Masalah-Masalah Seputar Haji Menurut Mazhab Syafii

Masalah-Masalah Seputar Haji Menurut Mazhab Syafii


(Masalah-Masalah Seputar Haji Menurut Mazhab Syafii, berdasarkan Kitab Matan Abi Syuja’)


Syarat wajib haji(1)  ada tujuh perkara : Islam, baligh, berakal, merdeka, memiliki perbekalan dan kenderaan,(2) jalan yang aman dan mungkin untuk melakukan perjalanan.(3) 

Rukun haji ada lima : Ihram(4) disertai niat, Wuquf di Arafah,(5) Thawaf di Baitullah,(6) Sa’I di antara Shafa dan Marwa,(7) Halq ( mencukur rambut ).(8)

Rukun ‘Umrah ada empat : Ihram, Thawaf, Sa’I, Halq atau Taqshir menurut salah satu pendapat.(9) 

Wajib Haji, selain rukun, ada tiga : Ihram dari Miqat,(10) melempat ketiga Jumrah,(11) dan Halq.(12)

Sunnah haji ada tujuh perkara : Ifrad, yaitu mendahulukan Haji dari Umrah,(13) Talbiyah,(14) Thawaf Qudum,(15) Mabit di Muzdalifah,(16) dua raka’at Thawaf,(17) Mabit di Mina,(18) Thawaf Wada’.(19) 

Ketika Ihram, laki – laki melepaskan pakaian berjahit, kemudian memakai sarung dan selendang putih.(20) 


(Syarh Syeikh DR. Musthafa Dibb al-Bugha)


(1) Dasar kewajibannya adalah firman Allah Swt, “ Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu ( bagi ) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah “. [ Ali Imran : 97 ]

Hadits : Di antaranya adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim ( 1337 ) dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “ Rasulullah berkhutbah kepada kami dan berkata, ‘ Wahai sekalian manusia, Allah telah mem-Fardhukan haji kepada kalin, maka berhajilah “. Dan Hadits Ash Shaihain, “ Islam dibangun di atas lima perkara….”. Lihatlah halaman 39 catatan kaki ke-1

  

(2) “ Perjalanan “ dalam ayat tadi ditafsirkan dengan keduanya. Diriwayatkan oleh Al Hakim ( 1 / 442 ) dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Saw tentang firman Allah Swt, “ Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu ( bagi ) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah “. Dia melanjutkan cerita, “ Maka dikatakan, ‘ Wahai Rasulullah, apakah perjalanan itu ? “. Beliau menjawab, “ Bekal dan kenderaan “. Dia berkata, “ Ini adalah Hadist Shahih “. 

  

(3) Maksudnya, tidak ada dalam perjalanan tersebut hal – hal yang akan menyakiti, serta ada waktu yang lapang untuk sampai ke tujuan menurut kebiasaan.

  

(4) Ketika pasti akan melakukannya, yaitu niat masuk ke dalam ibadah haji atau umrah. Dalam Al Mishbah Al Munir dikatakan, “ Seseorang ber-Ihram : Artinya, berniat masuk ke dalam ibadah haji atau umrah “. Maknanya yang paling tepat, “ Memasukkan dirinya ke dalam sesuatu, yang menyebabkan haram baginya sesuatu yang sebelumnya dihalalkan baginya “. Maksudnya disini adalah masuk, karena penulis telah menyebutkan niat bersamanya.  

  

(5) Berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “ Haji itu adalah Arafah. Barangsiapa yang datang pada malam Muzdalifah sebelum terbit Fajar, maka dirinya telah mendapatkan haji “. [ Diriwayatkan oleh At Turmudzi ( 899 ) Abu Daud ( 1949 ) dan selain keduanya ]. 

Muzdalifah : Dinamakan demikian, karena orang – orang berkumpul disana. 

  

(6) Berdasarkan firman Allah Swt, “ Dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu ( Baitullah ) “. [ Al Hajj : 29 ]

  

(7) Berdasarkan Khabar Ad Dar Quthny ( 1 / 270 ) dan selainnya dengan Sanad Shahih, bahwa Rasulullah Saw menghadap ke kumpulan orang banyak di tempat Sa’I seraya berkata, “ Ber-Sa’ilah, sesungguhnya mewajibkan Sa’I kepada kalian “. 

Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1565 ) dari Ibn Umar Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, “ Nabi Saw mendatangi Mekkah, kemudian Thawaf di Baitullah, kemudian shalat dua raka’at, kemudian Sa’I di antara Shafa dan Marwa “. Kemudian dia ( Ibn Umar ) membaca, ‘  Sesungguhnya telah ada pada ( diri ) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu “. [ Al Ahzab : 21 ]

  

(8) Untuk sebahagian kepala, atau Taqshir. Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 169 ) dan Muslim ( 1305 ), lafadz ini adalah riwayatnya, serta selain keduanya, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Saw mendatangi Mina, kemudian mendatangi Jumrah dan melemparnya, kemudian mendatangi kemahnya di Mina dan menyembelih, kemudian berkata kepada orang – orang yang bercukur, “ Ambillah “. Dalam riwayat lain, “ Bercukurlah “. Beliau memberi isyarat ke bagian kanannya, kemudian bagian kirinya, kemudian memberikannya kepada orang – orang.

Halq lebih utama bagi laki – laki dari Taqshir, berdasarkan perbuatan Nabi Saw – sebagaimana sebelumnya, dan berdasarkan sabdanya, “ Ya Allah, rahmatilah orang – orang yang Halq “. Mereka berkata, “ Orang – orang yang Taqshir wahai Rasulullah “. Beliau berkata, “ Ya Allah, rahmatilah orang – orang yang Halq “. Mereka berkata, “ Orang – orang yang Taqshir wahai Rasulullah “. Beliau berkata, “ Orang – orang yang Taqshir “. [ Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1640 ) Muslim ( 1301 ) dan selain keduanya ]. 

Taqshir lebih baik bagi perempuan. Di-Makruhkan baginya Halq. Berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “ Tidak ada Halq bagi perempuan. Bagi perempuan itu hanyalah Taqshir “, diriwayatkan oleh At Turmudzi ( 1984, 1985 ). Diriwayatkan oleh Abu Daud ( 914 ) dari Ali Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “ Nabi Saw melarang perempuan untuk men-Halq rambutnya “. 

  

(9) Ini lebih jelas. Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1568 ) dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “ Nabi Saw memerintahkan para sahabatnya melaksanakan ‘Umrah. Mereka Thawaf, kemudian Taqshir dan  melepaskan diri dari Ihram “. Dalam riwayat lain ( 1470 ) dari Ibn ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, “ Agar mereka Thawaf di Baitullah, di Shafa dan Marwa, kemudian men-Taqshir rambut mereka, kemudian melepaskan diri dari Ihram “. Dalam riwayat lain, “ Kemudian mereka melepaskan diri dari Ihram, Halq atau Taqshir “. [ Diriwayatkan oleh Muslim ( 1227 ) dari Ibn Umar Radhiyallahu ‘Anhuma ].   

  

(10) Yaitu, tempat yang ditentukan oleh Rasulullah Saw untuk penduduk setiap wilayah. Mereka harus ber-Ihram sebelum melampuinya ; jikalau mereka sengaja datang ke Mekkah untuk haji dan ‘Umrah. Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1454 ) dan Muslim ( 1181 ) dari Ibn ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “ Rasulullah Saw menentukan Dzu Al Hulaifah untuk Miqat penduduk Medinah, Juhfah untuk penduduk Syam, Qarn Al Manazil untuk penduduk Nejd, Yalamlam untuk penduduk Yaman. Semua itu untuk masing – masingnya. Yaitu, bagi orang yang mendatanginya dan bukan penduduknya ; jikalau dia ingin menunaikan Haji dan ‘Umrah. Barangsiapa yang bukan penduduk tempat – tempat itu, maka tempat Ihlalnya ( Ihramnya ) sesuai dengan penduduknya. Begitu juga dengan penduduk Mekkah, mereka ber-Ihlal darinya “. 

Ihlal adalah membaca Talbiyah dengan keras ketika Ihram. 

Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1458 ) dari Ibn Umar Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, “ Taktala kedua kota ini ditaklukkan, maka orang – orang mendatangi Umar dan berkata, ‘ Wahai Amirul Mukminin, bagi penduduk Nejd telah ditentukan tempat Ihramnya di Qarn ; sedangkan mereka jauh dari jalan kami. Jikalau kami ingin menuju Qarn, maka itu sulit bagi kami “. Dia berkata, “ Lihatlah papasannya dengan jalan kalian “. Kemudian dia menetapkan bagi mereka Dzat ‘Irq sebagai Miqat “. 

Dua kota : Maksudnya, Basrah dan Kufah

Menetapkan untuk mereka : Maksudnya, menetapkan Miqat untuk mereka berdasarkan Ijtihadnya. 

Tempat – tempat yang disebutkan dalam Hadits – hadits itu dikenal oleh para pelaksana haji dengan perantara para penduduknya, atau dengan perantara – perantara lainnya. Barangkali tempat – tempat itu dinamakan dengan nama – nama lainnya. 

  

(11) Yaitu, pada hari Tasyriq : Hari kesebelas, kedua belas dan ketiga belas Dzulhijjah. Jumrah ‘Aqabah saja pada hari Nahr ( penyembelihan binatang kurban ), yaitu hari ke sepuluh Dzul Hijjah. ( Lihatlah catatan kaki ke-4, halaman 109 )

Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1665 ) bahwa Ibn Umar Radhiyallahu ‘Anhuma melempar Jumlah yang dekat dengan tujuh kerikil, kemudian ber-Takbir mengiringi setiap pelemparan kerikil, kemudian maju untuk turun ke dataran. Setelah itu beliau berdiri lama sekali seraya menghadap kiblat. dia berdo’a dan mengangkat kedua tangannya. Kemudian dia juga melempar Jumrah pertengahan. Dia menuju arah kiri dan turun ke dataran. Setelah itu dia berdiri lama sekali seraya menghadap kiblat. Dia berdo’a dan mengangkat kedua tangannya. Kemudian dia melempar Jumrah Aqabah dari pertengahan lembah dan tidak berdiri di dekatnya. Setelah itu dia berkata, “ Beginilah saya melihat Rasulullah Saw melakukannya “. 

Jumrah adalah kumpulan kerikil di Mina. 

Jumrah yang dekat : Maksudnya, dekat dari Mina, yaitu Jumrah yang paling kecil. 

Aqabah adalah bagian bukit yang sulit di daki dan selainnya. Maksudnya adalah Jumrah yang paling besar. 

Melempar Jumrah pada hari An Nahr adalah setelah terbit matahari. Sedangkan ketika hari Tasyriq, maka dilakukan setelah matahari tergelincir. 

Diriwayatkan oleh Muslim ( 1299 ) dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “ Rasulullah Saw melempar ( Jumrah ) pada hari Nahr di waktu Dhuha. Di hari – hari setelahnya, maka beliau melakukannya setelah tergelincir matahari “. 

Diriwayatkan oleh Abu Daud ( 1973 ) dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, “ Kemudian beliau kembali ke Mina, dan menetap di sana selama hari Tasyriq. Beliau melempar Jumrah ; jikalau matahari telah tergelincir. Setiap Jumrah dengan menggunakan tujuh buah batu “.  

  

(12) Menganggap Halq sebagai bagian dari wajib Haji adalah perkataan yang lemah. Pendapat yang kuat, bahwa Halq adalah salah satu rukun haji dan Umrah. [ Lihatlah catatan kaki ke-4 halaman 109, dan cacatan kaki ke-1 halaman 110 ].

  

(13) Karena Rasulullah Saw mengerjakannya seperti ini ketika Haji Wada’ ( haji perpisahan ). Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 4146 ) dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “ Kami berangkat bersama Rasulullah Saw ketika Haji Wada’. Di antara kami ada yang Ihlal untuk Umrah. Di antara kami ada yang Ihlal untuk haji. Rasulullah Saw ber-Ihlal untuk Haji. Orang yang ber-Ihlal untuk haji, atau mengumpulkan antara Haji dan Umrah, maka mereka tidak melepaskan diri dari Ihramnya sampai hari Nahr ( penyembelihan ) “. 

  

(14) Di Sunnah untuk mencukupkan diri dengan Talbiyahnya Rasulullah Saw. Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1474 ) dan Muslim ( 1183 ), lafadz  ini adalah riwayatnya, dari Ibn Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa jikalau Rasululah telah duduk dengan posisi sempurna di atas untanya di Dzi Al Hulaifah, maka beliau mengucapkan, “ Labbaika Allahuma Labbaik, Labbaik La Syarika Labbaik, Innal Hamda Wan Nikmata Laka Wal Mulk La Syarika Laka “. Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1478 ) bahwa Ibn Umar Radhiyallahu ‘Anhuma ber-Talbiyah sampai ke Al Haram. Dia memberitahukan, bahwa Rasulullah Saw melakukannya. 

  

(15) Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1536 ) dan Muslim ( 1235 ) dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwa hal pertama yang dilakukan oleh Rasulullah Saw ; ketika sampai di Mekkah adalah berwudhu’, kemudian Thawaf di Baitullah “. 

  

(16) Berdasarkan Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim ( 1218 ) dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Saw mendatangi Muzdalifah, kemudian shalat Maghrib dan Isya’, serta berbaring sampai terbit fajar dan menunaikan shalat Shubuh. 

Menganggapnya sebagai Sunnah adalah pendapat yang lemah. Pendapat yang paling jelas dan kuat, bahwasanya hal ini hukumnya wajib. Di-Shahihkan oleh An Nawawy dalam Syarh Al Muhazzab. Menurutnya yang Shahih : Bahwa hal itu dikerjakan sejenak di bagian kedua malam, Wallahu ‘Alam. ( Al Majmu’ : 8 / 127 – 128 )

  

(17) Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1544 ) dari Ibm Umar Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, “ Rasulullah Saw datang, kemudian beliau Thawaf di Baitullah sebanyak tujuh kali. Setelah shalat dua raka’at di belakang Maqam “. 

  

(18) Karena Nabi Saw bermalam di sana. An Nawawy berkata ( Al Majmu’ : 8 / 188 ), “ Hadits tentang Mabitnya Rasulullah Saw di Mina selama malam – malam Tayriq, maka itu adalah Shahih dan Masyhur “. [ Lihatlah catatan kaki ke-1 halaman 111 ]. Menganggapnya sebagai bagian dari Sunnah adalah Dhaif, yang Rajih ( kuat ) adalah wajib. Berdasarkan Hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1553 ) dan Muslim ( 1315 ) dari Ibn Umar Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, “ Al ‘Abbas bin Abdul Mutthalib meminta idzin kepada Rasulullah Saw untuk Mabit di Mekkah selama malam – malam di Mina ; agar dia bisa memberi minumnya, maka beliau mengizinkannya “. Hal ini menunjukkan, bahwa tidak boleh meninggalkannya bagi orang yang tidak memiliki udzur. Di-syaratkan, bahwa dirinya berada di sana di sebahagian besar malam. 

  

(19) Paling jelas, hukumnya adalah wajib. Berdasarkan Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim ( 1327 ) dari Ibn ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, “ Orang – orang pergi dari setiap penjuru, maka Rasulullah Saw bersabda, ‘ Janganlah salah seorang di antara kalian pergi, sampai menunaikan kewajiban terakhirnya di Baitullah “. 

Hukumnya gugur dari perempuan yang Haidh dan Nifas. Berdasarkan Hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1668 ) dan Muslim ( 1328 ) dari Ibn ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa dirinya berkata, “ Orang – orang diperintahkan untuk menunaikan kewajiban terakhirnya di Baitullah. Hanya saja hal itu diringankan untuk perempuan Haidh “. Perempuan yang Nifas di-Qiyaskan dengan perempuan yang Haidh.  

  

(20) Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1470 ) dari Ibn ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, “ Nabi Saw berangkat dari Medinah setelah menyisir rambutnya dan memakai wewangian, memakai sarung dan selendangnya. Begitu juga dengan para sahabatnya. Beliau tidak melarang sarung dan selendang apapun yang dipakai “. 

Warna putihnya, berdasarkan Hadits Rasulullah Saw, “ Pakailah pakaian kalian yang berwarna putih “.  [ Lihatlah catatan kaki ke-5 halaman 74 ]. 

Di-Sunnahkan baginya untuk mandi. Kemudian memakai wewangian dan pakaian Ihram. Kemudian shalat Sunnah Ihram sebanyak dua raka’at. Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1479 ) dari Nafi’ berkata, “ Jikalau Ibn Umar Radhiyallahu ‘Anhuma ingin berangkat ke Mekkah, maka dia memakai wewangian yang tidak memiliki bau harum, kemudian mendatangi Mesjid di Dzi Al Hulaifah dan shalat. Setelah itu beliau menunggangi kenderaannya. Jikalau dia telah duduk sempurna di atas kenderaannya, maka dia ber-Ihram. Kemudian dia berkata, “ Beginilah saya melihat Nabi Saw melakukannya “. 

Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1465 ) dan Muslim ( 1189 ) dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “ Saya memakaikan wewangian untuk Rasulullah Saw untuk Ihramnya ; ketika beliau Ihram, serta untuk Hil-nya ( melepaskan diri dari Ihram ) sebelum Thawaf di Baitullah “. Yaitu, Thawaf rukun.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.