Hukum Upacara dan Hormat Bendera Menurut Islam

Bagaimana Hukum Upacara Bendera Menurut Islam? Apa Dalilnya? Apakah Hormat ke Bendera itu masuk dalam kategori Syirik?


Bendera merupaka symbol sebuah Negara. Kita tahu Negara Indonesia atau utusan dari Indonesia dalam sebuah acara, dengan bendera yang mereka bawa atau dengan bendera kecil yang dipasangkan di baju mereka. Kalau kita Indonesia, benderanya berwarna Merah dan Putih. Merah di bagian atasnnya, dan Putih di bagian bawahnya. 


Kalau kita mau merujuk sejarah Islam dan Arab, bendera itu sudah ada jauh sebelum Islam darang. Utamanya digunakan sekali ketika perang. Makanya, kalau kita membaca syair-syair Arab Jahiliyyah atau Pra Islam, maka kita akan mendapati syair yang berbicara tentang bendera.


Ketika Islam datang, Nabi Muhammad Saw tetap mempertahankan bendera dan menggunakanya. Beliau menggunakan bendera yang dikenal dengan nama al-Rāyah dan al-Liwā’. Kalau al-Rāyah berwarna hitam, yang digunakan ketika perang. Sedangkan al-Liwā’ berwarna putih, yang digunakan ketika kondisi damai. 


Makanya, tidak heran jikalau banyak kalangan Ahli Hadits yang membuat Bab Khusus dalam kitab mereka yang menjelaskan masalah ini. Dalam Sunan Abū Daud misalnya, kita akan mendapati Bāb fī al-Rāyah wa al-Alwiyah. Kemudian dalam Sunan al-Turmudzī, ada juga Bāb Mā Jāa fī al-Alwiyah. Juga ada di Sunan al-Baihaqī, yang  berjudul Bāb fī al-Rāyah wa al-Alwiyah. 


Abdullah bin Abbas mengatakan : 

كانت راية النبي صلى الله عليه وآله وسلم سوداء ولواؤه أبيض

“Rayah Nabi Saw berwarna hitam, dan Liwa’nya berwarna putih.” (HR al-Turmudzi dan Ibn Mājah)


Sammāk meriwayatkan bahwa ada seseorang dari kaumnya berkata: 

رأيت راية النبي صلى الله عليه وآله وسلم صفراء

“Kami melihat Rayah Nabi Saw berwarna kuning.” (Hr Abū Daud)


Jābir bin Abdullah meriwayatkan: 

أن النبي صلى الله عليه وآله وسلم دخل مكة ولواؤه أبيض

Nabi Muhammad Saw memasuki Makkah dan Liwa’nya berwarna putih.” (Hr al-Turmudzi)


Al-Hārits bin Hasab al-Bakri mengatakan: 

قدمنا المدينة فإذا رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم على المنبر، وبلال رضي الله عنه قائم بين يديه مُتَقَلِّدٌ سَيْفًا، وإذا رايات سود، فسألت: من هذا؟ فقالوا: عمرو بن العاص رضي الله عنه قدم من غَزَاةٍ

Kami sampai di Madinah, dan mendapati Rasulullah Saw di atas mimbarnya. Bilal ada di hadapannya dengan menghunus pedangnya. Kemudian tampakkan bendera-bendera hitam. Saya bertanya, “Siapakah ini?” Mereka menjawab, “Amru bin al-Ash kembali dari perang.” (HR Ahmad bin Ibn Mājah)


Ibn Hajar al-Asqalani dalam Kitabnya Fath al-Bāri (6/127), “Nabi Muhammad Saw dalam semua perangnya, memberikan bendera kepada pimpinan setiap kabilah untuk berperang di bawah naungannya.” 


Artinya, sudah menjadi kebiasaan, adat, dan kelumrahan dalam sebuah peperangan, hal pertama yang akan diburu adalah pembawa bendera. Pihak musuh akan berusaha menjatuhnnya ke bumi, sebagai bentuk kehinaan dan pangkal kekalahan, menjatuhkan semangat pasukan. Ketika bendera mampu bertahan dan tetap berkibar, itu menunjukkan kemuliaan dan keagungan, serta tanda semangat yang tidak pernah padam.


Jadi masalahnya bukan kain benderanya tersebut, bukan pula lambang yang ada di kain, namun makna yang ada di baliknya, yaitu harga diri Negara, harga diri pasukan yang berpegang. Kalau kita melihat sejumlah riwayat dalam hadits Rasulullah Saw, maka kita akan mendapati makna-makna yang menjelaskan masalah ini. 


Diriwayatkan oleh Anas bin Mālik bahwa Rasulullah Saw bersabda: 

أَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَأُصِيبَ -يعني: في غزوة مؤتة-، ثُمَّ أَخَذَهَا جَعْفَرٌ فَأُصِيبَ، ثُمَّ أَخَذَهَا عَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَأُصِيبَ وَإِنَّ عَيْنَىْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَتَذْرِفَانِ ثُمَّ أَخَذَهَا خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ مِنْ غَيْرِ إِمْرَةٍ فَفُتِحَ لَهُ

“(Dalam Perang Mu’tah) bendera diambil  oleh Zaid, kemudian ia tertembak. Kemudian diambil oleh Jafar, dan ia pun tertembak. Kemudian diambil oleh Abdullah bin Rawāhah, dan ia pun tertembak. Kedua mata Rasulullah Saw meneteskan air mata. Kemudian Khālid bin al-Walīd mengambilnya, dan ia memang dengannya.” (HR al-Bukhāri)


Abdullah bin Abbās meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah Saw duduk-duduk, dan di dekatnya ada Asmā binti Umais. Beliau menjawab salam dan bersabda: 

يَا أَسْمَاءَ، هَذَا جَعْفَرُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ مَعَ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَمِيكَائِيلَ مَرُّوا فَسَلَّمُوا عَلَيْنَا فَرُدِّي عَلَيْهِمُ السَّلَامَ، وَقَدْ أَخْبَرَنِي أَنَّهُ لَقِيَ الْمُشْرِكِينَ يَوْمَ كَذَا وَكَذَا قَبْلَ مَمَرِّهِ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثٍ أَوْ أَرْبَعٍ، فَقَالَ: لَقِيتُ الْمُشْرِكِينَ فَأُصِبْتُ فِي جَسَدِي مِنْ مَقَادِيمِي ثَلَاثًا وَسَبْعِينَ بَيْنَ طَعْنَةٍ وَرَمْيَةٍ فَأَخَذْتُ اللِّوَاءَ بِيَدِي الْيُمْنَى فَقُطِعَتْ، ثُمَّ أَخَذْتُهُ بِيَدِي الْيُسْرَى فَقُطِعَتْ، فَعَوَّضَنِي اللهُ مِنْ يَدِي جَنَاحَيْنِ أَطِيرُ بِهِمَا فِي الْجَنَّةِ مَعَ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِمَا، فَآكُلُ مِنْ ثِمَارِهَا مَا شِئْتُ

‘Wahai Asmā’, ini Ja’far bin Abī Thālib bersama Jibrīl dan Mikāīl. Mereka lewat dan mengucapkan salam kepada kita. Jawablah salamnya. Ia memberitahuku bahwa ia bertemu dengan kaum Musyrikin pada hari ini dan ini, sebelum ia bertemu Rasulullah Saw, kira-kira tiga atau empat hari sebelumnya. Kemudian ia mengatakan, “Saya bertemu kaum Musyrikin, kemudian saya tertembak di badan saya dari bagian kaki saya sebanyak tujuh puluh tiga tusukan dan tembakan panah. Kemudan saya mengambil  Liwa’ dengan tangan kanan saya, kemudian ditebas sampai putus. Kemudian saya mengambilnya dengan tangan kiri saya, kemudian ditebas sampai putus. Kemudian Allah SWT mengganti kedua tangannya saya dengan dua buah sayap yang saya gunakan untuk terbang di surga bersama Jibrīl dan Mikāīl.Saya bisa memakan buah-buahannya sesuka hati.” 


Asmā’ berkata: 

هَنِيئًا لِجَعْفَرٍ مَا رَزَقَهُ اللهُ مِنَ الْخَيْرِ، وَلَكِنْ أَخَافُ أَنْ لَا يُصَدِّقُ النَّاسُ، فَاصْعَدِ الْمِنْبَرَ فأَخْبِرْ بِهِ

“Selamat buat Jafar atas kebaikan yang dikaruniakan oleh Allah SWT kepadanya. Tetapi, saya khawatir jikalau orang-orang tidak percaya. Naiklah mimbar dan sampaikanlah hal tersebut (kepada khalayak.” 


Kemudian beliau naik mimbar dan bersabda: 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ جَعْفَرًا مَعَ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ لَهُ جَنَاحَانِ عَوَّضَهُ اللهُ مِنْ يَدَيْهِ سَلَّمَ عَلَيّ

“Wahai sekalia manusia, Jafar ada bersama Jibrīl dan Mikāīl, ia memiliki dua buah sayap yang Allah SWT gantikan untuk kedua tangannya. Ia mengucapkan salam untukku.” 


Kemudian beliau memberitahu mereka bagaimana kondsinya ketika bertemu dengan kaum Musyrikin dalam peperangan. Setelah itu, orang-orang mengetahui bahwa Jafar menemui mereka. Karena itulah ia dinamakan dengan al-Thayyār fi al-Jannah (orang yang terbang di Surga). (Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hākim dalam al-Mustadrak)


Kesimpulan Hukum Ucapan Bendera atau Hormat Bendera Menurut Islam


Ucapan bendera dan hormat bendera, baik dengan cara hormat dengan tangan atau dengan senjata atau cara-cara lainnya, baik dengan gerakan maupun dengan ucapan, semua itu bagian dari adat dan kebiasaan. 


Dan hokum asal adat atau kebiasaan adalah al-Ibāhah (boleh), selama tidak ada dalil yang melarangnya. Dalam al-Quran al-Karim dijelaskan: 

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ

Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas." (Surat al-An'am: 119)


Salmān  al-Fārisy meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw: 

الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللهُ فِى كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللهُ فِى كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Halal itu apa yang dihalalkan oleh Allah SWT, dan haram itu apa yang diharamkan dalam kitab-Nya. Apa yang didiamkan, maka ia masuk yang dimaafkan.” (Hr al-Turmudzī)


Upacara dan Hormat bendera atau hal-hal yang biasanya dilakukan ketika upacara bendera, semuanya berkaitan erat dengan point Cinta Tanah Air. Dan sudah maklum dalam Syariat Islam, Cinta Tanah Air merupakan sesuatu yang baik dalam Islam dan diperintahkan untuk ada di dalam diri setiap Muslim. Kaedah Syariay menjelaskan bahwa al-Wasāil lahā Ahkām al-Maqā shid, Sarana itu hukumnya adalah hokum tujuan. 


Jikalau tujuannya adalah ekspresi cinta tanah air, maka upacara bendera dan hormat bendera adalah sesuatu yang dibolehkan dalam Islam, bahkan disyariatkan. Sebab bagian dari bentuk Cinta Tanah Air. Itu maksud dan tujuan utama. Adapan upacara dan hormat bendera, itu hanyalah wasilah, jalan, dan saranan. Bukan tujuan. 


Kelompok yang Mengharamkan Upacara Bendera


Tidak dipungkiri, memang ada di kalangan ulama yang menyatakan haramnya ucapara bendera, dengan sudut pandang yang  berbeda dengan paparan kita di atas. Walaupun saya secara pribadi tidak setuju dengan pendapat ini, tapi say a akan menyajikan pendapat tersebut disini, lengkap dengan dalil-dalil yang menjadi sandaran mereka. 


Salah satunya adalah  fatwa yang keluarkan oleh al-Lajnah al-Dāimah li al-Buhūts  al-Ilmiyyah wa al-Iftā yang ketika dipimpin oleh Syekh Abdul Azīz bin Bāz, dengan nomor 2123, 1/ 235:

لا يجوز للمسلم القيام إعظاماً لأي علم وطني، أو سلام وطني، بل هو من البدع المنكرة التي لم تكن في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولا في عهد خلفائه الراشدين رضي الله عنهم، وهي منافية لكمال التوحيد الواجب وإخلاص التعظيم لله وحده، وذريعة إلى الشرك، وفيها مشابهة للكفار وتقليد لهم في عاداتهم القبيحة، ومجاراة لهم في غلوهم في رؤسائهم ومراسيمهم، وقد نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن مشابهتهم أو التشبه بهم

“Tidak boleh bagi seorang  Muslim mengagungkan bendera negara manapun atau nyanyian nasional manapun, bahkan ia merupakan salah satu bentuk bidah mungkar yang tidak ada di zaman Rasulullah Saw  dan tidak juga di zaman Khalifah Rasyidah. Ia menafikan kesempurnaan Tauhid yang bersifat wajib dan menafikan keikhlasan pengagungan hanya untuk Allah SWT semata. Ia menjadi jalan perbuatan syirik, menyerupai orang-orang kafir dan taklid terhadap kebiasaan-kebiasaan buruk mereka, mengikuti mereka yang berlebihan mengagungkan pemimpin mereka dan gambar mereka. Nabi Saw melarang untuk menyerupai mereka atau menyerupakan diri dengan mereka.” 


Kemudian dalam fatwa lainnya yang juga dkeluarkan ketika masih dipimpin oleh Syekh Abdul Azīz bin Bāz, dengan nomor 5963, 1/ 236: 

لا تجوز تحية العلم، بل هي بدعة محدثة، وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد. رواه البخاري ومسلم

“Tidak boleh bagi seorang Muslim hormat bendera. Ia adalah bidah. Nabi Saw bersabda, ‘Siapa yang membuat hal baru dalam urusan kami ini, maka ia tertolak.” … Diriwayatkan oleh al-Bukhāri dan Muslim)”


Masih ada sejumlah ulama lainnya yang berpendapat seiring dengan fatwa ini. Intinya meruncing ke satu hal bahwa Hormat Bendera dan Upacara itu, bagi mereka, merupakan bentuk pengagungan kepada selain Allah SWT, merusak Tauhid. Itu yang utama. 


Apakah Hormat ke Bendera itu Masuk dalam Kategori Syirik?


Jikalau merujuk kepada pendapat ulama yang mengharamkan, jelas bagi mereka itu syirik. Sebab bagi mereka, upacara bendera dan hormat bendera merupakan sesuatu yang menafikan Tauhid, mengagungkan sesuatu selain AllahSWT, apalagi benda mati. 


Tapi bagi saya, ini sama sekali tidak menafikan Tauhid. Saya berpegang dengan pendapat para ulama yang berada di pendapat awal bahwa hormat bendera dan upacara bendera ini bukan ke bendera, namun ke cinta tanah airnya yang memang diperintahkan dalam Syariat.  


Demikian catatan kita kali ini. Semoga bermanfaat. []