Masalah-Masalah Seputar Shalat Istisqa’ (Minta Hujan) Menurut Mazhab Syafii

Masalah-Masalah Seputar Shalat Istisqa’ (Minta Hujan) Menurut Mazhab Syafii


(Masalah-Masalah Seputar Shalat Istisqa’ (Minta Hujan) Menurut Mazhab Syafii, berdasarkan Kitab Matan Abi Syuja’)


( Pasal ) Shalat Istisqa’ hukumnya Sunnah.(1) Imam memerintahkan orang – orang : Taubat, sedekah, meninggalkan segala kezhaliman, berdamai dengan para musuh dan berpuasa tiga hari.(2) Kemudian para hari ke-empat, berangkat bersama mereka dengan memakai pakaian harian,(3) tenang dan tunduk,(4) shalat dua raka’at bersama mereka seperti shalat dua hari raya,(5) kemudian berkhutbah setelah mengerjakan keduanya,(6) membalikkan selendangnya,(7) memperbanyak do’a dan Istighfar,(8) berdo’a dengan do’a Rasulullah Saw, yaitu : Ya Allah, jadikanlah ia hujan rahmat, dan janganlah menjadikannya hujan adzab, bukan kecelakaan dan bencana, bukan kehancuran dan tenggelam.(9) Ya Allah, untuk bukit dan onggokan tanah, akar – akar tumbuhan dan lembah – lembah. Ya Allah, jauhkanlah dari kami dan janganlah menjadi bencana bagi kami.(10) Ya Allah, turunkan kepada kami hujan, bantuan, kebaikan, keelokan dan kesuburan, lebat lagi banyak, mencakup dan menyeluruh, serta terus menerus sampai Hari Kiamat.(11) Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah jadikan kami bagian dari orang – orang yang putus asa.(12) Ya Allah, sesungguhnya para hamba dan negeri – negeri mengalami kelelahan, kelaparan dan kesempitan yang tidak bisa kami adukan ; kecuali kepada-Mu.(13) Ya Allah, tumbuhkanlah tumbuhan untuk kami dan perbanyaklah untuk kami susu ( hewan peliharaan kami ).(14) Turunkanlah kepada kami berkah langit dan tumbuhkanlah untuk kami berkah bumi. Hilangkanlah musibah dari kami. Tidak ada yang mampu menyibakkannya selain diri-Mu. Ya Allah, kami memohon ampunan-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun. Turunkanlah kepada kami banyak hujan dari langit.(15) 

Mandi di lembah ; jikalau airnya mengalir,(16) ber-Tasbih untuk kilat dan petir.(17) 


(Syarh Syeikh Dr. Musthafa Dibb al-Bugha)

(1) Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 966 ) dan Muslim ( 894 ) dari Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Saw pergi ke lapangan dan Istisqa’. Beliau menghadap kiblat dan membalikkan selendangnya, serta shalat dua raka’at “. Dalam riwayat Al Bukhari, “ Beliau men-Jahrkan bacaan di kedua raka’at tersebut “. 

  

(2) Karena perkara – perkara ini berpengaruh dalam pengabulan do’a, sebagaimana terdapat dalam berbagai Hadits. Maksud musuh di sini adalah seorang muslim yang memiliki permusuhan duniawi dengan dirinya.

  

(3) Seperti inilah di atur dalam berbagai Syarh. Artinya, pakaian kerja yang tidak akan menimbulkan ketakjuban dan rasa sombong. 

  

(4) Diriwayatkan oleh Ibn Majah ( 1268 ) dari Ibn ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, “ Rasulullah Saw berangkat dengan Tawadhu’, tunduk, Khusyu’ dan Tadharru’. Kemudian beliau shalat dua raka’at, sebagaimana dilakukan ketika hari raya “. 

Tadharru’, artinya memperlihatkan ketundukan, yaitu merendahkan diri ketika meminta suatu kebutuhan. 

  

(5) Maksudnya, Takbir di raka’at pertama sebanyak tujuh kali, dan di raka’at kedua sebanyak lima kali. Berdasarkan Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud ( 1165 ) dan At Turmudzi ( 558 ) dari Ibn ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa dirinya ditanya tentang shalat Istisqa’ Rasulullah Saw, maka dia menjawab, “ Beliau shalat dua raka’at, sebagaimana shalat ketika hari raya “. [ Lihatlah catatan kaki ke-2 halaman 87. Catatan kaki ke-3 halaman ini ]. 

  

(6) Diriwayatkan oleh Ibn Majah ( 1268 ) dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “ Pada suatu hari, Rasulullah Saw berangkat untuk Istisqa’. Kemudian beliau shalat dua raka’at bersama kami, tanpa adzan dan Iqamah. Kemudian beliau berkhutbah dan berdo’a kepada Allah. Membalikkan wajahnya ke arah kiblat seraya mengangkat kedua tangannya. Kemudian membalikkan selendangnya : Beliau meletakkan bagian kanan di bagian kiri, dan bagian kiri di bagian kanan “. 

Ber-Istighfar dalam khutbahnya, sebagai ganti Takbir dalam dua khutbah hari raya. Berdasarkan firman Allah Swt, “ Maka Aku katakan kepada mereka : ' Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun-. *  Niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat “. [ Nuh : 10 – 11 ]

  

(7) Bagian atas menjadi bagian bawah, dan bagian kanan menjadi bagian kiri. Sebagai bentuk optimisme, mudah – mudahan Allah Swt merubah keadaan yang gersang menjadi subur. [ Lihatlah catatan kaki ke-5 halaman 79 ].

  

(8) Lihatlah catatan kaki ke-5 halaman 79. 

  

(9) Mursal. Diriwayatkan oleh Asy Syafi’I dalam Al Umm ( 1 / 222 ). 

  

(10) Diriwayatkan oleh Al Bukhari ( 967 ) dan Muslim ( 897 ).

  

(11) Bantuan : Maksudnya, bantuan dari kesengsaraan. 

Kebaikan : Maksudnya, kebaikan yang tidak tercemari apapun. 

Keelokan : Maksudnya, akibat yang terpuji. 

Lebat, yaitu deras. 

Mencakup : Maksudnya, mencakup semua penjuru bumi. 

Menyeluruh : Maksudnya, meliputi bumi dan mengenai semuanya. 

Terus menerus : Maksudnya, mamfa’atnya abadi sampai terpenuhi semua kebutuhan.  

  

(12) Orang – orang yang putus asa karena terlambatnya turun hujan. 

  

(13) Kelelahan : Maksudnya, kesusahan. 

Kesempitan : Maksudnya, kesengsaraan. 

  

(14) Susu : Maksudnya di sini adalah sebelum melahirkannya dan hamilnya. 

  

(15) Diriwayatkan oleh Asy Syafi’I dalam Al Umm ( 1 / 222 ). [ Lihatlah catatan kaki ke-5 halaman 79 ].

  

(16) Berdasarkan Khabar Asy Syafi’I Rahimahullah, “ Jikalau air mengalir, maka Rasulullah Saw berkata, ‘ Keluarlah bersama kami menuju air yang dijadikan suci oleh Allah, sehingga kita bisa bersuci dengannya dan memuji Allah karenanya “. ( Al Umm : 1 / 322 )

Diriwayatkan oleh Muslim ( 898 ) dan selainnya, dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “ Kami diguyur hujan bersama Rasulullah Saw “. Dia melanjutkan, “ Maka beliau membuka bajunya, sehingga hujan mengguyurnya. Kami berkata, ‘ Kenapa engkau melakukan ini ? “. Beliau menjawab, “ Karena ini adalah janji yang dekat dengan Tuhannya “. An Nawawy berkata, “ Maknanya, bahwa hujan itu adalah rahmat. Yaitu dekatnya masa penciptaan Allah Swt untuk rahmat tersebut, sehingga beliau ber-Tabarruk dengannya “. ( Syarh Muslim : 6 / 195 ) 

  

(17) Berdasarkan Hadits yang diriwayatkan oleh Malik dalam Al Muwattha’ ( 2 / 992 ) dari Abdullah bin Az Zubair Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa jikalau dirinya mendengar petir, maka dia berhenti berbicara dan mengucapkan, “ Maha Suci Dzat yang petir ber-Tasbih memuji-Nya dan ( demikian juga ) Malaikat karena takut kepada-Nya “. Kemudian dia berkata, “ Petir ini dahsyat untuk penduduk bumi, karena memperingatkan mereka akan turunnya halilintar, banjir dan selainnya “. Do’a ini diambil dari surat Ar Ra’dd ayat 13.