Hukum Ribath dan Keutamaannya

Hukum Ribath dan Keutamaannya


Pengertiannya: al-Ribath adalah, Para Tentara Muslim berjaga dengan senjata dan perlengkapan perangnya di tempat-tempat yang berbahaya dan di perbatasan-perbatasan yang memungkinkan musuh masuk dari bagian tersebut, atau menyerang kaum muslimin dan negeri mereka dari tempat tersebut. 


Hukumnya: al-Ribath itu Wajib Kifai seperti Jihad. Jikalau sudah ada sebagian yang sudah menjalankannya, maka hukumnya gugur dari yang lainnya. Allah SWT memerintahkannya dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung." (Surat Ali Imran: 200)


Keutamaannya: al-Ribath merupakan amalan paling terbaik dan ibadah paling agung. Rasulullah Saw bersabda mengenai hal itu, “Ribath sehari di jalan Allah SWT, lebih baik dari dunia dan seisinya.”(1) 


Dan sabdanya, “Semua yang meninggal ditutup dengan amalannya, kecuali yang melakukan al-Ribath; amalannya terus tumbuh sampai Hari Kiamat, kemudian ia aman dari Fattan a-Qabr (pelaku fitnah kubur).”(2) 


Pelaku Fitnah Kubur, maksudnya adalah Munkar dan Nakir. Dan sabdanya, “Berjaga semalam di jalan Allah SWT, lebih baik dari seribu malam yang dihidupkan malamnya dan dipuasakan siangnya.”(3) 


Dan sabdanya, “Diharamkan Neraka bagi mata yang begadang di jalan Allah SWT.”(4) 


Dan sabdanya, “Siapa yang berjaga di belakang kaum Muslimin dengan beribadah sunnah, maka ia tidak akan melihat Neraka dengan matanya kecuali sekadar penebus sumpah saja.”(5) 


Dan sabdanya kepada Anas bin Abi Mirtsad al-Ghanawi yang diperintahkannya untuk menjaga Camp Militer di malam hari. Ketika sudah pagi, maka beliau mendatanginya dan bertanya, “Apakah engkau turun tadi malam?” Ia menjawab, “Tidak, kecuali untuk shalat dan menunaikan hajat.” Beliau bersabda, “Engkau sudah wajib (mendapatkan surga). Tidak ada kewajiban bagimu untuk mengerjakan amalan apapun setelahnya.”(6)


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (4/ 43), al-Turmudzi (1664, 1665), dan al-Imam Ahmad (1/ 62, 65, 75)

(2) Diriwayatkan oleh Abu Daud (3/ 9) dengan Nomor 2500, dan al-Turmudzi (1621)

(3) Diriwayatkan oleh Ibn Majah (2770), al-Hakim (2/ 81), dan al-Thabrani dalam al-Mujam al-Kabir (1/ 48)

(4) Diriwayatkan oleh al-Imam ahmad (4 125), al-Darimi (2/ 203)

(5) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (3/ 437) dan kedudukannya Shahih al-Isnad

(6) Diriwyatkan oleh Abu Daud dalam al-Jihad (17), dan al-Hakim (2/ 84). Maksud “wajib” dalam hadits adalah “engkau mengerjakan amalan yang menyebabkanmu wajib mendapatkan surge.” 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.