Perkara Cinta

Dalam kitabnya 'Allamany Abi, Dr. Salman al-Audah mengutip sebuah legenda di kalangan awam tentang kisah cinta pertama dalam sejarah. Ketika Malaikat bertanya kepada Nabi Adam, "Apakah kamu mencintainya?"Merujuk kepada Hawa. 


Ia menjawab, "Ya. Aku mencintainya" 


Kemudian, Malaikat menghampiri Hawa dan bertanya, "Apakah kamu mencintainya?"


"Tidak. Aku sama sekali ga mencintainya," jawab Hawa. Walaupun dalam hatinya, cintanya berlipat-lipat. 


Ketika keduanya diturunkan ke bumi, Nabi Adam mencari Hawa sepanjang siang dan malam, sebagaimana Hawa juga mencari Adam sepanjang siang dan malam. Ketika keduanya bertemu, maka Nabi Adam berkata, "Saya sudah mencarimu sepanjang siang dan malam." 


Namun Hawa menjawab, "Saya sama sekali ga mencarimu, kok!"Walaupun realitanya sebaliknya. 


Itu hanyalah Usthurah; legenda di kalangan awam. Tidak usah dibawa serius. Tapi Rumit 😊


...


Cinta itu, La Tuhadd; Tidak bisa didefenisikan, kata Ibn Qayyim al-Jauziyah. Kalau Syeikh al-Utsaimin mengatakan, semakin dijelaskan, maknanya semakin rumit. Bahkan cinta hakiki itu, katanya, ketika Anda mencintai seseorang yang Anda sendiri tidak tahu kenapa Anda mencintainya. Kalau Ibn Hazm menyebutnya cinta tanpa alasan. 


Tapi munculnya cinta itu, bisa disimpulkan ke-3 point:

Pertama, Mahabbah al-Istilzaz bi al-Idrak, seperti melihat pemandangan yang indah; sesuatu yang menarik. Dikenal juga denga nama Mahabbah Fithriyyah


Kedua, Mahabbah bi Idrak al-’Aql, dikenal juga dengan nama al-Mahabbah al-Maknawiyah; mencintai karena adanya sifat-sifat kebaikan dalam diri orang tersebut, akhlak yang baik, sikap yang baik.


Kemudian, ada juga Mahabbah (Cinta) yang lahir kepada orang yang berbuat baik kepada kita. 


Ketiga point ini, ada pada Rasulullah Saw. Beliau memiliki keindahan Lahir dan Batin, kemudian juga suka berbuat baik kepada siapa pun, muslim maupun non muslim. Maka, beliau adalah sosok yang paling WAJIB kita cintai.


Allahumma Shalli 'ala Muhammad. []

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.