Masalah al-Khuntsa al-Musykil dalam Warisan

Masalah al-Khuntsa al-Musykil dalam Warisan

 

Maksudnya, Anak baru lahir yang belum jelas laki-lakinya dan perempuannya ketika dilahirkan, sehingga ditunggu sampai usia baligh untuk mengetahui statusnya. Jikalau ingin membagikan warisan, maka metode yang ditempuh oleh sejumlah ulama adalah dengan memberikannya setengah bagian laki-laki dan setengah bagian perempuan.

 

Cara kerjanya, Pokok Warisan diselesaikan dengan statusnya sebagai laki-laki, kemudian diselesaikan dengan statusnya sebagai perempuan. Ini jikalau al-Khuntsa satu saja. Sedangkan jikalau yang mengalami al-Khuntsa ada dua, maka Pokok Warisannya ada empat. Setelah penyelesaian, maka Anda bisa melihat Pokok warisan tersebut dengan empat teori penyelesaian warisan agar Anda bisa menjadikannya satu keutuhan, kemudian hasilnya Anda kalikan dengan jumlah statusnya. Hasilnya, itulah yang dijadikan sebagai Pokok Warisan. Kemudian Anda menempatkannya di Tabel setelah Tabel Pokok Warisan, kemudian Anda membagikannya dengan setiap Bagian Warisan, kemudian hasilnya Anda letakkan di atasnya. Kemudian Anda kalikan bagian setiap ahli waris, dengan apa yang ada di atasnya. Hasil perkaliannya, Anda gabungkan. Kemudian Anda membaginya sesuai dengan jumlah statusnya (status al-Khuntsa). Hasilnya, Anda letakkan di depan ahli waris di bawah Tabel Paling Besar. Kemudian Anda gabungkan bagian semua ahli waris. Jikalau jumlahnya sama dengan jumlah Tabel, maka cara kerjanya benar. Jikalau tidak, maka cara kerjanya salah. Contohnya:

 

Seseorang meninggal, kemudian meninggalkan seorang anak laki-laki dan Khuntsa, sebagai berikut:

 

6

4

 

2

3

12

Anak Laki-Laki

1

2

7

Khuntsa

1

1

5

 

Apa yang bisa diperhatikan dari masalah ini:

1_ Kita memberikan baginya dua pokok warisan, pertama sebagai laki-laki, dan kedua sebagai perempuan.

2_ Jikalau kita melihat kedua pokok warisan, maka kita akan mendapati al-Takhaluf di antara keduanya. Kemudian kita mengalikan bilangan sempurna salah satu dari keduanya, dengan bilangan kedua, sehingga hasilnya adalah enam. Kemudian kita mengalikannya dengan status al-Khuntsa, yaitu dua. Maka, hasilnya adalah dua belas, kemudian kita menempatkannya di Tabel Penyelesaian.

3_ Kita mengalikan bagian semua ahli waris dalam dua pokok warisan, dengan apa yang ada di atas keduanya, sehingga Khuntsa mendapatkan sepuluh. Kemudian kita membaginya sesuai dengan jumlah status khuntsa, yaitu dua. Maka, hasilnya adalah lima. Kemudian kita meletakkannya di depannya, di bawah Tabel Penyelesaian, dan itulah bagiannya. Hasilnya, anak laki-laki mendapatkan empat belas. Kemudian kita membaginya sesuai dengan jumlah status khuntsa, sehingga hasilnya adalah tujuh. Kemudian kita meletakkannya di depannya, di bawah Tabel Penyelesaian, dan itulah bagiannya seharusnya.

 

Misalnya:  Seseorang meninggal, kemudian meninggalkan dua anak laki-laki dan seorang al-Khuntsa, sebagai berikut…

 

10

6

 

 

3

5

30

Anak  Laki-Laki

1

2

11

Anak Laki-Laki

1

2

11

Al-Khuntsa

1

1

8

 

Perlu diperhatikan bahwa cara kerjanya tidak berbeda dengan cara kerja sebelumnya. Hanya saja ada metode lainnya dalam pandangan sebagian ulama, yaitu memberikan nishab paling kecil kepada setiap ahli waris yang terkait al-Khuntsa, baik untuk status keperempuanannya maupun untuk status kelaki-lakiannya, kemudian sisanya ditahan dulu sampai status al-Khuntsa itu jelas atau para ahli waris lainnya merelakan bagiannya.

 

Cara kerjanya, al-Khuntsa dianggap sebagai perempuan untuk hak dirinya sendiri, sehingga ia mendapatkan bagian paling minimal dan sifatnya yakin. Kemudian dianggap sebagai laki-laki untuk hak yang lainnya, agar mereka juga mendapatkan bagian paling minimal dan sifatnya yakin juga. Dan sisanya ditangguhkan. Ada suatu masalah, seseorang meninggal dengan meninggalkan anak laki-laki dan al-Khuntsa. Maka, dibuatkan baginya dua pokok warisan, yang pertama dikadarkan sebagai laki-laki, sehingga masalahnya dari bilangan dua. Kemudian di pokok warisan yang kedua, dikadarkan sebagai perempuan, sehingga posisi masalah adalah dari bilangan tiga. Kemudian dilihat kedua pokok masalah, ternyata ada al-Takhaluf. Pokok masalah yang pertama, dikalikan dengan pokok masalah yang kedua, sehingga hasilnya adalah enam, kemudian ia ditempatkan di Tabel Penyelesaian. Kemudian digabungkan bagian semua ahli waris di kedua pokok warisan, kemudian diletakkan di depannya, di bawah Tabel Penyelesaian. Sehingga, bagian laki-laki adalah tiga, bagian al-Khuntsa adalah dua, dan sisanya adalah satu, yang ditahan sampai jelas statusnya al-Khuntsa. Jikalau nanti statusnya jelas sebagai laki-laki, maka diberikan kepadanya. Jikalau perempuan, maka diberikan kepada anak laki-laki. Jikalau masih kesulitan menentukan statusnya sebenarnya, maka dilakukanlah Islah (berdamai) secara sukarela di antara mereka. Misalnya seperti ini:

 

2

3

6

Anak Laki-Laki

1

2

3

Al-Khuntsa

1

1

2

 

Perlu diperhatikan bahwa yang tersisa adalah satu, dengan bukti Pokok Tabel Penyelesaiannya adalah enam. Jumlah seluruh bilangan yang ada di bawahnya adalah lima. Satu yang tersisa inilah yang ditahan sampai jelas status al-Khuntsa al-Musykil. []

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.