Fardhu & Sunnah Wudhu Menurut Mazhab Syafii

Fardhu & Sunnah Wudhu Menurut Mazhab Syafii


(Fardhu & Sunnah Wudhu Menurut Mazhab Syafii berdasarkan Kitab Matan Abi Syuja’)


(Pasal) Fardhu wudhu’ ada enam: Niat ketika membasuh muka, membasuh muka, membasuh kedua tangan sampai ke kedua siku, mengusap sebagian kepala, membasuh kedua kaki sampai ke kedua mata kaki, dan tertib sesuai dengan yang telah kami sebutkan.(1)

Sunnahnya ada sepuluh: Tasmiyah,(2) Membasuh kedua telapak tangan sebelum memasukkannya ke dalam bejana, berkumur–kumur, Intinsyaq (memasukkan air ke hidung), mengusap semua kepala,(3) mengusap kedua telinga: bagian dalam dan bagian luar keduanya dengan air yang baru.(4)

Menyela jenggot yang tebal,(5) menyela jari–jari kedua tangan dan kedua kaki,(6) mendahulukan tangan kanan dari tangan kiri,(7) bersuci tiga kali tiga kali,(8) dan Muwalah.(9)

(Syarh Syeikh Dr. Musthafa Dibb al-Bugha)


(1) Dasar pensyari’atan wudhu’ dan penjelasan tentang kefardhuannya adalah firman Allah Swt: 
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki." [Surat Al-Maidah: 6]

Siku adalah bagian yang terdapat di antara lengan dan otot. Mata kaki adalah dua tulang yang menonjol di kedua sisi kaki, yaitu di antara pergelangan betis dan kaki. 

Kata–kata “sampai" dalam ayat tersebut berarti “Ma’a (ikut /masuk ke bagian yang dibasuh", maka dua siku dan dua mata kaki masuk dalam bagian yang wajib dibasuh. Hal itu ditunjukkan oleh Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (246) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘nhu, ia berwudhu’, Kemudian ia membasuh mukanya dan menyempurnakannya, kemudian membasuh tangan kanannya sampai ke otot, kemudian tangan kirinya sampai ke otot, kemudian mengusap kepalanya, kemudian membasuh kaki kanannya sampai ke betis, kemudian membasuh kaki kirinya sampai ke betis. Kemudian dia berkata, "Beginilah saya melihat Rasulullah Saw berwudhu’."
 
Sampai ke otot dan sampai ke betis artinya, keduanya masuk ke dalam bagian yang dibasuh.

Kepalamu: Artinya, bagiannya. Hal ini ditunjukkan oleh Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan selainnya, dari Al-Mughirah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Saw berwudhu’, kemudian beliau mengusap bagian depan kepalanya dan di atas surban.
 
Bagian depan kepalanya adalah bagian dari kepala. Cukup dengan mengusapnya adalah dalil bahwa yang diFardhukan adalah mengusap bagiannya. Dan itu bisa dengan mengusap bagian mana saja. 


Dalil yang menunjukkan keFardhuan niat di awalnya (begitu juga di setiap bagian yang diperintahkan berniat) adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1) dan Muslim (1907), dari Hadits Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Amalan–amalan itu sesuai dengan niatnya." 

Artinya, amalan itu tidak akan dianggap secara Syara’, kecuali jikalau Anda meniatkannya. 

Dalil yang menunjukkan Tertib adalah perbuatan Nabi Saw berdasarkan Hadits– hadits yang Shahih. Di antaranya Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sebelumnya. 

Dikatakan dalam Al-Majmu’:
"Para Sahabat berhujjah dengan Hadits–hadits Shahih yang bersumber dari sejumlah besar sahabat tentang sifat wudhu’ Nabi Saw. Semuanya menyifati bahwa wudhu’ Rasulullah Saw tertib; padahal jumlah mereka banyak, mereka menyaksikan beliau melakukannya di banyak tempat, serta mereka banyak mengalami perbedaan tentang sifat bilangannya: sekali, atau dua kali, atau tiga kali dan selainnya. Akan tetapi tidak ada yang menyatakan; walaupun berbeda-beda jenisnya, sifat yang tidak tertib. Perbuatan Nabi Saw adalah penjelasan tentang wudhu’ yang diperintahkan. Jikalau tidak tertib dibolehkan, maka beliau akan meninggalkannya di sebagian keadaan untuk menjelaskan kebolehannya, sebagaimana beliau meninggalkan pengulangan bilangan wudhu’ di beberapa waktu (1 /484 )


(2) Diriwayatkan oleh An-NasaI (1 /61) dengan Isnad Jayyid, dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Beberapa orang Sahabat Nabi Saw mencari air wudhu’, akan tetapi mereka tidak mendapatkannya. Rasulullah Saw bersabda, ‘Apakah salah seorang di antara kalian memiliki air." Kemudian dibawakanlah air, dan diletakkan di tangannya bejana yang berisi air. Kemudian beliau berkata, “Berwudhu’lah dengan nama Allah." Artinya, seraya mengucapkannya. Maka, saya melihat air mengalir di antara jari– jarinya, sehinggi berwudhu’lah sekitar tujuh puluh orang. 

(3) Dalil keempat sunnah ini adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (183) dan Muslim (235) dari Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, ia ditanya tentang wudhu’ Nabi Saw. Kemudian ia meminta seember, dan memperlihatkan kepada mereka wudhu’ Nabi Saw: Ia menuangkan air ke tangannya dari ember, kemudian membasuhnya tiga kali. Kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam ember, setelah itu berkumur–kumur, Intinsyaq dan Intintsar (mengeluarkan air dari hidung) sebanyak tiga kali. Kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam ember, membasuh wajahnya tiga kali dan membasuh kedua tangannya dua kali sampai ke siku.  Kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam ember dan mengusap kepalanya.  Ia mengusap ke depan dan ke belakang sekali. Kemudian ia membasuh kedua kakinya sampai ke kedua mata kaki."

(4) Diriwayatkan oleh At-Turmudzi dan dishahihkannya (36), dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi Saw mengusap kepalanya dan kedua telinganya: bagian dalam dan bagian luar keduanya. 

Diriwayatkan oleh An-NasaI (1 /151), “Beliau mengusap kepalanya dan kedua telinganya. Bagian dalam keduanya dengan telunjuk, dan bagian luar keduanya dengan jempol."
 
Diriwayatkan oleh Al-Hakim (1 /151), dari Hadits Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu tentang sifat wudhu’nya Nabi Saw, “Beliau berwudhu’ dan mengusap kedua telinganya bukan dengan air yang digunakannya untuk mengusap kepalanya." Adz Dzahaby berkata, “Hadist Shahih." 

(5) Diriwayatkan oleh Abu Daud ( 145 ), dari Anas radhiyallahu ‘anhu, “Jikalau Nabi Saw berwudhu’, maka beliau mengambil setelapak tangan air, kemudian memasukkannya ke bawah mulutnya dan menyela jenggotnya. Setelah itu berkata, “Beginilah Tuhanku memerintahkanku."

(6) Dari Laqith bin Shabrah radhiyallahu ‘anhu berkata: Saya berkata, “Wahai Rasulullah, beritahulah diriku tentang wudhu’?" Beliau menjawab, “Sempurnakanlah wudhu’. Selalah di antara jari–jari. Baaligh (benar–benar masukkan air ke dalam hidung) dalam ber-Isntinsyaq, kecuali engkau berpuasa." 

Diriwayatkan oleh Abu Daud (142), dishahihkan oleh At-Turmudzi (38) dan selain keduanya. 

Sempurnakanlah: Yaitu, dengan rukun–rukunnya dan sunnah–sunnahnya.

(7) Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (140), dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berwudhu'... Di dalamnya disebutkan: Kemudian ia mengambil setapak tangan air dan membasuh tangan kanannya. Kemudian ia mengambil setelapak tangan air dan membasuh tangan kirinya. Kemudian mengusap kepalanya. Kemudian ia mengambil setelapak tangan air dan membasuh kaki kanannya. Kemudian ia mengambil setelapak tangan air dan membasuh kaki kirinya. Kemudian dia berkata, “Beginilah saya melihat Rasulullah Saw berwudhu’." Lihatlah catatan kaki ke-2/ 13. 

(8) Diriwayatkan oleh Muslim (230), Utsman radhiyallahu ‘anhu berkata, “Apakah kalian ingin saya tunjukkan wudhu’ Rasulullah Saw?" Kemudian ia berwudhu’ tiga kali tiga kali.

(9) Artinya, runtut ketika menyucikan anggota–angota badan, yaitu anggota badan yang pertama belum kering sebelum membasuh anggota yang kedua, sesuai dengan kebiasaan. Dalilnya adalah mengikuti hadits – hadits sebelum ini.

Peringatan: Semua dalil–dalil yang terdapat dalam As-Sunan, zhahirnya adalah wajib. Akan tetapi dalil ketidakwajibannya terdapat dalam ayat wudhu yang menunjukkan bagian–bagian yang diFardhukan, serta dalil–dalil lainnya. Kami tidak menyebutkannya di sini, khawatir akan memperpanjang pembahasan.
 
Faedah: Sunnah mengucapkan setelah wudhu, “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Dzat Yang Maha Esa, tiada serikat bagi-Nya. Saya bersaksi, Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Ya Allah, jadikanlah diriku bagian dari orang–orang yang bertaubat, dan jadikanlah diriku bagian dari orang–orang yang suci. Ya Allah, Maha Suci-Mu dan dengan keagungan-Mu. Saya bersaksi, tiada Tuhan, kecuali diri-Mu. Saya memohon ampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu."
 
Majmu’ memuatnya dari Rasulullah Saw dalam Hadist–hadits yang diriwayatkan oleh Muslim (234) At-Turmudzi (55) dan An-NasaI di bagian “Amalan–amalan siang dan malam."

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.