Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Setelah Seorang Muslim Dikuburkan

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan Setelah Seorang Muslim Dikuburkan


Memohonkan Ampunan bagi Jenazah dan Mendoakannya

Disunnahkan bagi yang menghadiri pemakaman untuk memohonkan ampunan bagi Jenazah, kemudian mendoakannya agar kokoh (mampu menjawab) ketika ditanya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Mohonkanlah ampunan bagi saudara kalian dan mohonlah agar ia bisa kokoh (mampu menjawab), sebab ia sekarang ditanya.”(1) Beliau mengatakannya ketika selesai dari pemakaman. Dahulu, sebagian alaf mengucapkan: 

اللَّهُمَّ هَذَا عَبْدُكَ نَزَلَ بِكَ, وَأَنْتَ خَيْرُ مَنْزُوْلٍ بِهِ, فَاغْفِرْ لَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ

“Ya Allah, ini adalah hamba-Mu yang menghampiri-Mu, dan Engkau adalah sebaik-baik tempat singgah, maka ampunilah dosanya dan luaskanlah tempat masuknya.”


Meratakan Kuburan

Selayaknya kuburan diratakan dengan tanah, sebab Rasulullah Saw memerintahkannya. Namun, jikalau kuburannya ditinggikan, hukumnya boleh. Ukurannya sejengkal, dan itu disunnahkan oleh Jumhur Ulama. Sebab, kuburan Nabi Muhammad Saw juga ditinggikan. 

Tidak masalah meletakkan tanda di kuburan agar bisa dikenal, dengan menggunakan batu dan selainnya. Sebab, Rasulullah Saw sendiri menandai kuburan Utsman bin Madz’un radhiyallahu anhu dengan sebuah batu, kemudian bersabda, “Dengan ini, saya bisa mengetahui kuburan saudara saya, dan menguburkan di dekatnya siapa saja yang meninggal dari keluargaku.”


Haram Meninggikan Kuburan dan Membuat Bangunan di Atasnya

Diharamkan membangun kuburan atau membuat bangunan di atasnya, berdasarkan riwayat Muslim bahwa Nabi Saw melarang kuburan untuk ditinggikan atau dibangun di atasnya. 


Makruh Duduk di Atas Kuburan

Dimakruhkan bagi seorang Muslim untuk duduk di atas kuburan Muslim lainnya atau menginjaknya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Jangan kalian duduk di kuburan, dan janganlah kalian shalat menghadapnya.”(2) Dan sabdanya, “Seandainya salah seorang di antara kalian duduk di atas bara api, kemudian membuat pakaiannya terbakar dan sampai membakar kulitnya, itu lebih baik dari duduk(3) di atas kuburan.”(4)


Haram Membangun Masjid di Atas Kuburan

Diharamkan membangun Masjid di atas kuburan dan menempatkan lampu-lampu di atasnya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Allah SWT melaknat para wanita yang menziarahi kubur, serta yang menjadikannya sebagai Masjid dan menempatkan lampu-lampu di atasya.”(5) Dan sabdanya, “Allah SWT melaknat orang-orang Yahudi, yang menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai Masjid.”(6)


Haram Membongkar Kuburan dan Memindahkan Tengkoraknya

Diharamkan membongkar kuburan dan memindahkan tengkorak penghuninya, atau mengeluarkan jenazah yang ada di dalamnya kecuali karena darurat yang benar-benar genting, seperti jenazahnya dikuburkan tanpa dimandikan, sebagaimana dimakruhkan memindahkan jenazah yang belum dikuburkan dari satu negeri ke negeri lainnya, kecuali tujuan pemindahannya adalah salah satu negeri haram; Makkah atau Madinah, atau Baitul Maqdis juga, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Kuburkanlah orang-orang terbunuh di tempat pertarungan mereka.”(7)


Disunnahkan Bertakziyah

Disunnahkan bertakziyah kepada keluarga Jenazah, baik laki-laki maupun perempuan, sebelum dikuburkan dan setelahnya sampai tiga hari, kecuali jikalau orang yang mentakziyahi tadi tidak ada ketika terjadinya duka atau lokasinya jauh, maka tidak masalah jikalau takziyahnya terlambat, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Tidaklah seorang Mukmin mentakziyahi saudaranya karena suatu musibah yang menimpanya, kecuali Allah SWT akan memakaikannya perhiasan-perhiasan kemuliaan pada Hari Kiamat.”(8)


Makna Takziyah

Makna Takziyah adalah al-Tashbir (membuat sabar), yaitu membuat keluarga Jenazah terhibur dan bersabar, dengan menceritakan sesuatu yang meringankan musibah dan mengurangi  beratnya duka. Takziyah bisa dilakukan dengan menggunakan lafadz apapun. Di antara lafadz Takziyah yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw adalah sabdanya kepada anak perempuannya, yaitu ketika anak perempuannya mengirimkan kabar kepadanya tentang kematian anak laki-lakinya. Maka, beliau mengutuskan utusan kepadanya untuk mengucapkan salam, dan beliau mengatakan kepadanya, “Hak Allah SWT untuk mengambil, dan hak-Nya untuk memberi. Segala sesuatu di sisi-Nya ada masanya. Maka, bersabarlah dan ikhlaslah.”(9)

Ada seorang Salaf yang menghibur  seseorang atas kematian anaknya, dengan mengatakan, “Dari Fulan untuk Fulan. Keselamatan bagimu. Saya memuji Allah SWT atas dirimu yang tidak ada Tuhan melainkan diri-Nya. Amma Ba’du. Semoga Allah SWT membesarkan pahalamu, mengilhamkanmu kesabaran, memberikan karunianya kepada kita dan dirimu dengan kesyukuran. Sesungguhnya diri kita, harta kita, dan keluarga kita adalah pemberian yang penuh kenikmatan dari Allah SWT dan barang yang dititipkan. Semoga Allah SWT menghiburmu dengannya dalam kegembiraan dan kebahagiaan, serta mengambilnya darimu dengan pahala yang besar. Doa, rahmat, dan hidayah jikalau engkau mengikhlaskannya. Maka, bersabarlah. Jangan sampai keluh kesahmu membatalkan pahalamu, sehingga engkau menyesal. Ketahuilah bahwa keluh kesah tidak akan mengembalikan yang sudah meninggal, tidak bisa menolak kesedihan. Apa yang sudah terjadi, terjadi sudah. Salam.”

Dalam Takziyah, cukup dengan ucapan: 

أَعْظَمَ اللَّهُ أَجْرَكَ, وَأَحْسَنَ عَزَاكَ وَغَفَرَ لِمَيِّتِكَ

“Semoga Allah SWT membesarkan pahalamu, membaguskan kebahagiaanmu, dan mengampunkan orang yang meninggal (dari keluargamu).”

Dan orang yang ditakziyahi mengucapkan: 

آمِيْن, آجَرَكَ اللَّهُ وَلَا أَرَاكَ مَكْرُوْهًا

“Ya Allah, kabulkanlah. Semoga Allah SWT memberikanmu pahala, dan saya tidak mendapatimu dibenci.”


Bid’ah Jamuan

Di antara yang harus ditinggalkan dan dijauhi adalah bidah yang dilakukan sejumlah orang dengan berkumpul di rumah duka untuk Takziyah dan membuat jamuan makan, kemudian membelanjakan uang untuk bermewah-mewahan dan bermegah-megahan. Sebab, para Salaf Shaleh sama sekali tidak berkumpul di rumah, bahkan sebagian mereka bertakziyah/ menghibur yang lainnya di kuburan dan bertemu di lokasi manapun. Tidak masalah jikalau melakukannya di rumah ketika tidak mungkin melakukannya di kuburan atau di jalan, sebab yang dianggap bidah itu adalah kumpulan khusus yang disiapkan jamuannya secara khusus. 


Membuat Kebaikan bagi Keluarga Jenazah

Disunnahkan membuat makanan bagi keluarga Jenazah, dilakukan oleh para kerabat atau para tetangga di hari kematian, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far, sebab mereka dihampiri urusan yang menyibukkan mereka.”(10) Sedangkan jikalau keluarga Jenazah membuat makanan sendiri untuk yang lainnya, maka hukumnya Makruh dan tidak layak karena melipatgandakan musibah yang sudah menimpa mereka. Jikalau datang orang yang wajib dijamu, seperti orang yang jauh, maka disunnahkan para tetangga dan para kerabat untuk menjamunya menggantikan keluarga Jenazah. 


Bersedekah untuk Mayat (Orang yang Sudah Meninggal)

Disunnahkan bersedekah untuk Jenazah, berdasarkan riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bapak saya sudah meninggal, kemudian meninggalkan sejumlah harta dan tidak mewasiatkan sama sekali, apakah akan menggugurkan dosanya jikalau saya bersedekah untuknya?” Beliau menjawab, “Ya.” Ketika ibu Saad bin Ubadah radhiyallahu anhu meningga, ia bertanya, “Wahai Rasulullah, ibu saya sudah meninggal, apakah saya boleh bersedekah untuknya?” Beliau menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Sedekah apakah yang paling afdhal?” Beliau menjawab, “Mengalirkan air.”(11)


Membacakan al-Quran untuk Mayat (Orang yang Sudah Meninggal)

Tidak masalah jikalau seorang Muslim duduk di Masjid atau di rumahnya, kemudian ia membaca al-Quran. Setelah ia selesai membaca al-Quran, ia memohon ampunan dan rahmat bagi si Mayat, berwasilah (berperantara) kepada Allah SWT dengan bacaan yang dibacanya dari Kitabullah. 

Sedangkan berkumpulnya para Qari di rumah orang yang meninggal, kemudian menghadiahkan pahala bacaan mereka untuk si Mayat, kemudian mereka diberikan honor atas hal itu yang diberikan oleh keluarga Jenazah, maka ini adalah bid’ah mungkar yang wajib ditinggalkan, kemudian wajib juga menyeru kaum muslimin untuk meninggalkannya dan menjauhinya. Sebab, Salaf Shaleh umat ini tidak mengenalnya, dan tidak ada kalangan Abad terbaik umat ini yang menyatakannya. Jikalau di generasi pertama umat ini hal tersebut bukanlah agama, maka ia juga bukan agama bagi generasi selanjutnya, apapun kondisinya. 


Hukum Ziarah Kubur

Ziarah kubur, hukumnya sunnah. Sebab ia mengingatkan akhirat, kemudian juga akan bermanfaat bagi Mayat dengan mendapatkan doa dan Istighfar, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Dahulu saya melarang kalian untuk menziarahi kubur. Maka, ziarahilah. Ia mengingatkan kalian akan akhirat.”(12) 

Kecuali jikalau kuburan itu atau Jenazahnya berada jauh, bagi yang ingin menziarahinya harus bersusah payah melakukan perjalanan dan mengadakan rihlah khusus. Maka ketika itu, ia tidak disyariatkan, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Janganlah diupayakeraskan perjalanan kecuali ke tiga Masjid; Masjidil Haram, Masjid saya ini, dan Masjid al-Aqsha.”(13)


Apa yang Diucapkan oleh Peziarah Kubur?

Orang yang menziarahi kuburan kaum muslimin, mengucapkan apa yang diucapkan oleh Rasulullah Saw ketika menziarahi al-Baqi’, yaitu: 

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ المُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ, وَأَنَا إِنْ شَاءَ اللَّه بِكُمْ لَاحِقُوْن, أَنْتُمْ فَرَطُنَا وَنَحْنُ لَكُمْ تَبَعٌ, نَسْأَل اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ, اللَّهُمَّ اغْفِر لَهُمْ, اللَّهُمَّ ارْحَمَهُمْ

“Keselamatan bagi kalian wahai para penghuni negeri dari kalangan mukminin dan muslimin. Saya dengan izin Allah SWT akan mengikuti kalian. Kalian adalah pendahulu kami, dan kami pengikut kalian. Kami memohon Allah SWT bagi kami dan kalian semuanya keselamata. Ya Allah, ampunilah mereka. Ya Allah, rahmatilah mereka.”(14)


Hukum Ziarah Kubur bagi Para Wanita

Para Ulama tidak berbeda pendapat tentang haramnya ziarah perempuan yang dilakukan berulang-ulang dan berkali-kali, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Allah SWT melaknat para wanita yang menziarahi kubur.”

Sedangkan jikalau tidak sering melakukannya dan tidak dilakukan berulang-ulang, maka sebagian ulama menyatakan kemakruhannya berdasarkan hadits sebelumnya. Dan sebagian ulama lainnya membolehkannya berdasarkan riwayat yang tsabit dari Aisyah radhiyallahu anha yang menziarahi kuburan saudara laki-lakinya Abdurrahman, kemudian ia ditanya mengenai hal tersebut, dan ia menjawab, “Ya, dahulu beliau melarang menziarahi kubur, kemudian memerintahkan untuk menziarahinya.”(15)

Ulama yang membolehkan ziarah perempuan asalkan tidak sering, mensyaratkan tidak adanya perbuatan mungkar apapun yang dilakukan oleh si perempuan, seperti meratap di kuburan, atau berteriak, atau berangkat untuk ziarah dengan bertabarruj, atau berdoa kepada si Mayat dan meminta hajatnya, atau perbuatan lainnya yang bisa disaksikan dari para wanita yang tidak memahami masalah-masalah agama, tanpa perlu menyebutkan masanya dan lokasinya. 


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (2/ 111), Muslim (63) dalam Kitab al-Janaiz, dan al-Nasai (4/ 27, 94)

(2) Diriwayatkan oleh Muslim (33) dalam Kitab al-Janaiz

(3) Sebagian Ulama menakwilkan duduk disini dengan duduk untuk buang air besar, karena dahsyatnya ancaman dalam hadits ini

(4) Diriwayatkan oleh Muslim (33) dalam Kitab al-Janaiz, dan Abu Daud (3228)

(5) Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra (2/ 78)

(6) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1/ 116), Muslim (3) dalam Kitab al-Masajid, dan al-Imam Ahmad (1/ 218)

(7) Diriwayatkan oleh al-Nasai (4/ 79) dan selainnya, kedudukan haditsnya Shahih

(8) Diriwayatkan oleh Ibn Majah (1601)

(9) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (2/ 100), (7/ 152)

(10) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (1/ 205), al-Turmudzi (1/ 272), Abu Daud (3132), dan Ibn Majah (1610)

(11) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (5/ 285), al-Nasai (6/ 254, 255), dan Ibn Majah (3684)

(12) Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak (1/ 376)

(13) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (2/ 67, 77), Muslim (95) dalam Kitab al-Hajj, dan Abu Daud (2033)

(14) Diriwayatkan oleh Muslim (104) dalam Kitab al-Janaiz

(15) Diriwayatkan oleh al-Hakim dan al-Baihaqi, serta dishahihkan oleh al-Zahabi

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.