Masalah-Masalah Seputar al-Hajr (Boikot) & al-Taflis (Pembangkrutan)

 Masalah-Masalah Seputar al-Hajr (Boikot) & al-Taflis (Pembangkrutan)


Al-Hajr

Pengertiannya: 

Al-Hajar adalah melarang seseorang melakukan al-Tasharruf terhadap hartanya, karena usianya yang masih kecil atau gila atau al-Safah atau bangkrut. 


Hukumnya: 

Al-Hajr disyaratkan berdasarkan firman Allah SWT, “Dan janganlah kami serahkan kepada orang yang belum sempurna akalnya harta (mereka yang ada dalam kekuasaan) kamu yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu).” (Surat al-Nisa: 5) Dan berdasarkan perbuatan Rasulullah Saw yang pernah melakukan al-Hajr kepada harta Muadz ketika hutang menenggelamkannya, kemudian beliau menjualnya dan membayarkan hutang-hutangnya sampai tidak ada sedikit pun lagi hutang Muadz.(1) 


Hukum-Hukum Orang yang Ditetapkan baginya al-Hajr

a) Al-Shaghir (Anak Kecil): Ia adalah anak kecil yang belum bermimpi (usia baligh). Hukumnya, segala al-Tasharruf yang dilakukannya terhadap hartanya tidak diperbolehkan kecuali dengan ridha kedua orangtuanya, atau walinya jikalau ia seorang Yatim. Dan al-Hajr ini terus berlanjut sampai usia baligh, selama tidak tampak pada dirinya al-Safah (kebodohan), yang menyebabkan al-Hajr itu terus berlanjut sampai ia layak. Jikalau ia adalah anak Yatim yang memiliki wali, maka status al-Hajr terhadapnya tetap ada sampai ia berakal setelah masuk usia balighnya, berdasarkan firman Allah SWT, “Dan ujilah anak-anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk menikah. Kemudian jikalau menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta.” (Surat al-Nisa: 6)

b) Al-Safih (Orang yang Bodoh): Ia adalah orang yang suka bersikap mubazzir terhadap hartanya, membelanjakannya demi kepentingan syahwat-syahwatnya atau jeleknya al-Tasharruf yang dimilikinya karena minimnya pengetahuannya tentang hal-hal yang baik baginya, sehingga ditetapkan baginya al-Hajr dengan meminta kepada ahli warisnya. Ia dilarang untuk melakukan al-Tasharruf terhadap hartanya, baik dengan Hibah atau Menjual atau Membeli sampai ia Rasyid (berakal). Jikalau ia melakukan al-Tasharruf setelah al-Hajr, maka segala al-Tasharruf yang dilakukannya dianggap batil, tidak dijalankan satu pun. Sedangkan apa yang dilakukannya sebelum al-Hajr, maka dijalankan dan tidak ditolak sedikit pun. 

c) Al-Majnun (Gila): Ia adalah orang yang bermasalah akalnya, sehingga lemahlah pengetahuannya. Kemudian ditetapkan baginya al-Hajr dan tidak dijalankan segala al-Tasharruf yang ingin dilakukannya, sampai ia sembuh dan kesempurnaan akalnya kembali lagi, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Diangkat ketetapan dari tiga orang; orang gila yang akalnya bermasalah sampai ia sembuh; orang tidur sampai ia bangun; dan dari anak kecil sampai ia bermimpi.”(2)

d) Al-Maridh (Orang yang Sakit): Ia adalah orang sakit yang biasanya dikhawatirkan akan meninggal. Para ahli warisnya memiliki hak untuk menuntut penerapan al-Hajr terhadapnya, sehingga ia dilarang dari al-Tasharruf yang lebih dari kebutuhkannya, berupa untuk makan, minum, pakaian, rumah, dan obat-obatan sampai ia sembuh atau meninggal. 


Al-Taflis

Pengertiannya: 

Maksudnya, hutang seseorang menenggelamkan semua yang dimilikinya, sehingga yang tersisa dari hartanya tidak bisa membayar hutang-hutangnya. 


Hukum-Hukumnya: 

al-Taflis memiliki sejumlah hokum, yaitu: 

a) Ditetapkan baginya al-Hajr(3) jikalau para al-Ghurama’ menuntutnya, yaitu para pemilik piutang.

b) Menjual semua yang dimilikinya selain pakaiannya dan hal yang harus dimilikinya, seperti makanannya dan minumannya, kemudian membaginya kepada para pemilik piutang sesuai dengan jumlah piutang yang ada pada mereka. 

c) Jikalau ada di antara para pemberi piutang (al-Ghurama’) mendapati barangnya dan belum berubah, maka ia bisa mengambilnya dan tidak boleh dibagi kepada al-Ghurama’ lainnya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang mendapati barangnya pada seseorang yang sudah bangkrut (al-Muflis), maka ia lebih berhak.”(4) Ini disyaratkan juga, ia belum mengambil sedikit pun dari harganya. Jikalau tidak, maka ia adalah milik bersama para al-Ghurama’.

d) Orang yang sudah dipastikan kesulitannya oleh Hakim, dalam artian ia sama sekali tidak memiliki harta atau barang yang akan dijual untuk menutupi hutangnya, maka ia tidak boleh dituntut dan dipaksa, berdasarkan firman Allah SWT, “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.” (Surat al-Baqarah: 280) Dan berdasarkan sabda Rasulullah Saw kepada para al-Ghurama’ yang memberikan piutang kepada salah seorang sahabat, “Ambillah yang kalian dapatkan. Tidak ada bagi kalian kecuali itu.”(5)

e) Jikalau harta dibagikan, kemudian muncul pemberi piutang yang belum tahu dengan al-Hajr dan penjualan harta dari orang yang ditetapkan baginya al-Hajr, maka diambikan dari hak harta al-Ghurama’ agar dibagi di antara mereka semua. 

f) Orang yang sudah tahu bahwa al-Hajr ditetapkan kepada seorang pengutang (al-Madin), kemudian ia bermuamalah dengannya, maka ia sama sekali tidak berhak mendapatkan bagian bersama para al-Ghurama lainnya. Hutangnya tetap berada dalam tanggungan al-Muflis (pihak yang mengalami kebangkrutan) sampai ia mendapatkan kemudahan. 


Tatacara Penulisan al-Hajr Terhadap al-Muflis

Setelah al-Basmallah dan memuji Allah SWT, “Ini Qadhi al-Mahkamah Fulan, mempersaksikan kepada dirinya sendiri bahwa telah ditetapkan al-Hajr kepada Fulan dengan al-Hajr yang shahih dan sesuai syariat, melarangnya untuk melakukan al-Tasharruf terhadap harta yang diperolehnya melalui usahanya ketika ini dan setelahnya, dengan pelarangan penuh sesuai dengan hokum hutang-piutang yang sesuai syariat dan wajib berada dalam tanggungannya, yang diambil kelebihan hartanya. Jumlah hutangnya adalah seperti ini… Penjelasannya, ia adalah harta Fulan… Sesuai dengan catatan tanggalnya… kepada Fulan… Masing-masing al-Ghurama’ sudah menetapkan piutangnya di hadapan al-Mahkamah dengan catatan-catatan yang benar dan dianggap wujudnya dalam Syariat, dan masing-masing sudah bersumpah terkait hal itu. Dan itu dilakukan setelah ditetapkan di al-Mahkamah dengan bukti yang sesuai syariat, bahwa penghutang yang disebutkan di atas dalam kondisi sulit dan tidak mampu membayar hutang-hutangnya yang disebutkan. Kemudian hartanya yang ada, nilainya tidak bisa membayar hutang-hutangnya kecuali dengan cara al-Muhashashah (dibagi di antara para al-Ghurama’) dan penetapan secara Syariat. Ditetapkan baginya status al-Muflis dan sahnya penetapan status al-Hajr terhadapnya dengan hokum yang sesuai syariat dan bisa dipertanggungjawabkan. Ia tetap harus menyediakan dari hartanya untuk nafkahnya dan nafkah orang yang wajib dinafkahinya, seperti istrinya dan anaknya. Mereka adalah Fulan dan Fulan… Berupa makan, minum, dan segala sesuatu yang harus ada setiap harinya… sampai selesai penjualan semua barangnya dan harta kepemilikannya. Kemudian hasilnya di bagi di antara al-Ghurama’ sesuai dengan persentasi piutang mereka, berdasarkan aturan Syariat. Dan itu di tanggal…


Tatacara Penulisan al-Hajr terhadap al-Safih yang Suka Mubazzir

Setelah al-Basmallah dan memuji Allah SWT… Qadhi al-Mahkamah mempersaksikan bahwa ia menetapkan al-Hajr kepada Fulan dengan al-Hajr yang Shahih dan sesuai dengan Syariat, melarangnya untuk melakukan al-Tasharruf terhadap hartanya yang didapatkannya ketika ini dan yang setelahnya dengan pelarangan yang sesuai Syariat dan pelarangan yang dianggap wujudnya, setelah ditetapkan di hadapannya dengan bukti yang sesuai syariat bahwa Fulan yang disebutkan di atas adalah seorang yang al-Safih, yang merusak hartanya, bersikap Mubazzir, berlebih-lebihan dalam membelanjakannya dan berjual beli, layak ditetapkan baginya al-Hajr, dilarang melakukan al-Tasharruf sampai kondisinya kembali normal, akalnya kembali kokoh, dan kebaikannya kembali tampak. Ada kemaslahatan dalam penetapan status al-Hajr terhadapnya dan membatalkan segala al-Tasharruf yang dilakukannya. Ia menetapkan hukum baginya seperti itu, menetapkan bagi orang yang disebutkan di atas status al-Hajr, melarangnya dari al-Tasharruf dan menetapkan baginya hulum al-Safih dengan hokum yang sesuai syariat, kemudian melarangnya dari segala bentuk Muamalat dan membatalkan perbuatannya dari segala bentuk al-Tasharruf dengan pembatalan yang sesuai Syariat. Diwajibkan kepadanya menyediakan nafkah dari hartanya untuk kepentingan orang-orang yang wajib dinafkahnya, berupa istrinya Fulanah… dan anak-anaknya yang masih kecil. Mereka adalah Fulan… Dan segala hal yang wajib disediakannya setiap harinya menurut Syariat, dari tanggal ini… Dan semua itu diwajibkan dari hartanya dengan kewajiban yang sesuai Syariat, setelah ditetapkan di hadapannya dengan bukti yang sesuai Syariat bahwa ia (pihak yang ditetapkan baginya al-Hajr) mendapatkan bagian yang mencukupinya dan mencukupi orang-orang yang bersamanya, dan tidak berhak mendapatkan lebih dari kebutuhannya, dengan penetapan yang sesuai syariat… Ditulis di tanggal ini…


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Hakim (2/ 58), (4/ 101) dan dishahihkannya

(2) Diriwayatkan oleh Abu Daud (16), dan al-Turmudzi (1423)

(3) Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah berpandangan tidak ditetapkan al-Hajr terhadap al-Muflis (orang yang bangkrut)

(4) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (3/ 655, 656), dan Muslim dalam al-Musaqah (22)

(5) Diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Musaqah (4)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.