Masalah-Masalah Seputar Akad Jual-Beli Salam

Masalah-Masalah Seputar Akad Jual-Beli Salam


PENGERTIAN

Pengertiannya: Al-Salam atau al-Salaf adalah menjual sesuatu yang dideskripsikan dalam al-Dzimmah (tanggungan). Yaitu, seorang Muslim membeli barang yang ditentukan deskripsinya, berupa makanan, atau hewan, atau selain keduanya sampai jangka waktu tertentu, kemudian ia membayar harganya dan menunggu waktu yang sudah ditentukan untuk bisa mendapatkan barang tersebut. Jikalau waktunya sudah selesai, maka penjual memberikan barang yang dimaksud. 


HUKUM

Hukumnya: Hukum al-Salam itu boleh, sebab ia adalah jual beli, dan jual beli itu hukumnya boleh berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang melakukan al-Salaf terhadap sesuatu, maka lakukanlah dengan takaran yang jelas, timbangan yang jelas, dan sampai waktu yang jelas.”(1) Dan riwayat Ibn Abbas radhiyallahu anhu bahwa ketika Nabi Muhammad Saw sampai di Madinah, penduduknya melakukan al-Salaf terhadap al-Tsimar (hasil pepohonan, seperti kurma dan selainnya) selama setahun, dua tahun, dan tiga tahun.(2)


SYARAT-SYARAT

Syarat-Syaratnya: Disyaratkan untuk sahnya al-Salam, hal-hal berikut ini:

1) Harganya harus tunai, berupa emas atau perak atau yang menduduki posisi keduanya berupa mata uang, agar jenis Riba tidak dijual dengan jenis yang sama secara al-Nasiah (tidak tunai).

2) Barang ditentukan dengan deskripsi sempurna yang benar-benar menggambarkan hakikatnya, yaitu dengan menyebutkan jenisnya dan kadarnya, agar tidak terjadi perbedaan pendapat antara seorang Muslim dengan Muslim lainnya, yang bisa menyebabkan kebencian dan permusuhan.

3) Waktunya harus jelas dan ditentukan, serta lama, seperti setengah bulan atau lebih. 

4) Harga harus diserah terimakan di Majelis akad agar tidak masuk ke dalam bab Ba’i al-Dain bi al-Dain (jual hutang dengan hutang) yang diharamkan. 

Dasar syarat-syarat ini adalah sabda Rasululah Saw, “Siapa yang melakukan al-Salaf terhadap sesuatu, maka lakukanlah dengan takaran yang jelas, timbangan yang jelas, dan sampai waktu yang jelas.”(3)


Hukum-Hukumnya

1) Waktunya menyesuaikan perubahan yang terjadi di pasaran, seperti sebulan dan sejenisnya. Sebab al-Salam dengan jangka waktu yang pendek, hukumnya sama dengan hukum Jual Beli. Dan untuk Jual Beli disyaratkan melihat barangnya dan memeriksanya.

2) Waktunya adalah waktu barang tersebut biasanya sudah ada, sehingga tidak sah bagi seorang Muslim melakukan al-Salam terhadap ruthab di musim semi, atau anggur di musim dingin misalnya, sebab hal itu bisa menyebabkan pertikaian di antara kaum Muslimin. 

3) Jikalau dalam akad tidak disebutkan lokasi penyerahan barang, maka barang tersebut wajib diserahkan di Majelis akad. Jikalau disebutkan dan ditentukan lokasi khususnya, maka diserahkan di lokasi yang ditentukan dalam akad. Tempat mana saja yang disepakati oleh keduanya sebagai tempat penyerahan, maka barang tersebut wajib diserahkan di lokasi itu. Sebab kaum Muslimin diikat oleh syarat-syarat mereka. 


Bentuk Penulisan Jual Beli

Setelah membca al-Basmalah yang mulia, kemudian ia mengucapkan, “Wa Ba’du: Fulan al-Fulani sudah membeli… bagi dirinya sendiri dari Fulan al-Fulani yang dilakukannya sendiri. Keduanya berada dalam kondisi sehat, akal sempurna, dan boleh menjalankan urusan keduanya. Ia membeli darinya, dengan ridha dan dengan pilihannya sendiri, semua rumah yang berada di lokasi ini di kota atau di desa ini, sebuah tanah dan bangunan, atas dan bawah, yang deskripsinya sebagaimana disaksikan oleh saksi. Kedua pihak yang bertransaksi saling membenarkan kondisinya yang mencakup ini dan ini… (dideskripsikan dengan deskripsi yang sempurna), sebelah timurnya dibatasi oleh rumah al-Fulani yang dikenal dengan Fulan; baratnya berbatasan dengan ini; utaranya dan selatannya dengan ini dan dengan ini… dengan seluruh manfaatnya, hal-hal yang menyertainya, jalan-jalannya, atasnya dan bawahnya, batu-batunya dan kayu-kayunya, pintu-pintunya dan jendela-jendelanya, tempat-tempat aliran airnya, semua manfaat yang ada di dalamnya dan yang ada di diluarnya dibeli sesuai dengan Syariat, tanpa ada pengecualian, tanpa ada syarat yang merusak jual beli dan membuatnya tidak sah. Dan itu dengan harga yang jumlahnya segini… Pembeli yang disebutkan di atas membayar kepada penjual yang disebutkan di atas, semua harga yang disebutkan di atas, kemudian menerimanya dengan penerimaan yang sesuai dengan Syariat, kemudian penjual yang disebutkan di atas menyerahkan barang yang dideskripsikan dan yang ditentukan di atas. Pembeli menerimanya dengan penerimaan yang sesuai Syariat, persis seperti penerimaan sebelumnya. Masing-masing penjual dan pembeli memberikan al-Khiyar kepada yang lainnya, kemudian keduanya memilih dengan ridha dan pilihannya sendiri untuk melanjutkan akad dan menyelesaikannya. Keduanya berpisah setelah adanya persaksian dua orang dari kalangan orang-orang yang mereka kenal, keduanya adalah Fulan dan Fulan… Selesai sudah di tanggal ini.”


Bentuk Penulisan al-Salam

Setelah memuji Allah SWT: 

“Fulan menetapkan bahwa ia menerima dan mengambil ini dan ini dari Fulan… sebagai al-Salam pada ini dan ini…  Berupa Gandum, misalnya (disebutkan jenisnya), dengan takaran kota ini. Itu dikerjakan setelah masa dua bulan penuh dari tanggalnya, dibawa ke tempat al-Fulani. Ia mengakui bisa memenuhinya dan mampu melakukannya. Dan ia sudah menerima uang al-Salam sesuai Syariat di Majelis akad dengan jumlah segini… Dan selesai di tanggal  ini.”


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh Muslim (127) dalam Kitab al-Musaqah, dan al-Nasai (7/ 290)

(2) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1, 2, 7) dalam Kitab al-Salam, Muslim (127, 128) dalam Kitab al-Musaqah.

(3) Sudah ditakhrij di bagian sebelumnya

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.