Setiap Manusia, Punya Aib

 "Tidak ada seorang Tokoh, Ulama, dan Orang baik Pun, kecuali ada Aibnya," Kata Said bin al-Musayyib. 

"Namun, ada orang-orang yang tidak perlu diingat (disebut) aibnya, yaitu mereka yang keutamaannya lebih banyak dari kekurangannya." 


Pada dasarnya, kita justru diperintahkan untuk "melek" degan aib kita sendiri, bukan sibuk dengan aib orang lain. Setiap kita diminta untuk memperbaiki dirinya terlebih dahulu dan nanti akan dipertanyakan (dipertanggungjawabkan) sebelum yang lainnya. 


Dalam surat al-Muddatssir ayat 38 dijelaskan: 

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya." 


Dalam surat al-Isra' ayat 15: 

مَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul."


"Jikalau kalian melihat seseorang sibuk dengan aib orang lain," kata Bakar bin Abdullah. "Maka ketahuilah, ia tertipu."[]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.