Masalah-Masalah Seputar Shalat Dua Hari Raya Menurut Mazhab Syafii

 Masalah-Masalah Seputar Shalat Dua Hari Raya Menurut Mazhab Syafii


(Masalah-Masalah Seputar Shalat Dua Hari Raya Menurut Mazhab Syafii, berdasarkan Kitab Matan Abi Syuja’)


( Pasal ) Shalat dua hari raya adalah Sunnah Muakkad,(1) yaitu dua raka’at.(2) Di raka’at pertama ; takbir sebanyak tujuh kali, selain Takbiratul Ihram. Di raka’at kedua ; takbir sebanyak lima kali, selain Takbirul Qiyam ( Takbir bangkit dari sujud ).(3)

Berkhutbah setelahnya dua kali : Takbir di bagian pertama sebanyak sembilan kali, dan bagian keduanya tujuh kali.(4)

Takbir semenjak matahari terbenam dari malam ‘Id, sampai Imam mengerjakan shalat.(5) Ketika Idul Adha : Setelah shalat – shalat Fardhu, semenjak Shubuh hari ‘Arafah sampai Ashar di akhir hari Tasyriq.(6) 


(Syarh Syeikh Dr. Musthafa Dibb al-Bugha)

(1) Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 913 ) dan Muslim ( 889 ) dari Abu Sa’id Al Khudry Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “ Ketika hari raya Idul Fithri dan Idul Adha, Rasulullah Saw berangkat ke lapangan. Pertama kali dilakukannya adalah shalat, kemudian berpaling dan berdiri menghadap orang banyak ; ketika itu orang – orang duduk bershaf. Kemudian beliau menasehati mereka dan memerintahkan mereka. Jikalau beliau ingin menunjukkan sekelompok orang dan memerintahkan mereka berjihad, maka beliau akan melakukannya, atau memerintahkan sesuatu yang diperintahkan kepadanya, kemudian beliau berpaling “. 

  

(2) Diriwayatkan oleh An Nasa-I ( 3 / 111 ) dan selainnya, dari Hadits Umar Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “ Shalat Idul Fithri adalah dua raka’at, dan shalat Idul Adha adalah dua raka’at….- kemudian berkata : Berdasarkan lisan Muhammad Saw “. Ijma’ berdasarkan hal ini.

  

(3) Dari ‘Amru bin ‘Auf Al Muzanny Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Saw takbir ketika shalat dua hari raya : di raka’at pertama sebanyak tujuh kali, dan di raka’at terakhir sebanyak lima kali sebelum membaca (Al Fatihah ) “. Diriwayatkan oleh At Turmudzi ( 536 ) dan berkata, “ Ini adalah periwayatan terbaik tentang Bab ini dari Nabi Saw “. 

  

(4) Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 920 ) dan Muslim ( 888 ) dari Ibn Umar Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, “ Nabi Saw, Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘Anhuma mengerjakan shalat dua hari raya sebelum Khutbah “. 

Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 932 ) dari Ibn ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, “ Saya berangkat bersama Nabi Saw ketika hari raya Idul Fithri dan Idul Adha, kemudian beliau shalat dan khutbah “. 

Diriwayatkan oleh Asy Syafi’I Rahimahullah ( Al Umm : 1 / 211 ) dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah berkata, “ Sunnahnya ketika dua hari raya, seorang Imam berkhutbah sebanyak dua kali, dipisahkan di antara keduanya dengan duduk “. Diriwayatkan oleh Al Baihaqy ( 3 / 299 ) berkata, “ Sunnahnya, khutbah dibuka dengan sembilan kali Takbir secara berurutan, dan bagian keduanya sebanyak tujuh kali Takbir secara berurutan “. 

  

(5) Berdasarkan firman Allah Swt, “ Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur “. [ Al Baqarah : 185 ] Mereka berkata, “ Ini adalah Takbir ketika hari raya Idul Fithri, dan di-Qiyaskan dengan Idul Adha “. 

  

(6) Diriwayatkan oleh Al Hakim ( 1 / 299 ) dari ‘Ali dan ‘Ammar Radhiyallahu ‘Anhumu, bahwa Nabi Saw men-Jahrkan Bismillahirrahmanirrahim dalam shalat – shalat Fardhu, ber-Qunut di shalat Shubuh, ber-Takbir di hari Arafah, semenjak shalat Shubuh dan dihentikannya ketika shalat Ashar di akhir hari Taysriq “. Dia berkata, “ Ini adalah Hadits yang Shahih sanadnya. Sepengetahuanku, tidak ada Jarh ( cela ) dalam periwayatannya “. 

Al Bukhari berkata, “ Umar Radhiyallahu ‘Anhu Takbir di Qubah-nya, sehingga penghuni Mesjid mendengarnya, dan mereka-pun ber-Takbir. Orang – orang yang berada di pasar-pun ber-Takbir, sehingga Medinah berguncang karena Takbir. Ibn Umar Radhiyallahu ‘Anhuma Takbir di Mina selama hari – hari itu, selesai mengerjakan shalat – shalat Fardhu, di atas kasurnya, di rumahnya, tempat duduknya dan diperjalannya. Semua hari itu “. ( Kitab Al ‘Idain, Bab : Takbir Ayyam Mina )

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.