Hal-Hal yang Difardhukan Dalam Shalat

Hal-hal yang difardhukan dalam Shalat adalah sebagai berikut: 

a) Berdiri ketika shalat wajib bagi yang mampu melakukannya. Tidak sah shalat wajib orang yang mengerjakannya dengan duduk, padahal ia mampu melakukannya dengan berdiri, berdasarkan firman Allah SWT, “Berdirilahlah karena Allah (dalam shalat) dengan khusyu’.” Dan sabda Rasulullah Saw kepada Imran bin Hushain, “Shalatlah dengan berdiri. Jikalau engkau tidak mampu, maka dengan duduk. Jikalau engkau tidak mampu, maka dengan berbaring.”(1) 

b) Niat, yaitu azzam hati untuk mengerjakan shalat tertentu, sesuai dengan sabda Rasulullah Saw, “Amalan-amalan sesuai dengan niatnya.”(2)

c) Takbiratul Ihram, dengan lafadz Allahu Akbar, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Kunci shalat adalah bersuci, Tahrimnya adalah Takbir, dan Tahlilnya adalah Salam.”(3)

d) Membaca al-Fatihah, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca al-Fatihah.”(4) Hanya saja, kewajiban ini gugur dari makmum jikalau Imam sudah membacanya dengan jahr. Sebab, ia diperintahkan untuk diam mendengarkan bacaan Imam, berdasarkan firman Allah SWT, “Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang." (Surat al-A'raf: 204) Dan berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Jikalau Imam bertakbir, maka bertakbirlah. Jikalau ia membaca, maka diamlah.”(5) Jikalau Imam membacanya dengan sirr (suara tidak keras), maka makmum wajib membaca al-Fatihah. 

e) Ruku’

f) Bangkit dari Ruku’, berdasarkan sabda Rasulullah Saw kepada orang yang buruk shalatnya, “Kemudian ruku’lah sampai thuma’inah dalam ruku’, kemudian bangkitlah sampai tegak lurus.”(6)

g) Thuma’ninah dalam ruku’, sujud, Qiyam, dan duduk, berdasarkan sabda kepada orang yang buruk shalat, “Sampai engkau Thuma’ninah.”(7) Hal itu disebutkan dalam ruku’, sujud, dan duduk, kemudian juga disebutkan dalam I’tidal (lurus) ketika berdiri. Hakikat Thuma’ninah adalah orang yang ruku’, sujud, atau berdiri, berdiam diri setelah seluruh anggota tubuhnya lurus selama beberapa waktu, sekadar bacaan Subhana Rabbiyal Azhim, sebanyak sekali baca. Jikalau lebih, maka hukumnya sunnah. 

h) Salam

i) Duduk untuk salam. Tidak boleh keluar dari shalat tanpa salam, dan tidak boleh salam kecuali dalam posisi duduk, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Tahlilnya adalah Salam.”

j) Tertib di antara rukun. Tidak boleh membaca al-Fatihah sebelum Takbiratul Ihram, tidak boleh sujud sebelum ruku’, sebab cara shalat ini didapati dari Rasulullah Saw, kemudian diajarkannya kepada para sahabat. Rasulullah Saw bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku mengerjakan shalat.”(8) Tidak boleh mendahulukan bagian yang berada di akhir, dan tidak boleh juga mengakhirkan bagian yang berada diawal. Jikalau tidak, shalatnya batal. 


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1117), dan Abu Daud (952)

(2) Sudah di-Takhrij di bagian sebelumnya

(3) Diriwayatkan oleh Abu Daud (31) dalam Kitab al-Thaharah, dan al-Turmudzi (238)

(4) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1/192)

(5) Diriwayatkah oleh Imam Ahmad (2/438)

(6) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (8/69, 169)

(7) Nash hadits orang yang buruk shalatnya, ia adalah Rafi’ bin Khallad, “Jikalau engkau mengerjakan shalat, maka berwudhulah dengan baik, kemudian menghadaplah ke kiblat dan bertakbirlah, kemudian bacalah yang mudah dari al-Quran yang engkau miliki, kemudian ruku’lah sampai engkau thuma’ninah dalam ruku’, kemudian bangkitlah sampai engkau berdiri lurus, kemudian sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud, kemudian bangkitlah sampai engkau thuma’ninah dalam duduk, kemudian sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud. Lakukanlah semua itu dalam semua shalatmu.” Muslim (45, 46) dalam Kitab al-Shalat

(8) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1/162), (8/11)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.