Masalah-Masalah Seputar Status Kakek dalam Warisan

 Masalah-Masalah Seputar Status Kakek dalam Warisan


Kakek dan para cucu laki-laki (para anak laki-laki dari anak laki-laki), para paman dari pihak bapak, para anak laki-laki dari paman pihak bapak, begitu juga dengan para anak laki-laki dari para saudara laki-laki, walaupun tidak terdapat Nash yang jelas dari al-Quran menjelaskan pewarisan mereka, namun sabda Rasulullah Saw “Berikanlah warisan kepada yang berhak menerimanya”(1) menetapkan pewarisan mereka dan menegaskannya. Sebagaimana anak laki-laki dari anak laki-laki, serta anak perempuan dari anak laki-laki, tercakup dalam lafadz “anak” dalam firman Allah SWT, “Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu.” Karena itulah, sudah menjad Ijma’ bahwa yang disebutkan di atas mendapatkan warisan. Hanya saja untuk “kakek”, walaupun ia tercakup dalam firman Allah SWT, “dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja)" Dan firman-Nya, "Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan." (Surat al-Nisa: 11) 

Namun, posisinya sama dengan Bapak yang mewarisi seperenam ketika ada anak atau cucu, kemudian mendapatkan semua harta jikalau sendirian dan apa yang disisakan oleh Furudh jikalau masih ada. Ia tidak berbeda dengan Bapak kecuali dalam masalah yang terkait dengan para saudara laki-laki. Bapak menggugurkan mereka semuanya, dan kakek mendapatkan warisan bersama mereka, karena ia berada dalam posisi yang sama dekat dengan mereka dari orang yang meninggal. 

Sebab para saudara laki-laki dekat dengan orang yang meninggal melalui bapak mereka, dan kakek juga dekat kepada orang yang meninggal melalui jalur bapak yang merupakan anak laki-lakinya. Berdasarkan hal ini, maka kakek memiliki lima kondisi, yaitu: 

1) Tidak ada seorang ahli waris pun bersamanya. Maka, ia mendapatkan semua harta sebagai Ashabah. 

2) Pihak yang bersamanya hanya Ashab al-Furudh saja (orang-orang yang sudah jelas bagiannya). Maka, ia mendapatkan seperenam bersama mereka. Jikalau masih ada warisan yang tersisa, maka ia mewarisinya sebagai Ashabah. 

3) Pihak yang bersamanya adalah anak laki-laki atau anak laki-laki dari anak laki-laki. Maka, ia mendapatkan seperenam. Tidak ada yang lainnya. 

4) Pihak yang bersamanya hanya para saudara laki-laki saja. Maka ia diberikan bagian yang lebih banyak, yaitu sepertiga harta atau dibagi rata (al-Muqasamah). Dan al-Muqasamah itu lebih baik baginya jikalau jumlah para saudara laki-laki tidak lebih dari dua orang, atau beberapa saudari perempuan yang setara dengan dua saudara laki-laki. 

5) Pihak yang bersamanya adalah para saudara laki-laki dan Ashab al-Furudh, maka ketika itu ia diberikan yang terbaik, yaitu seperenam dari semua harta warisan, atau sepertiga yang tersisa, atau al-Muqasamah para saudara laki-laki. Jikalau Furudh menghabiskan harta warisan, maka para saudara laki-laki menjadi gugur. Sedangkan untuk kakek, maka ia sama sekali tidak gugur. Ia mendapatkan bagian seperenam, walaupun masalahnya menjadi ‘Aul.


[Catatan]
Pertama, al-Mu’addah

Jikalau bersama kakek ada para saudara laki-laki kandung dan para saudara laki-laki sebapak, maka para saudara laki-laki kandung menghitung kakek sebagai bagian dari para saudara laki-laki sebapak. Mereka membaginya secara rata di antara mereka berdasarkan hitungan para saudara laki-laki sebapak, kemudian mereka menghijab para saudara laki-laki sebapak tapi tidak menghijab kakek. 

Misalnya: Kakek, saudara laki-laki kandung, dan saudara laki-laki sebapak. Masalahnya dari bilangan tiga –sesuai dengan jumlah mereka. Kakek mendapatkan satu, saudara laki-laki kandung mendapatkan satu, dan saudara laki-laki sebapak mendapatkan satu. Hanya saja, karena saudara laki-laki kandung menghitung kakek sebagai bagian dari saudara laki-laki sebapak, maka ia menarik kembali dan mengambil bagiannya. Sebab, saudara kandung menghijab saudara sebapak, sebagaimana sudah dijelaskan di bagian sebelumnya. 


Kedua, al-Akdariyah

Jikalau seorang perempuan meninggal, kemudian meninggalkan suaminya, ibunya, seorang saudari kandung perempuannya atau saudari perempuannya sebapak, dan bapaknya. Maka, masalahnya dari bilangan enam karena adanya yang mendapatkan bagian seperenam. Setengahnya untuk suami, yang mendapatkan tiga. Sepertiganya untuk ibu, yang mendapatkan dua. Setengahnya untuk saudari perempuan, yang mendapatkan tiga. Seperenamnya untuk kakek, yang mendapatkan satu. Masalahnya menjadu ‘Aul (bertambah) menjadi sembilan. Kemudian kakek meminta saudari perempuan untuk melakukan al-Muqasamah, bagiannya yang satu dikumpulkan dengan bagian saudari perempuan yang tiga, sehingga jumlahnya menjadi empat. Kemudian keduanya membaginya, dengan ketentuan yang laki-laki mendapatkan seperti bagian dua orang perempuan. Masalah ini sengaja dibahas tersendiri, karena seharusnya para saudari perempuan tidak mendapatkan apapun bersama Kakek, sebab ia membuat mereka menjadi Ashabah layaknya saudara laki-laki bersama saudari perempuan. Kecuali dalam masalah ini; saudari perempuan mendapatkan setengah, kemudian Kakek digabungkan dengannya, sehingga bagian kakek dicampur dengan bagian saudari perempuan. Kemudian keduanya membaginya, dengan ketentuan bagi laki-laki mendapatkan bagian seperti bagian dua orang perempuan. Akhirnya, saudari perempuan menjadi ahli waris yang mendapatkan seperenam, dan kakek mendapatkan sepertiga. Kira-kira, bertolak belakang dengan yang di-Furudhkan. Dinamakan dengan masalah al-Akdariyah, karena ia menyebabkan kekeruhan bagi saudari perempuan; furudhnya banyak, namun ia hanya mengambil sedikit.


Catatan Kaki: 

(1) Hadits ini sudah disebutkan sebelumnya. Dalil penguatnya adalah sabda Rasulullah Saw, “Apa yang tersisa, maka untuk laki-laki yang paling utama.” Ia adalah Nash Sharih yang menyatakan pewarisan Kakek, Anak-anak dari anak laki-laki, para paman dari pihak bapak, dan para anak laki-laki dari paman pihak bapak.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.