Keutamaan (Fadhilah) Mengingat Kematian

 Pertanyaannya sekarang, mengapa kita harus sering-sering mengingat kematian? 


Sebenarnya, ada beberapa faedah yang bisa diperoleh ketika kita banyak mengingatnya: 


1-Mematahkan nafsu kecendrungan kepada dunia

Salah satu kelebihan yang diberikan Allah Swt kepada manusia adalah hawa nafsu. Dengan ini, seorang manusia bisa mencapai tingkatan melebihi para Malaikat. Sebaliknya, ia juga bisa mengantarnya menuju posisi sehina-hinanya. Jikalau nafsu itu dikendalikan dan dimamfaatkan di jalan kebenaran yang sesuai dengan tuntutan Pencipnya, maka kita akan beruntung. Kedudukan kita di sisi Allah Swt akan melebihi kedudukan para Malaikat. Namun ketika kita melampiaskannya dalam kemaksiatan, sibuk dengan kenikmatan sesaat, maka kedudukan kita jauh lebih rendah dari binatang ternak yang tidak memiliki akal sama sekali. Na'udzubillah Min Dzalik. 


Nah, di antara mamfaat mengingat kematian itu adalah mematahkan nafsu jelek ini. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda: 

"Perbanyaklah mengingat hancurnya kenikmatan." [Diriwayatkan oleh At-Turmudzi]


2-Ciri Orang yang Pintar dan Mulia

Orang yang pintar bukanlah orang yang larut dengan segala angan-angannya. Sibuk melamun, tetapi tidak ada aplikasi. Orang yang pintar adalah orang yang mempersiapkan dirinya untuk kehidupan setelah kematian. Dia selalu berada di garus kebenaran. Baginya, kebenaran dan berada di jalan hidayah adalah harga mati yang tidak bisa di tawar-tawar lagi. Dia berusaha mencapai kemuliaan di dunia, namun tidak melalaikan kehidupan akhirat yang merupakan akhir segala episode kehidupan. 


Dalam sebuah hadits dijelaskan, bahwa seorang sahabat Rasullah Saw dari kalangan Anshar bertanya, "Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling banyak mempersiapkan diri. Merekalah orang-orang yang cerdas. Mereka berlalu dengan kemuliaan dunia dan keagungan akhirat." [Diriwayatkan oleh Ibn Majah]


3-Melembutkan hati

Salah satu tanda jauhnya seseorang dari Allah Swt adalah kerasnya hati. Jikalau hati membeku, maka tidak ada kebenaran yang akan mau diterimanya. Baginya, kebenaran hanyalah sesuatu yang memekakkan telinga dan merusaukan fikiran. Keadaannya akan terus seperti itu, sehingga jikalau tidak segera diobati, maka dia akan mengalami kerugian besar di dunia dan akhirat. 


Jikalau dirinci, maka kerugian dunia yang akan diperolehnya adalah jauhnya dari teman-teman yang baik. Biasanya, seseorang yang berhati kasar, tidak mau menerima nasehat dan kebenaran. Sedangkan orang yang baik selalu berusaha melakukan kebaikan dengan menasehati teman-temannya yang melenceng dari jalan kebenaran. Tentu tindakan seperti ini sangat tidak disenagi oleh orang yang jasar hatinya. 


Kerugian akhirat yang akan diperolehnya adalah neraka yang menyala-nyala. Kehidupannya yang bergelimang maksiat, menutup diri dari kebenaran dan nasehat para ulama, tentu akan mengantarkannya menuju panasnya neraka. Ujung-ujungnya, yang ada hanyalah penyesalah belaka. 


Itulah sebabnya, jikalau selama ini hati kita kasar dan selalu menolak kebenaran, maka ingat-ingatlah kematian. Ingatlah ketika Anda digiring ke dalam Api neraka. 


Dalam sebuah Atsar dijelaskan, bahwa pada suatu hari seorang perempuan menemui 'Aisyah Radhiyallahuu 'Anha seraya mengadukan kekasaran hatinya, maka dia berkata, "Perbanyaklah mengingat kematian, maka hatimu akan lembut." Kemudian perempuan itu melakukannya, sehingga hatinya menjadi lembut dan dia pun berterima kasih kepada 'Aisyah.  


Itulah di antara penyebab, kenapa kita harus mengingat kematian. Sikap dan gaya berfikir kita, menunjukkan kwalitas iman kita. 


Para Salaf & Mengingat Kematian (Dzikr al-Maut)


Jikalau kita melihat kehidupan para Salaf Shaleh, maka kita akan menemui begitu banyak nasehat mereka tentang pentingnya mengingat kematian, di antaranya: 

Ar-Rabi' bin Khasim mengatakan, "Tidak ada sesuatu ghaib yang ditunggu seorang mukmin, yang kebaikannya melebihi kematian." 


Sebahagian para Filosof menasehati saudaranya, "Wahai saudaraku, ingatlah kematian di negeri ini, sebelum engkau berada di negeri yang disana engkau mengharapkan kematian, namun tidak mendapatkannya sama sekali." 


Ibrahim At-Taimy mengatakan, "Ada dua perkara yang memutus kenikmatan dunia dari diriku: Mengingat kematian dan berdiri di hadapan Allah Swt." 


Jikalau kita meneliti dan mengkaji keadaan mereka, tentu kita akan merasa hina. Mereka benar-benar menghayati arti sebuah kematian. Bayangkanlah. 


Umar bin Abdul Aziz memiliki kebiasaan yang layak kita jadikan contoh. Biasanya, dia mengumpulkan para Ahli Fiqih setiap malam, kemudian mereka mengingatkannya kematian,  Hari Kiamat dan Akhifat, kemudian mereka menangis bersama-sama, seolah-olah di hadapan mereka ada jenazah yang terbaring." 


Dalam riwayat lainnya disebuatkan, pada suatu hari Umar bin Abdul Aziz meminta nasehat kepada para ulama. Dia bertaka, "Nasehatilah diriku ini?" Salah seorang di antara mereka berkata, "Engkau bukanlah khalifah pertama yang mengalami kematian." Dia berkata, "Tambahkanlah." Dia melanjutkan, "Tidak ada seorang pun nenek moyangmu semenjak Adam, kecuali merasakan kematian, dan masamu akan sampai tidak berapa lama lagi." Kemudia Umar menangis mendengarkannya. 


Ibn Sirin punya kisah lainnya. Jikalau dia mendengar tentang kematian, maka sekujur tubuhnya akan lumpuh. Seolah-olah, ia sedang berhadapan lansung dengan Malaikat Maut. 


Ar-Rabi' bin Al-Khasim menggali kubur di dekat rumahnya. Kemudian dia tidur disana berkali-kali dalam sehari, dan itu dilakukannya secara terus-menerus. Dia mengatakan, "Jikalau saja hatiku lalai mengingat kematian, maka ia akan rusak."[]

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.