Hukum Warisan & Sebab Terjadinya

Hukum Saling Mewarisi dan Sebab-Sebab Terjadinya Pewarisan 

Saling mewarisi di antara kaum Muslimin adalah sesuatu yang wajib berdasarkan al-Quran dan Sunnah. Allah SWT berfirman, “Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan." (Surat al-Nisa: 7) 

Dan firman-Nya, "Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan." (Surat al-Nisa: 11) Dan sabda Rasulullah Saw, "Berikanlah warisan kepada yang berhak menerimanya. Dan apa yang tersisa, maka untuk ahli waris laki-laki yang paling utama.”(1) 

Dan sabdanya, “Allah SWT memberikan hak kepada setiap yang berhak. Maka, tidak ada wasiat bagi ahli waris.”(2)

SEBAB-SEBAB PEWARISAN

Sebab-Sebab Pewarisan: Seseorang tidak bisa ditetapkan mewarisi yang lainnya, kecuali dengan salah satu dari tiga sebab berikut ini, yaitu: 

1) Nasab/ Keturunan, yaitu Kerabat. Orang yang mewarisi adalah Bapak dari yang diwarisi, atau anak laki-lakinya, atau klannya seperti saudara laki-laki dan anak-anak mereka, paman dari pihak Bapak dan anak-anak mereka, berdasarkan firman Allah SWT, “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat.” (Surat al-Nisa: 33)

2) Pernikahan, yaitu akad yang sah terhadap istrinya, walaupun belum berhubungan badan dan belum berkhalwat, berdasarkan firman Allah SWT, “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu.” (Surat al-Nisa: 12) Pasangan suami istri saling mewarisi dalam Talak Raj’i, kemudian juga dalam Talak Bain jikalau suaminya menjatuhkan Talak dalam kondisi sakit yang mengantarkannya menuju kematian. 

3) Al-Wala’ (loyalitas). Maksudnya, seseorang memerdekakan budak sahaya, baik laki-laki maupun perempuan. Hal itu menyebabkan loyalitasnya kepada orang yang memerdekakannya. Jikalau orang yang dimerdekakan meninggal, kemudian ia tidak meninggalkan ahli waris, maka warisannya untuk yang memerdekakannya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Loyalitas itu untuk yang memerdekakan.”(3)

Catatan Kaki: 
(1) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (8/ 178, 189, 190), Muslim dalam al-Faraidh (2, 3), al-Turmudzi (2098), dan al-Imam Ahmad (1/ 292, 325)
(2) Diriwayatkan oleh al-Nasai (6/ 247), Abu Daud (2870), Ibn Majah (2713, 2714), dan al-Turmudzi (2120, 2121)
(3) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3/ 200/ 250), al-Nasai dalam al-Thalaq (30), Ibn Majah (2076, 2079), dan al-Imam Ahmad (1/ 281)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.