Masalah-Masalah Seputar Perbudakan (al-Riqq) dalam Islam

Masalah-Masalah Seputar Perbudakan (al-Riqq) dalam Islam


PENGERTIAN

Pengertiannya: Makna al-Riqq adalah al-Milk (kepemilikan) dan al-Ubudiyyah (penghambaan/ perbudakan).(1) Sedangkan al-Raqiq adalah budak yang dimiliki. Diambil dari kata al-Riqqah (kelembutan), lawan dari kata al-Ghalidz (kasar). Sebab, seorang budak bersikap lembut kepada Tuannya, bersikap halus dan tidak kasar, sesuai dengan hokum kepemilikan yang berlaku atas dirinya. 


HUKUM PERBUDAKAN DALAM ISLAM

Hukum Perbudakan itu boleh, sesuai dengan firman Allah SWT, “Dan hamba sahayamu.” (Surat al-Nisa: 36) Dan sabda Rasulullah Saw, “Siapa yang menampar budaknya atau memukulnya, maka Kafaratnya adalah memerdekakannya.”(2)


SEJARAH & PERKEMBANGANNYA

Sejarahnya dan Perkembangannya: Perbudakan dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Ia sudah didapati di tengah masyarakat dunia paling terdahulu, seperti masyarakat Mesir, China, India, Yunani, dan Romawi, disebut dalam kitab-kitab langit seperti Taurat dan Injil. Hajar; Ibu Ismail bin Ibrahim –alaihima wa ala nabiyyina afdhalus shalat was salam- adalah seorang budak perempuan, hadiah dari penguasa Mesir kepada Sarah; istri Ibrahim, kemudian ia menghadiahkannya kepada suaminya Ibrahim alaihissalam. Kemudian beliau menggaulinya dan melahirkan Ismail alaihissalam. 


Perkembangan Perbudakan dilatari oleh Sebab-Sebab Berikut Ini:

1) Perang. Jikalau sekelompok manusia menyerang kelompok lainnya, kemudian berhasil mengalahkannya dengan kekerasan, maka kelompok yang memang memperbudak para wanita dari kelompok yang kalah dan anak-anak mereka. 

2) Kefakiran. Seringkali kefakiran mendorong manusia untuk menjual anak-anak mereka sebagai budak bagi yang lainnya. 

3) Perampasan dan Pembajakan. Dahulu, kelompok besar orang Eropa singgah di Afrika, kemudian mereka merampas orang-orang Afrika dan menjual mereka di pasar Budak Eropa. Sebagaimana para bajak laut Eropa menghadang kapal-kapal yang lewat di lautan, kemudian mereka melakukan kezaliman kepada para penumpangnya. Jikalau para bajak laut itu sudah berhasil menundukkann mereka, maka mereka dijual di pasar budak di Eropa, kemudian para bajak laut itu menikmat nilai jualnya. 

Islam adalah agama Allah SWT yang hak, tidak memperbolehkan dari sebab-sebab di atas, kecuali satu sebab saja, yaitu Perbudakan melalui perang. Dan itu merupakan bentuk kasih sayang kepada manusia. Seringkali, pihak yang menang dengan kemenangan yang mereka dapatkan, membuat mereka melakukan pengrusakan di bawah pengaruh naluri “ingin balas dendam”, sehingga mereka membunuh para wanita dan anak-anak karena tidak mendapatkan para laki-laki. Maka, Islam mengizinkan para pengikutnya untuk memperbudak para wanita dan anak-anak untuk mempertahankan kehidupan mereka, utamanya. Kemudian, persiapan untuk membahagiakan mereka dan membebaskan mereka setelahnya. Sedangkan pasukan perang dari golongan laki-laki, maka Islam memberikan pilihan kepada Imam untuk membebaskan mereka tanpa tebusan, atau menebus mereka dengan harta atau senjata atau para laki-laki lainnya. Allah SWT berfirman, “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir." (Surat Muhammad: 4)


MUAMALAH ATAU INTERAKSI DENGAN BUDAK DALAM ISLAM

Muamalah Terhadap Budak: Cara Muamalah terhadap budak itu sama di semua umat, tidak ada perbedaan besar di antara mereka. Hanya saja, kita mengecualikannya dari umat Islam. Dahulu di semua umat, budak itu tidak lebih dari alat yang dikendalikan, digunakan untuk segala sesuatu dan dimanfaatkan untuk segala tujuan, ditambah lagi dengan kondisinya yang dibuat lapar, dipukul, dikasih beban yang tidak mampu dipikulnya tanpa sebab, sebagaimana ia juga disetrika dengan api, di potong bagian-bagian tubuhnya karena sebab sepele. Mereka menamakannya dengan alat yang bernyawa, barang yang memiliki kehidupan.

Budak dalam Islam, dimuamalahi dengan Muamalah yang layak sesuai dengan kemuliaan manusia dan kehormatannya. Islam mengharamkan memukulnya, sebagaimana juga mengharamkan untuk menghinanya dan mencacinya, diperintahkan untuk berbuat baik kepadanya. Ini sejumlah Nash yang menyatakan hal itu: 

1) Firman Allah SWT, “Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.” (Surat al-Nisa: 36)

2) Sabda Rasulullah Saw tentang mereka, “Mereka adalah saudara laki-laki kalian dan paman-paman kalian. Allah SWT menempatkan mereka di tangan kekuasaan kalian. Siapa yang saudaranya berada di bawah kekuasaannya, maka beri makanlah ia dari apa yang ia makan, dan pakaiankanlah ia dari apa yang ia pakai. Janganlah kalian membebani mereka dengan sesuatu yang tidak mampu mereka lakukan. Jikalau kalian membebani mereka, maka bantulah mereka.”(3) 

Dan sabdanya, “Siapa yang menampar budaknya atau memukulnya, maka Kafaratnya adalah memerdekakannya.”(4)

Dan di atas semua ini, Islam menyeru untuk memerdekakan budak dan mendorong umatnya untuk melakukannya. Buktinya sebagai berikut ini:

a) Islam menjadikan pemerdekaan budak sebagai Kafarat untuk kriminalitas pembunuhan yang bersifat al-Khata’, begitu juga dengan sejumlah pelanggaran lainnya, seperti Zihar, melanggar sumpah atas nama Allah SWT, dan melanggar kehormatan bulan Ramadhan dengan tidak berpuasa. 

b) Perintah melakukan al-Mukatabah kepada budak yang memintanya, dan membantunya untuk mewujudkannya dengan sejumlah harta. Allah SWT berfirman, “Dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.” (Surat al-Nur: 33)

c) Menjadikan bagian khusus dari harta zakat untuk membantu pemerdekakan budak. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surat al-Taubah: 60)

d) Kemerdekaan budak menular ke bagian tubuhnya yang lain jikalau ada bagiannya sudah dimerdekakan. Jikalau seorang Muslim memerdekakan bagian seorang budak, maka ia diperintahkan untuk menentukan harga bagian lainnya, kemudian ia membayar harganya kepada pemiliknya dan budak tersebut bisa dimerdekakan sepenuhnya. Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang memerdekakan bagiannya pada seorang budak, kemudian ia memiliki uang, maka budak tadi ditentukan harganya dengan harga yang adil, kemudian ia memberikan bagian-bagian para sekutunya dan memerdekakan budak tersebut.”(5)

e) Izin untuk menggauli para budak perempuan agar mereka suatu hari nanti bisa menjadi Um al-Walad (Ummahat al-Awlad), sehingga mereka bisa merdeka karenanya. Rasulullah Saw bersabda, “Budak perempuan mana saja yang melahirkan dari Tuannya, maka ia merdeka setelah kematian tuannya.”(6)

f) Menjadikan Kafarat memukul budak, dengan memerdekakannya. Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang memukul budaknya karena pelanggaran yang tidak dilakukannya, atau menamparnya, maka Kafaratnya adalah memerdekakannya.”(7)

g) Seorang budak lansung berstatus merdeka, ketika dimiliki seseorang yang memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Rasulullah Saw bersabda, ‘Siapa yang memiliki kerabat Dzu Rahim yang Mahramnya, maka ia merdeka.”(8)


[Peringatan]

Jikalau ada yang mengatakan, “Kenapa Islam tidak mewajibkan umatnya untuk memerdekakan budak, dengan kewajiban mutlak yang tidak mungkin seorang Muslim pun meninggalkannya?”

Kita menjawab, “Ketika Islam datang, para budak sudah ada di tangan khalayak. Tidak layak bagi syariat Allah SWT yang adil dan turun untuk menjaga jiwa manusia, kehormatannya, dan hartanya; mewajibkan manusia untuk mengeluarkan semua itu dari harta mereka. Sebagaimana tidak layak memerdekakan semua budak, sebab para wanita dan anak-anak, bahkan juga dari laki-laki; ada yang belum mampu menanggung hidupnya sendiri karena tidak memiliki kemampuan untuk bekerja dan tidak memiliki pengetahuan tentang cara-cara mendapatkannya. Mempertahankannya statusnya sebagai budak bersama Tuannya yang merupakan seorang Muslim, yang memberinya makan dari apa yang dimakan Tuannya, memberinya pakaian dari apa yang dipakai Tuannya, serta tidak membebaninya dengan pekerjaan yang tidak mampu dikerjakannya, itu jauh lebih baik seribu derajat daripada ia menjauh dari rumah yang memberikan kebaikan kepadanya dan menyayanginya layaknya keluarganya sendiri. 


Catatan Kaki: 

(1) Sebagiannya mengartikan: “Lemah secara hokum, yang dialami sejumlah orang.”

(2) Diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Iman (29)

(3) Diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Iman (38, 39)

(4) Diriwayatkan oleh Muslim (29) dalam Kitab al-Iman

(5) Diriwayatkan oleh al-Bukhari (2522), Muslim dalam al-Iman (17), Malik dalam al-Muwattha’ (772, 789). Makna “harga yang adil” adalah tidak memahalkan harganya dan tidak pula merugi, sesuai dengan sabdanya di beberapa riwayat, “Tidak kurang, dan tidak juga zalim.”

(6) Diriwayatkan oleh al-Dar Quthni (4/ 132), al-Thabrani (11/ 209), al-Hakim dengan sanad yang dhaif, diamalkan oleh Jumhur ulama. Mariyah berstatus merdeka setelah ia melahirkan Ibrahim bin Rasulullah Saw. 

(7) Diriwayatkan oleh Muslim dalam al-Iman (30), dan al-Imam Ahmad (2/ 45)

(8) Diriwayatkan oleh al-Turmudzi (1365), Abu Daud (2449), al-Imam Ahmad (5/20), dan Ibn Majah (2524, 2525)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.