Masalah-Masalah Seputar al-Dhaman

Masalah-Masalah Seputar al-Dhaman


PENGERTIAN 

Pengertiannya: Al-Dhaman adalah memikul hak dari orang yang seharusnya memikulnya. Misalnya, seseorang memiliki hak atas yang lainnya, kemudian diminta. Dan berkatalah orang yang boleh melakukan al-Tasharruf, “Itu urusan saya. Saya yang al-Dhamin (penanggung) baginya.” Pemilik hak bisa meminta haknya dari orang tersebut. Jikalau ia tidak menunaikannya, maka pemilik hak tersebut bisa meminta kepada yang al-Madhmun (orang yang dijamin).


HUKUM

Hukumnya: Al-Dhaman hukumnya boleh, berdasarkan firman Allah SWT, “dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya." (Surat Yusuf: 72) Maksudnya adalah al-Dhamin atau al-Kafil (penjamin). Kemudian juga berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “dan seorang yang menanggung hutang adalah yang bertanggungjawab.”(1) Dan sabdanya, “Kecuali ada salah seorang di antara kalian yang mau menanggungnya.”(2) Ini merupakan sabdanya tentang seseorang yang meninggal dan memiliki hutang, kemudian tidak ada yang melunasinya. Beliau tidak mau menyolatkannya. 


HUKUM-HUKUM

Hukum-hukum al-Dhaman, yaitu: 

a) Dalam al-Dhaman, yang dianggap adalah ridha al-Dhamin (yang menjamin). Sedangkan orang yang dijamin (al-Madhmun), maka ridhanya tidak diperlukan. 

b) Tanggungan al-Madhmun belum bebas kecuali setelah terbebasnya tanggungan al-Dhamin. Jikalau tanggungan al-Madhmun sudah bebas, maka itu artinya tanggungan al-Dhamin juga sudah bebas. 

c) Dalam al-Dhaman tidak harus mengetahui al-Madhmun. Boleh saja seseorang melakukan al-Dhaman untuk seseorang yang tidak dikenalnya sama sekali. Sebab, al-Dhaman itu adalah kebaikan dan Ihsan. 

d) Tidak ada al-Dhaman kecuali untuk hak yang tetap dalam tanggungan, atau sesuatu yang mendekati tetap seperti al-Ju’alah misalnya. 

e) Tidak masalah jikalau jumlah al-Dhamin itu banyak, sebagaimana tidak masalah jikalau al-Dhamin juga menjamin pihak lainnya.


Bentuk Penulisan al-Dhaman(3)

Setelah al-Basmalah dan memuji Allah SWT, “ Telah hadir untuk menyaksikannya pada hari ini di tanggal ini… Para saksinya bersaksi bahwa ia melakukan al-Dhaman dan al-Kafalah  terhadap tanggungan Fulan… Harganya segini… (Tunai, atau Kredit, atau hutang sampai waktu ini) dengan al-Dhaman yang sesuai syariat dalam tanggungannya dan hartanya. Ia mengakui bisa dan mampu melakukannya, mengetahui makna al-Dhaman, konsekwensinya dalam Syariat, al-Madhmun menerima al-Dhaman yang dilakukannya, dan itu terjadi pada tanggal ini…


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam al-Buyu’ (90), dan al-Turmudzi (212) dan dihasankannya.

(2) Terdapat dalam Shahih al-Bukhari

(3) Tujuan dituliskannya “Bentuk Penulisan” ini, sama sekali tidak bertujuan agar penulis al-Dhaman mengikutinya dan menirunya huruf demi huruf, serta tidak berbeda sedkit pun. Tujuannya hanyalah sebagai contoh penulisan saja dengan menunjukkan rukun-rukun penulisan, yaitu rukun-rukun yang harus ada, seperti menyebutkan kedua belah pihak yang terlibat dalam akad, apa yang diakadkan, dan menyebutkan para saksinya

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.