu apa yang tidak diketahuinya." Maka, selain kita silaturrahmi, butuh juga Silatul Ilmi; menyambung ilmu yang kita miliki, agar kita bisa memahami sudut pandang orang lain yang berbeda dengan kita. 


Al-Jahl, kata Sayyid Sabiq, maksiat paling besar. 

"Allah SWT tidak dimaksiati," katanya. "Dengan kemaksiatan yang lebih besar dari kejahilan." 


Ngotot itu, pangkalnya ya Jahil. 


Kedua, Sa'ah al-Shadr (Lapang Dada)

Kita memang diciptakan untuk berbeda (al-Ikhtilaf). Begitu kata Syeikh Muhammad Abu Bakar al-Muslih. Jadi kalau kita berbeda pandangan dengan orang lain, dalam masalah-masalah yang memang sifatnya Ijtihadi-Furu'i, biasa saja. Beda kepala, beda isi. 


Tapi, dada itu yang perlu dilapangkan. Berharap semua orang satu pandangan dengan kita, dalam segala masalah, ya itu Mustahil.


Fanatik (al-Ta'asshub) itu tercela; Fanatik Bermazhab; Fanatik Anti Mazhab; Fanatik Anti Imam Mazhab. 


Fanatik itu, penyakit segala zaman, kata Voltaire. []

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.