Masalah-Masalah Seputar Berburu dalam Islam

Masalah-Masalah Seputar Berburu dalam Islam


 PENGERTIAN

Pengertian: Maksudnya, hewan darat liar yang diburu, atau hewan air yang melazimi lautan. 


HUKUM

Hukumnya: Berburu dibolehkan bagi orang yang tidak berada dalam kondisi Ihram (al-Muhrim) untuk haji atau umrah, berdasarkan firman Allah SWT, “apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu.” (Surat al-Maidah: 2) Hanya saja dimakruhkan jikalau sekadar bercanda dan bermain-main. 


JENIS-JENIS BERBURU

Jenis-Jenisnya: Perburuan ada dua jenis: Buruan Lautan, yaitu berburu semua yang hidup di lautan, berupa ikan dan berbagai jenis hewan laut lainnya.

Hukumnya, dihalalkan bagi orang yang sedang dalam kondisi Ihram dan tidak sedang dalam kondisi Ihram. Tidak dimakruhkan kecuali ikan duyung dan babi air, karena keduanya memiliki nama yang sama dengan manusia, yang diharamkan memakannya. Dan babi, juga sama halnya. 

Buruan Daratan, banyak jenisnya. Maka, dibolehkan yang dibolehkan oleh syariat, dan dilarang yang dilarangnya. 


PENYEMBELIHAN HEWAN BURUAN

Penyembelihan Hewan Buruan: Cara menyembelih buruan laut, cukup dengan matinya, tidak layak dimakan dalam kondisi hidup, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Dihalalkan bagi kami dua bangkai; ikan dan belalang.”(1) Sedangkan untuk buruan darat, jikalau didapati dalam kondisi hidup, maka wajib disembelih. Kemudian tidak boleh dimakan kecuali dengan menyembelihnya, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Apa yang engkau buru dengan anjingmu yang tidak diajari dan engkau bisa menyembelihnya, maka makanlah.”(2) Jikalau engkau mendapatinya dalam kondisi hidup, maka boleh dimakan apabila terpenuhi dengan syarat-syarat berikut ini: 

1) Orang yang melakukan perburuan adalah orang yang boleh melakukan penyembelihan, seperti Muslim, berakal, dan Mumayyiz. 

2) Disebut nama Allah SWT ketika menembak atau melepaskan binatang pemburu, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Apa yang engkau buru dengan busurmu, kemudian engkau menyebut nama Allah SWT atasnya, maka makanlah. Dan apa yang engkau buru dengan anjingmu yang tidak diajari dan engkau bisa menyembelihnya, maka makanlah.”(3)

3) Alat perburuannya tajam (jikalau tidak menggunakan hewan pemburu) mampu menyobek kulit. Jikalau tidak tajam, seperti tongkat dan batu, maka tidak sah memakan yang diburunya, sebab ia seperti binatang yang dipukul. Kecuali jikalau didapati masih ada nyawanya, kemudian disembelih. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah Saw yang ditanya mengenai al-Mi’radh (panah yang menembak bukan dengan bagian tajamnya), “Jikalau terkena al-Mi’radh, maka jangan makan, sebab ia dipukul.”(4) Jikalau alat perburuannya adalah hewan pemburu, seperti Anjing atau Goshawk atau Falkon, maka ia haruslah yang diajari (terlatih), berdasarkan firman Allah SWT, “dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya).” (Surat al-Maidah: 4) Dan berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Dan apa yang engkau buru dengan anjingmu yang diajari, maka sebutlah nama Allah SWT atasnya, kemudian makanlah.”(5)

[Peringatan]: Tanda hewan pemburu yang diajari (terlatih), khususnya anjing; jikalau dipanggil, maka ia menjawab; jikalau disuruh duduk, maka ia akan duduk; jikalau disuruh menjauh, maka ia akan menjauh. Dan untuk “menjauh” ini diberikan toleransi untuk selain Anjing jikalau tidak memungkinkan. 

4) Anjing-Anjing lainnya tidak ikut serta bersama Anjing pemburu ketika menangkap buruan, sebab tidak diketahui Anjing mana yang menangkapnya; apakah yang disebutkan nama Allah SWT ketika melepasnya atau selainnya? Dan itu berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Jikalau engkau mendapati bersama anjingmu ada anjing lainnya, dan dalam kondisi sudah dibunuh, maka janganlah engkau memakannya, sebab engkau tidak tahu mana di antara keduanya yang membunuhnya.”(6)

5) Anjing tidak memakannya sedikit pun, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Kecuali jikalau dimakan oleh Anjing. Maka, janganlah engkau memakannya. Saya khawatir jikalau ia menangkap hanya untuk dirinya sendiri.”(7) Dan firman Allah SWT, “Maka makanlah yang mereka mereka tangkap untuk kalian.”


[Beberapa Peringatan]

1) Jikalau hewan yang diburu itu lenyap dari orang yang melakukan perburuan, kemudian mendapatinya memiliki bekas anak panah dan tidak ada bekas lainnya bersamanya, maka boleh memakannya selama tidak lebih dari tiga hari, berdasarkan sabda Rasulullah Saw kepada orang yang mendapati buruannya setelah tiga hari, “Makanlah, selama ia belum membusuk.”(8)

2) Jikalau hewan diburu, kemudian ia terjatuh ke air dan mati, maka tidak halal untuk dimakan, sebab bisa jadi ia mati karena air, bukan karena tembakan. 

3) Jikalau ada bagian tubuh buruan yang terpisah karena perbuatan hewan pemburu, maka bagian yang terpisah ini tidak halal dimakan, sebab ia masuk dalam bagian yang disebukan oleh Rasulullah Saw, “Apa yang dipotong dari yang masih hidup, maka ia bangkai.”(9)


Catatan Kaki: 

(1) Diriwayatkan oleh al-Baihaqi (1/ 254)

(2) Diriwayatkan oleh Abu Daud (2855), dan al-Imam Ahmad (4/ 195)

(3) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (7/ 112)

(4) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (7/ 11)

(5) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (7/ 112, 114)

(6) Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (4/ 380)

(7) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (8) dalam Kitab al-Zabaih, dan Muslim (3) dalam Kitab al-Shaid

(8) Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya

(9) Diriwayatkan oleh Ibn Majah (3217), al-Hakim (4/ 124), al-Turmdzi (1480) dengan lafadz, “Apa yang dipotong dari binatang ternak, sedangkan ia masih hidup, maka itu adalah bangkai.” Ada sanadnya ada yang dikomentari, namun ia baik untuk diamalkan.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.