Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dari Kematian Seorang Muslim Sampai Dikuburkan

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dari Kematian Seorang Muslim Sampai Dikuburkan


Mengumumkan Kematiannya

Disunnahkan mengumumkan kematian seorang Muslim kepada para kerabatnya, para sahabatnya, dan orang-orang shaleh yang berada di negerinya, agar mereka bisa menghadiri jenazahnya. Rasulullah Saw pernah mengumumkan kematian al-Najjasy kepada khalayak ramai ketika kematiannya, berdasarkan riwayat yang terdapat dalam Hadits Shahih. Sebagaimana beliau juga mengumumkan kematian Zaid, Jafar dan Abdullah bin Rawahah ketika mereka syahid. Pengumuman (al-Na’y) yang dilarang itu jikalau dilakukan di jalan-jalan dan di pintu-pintu Masjid dengan meninggikan suara dan berteriak. Hal tersebut dilarang dalam Syariat. 


Haram Meratap, dan Boleh Menangis

Diharamkan meratap dan berteriak karena kematian si Mayat, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Mayat disiksa karena tangisan orang yang hidup.”(1) Dan sabdanya, “Siapa yang diratapi, maka ia akan disiksa dengan apa yang diratapi atas dirinya pada Hari Kiamat.”(2) Rasulullah Saw, dahulu mengambil baiat para wanita supaya mereka tidak meratap, sebagaimana diriwayatkan oleh Umm Athiyyah radhiyallahu anha dalam al-Shahih. Rasulullah Saw bersabda, “Saya berlepas dari perempuan yang al-Shaliqah (yang berteriak-teriak karena duka), al-Haliqah (yang memotong rambutnya karena duka), dan al-Syaqqah (yang menyobek-nyobek bajunya karena duka).”(3)

Sedangkan untuk tangisan, maka tidak masalah, berdasarkan sabda Rasulullah Saw ketika wafat anaknya Ibrahim, “Mata menangis dan hati bersedih. Kita tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai oleh Tuhan kita. Dan kami wahai Ibrahim, bersedih karena berpisah denganmu.”(4) Rasulullah Saw menangis atas kematian Umamah; anak perempuan puterinya Zainab. Kemudian dikatakan kepadanya, “Apakah engkau menangis? Bukanlah engkau melarang untuk menangis?” Maka beliau menjawab, “Itu hanyalah kasih sayang yang Allah SWT tempatkan di hati para hamba-Nya. Dan Allah SWT hanya merahmati para hamba-Nya yang penyayang.”(5)


Diharamkan al-Ihdad (Berkabung)(6) Lebih dari Tiga Hari

Diharamkan bagi seorang Muslimah berkabung atas kematian si Mayat, lebih dari tiga hari, kecuali atas kematian suaminya. Ketika itu, ia wajib berkabung selama empat bulan sepuluh hari, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Janganlah seorang perempuan berkabung atas Mayat lebih dari tiga hari, kecuali untuk kematian suaminya. Maka, ia berkabung untuknya selama empat bulan sepuluh hari.”(7)


Melunasi Hutang-Hutangnya

Selayaknya bersegera melunasi hutang-hutang si Mayat jikalau ada hutangnya. Sebab Rasulullah Saw dahulu tidak mau menyolatkan orang yang berhutang sampai dilunasi hutangnya, dan beliau bersabda, “Jiwa seorang Mukmin tergantung karena hutangnya, sampai dilunasi.”(8)


Al-Istirja’, Doa, dan Bersabar

Selayaknya bagi keluarga Mayat untuk bersabar, khususnya di waktu-waktu seperti ini, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Kesabaran itu ketika hantaman pertama.”(9) Kemudian memperbanyak doa dan al-Istirja’ (ucapan Inna lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un), berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah, kemudian ia mengucapkan: 

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ, اللَّهُمَّ آجِرْنِيْ فِي مُصِيْبَتِيْ وَاخْلُفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا

“Kita berasal dari Allah, dan kita akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berikanlah diriku pahala atas musibah yang menimpaku, dan gantikanlah bagiku yang lebih baik darinya.”

Kecuali, Allah SWT akan memberikan pahala untuk musibahnya, dan menggantikan baginya dengan sesuatu yang lebih baik.”(10) Dan sabdanya, “Allah SWT berfirman, ‘Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang beriman, ketika kekasihnya dari penduduk dunia dicabut nyawanya, kemudian ia mengikhlaskannya, kecuali surga.”(11)


Wajib Memandikannya

Jikalau seorang Muslim meninggal, baik masih kecil maupun sudah dewasa, maka wajib dimandikan, baik tubuhnya utuh maupun hilang sebagiannya. Mayat yang tidak dimandikan adalah mayat kaum muslimin yang syahid di Medan perang saja, terbunuh di tangan kaum kafir di medan Jihad di jalan Allah SWT, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Janganlah kalian memandikan mereka. Sebab, setiap luka atau setiap darahnya akan mengeluarkan Misk pada Hari Kiamat.”(12)


Sifat Pemandian Jenazah

Jikalau air diguyurkan ke tubuh di Mayat, sampai air tersebut membasahi seluruh bagian tubuhnya, maka itu sudah cukup. Namun cara yang sempurna dan disunnahkan adalah: 

Mayat diletakkan di lokasi yang tinggi, kemudian orang yang memandikannya adalah orang yang amanah lagi shaleh, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Hendaklah yang memandikan mayat-mayat kalian adalah orang-orang yang amanah.”(13) Kemudian orang yang memandikannya menekan perutnya dengan lembut, agar bisa mengeluarkan kotoran yang ada di dalamnya. Kemudian ia membalut tangannya dengan secarik kain dan berniat memandikannya. Setelahnya, ia membasuh kemaluannya dan menghilangkan kotoran yang ada disitu. Kemudian ia melepaskan carik kain tadi dan mewudhu’kannya layaknya wudhu untuk shalat. Kemudian, ia memandikan seluruh tubuhnya yang dimulai dari bagian paling atasnya sampai ke bagian paling bawahnya sebanyak tiga kali. Jikalau tidak bersih, maka dimandikannya sebanyak lima kali. Di mandi terakhir, digunakan Sabun dan sejenisnya. 

Jikalau mayat tadi adalah seorang Muslimah, maka dilepaskan jalinan rambutnya dan dibasuh, kemudian dijalin lagi. Sebab, Rasulullah Saw memerintahkan untuk melakukan hal tersebut untuk rambut anak perempuannya.(14) Kemudian dipakaikan wewangian dan selainnya. 


Mayat yang Tidak Dimandikan, Maka Ditayammumkan

Jikalau tidak didapatkan air untuk memandikan jenazah, atau seorang laki-laki meninggal di tengah khalayak para wanita, atau seorang perempuan meninggal di tengah khalayak laki-laki, maka ia ditayammumkan dan dikafani, dishalatkan dengan kondisi seperti itu dan dikuburkan. Tayammum tadi menggantikan posisi mandi ketika kondisinya memang tidak memungkinkan. Layaknya Junub, jikalau tidak bisa mandi, maka bertayammum dan lansung mengerjakan shalat. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Jikalau seorang perempuan meninggal bersama kumpulan para lelaki, dan tidak ada perempuan lainnya bersama para lelaki tersebut; dan jikalau seorang laki-laki meninggal bersama kumpulan para wanita, dan tidak ada laki-laki lainnya bersama para wanita tersebut, maka keduanya ditayammumkan dan dikuburkan.”(15) Keduanya sama dengan kondisi orang yang tidak mendapatkan air. 


Salah Satu Pasangan Suami Istri Memandikan yang Lainnya

Boleh bagi seorang laki-laki memandikan istrinya, dan bagi seorang perempuan memandikan suaminya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw kepada Aisyah radhiyallahu anha, “Jikalau engkau meninggal, maka saya akan memandikanmu dan mengafankanmu.”)16) Dan juga karena Ali radhiyallahu anhu memandikan Fathimah radhiyallahu anha.(17)

Sebagaimana boleh bagi seorang perempuan memandikan anak kecil laki-laki berusia enam tahun. Sedangkan untuk hukum laki-laki memandikan anak perempuan, maka para Ulama memakruhkannya. 


Wajib Mengkafankannya

Wajib mengkafankan seorang Muslim jikalau ia sudah dimandikan, dengan sesuatu yang menutupi seluruh tubuhnya. Mushab bin Umair merupakan salah satu syahid di Perang Uhud, dikafankan dengan selendang yang berukuran pendek. Kemudian, Rasululah Saw memerintahkan mereka untuk menutupi kepalanya dan tubuhnya, serta menutupi kakinya dengan daun Izkhir.(18) Hal ini menunjukkan wajibnya menutupi seluruh tubuh. 


Sunnahnya Kafan Berwarna Putih Dan Kebersihannya

Disunnahkan kafan berwarna putih bersih, baik baru maupun lama, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Pakailah pakaian kalian yang berwarna putih, ia adalah sebaik-baik pakaian kalian, dan kafankanlah dengannya mayat-mayat kalian.”(19) Sebagaimana disunnahkan untuk men-Tajmir (membakar untuk wewangian) kafan dengan kayu (dupa), berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Jikalau kalian men-Tajmir, maka Tajmirlah tiga kali.”(20) Kemudian hendaklah berjumlah tiga lapis bagi laki-laki, dan lima lapis bagi perempuan. Rasulullah Saw dikafankan dengan tiga kain putih yang baru, tidak ada kemeja dan tidak ada pula ‘Imamahnya, kecuali bagi yang berstatus Muhrim (sedang Ihram). Ia dikafankan dengan kain Ihramnya; selendangnya dan sarungnya saja, tidak diberi wewangian dan tidak pula ditutupi kepalanya, sesuai dengan kondisinya layaknya orang yang sedang Ihram, berdasarkan sabda Rasulullah Saw tentang orang yang jatuh dari untanya pada Hari Arafah dan meninggal dunia, “Mandikanlah ia dengan air dan Sidr, serta kafanlah ia dengan kedua pakaiannya. Jangalah kalian memberinya wewangian dann janganlah menutupi kepalanya. Sebab, ia akan dibangkit pada Hari Kiamat dengan ber-Talbiyah.”(21)


Kafan dari Sutera

Haram mengafani seorang Muslim dengan kain sutera. Sebab, Sutera diharamkan memakainya bagi para lelaki, sehingga haram dijadikan sebagai kain kafan. Sedangkan untuk Muslimah, walaupun memakai Sutera itu halal baginya, namun hukumnya Makruh digunakan sebagai kain kafan. Sebab, tindakan seperti itu merupakan tindakan yang berlebih-lebihan dan terlalu mahal yang dilarang oleh Syariat. Diriwayatkan dari Rasulullah Saw, “Janganlah kalian memahalkan kain kafan, sebab ia cepat rusaknya.”(22) Abu Bakar radhiyallahu anhu mengatakan, “Orang yang hidup, lebih utama dengan yang baru dari yang sudah meninggal. Itu hanyalah untuk nanah yang mengalir dari Mayat.”(23)


Menyolatkan Mayat

Menyolatkan seorang Muslim, hukumnya Fardhu Kifayah, sama dengan memandikannya, mengafankannya, dan menguburkannya. Jikalau sudah ada sejumlah kaum muslimin yang melakukannya, maka hukumnya gugur dari yang lainnya. Dahulu, Rasulullah Saw menyolati semua mayat kaum muslimin. Bahkan, beliau mewajibkan pembayaran hutang kaum mukminin. Jikalau seorang Muslim meninggal, kemudian ia menyisakan hutang yang belum dilunasinya, maka beliau tidak mau menyolatkannya. Beliau bersabda, “Shalatkanlah sahabat kalian.”(24)


Syarat-Syarat Shalat Jenazah

Untuk mengerjakan Shalat Jenazah, disyaratkan hal yang sama ketika akan melakukan shalat biasanya, yaitu suci dari hadats dan najis, menutup aurat, dan menghadap kiblat. Sebab, Rasulullah Saw sendiri juga menamakannya shalat. Beliau bersabda, “Shalatkanlah sahabat kalian.” Maka, syarat-syaratnya sama dengan syarat-syarat yang berlaku dalam hukum shalat. 


Hal-Hal yang Difardhukan dalam Shalat Jenazah

Hal-hal yang difardhukan dalam Shalat Jenazah adalah berdiri bagi yang mampu melakukannya dengan berdiri, niat berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “amalan-amalan itu sesuai dengan niatnya”, membaca surat al-Fatihah, atau puja-puji kepada Allah SWT, shalawat dan salam kepada Rasulullah Saw, Takbir sebanyak empat kali, doa, dan salam. 


Tatacara Shalat Jenazah

Tatacaranya, Jenazah atau beberapa Jenazah diletakkan di arah kiblat. Kemudian Imam dan orang-orang berdiri di belakangnya sebanyak tiga shaf (baris) atau lebih, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang dishalatkan tiga shaf, maka ia sudah berkah (mendapatkan surga).”(25) Kemudian orang yang shalat mengangkat kedua tangannya seraya berniat menyolatkan jenazah atau sejumlah jenazah jikalau jumlahnya banyak, seraya mengucapkan “Allahu Akbar”. Kemudian ia membaca Surat al-Fatihah atau memuja-muji Allah SWT, kemudian bertakbir dengan mengangkat kedua tangannya jikalau ia ingin, atau tetap membiarkan kedua tangannya di dadanya, tangan kanan berada di atas tangan kiri, kemudian ia bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw dengan Shalawat Ibrahimiyah. Kemudian ia bertakbir dan mendoakan Jenazah. Kemudian ia bertakbir. Jikalau ia ingin, ia bisa berdoa dan salam, atau bisa juga salam lansung setelah takbir keempat dengan sekali salam. Hal ini berdasarkan riwayat bahwa Sunnah dalam Shalat Jenazah itu Imam bertakbir, kemudian membaca Surat al-Fatihah setelah Takbir pertama dengan sir (tidak mengeraskan suara). Kemudian bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw dan mengikhlaskan doa untuk Jenazah dalam takbir-takbirnya, tidak membaca apapun di dalamnya, kemudian salam dengan sir.(26)


Orang yang Masbuq Dalam Shalat Jenazah

Orang yang Masbuq dalam Shalat Jenazah, jikalau ia ingin, maka ia bisa menqadha Takbir yang luput darinya secara berurutan. Jikalau ia mau, maka ia bisa meninggalkannya dan salam bersama Imam, berdasarkan sabda Rasulullah Saw kepada Aisyah radhiyallahu anha, suatu hari ia bertanya kepada Rasulullah Saw tentang beberapa Takbir yang luput darinya karena suara yang tidak kedengaran, “Apa yang engkau dengar, maka bertakbirlah. Dan apa yang luput darimu, maka tidak ada Qadha bagimu.” Penulis Kitab al-Mughni berhujjah dengan hadits ini, namun saya tidak mendapatinya untuk mengtakhrijnya. 


Jenazah yang Sudah Dikuburkan, Namun Belum Dishalatkan

Siapa yang dikuburkan, kemudian belum dishalatkan, maka ia bisa dishalatkan walaupun sudah berada di dalam kuburnya. Sebab, Rasulullah Saw menyolatkan perempuan yang biasanya membersihkan Masjid setelah ia dikuburkan, dan para sahabatnya shalat bersamanya.(27) Sebagaimana Jenazah yang Ghaib juga dishalatkan, walaupun jaraknya jauh. Sebab, Rasulullah Saw pernah menyolatkan al-Najasyi yang berada di Habsyah, sedangkan Rasulullah Saw dan kaum mukminin berada di Madinah.(28)


Lafadz-Lafadz Doa

Lafadz-lafadz doa yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw itu banyak,(29) di antaranya sebagai berikut: -lafadz mana pun yang digunakan, itu sudah mencukupi. 

اللَّهُمَّ إِنَّ فُلاَن ابْنَ فُلَانٍ فِي ذِمَّتِكَ وَحَبْلِ جَوَارِكَ فَقِهِ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ, أَنْتَ أَهْلُ الْوَفَاء وَالْحَقِّ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ فَإِنَّكَ أَنْتَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. اللّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَصَغِيْرِنَا وَكَبِيْرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا وَحَاضِرَنَا وَغَائِبَنَا. اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الإِسْلَامِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِيْمَانِ. اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تُضِلَّنَا بَعْدَهُ

“Ya Allah, Fulan bin Fulan berada dalam tanggunga-Mu dan tali kendali-Mu. Maka, jagalah dirinya dari fitnah kubur dan siksa Neraka. Engkau adalah Zat yang pasti menepai janji dan pemilik kebenaran. Ya Allah, ampunilah dirinya dan rahmatilah, Engkaulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Allah, ampunilah yang hidup di antara kami dan yang sudah meninggal, yang masih kecil di antara kami dan yang sudah dewasa, yang laki-laki di antara kami dan yang perempuan, yang hadir di antara kami dan yang ghaib. Ya Allah, siapa yang Engkau hidupkan di antara kami, maka hidupkanlah dengan Islam. Dan siapa yang Engkau wafatkan di antara kami, aka wafatkanlah dengan Islam. Ya Allah, janganlah Engkau mengharamkan kami dari pahalanya, dan janganlah Engkau menyesatkan kami setelahnya.”

Jikalau Mayatnya itu anak kecil, maka beliau membaca: 

اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لِوَالِدَيْهِ سَلَفًا وَذُخْرًا وَفَرْطًا وَثَقِّلْ مَوَازِيْنَهُمْ وَأَعْظِم بِهِ أُجُوْرَهَمْ, وَلَا تَحْرِمْنَا وَإِيَّاهُمْ أَجْرَهُ وَلَا تَفْتِنَّا وَإِيَّاهُمْ بَعْدَهُ, اللَّهُمَّ أَلْحِقْهُ بِصَالِحِ سَلَفِ الْمؤْمِنِيْنَ فِي كَفَالَةِ إبْرَاهِيْمَ, وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ, وَعَافِهِ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ

“Ya Allah, jadikanlah dirinya bagi kedua orangtuanya sebagai simpanan, kekayaan, dan kesejahteraan, beratkanlah timbangan mereka dan besarkanlah pahala mereka, janganlah mengharamkan pahala dan mereka dari pahalanya, janganlah menyebabkan kami dan mereka terfitnah setelahnya. Ya Allah, masukkanlah ia ke dalam kelompok orang shaleh dari mukminin terdahulu dalam tanggungan Ibrahim, gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, selamatkanlah dirinya dari fitnah kubur dan siksa Jahannam.”


Mengantarkan Jenazah & Keutamaannya

Di antara sunnah Rasulullah Saw adalah mengantarkan Jenazah, yaitu berangkat bersamanya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Besuklah orang yang sakit dan berjalanlah bersama jenazah, ia akan mengingatkan kalian akan akhirat.”(30) Dan mempercepat langkah mengantarkannya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Bersegeralah. Jikalau ia orang yang shaleh, maka itu adalah kebaikan yang kalian hantarkan kepadanya. Dan jikalau ia bukan seperti itu (bukan shaleh), maka itu adalah keburukan yang kalian letakkan dari pundak kalian.”(31) Sebagaimana disunnahkan untuk berjalan di hadapannya, sebab Nabi Muhammad Saw, Abu Bakar, dan Umar berjalan di depan Jenazah.(32)

Sedangkan untuk keutamaan mengantarkan Jenazah, Rasulullah Saw berkata, “Siapa yang mengikuti/ mengantarkan Jenazah seorang Muslim dengan Iman dan ikhlas, membersamainya sampai dishalatkan dan selesai dikuburkan, maka ia kembali dengan pahala sebayak dua Qirath. Setiap Qirath, sama dengan bukit Uhud. Siapa yang meyolatkannya, kemudian kembali sebelum dikuburkan, maka ia kembali dengan satu Qirath.”(33)


Hal-Hal yang Dimakruhkan Ketika Mengantarkan Jenazah

Dimakruhkan para wanita ikut bersama Jenazah, berdasarkan riwayat Umm Athiyyah radhiyalllahu anha, “Kami dilarang untuk mengikuti Jenazah, dan itu tidak dilazimkan kepada kami.”(34) Sebagaimana dilarang meninggikan suara di dekat Jenazah, baik berupa zikir, membaca al-Quran, dan selainnya. Sebab, para sahabat Rasulullah Saw tidak suka meninggikan suara dalam tiga hal; di dekat Jenazah, ketika zikir, dan ketika perang.(35)

Sebagaimaa dimakruhkan untuk duduk sebelum Jenazah diturunkan dari pundak, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Jikalau kalian mengikuti Jenazah, maka janganlah kalian duduk sampai ia diletakkan di tanah.”(36)


Menguburkannya

Menguburkan Jenazah adalah menutupi tubuhnya secara penuh dengan tanah,(37) hukumnya Fardhu Kifayah, berdasarkan firman Allah SWT, “Kemudian Dia memastikan, kemudian menguburkannya.” (Surat ‘Abasa: 21) Ada beberapa hokum masalah ini, di antaranya: 

a) Kuburannya dibuat dalam, dengan kedalaman yang tidak memungkinkan binatang buas dan burung menjangkau Jenazahnya, kemudian juga menghalangi baunya keluar sehingga mengganggu yang lainnya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Galilah, dalamkanlah, perbaguslah, dan kuburlah dua dan tiga jenazah di satu kuburan.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang kami dahulukan wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dahulukan orang yang paling banyak hafalan al-Qurannya.”(38) 

b) Dibuatkan liang Lahad di dalam kubur. Sebab, lahad itu lebih baik, walaupun Syaqq dibolehkan, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Lahad bagi kita, dan Syaq bagi selain kita.”(39) Lahad merupakan liang yang berada di kanan paling kanan kubur. Dan Syaq adalah liang di tengah kubur. 

c) Disunnahkan untuk orang yang menghadiri penguburan Jenazah untuk mengepalkan tiga kepalan tanah dengan tangannya, kemudian memasukkannya ke dalam kubur dari arah kepala Jenazah, berdasarkan perbuatan Rasulullah Saw yang melakukannya, sebagaimana disebutkan oleh Ibn Majah dengan sanad yang tidak masalah. 

d) Jenazah dimasukkan di bagian ujung kuburan jikalau itu memungkinkan, kemudian mengarahkannya ke arah kiblat, diletakkan di bagian sisi kanan badannya dan dilepaskan ikatan-ikatan kafannya, kemudian orang yang meletakkannya mengucapkan: 

بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللَّهِ

“Dengan nama Allah, dan dengan ajaran Rasulullah Saw.”

Karena begitulah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw.(40)

e) Kuburan perempuan ditutupi dengan kain ketika Jenazah ditempatkan di kuburannya, sebab para Salaf menutupi kuburan perempuan ketika jenazahnya dimakamkan, dan mereka tidak melakukannya terhadap jenazah laki-laki. 


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan dengan Lafadz yang sama dari Ibn Abi Syaibah dalam Mushannafnya (3/ 391), al-Bukhari (2/ 101), (5/ 98) dengan Lafadz “Mayat disiksa karena tangisan keluarga atas dirinya.”

(2) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (2/ 102), dan al-Baihaqi (4/ 72)

(3) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (4/ 397), dengan lafadz “saya berlepas dari setiap al-Haliqah…”

(4) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (2/ 105)

(5) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (1/ 204, 207)

(6) Al-Ihdad, yaitu tidak berhias, baik pakaian atau celak atau henna atau parfum.

(7) Diriwayatkan oleh Muslim (9) dalam Kitab al-Thalaq, Abu Daud (46) dalam al-Thalaq, dan al-Nasai (6/ 202)

(8) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (1078, 1079), Ibn Majah (2413), dan al-Nasai (6/ 202)

(9) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (2/ 100)

(10) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (6/ 309)

(11) Diriwayatkan oleh al-Darimi (2/ 27), dan disebutkan oleh al-Zubaidi dalam Ithaf Sadah al-Muttaqin (1/ 153)

(12) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (3/ 299)

(13) Diriwayatkan oleh Ibn Majah (1461)

(14) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1260)

(15) Diriwayatkan oleh Abu Daud, dan kedudukan Haditsnya adalah Mursal. Hanya saja, hadits ini diamalkan oleh Jumhur Ahli Fikih

(16) Diriwayatkan oleh Ibn Majah, al-Imam Ahmad, dan al-Nasai. Dalam sanadnya adalah Dha’f (lemah), yang kelemahan itu hilangnya karena al-Mutabaah (berurutan). Dan juga disebutkan oleh Ibn Hajar dalam Talkhis al-Habir (2/ 107)

(17) Diriwayatkan oleh al-Baihaqi, al-Dar Quthni, dan al-Syafii. Dan pensanadannya Hasan.

(18) Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya

(19) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (994) dan dishahihkannya, kemudian juga diriwayatkan oleh Abu Daud (3878)

(20) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (3/ 331)

(21) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (1/ 221)

(22) Diriwayatkan oleh Abu Daud (3154), dan sanadnya dkomentari oleh para ulama. 

(23) Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya (94) dalam Kitab al-Janaiz

(24) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3/ 24, 126, 128)

(25) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3/ 24, 126, 128)

(26) Diriwayatkan oleh al-Syafii, dan al-Hafidz menshahihkan pensanadannya

(27) Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya

(28) Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam Mushannifnya (14/ 154), dan disebutkan oleh al-Haitsami dalam Majma’ al-Zawaid (3/ 37)

(29) Beberapa dari doa ini terdapat dalam al-Shahih, dan sebagian lainnya terdapat dalam al-Sunan. Diriwayatkan oleh Abu Daud (3201, 3202), al-Turmudzi (1024), al-Imam Ahmad (2/ 368), (4/ 170), (6/ 71), al-Nasai (4/ 74), dan Ibn Majah (1499)

(30) Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, dan diriwayatkan oleh al-Bukhari (4/ 84) dengan lafadz “Besuklah orang yang sakit, dan ikutilah jenazah.”

(31) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3/ 108)

(32) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (1009, 1010), Ibn Majah (1483), dan selain keduanya. Inilah pendapat Jumhur Ulama dari kalangan Para Imam –semoga Allah SWT merahmati mereka semuanya, yaitu pendapat yang menyatakan bahwa berjalan di depan Jenazah, lebih baik. 

(33) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1/ 81)

(34) Diriwayatkan oleh Ibn Majah (1577)

(35) Ibn al-Mundzir, dari Qais bin Ubadah

(36) Diriwayatkan oleh Muslim (86) dalam Kitab al-Janaiz

(37) Siapa yang meninggal di tengah lautan, maka ditunggu selama sehari atau dua hari asalka tidak berubah jenazahya agar bisa dikuburkan di tanah. Jikalau tidak memungkinkan sampai ke daratan sebelum ia berubah,  maka Jenazah tadi dimandikan dan dishalatkan, kemudia diikatkan bersamanya sesuatu yang berat, kemudian dilepaskan ke lautan. Inilah yang difatwakan oleh para Ulama.

(38) Diriwayatkan oleh Abu Daud (3215), al-Imam Ahmad (4/ 20), dan Ibn Majah (1560)

(39) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (4/ 363), Abu Daud dalam al-Janaiz (65), al-Turmudzi (1045), dalam pensanadannya ada yang perlu dikomentari, dan sebagian ulama menshahihkannya.

(40) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (2/ 40)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.