Masalah-Masalah Seputar I’tikaf Menurut Mazhab Syafii

Masalah-Masalah Seputar I’tikaf Menurut Mazhab Syafii


(Masalah-Masalah Seputar I’tikaf Menurut Mazhab Syafii, berdasarkan Kitab Matan Abi Syuja’)


( Pasal ) I’tikaf adalah Sunnah,(1) syaratnya ada dua : Niat dan berdiam diri di Mesjid. 

Tida boleh keluar dari I’tikaf yang dinadzarkan, kecuali untuk kebutuhan,(2) atau udzur : Haidh atau sakit yang tidak memungkinkannya berdiam diri. 

I’tikaf batal dengan Jima’.(3) 


(Syarh Syeikh DR. Musthafa Dibb al-Bugha)


(1) Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1922 ) dan Muslim ( 1172 ) dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwa Nabi Saw melakukan I’tikaf di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sampai Allah mewafatkannya. Kemudian istri – istrinya ber-I’tikaf setelah itu. 

Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1936 ) dengan redaksi yang panjang dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, bahwa Nabi Saw melakukan I’tikaf di sepuluh terakhir bulan Ramadhan. 

I’tikaf : Maksudnya, berdiam diri. 

  

(2) Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 1925 ) dan Muslim ( 297 ) dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “ Rasulullah Saw memasukkan kepalanya ke dalam kamarku ; padahal beliau di dalam Mesjid, maka saya membentangkan kakiku untuknya. Beliau tidak masuk ke dalam rumah, kecuali untuk kebutuhan ; jikalau beliau sedang I’tikaf “.

Maka saya membentangkan kakiku untuknya : Maksudnya, maka saya menyisir rambutnya.  

  

(3) Berdasarkan firman Allah Swt, “ ( tetapi ) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid “. [ Al Baqarah : 187 ] Maksudnya, janganlah kalian ber-Jima’ dengan istri kalian ; sedangkan kalian ber-I’tikaf. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.