Masalah-Masalah Seputar Akikah

Masalah-Masalah Seputar Akikah


1) Pengertiannya: Akikah adalah domba yang disembelih untuk anak yang lahir di hari ketujuh kelahirannya. 


2) Hukumnya: Akikah itu Sunnah Muakkadah bagi yang mampu melakukannya bagi para wali anak yang baru dilahirkan, dan itu berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Setiap anak tergadai dengan akikahnya, yang disembelih di hari ketujuhnya,  kemudian diberi nama dan dicukur rambutnya.”(1)


3) Hikmahnya: Di antara hikmah akikah adalah bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat anak yang diberikan, kemudian juga menjadi wasilah memohon kepada-Nya agar sang anak dijaga dan dilindungi. 


Hukum-Hukumnya

Di antara Hukum Akikah

1) Keselamatan fisiknya dan Usianya: Usia dan Keselamatan fisik dari kekurangan yang bisa dipakai untuk kurban, maka juga cukup untuk dipakai dalam Akikah. Sesembelihan yang tidak bisa dipakai untuk kurban, maka tidak juga bisa dipakai untuk akikah. 


2) Makannya dan Pemberiannya Sebagai Makanan: Disunnahkan membaginya sebagaimana pembagian kurban, sehingga keluarganya bisa memakannya, menyedekahkannya, dan menghadiahkannya. 


3) Hal yang Disunnahkan Ketika Hari Akikah: Disunnahkan berakikah untuk anak laki-laki dengan doa domba. Sebab, Rasulullah Saw menyembelih untuk al-Hasan sebanyak dua ekor domba.(2) Sebagaimana disunnahkan untuk memberi anak tersebut nama di hari ketujuh kelahirannya, dengan memilih nama paling baik. Kemudan dipotong rambutnya dan bersedekah setimbangan rambutnya dengan emas atau perak atau uang yang setara dengan keduanya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Setiap anak tergadai dengan akikahnya, yang disembelih di hari ketujuhnya,  kemudian diberi nama dan dicukur rambutnya.”(3)


4) Azan dan Iqamah di kedua telinga anak yang dilahirkan: Para Ulama menyunnahkan jikalau anak sudah dilahirkan, maka diazankan di telinga kanannya dan di-Iqamahkan di telinga kirinya, berharap agar Allah SWT menjaganya dari Umm al-Shibyan, yaitu pengikut kalangan Jin, berdasarkan riwayat, “Siapa yang dilahirkan baginya anak, kemudian ia mengazankan di telinga kanannya dan meng-Iqamahkan di telinga kirinya, maka Umm al-Shibyan tidak akan memudharatkannya.”(4)


Catatan Kaki:

(1) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (5/ 8, 12), dan al-Nasai (7/ 166). Di-Shahihkan bukan oleh satu orang saja.

(2) Diriwayatkan oleh al-Turmuzi dan dishahihkannya

(3) Disunnahkan mencukur rambut anak laki-laki, bukan anak perempuan. Dimakruhkan mencukur rambutnya.

(4) Disebutkan oleh Ibn al-Sunni secara Marfu’ (617), al-Nawawi dalam al-Adzkar (253), kemudian juga dipaparkan oleh penulis al-Talkhis dan tidak dikomentarinya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.